Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 95. Berita baik.


__ADS_3

Dua garis merah memberi kejutan. Inilah yang ditunggu-tunggu oleh mereka berdua. Laras menutup mulut tak percaya atas apa yang dilihat. Detik berikutnya dia menangis haru. Dia tidak salah lihat. Test pack memberikan tanda bahwa di rahim Laras telah hidup bakal janin. Terima kasih Tuhan batinnya.


Dia memasukkan kembali test pack ke dalam bungkus. Di simpan di dalam laci kaca riasnya.


Menunggu Vim pulang dan berita baik itu akan ia sampaikan.


Kali ini ia takkan menyimpan berita baik itu sendiri. Tidak akan. Dia ingin bicara apa adanya.


"Sore sayang." Vim melonggarkan dasi yang menghiasi penampilan.


"Iya mas. Aku sudah buatkan minuman tetapi kuletakkan di dalam kamar." Balas Laras.


"Terima kasih sayang."


Teh tanpa gula kesukaan Vim diseruput habis. Lalu Vim membuka kemeja. Segera mandi setelah meninum teh tawar yang dibuat Laras karena hari telah sore. Menyisir rambutnya yang basah di depan cermin. Laras berdiri di belakang Vim.


"Mas."


"Hmm."


"Aku ada berita baik."


"Apa itu?" Vim membalikkan tubuhnya.


"Lihat ini." Laras menyerahkan test pack yang tadi ia gunakan. Masih dengan bungkusan luarnya.


"Apa ini??"


"Itu test pack. Bukalah."


"Aku tidak mengerti barang ini.


Apa ini sayang?" Vim hanya memperhatikan test pack tanpa membaca apa yang tertulis di bungkusnya.


"Keluarkan isinya mas dan lihatlah dua garis merah. Itu tanda aku..aku hamil sekarang."


Kalimat Laras mengejutkan Vim.


"Apa??? Benarkah begitu? Kau hamil Laras?" Vim bertanya tidak percaya.


"Iya mas. Aku membeli itu kemarin. Hari ini tepat dua bulan aku belum M. Dua garis merah itu tanda aku positif hamil."


"Terima kasih Tuhan." Vim mengusap wajahnya. Bahagia terpancar di sana. Lalu dia mengangkat Laras dengan kedua tangannya.


"Hahahaha.. akhirnya beneran jadi. Terimakasih sayang."


"Uuuh..parfummu harum sekali." Laras menutup hidungnya.


"Kau suka sayang. Apa aku terlalu banyak memakainya?"


"Tidak tahu. Baunya menyengat."


Vim meletakkan Laras di atas bed mereka yang lebar. Netranya berbinar-binar.


"Ssshhh jangan terlalu senang. Tidak baik." Bisik Laras.


"Ucapan seperti do'a. Tuhan mengabulkan do'aku."


"Iya..iya tapi kita harus memastikan ke dokter dulu."


"Kita ke klinik dr. Hendra besok. Aku yang akan menelpon." Vim tegas.


"Aku ikut katamu saja."


"Karena kau pernah keguguran, berhati-hati kali ini. Jangan banyak aktivitas."


Baru mendengar berita perhatian Vim mulai berlebihan. Sifat protektifnya kambuh. Laras tersenyum simpul.


"Sekarang katakan kau ingin makan apa. Bakso, mi ayam, sate, atau martabak?" Tanya Vim semangat.


"Tidak. Aku belum ingin apa-apa."


Keesokannya dokter Hendra ikut senang setelah memeriksa Laras.


"Makanlah yang bergizi jangan malas makan. Apakah mual dan muntah?" Tanya dokter.


"Tidak dokter. Saya merasa biasa saja. Ketika saatnya M tetapi tidak muncul, tubuh agak terasa lemah." Kata Laras.


"Waah kebanyakan ibu hamil pada tiga bulan pertama mengalami mual muntah tapi.. syukur kalau begitu."


Laras menganggap ini bawaan calon bayi. Anak baik tetaplah di dalam sana sampai waktunya keluar.

__ADS_1


USG dan konsultasi kehamilan selesai. Laras dan Vim pulang. Hari ini Vim sengaja tidak masuk kerja. Lebih cepat mengantar Laras periksa lebih baik. Sudah tak sabar mendengar hasil pemeriksaan.


"Kok belok ke kanan mas?" Tanya Laras sedikit heran.


"Ke supermarket sebentar."


"Ya sudah."


Mereka tiba di supermarket.


"Aku di sini saja." Laras tak hendak turun dari mobil.


"Kau lelah? Sebentar saja ke dalam."


"Baiklah. Jika lelahku bertambah aku minta digendong."


"Dengan senang hati. Asal kau tidak malu."


Tangan Vim terulur dan disambut oleh Laras. Perlahan turun dari mobil seolah Laras sedang memegang barang mudah pecah dan mewah yang mahal harganya. Hati-hati sekali.


"Kau bisa menunggu di situ."


Vim menunjuk tempat makan yang tidak terlalu ramai. Lebih baik Laras menunggu di sana daripada mengikuti Vim sedangkan Vim tidak mau Laras menunggu di dalam mobil.


"Boleh mas. Aku duduk di dalam saja ya."


"Ya masuklah."


Laras masuk ke toko roti yang mempunyai nama terkenal tersebut. Vim mengantar hingga Laras duduk.


"Kau mau roti rasa apa?"


Laras menyebutkan dua nama roti yang ia suka. Vim mengambilkan untuk Laras dan dirinya sendiri.


"Aku minum air mineral saja." Kata Laras lagi.


"Baik. Nanti pelayan mengantarkan untukmu. Kau tunggu di sini hingga aku datang. Jangan kemana-mana. Oke?"


Laras mengangguk mengerti.


