Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 78. Kangen toko.


__ADS_3

Sebuah bungkusan besar teronggok di atas sofa ruang keluarga. Sedianya akan diambil oleh Nita dan Seira di rumah Laras. Bungkusan itu berisi pakaian olahraga seragam reuni akbar milik tahun angkatan Laras dan kawan-kawan.


Seragam-seragam tersebut dipesan oleh Vim bersama dengan seragam tahun angkatan Vim. Barang ini akan membuat Laras tidak berhenti mengurus reuni. Begitu perkiraan Vim. Sebaiknya ia menyuruh Laras memanggil temannya agar mengambil barang tersebut.


"Laras!" Vim berseru memanggil Laras. Yang dipanggil datang dengan rasa ingin tahu ada apa gerangan dirinya dipanggil.


"Aku mas. Ada apa?"


"Hubungi temanmu agar mengambil seragam ini ke aula sekolah. Pukul sebelas nanti." Itu perintah Vim pagi ini. Laras menatap Vim heran.


"Mengapa harus ke sekolah. Mereka bisa ke sini kan."


"Laras aku yang memesan ini. Aku berhak menentukan. Ambil ini di sekolah jangan di rumah. Kau akan sibuk dengan teman-teman mu itu bila mereka kemari." Vim memberikan alasan.


"Ya ampun mas sibuk gimana. Nggak bakalan deh." Sanggah Laras pelan.


"Sudah nurut aja. Jam sebelas aku ke sekolah."


Laras mengunci mulutnya. Vim tidak suka dibantah. Laras istrinya selalu sanggup mengalah. Mengalah dalam hal-hal kecil seperti itu. Jika tidak begitu bisa dipastikan "peperangan" sering terjadi di antara mereka.


"Termenung hmm?" Vim berbisik tepat di telinga Laras. Laras tersentak kaget. Tidak menyangka Vim masih berada di situ. Berbalik menghadap Vim.


"Aaaaa kaget tahu." Laras memukul dada Vim berulang kali.


Vim tergelak lepas. Lalu memeluk Laras.


"Siapa suruh termenung sepagi ini? Kau keberatan seragam ini kubawa?" Tatapan Vim yang lembut melunakkan hati Laras.


"Tidak. Bawalah." Laras menyandarkan kepalanya di bahu Vim.


( Jadi iri sama pasangan ini. Masih suka romantis-romantisan kayak pengantin baru soalnya.🤭 )


"I protect you more than myself."


(Aku melindungimu lebih dari diriku.")


"Aku ingin segera punya anak agar gerakku menjadi bebas lagi." Angan-angan Laras saat ini.


"Ahahahaa kau akan sibuk dengan anak-anakmu sayang." Vim mengingatkan Laras.


"Tidak apa. Memang itu kewajibanku. Tetapi aku bisa keluar rumah, berbelanja bersama mereka, mengajak bermain ke taman bahkan mengantar mereka ke sekolah. Rumah ini akan ramai dengan suara mereka." Urai Laras panjang lebar.


"Ya. Ya. Semoga harapanmu cepat tercapai. Aku olahraga dulu ya." Vim melerai rangkulannya.


"Aku juga mau olahraga jalan kaki ke toko." Celetuk Laras.


"Apa?? Lumayan jauh ke depan sana." Vim menghentikan langkah.


"Nggak juga ah. Dua ratus meter saja."


"Jalan santai di taman kecil milik kita saja sayang. Itu sudah cukup."


Vim mengarahkan Laras.


"Baik. Baik tuan besar hahaaa."


"Jangan nakal."


"Tidak." Laras menggelengkan kepala seperti anak kecil.


Seminggu lebih Laras tidak mengunjungi toko. Toko kecil tapi sangat berarti baginya. Di mana Laras bisa belajar mandiri mengasah kemampuan mengelola usaha kecil. Toko itu mirip sebuah butik kecil tapi Laras lebih senang menyebutnya TOKO.


Vim telah pergi olah raga mengenakan seragam tenis lapangan. Laras bergegas menyiapkan diri. Tubuhnya sudah lumayan kuat untuk beraktivitas tetapi Vim terlalu berlebihan mengkhawatirkannya. Tidak mengenakan pakaian yang terlalu ketat mengikuti bentuk tubuhnya, Laras melenggang mengambil kunci motor dan mengeluarkan motor dari tempatnya.


"Pagi Ririn." Laras menyapa Ririn yang menunggu Laras memarkir motor.


"Pagi sayangku. Gimana hari ini?"


Ririn memperhatikan Laras dari ujung rambut sampai ujung kaki. Temannya ini cantiknya kelewatan.


"Baik Ririn. Aku sudah cukup kuat kok."


"Syukurlah. Kau mau sarapan apa?" Tanya Ririn.


"Mie goreng saja."


"Aku pesankan."


Ririn menelpon penjual mie goreng di seberang jalan agar mengantar pesanan yang ia sebutkan.