"Aku ke mart dulu."


"Tunggu. Sebenarnya mas mau beli apa di mart. Mengapa tidak bicara padaku kemarin?"


"Membeli susu bumil. Tunggu di sini."


"Susu??"


Pertanyaan Laras tanpa jawaban sebab Vim sudah keluar dari toko roti. Laras nyaris tertawa membayangkan Vim berbelanja mengingat Vim tidak pernah berbelanja. Untuk membeli keperluannya saja ia memerintahkan Joel yang mencari di swalayan.


Sementara Vim di mart bertanya pada pelayan dimana keberadaan susu-susu untuk bumil. Ia baru saja mengambil buah-buahan. Pelayan mengarahkan. Di sana Vim mulai memilih merk. Lalu varian susu.


Satu varian vanila, coklat, madu dan strawberry. Cukup segini dulu.


Vim meninggalkan mart. Melewati toko busana yang besar . Terlintas di pikiran Vim membelikan Laras pakaian bumil. Ia pun masuk ke dalam tanpa risih. Mencari-cari di sana.


Meminta pelayan untuk mengantarnya ke pakaian bumil. Di sana pelayan menunjukkan pada Vim pakaian bumil beraneka ragam. Vim memilih yang berwarna pastel. Terpilih tujuh lembar pakaian bumil.


Vim menenteng barang belanjaan tanpa malu. Sebaiknya tidak meletakkan barang-barang itu ke mobil sebab Laras akan lama menunggu.


Di kantor saja Vim enggan membawa bungkusan di tangan tetapi kali ini tidak. Demi Laras dan buah hati ia rela melakukannya.


"Sudah selesai."


"Mas beli apa saja. Wow banyak sekali susu itu!?" Laras tidak menyangka. Empat kaleng susu ukuran sedang di depan dirinya dan itu buatnya tentu.


"Susu dan ini..baju bumil. Kupilih khusus buatmu."


"Woow! mas.. kejutan banget. Terima kasih ya mas." Laras menggenggam tangan Vim di atas meja.


"Itu saja?" Vim menaikkan sudut bibir. Sebuah penghargaan yang kurang.


"Lantas? Gimana mungkin memberimu kiss di tempat umum begini." Laras terkekeh mengerti arah bicara Vim.


"Oh begini saja. Aku membelikan mas sesuatu karena mas perhatian sekali hari ini. Mas mau kubelikan apa?" Laras menatap Vim. Menanti jawaban.


"Beli apa? Aku tidak membutuhkan apa-apa saat ini. Lagian aku punya uang untuk membeli sendiri."


"Wuuuiih! Iya percaya. Ini rotinya dimakan. Mas pasti cape membawa susu-susu itu."


"Mana rotimu?" Di meja hanya tersedia roti Vim dan air mineral Laras.

__ADS_1


"Sudah habis."


"Lapar ya? Mau lagi?" Vim makan dengan lahap.


"Cukup. Aku kenyang."


"Pesan saja lagi. Sekarang di tubuhmu ada nyawa lain. Kau harus makan lebih banyak."


"Kurang nyaman bila kekenyangan mas." Laras tetap menolak.


"Tunggu sebentar. Aku habiskan ini lalu kita pulang."


"Makanlah."


Roti yang dipilih telah habis dimakan. Saat yang tepat untuk makan siang tetapi mereka tidak memilih nasi sebagai makan siang. Roti beragam rasa dan toping itu menjadi pilihan mereka.


"Mas aku boleh membelikan roti untuk bibi dan pak Uun?"


"Boleh. Ambil saja. Bayar pakai kartuku."


"Terima kasih sayang. Pakai kartuku saja."


"Laras.." Vim mendelik.


"Baik. Baik."


Laras datang lagi dengan sekotak roti beraneka rasa. Duduk kembali karena Vim belum mengajaknya pergi.


"Selamat siang bapak, ibu, mbak, abang semuanya. Ijinkan kami membawakan lagu di sini."


Jreng. Jreng.


Dua anak muda menyanyikan sebuah lagu.


🎢Hitam manis. Hitam manis.


Yang hitam manis pandang tak jemu pandang tak jemu.


Yang hitam manis pandang tak jemu.🎢


"Ayo pulang." Ajak Vim pada Laras.


"Tunggu lagunya selesai mas."


"Apa kau suka?"


Laras mengangguk.


"Itu lagu lama yang. Aku tidak suka."


"Tapi aku suka.. sebentar lagi ya. Permintaan ini loh mas." Laras menunjuk perutnya. Vim mengangkat bahu. Mengalah. Aneh. Apakah ibu hamil begini?


"Mereka melihatmu terus. Aku tidak suka."


"Biarkan saja mas. Mereka kan punya mata. Tidak boleh tidak suka seperti itu. Nanti kalau baby mirip salah satu mereka gimana?"


"Apakah bisa?" Mimik wajah Vim berubah.


"He eh. Menurut orang tua sih gitu mas."


"Mitos sayang."


"Mas ini nggak percaya. Coba mas tanya mami atau ibu."


"Ya sudah. Biarkan mereka melihatmu. Biar tahu istriku ini cantik."


"Hahaa.."


Lagu usai. Vim cepat berdiri. Menunggu Laras berdiri. Laras memberikan selembar uang lima puluh ribu kepada dua penyanyi tadi. Wajah keduanya sumringah.


"Makasih mbak."


"Sama-sama."


"Sudah Laras. Waktunya istirahat."


Laras melingkarkan tangan di lengan Vim. Berjalan menuju ke mobil mereka dan pulang.


...🌾🍁🌾🍁...


Like, komen, gift, vote dan bintang lima.🌹

__ADS_1


Terima kasih masih mengikuti novel ini.πŸ’šπŸ§‘


__ADS_2