__ADS_1


"Vim tidak melarangmu kemari?" Tanya Ririn sangat ingin tahu.


"Sebenarnya melarangku tetapi aku juga ingin melihat toko ini Rin. Sangat ingin. Kasihan kau bekerja sendirian."


"Laras apakah aku tidak mengatakan padamu kita memiliki pekerja baru?" Ririn berusaha mengingat-ingat.


"Belum." Jawab Laras sembari meniup mie goreng di sendok makan.


"Maafkan aku. Namanya Nila. Anaknya ijin mengurus SIM sekarang."


Laras manggut-manggut.


"Kau yang membawanya?" Laras bertanya lebih lanjut. Penasaran seperti apa karyawan barunya.


" Bukan aku. Dia datang bersama Joel."


"Ooh Joel asisten mas Vim?"


"Iya benar. Barangkali Joel yang mencarinya. Usia Nila delapan belas tahun."


"Baik nggak anaknya. Bisakah dipercaya?"


Pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari mulut Laras. Toko adalah milik Laras sehingga Laras harus mengetahui perkembangan toko sekecil apapun dan Vim tadi malam tidak mengatakan sedikit


pun tentang karyawan baru di toko Laras.


"Itu dia datang. Nila!" Panggil Ririn pada cewek yang baru masuk ke toko. Rambutnya berpotongan Bob dan wajahnya bulat.


"Saya kak." Nila mendekati Ririn dan Laras.


"Kenalkan ini kak Laras, pemilik toko." Kata Ririn.


"Saya Nila kak."


Nila menjabat tangan Laras dan sebaliknya. Keduanya saling melempar senyuman.


"Semoga betah di sini dan rajin membantu kak Ririn." Ucap Laras.


"Terima kasih kak. Permisi."


Nila meninggalkan Laras dan Ririn. Obrolan antara Laras dan Ririn berlanjut membahas reuni. Ketidakhadiran Laras disayangkan oleh Ririn.


"Terus aku di sana sama siapa kalau nggak ada kamu Ras."


Laras membayangkan hari itu saat mereka semua berkumpul. Pasti riuh rendah dengan canda dan tawa. Berbagi cerita menanyakan kabar masing-masing. Melepas rindu setelah selama dua tahun tidak berjumpa.


Ririn menelisik wajah Laras.


"Senyum-senyum sendiri. Ras kenapa tersenyum?"


Teguran Ririn menghentikan lamunan Laras. Laras malu hati pada Ririn.


"Tid..tidak ada apa-apa. Betapa senangnya kalian di reuni nanti." Suara Laras lirih.


"Makanya ayo pergi. Rayu Vim supaya memberikan ijin."


Ririn berusaha memberikan Laras semangat.


"Mana bisa. Dia sangat ketat menjagaku."


"Oh begitu. Kamu sudah mencoba minta ijin dan nggak dikasih ijin?"


"Iya Ririn. Suamiku ya seperti itu. Ah sudahlah..tapi aku bisa hadir yang acara malamnya Ririn."


Kalimat Laras merupakan penghiburan untuk dirinya sendiri.


Menghadiri satu acara saja daripada tidak sama sekali. Bagian dari panitia tidak mungkin tidak menunjukkan kehadiran dirinya.


"Jangan bersedih. Mungkin ini lebih baik untukmu." Hibur Ririn kemudian.


"Sedih sih tapi gimana lagi. Aku tidak bisa melawan mas Vim."


"Jangan dilawan. Kalian bisa bertengkar. Kawan-kawan pasti memaklumi ini. Aku tinggal dulu ya Ras. Seseorang akan datang mengambil pesanan." Ririn meminta ijin. Laras mengangguk.


"Pergilah siapkan. Pembeli selalu nomor satu."


Tap.Tap.Tap


Suara hentakan sepatu membuat Laras menoleh. Vim. Kemunculan Vim tiba-tiba bagai shock therapy bagi Laras.

__ADS_1


"Mas Vim?!"


"Kau nakal ya. Aku melihat motormu di luar dan mampir ke sini."


Laras memasang wajah memelas agar Vim tidak menjadi marah menemukan Laras mengunjungi tokonya.


"Maafkan aku mas. Aku kangen ke sini. Mari kita pulang."


Laras menggamit lengan Vim. Mengajaknya kembali ke rumah sebelum mereka beradu argumen di situ dan diperhatikan oleh Ririn juga Nila.


"Mas tidak mengatakan padaku tentang Nila."


Laras mengingatkan Vim akan kesalahannya. Bukan ia saja yang salah. Vim juga salah menurutnya.


"Belum sempat ngomong saja Laras." Vim mengutarakan alasannya.


"Atau mas sudah sering ke toko tanpa se_"


"Tidak sama sekali. Aku sengaja mencarikan Ririn teman perempuan agar bisa lebih dipercaya. Kelihatannya anak itu jujur." Vim memotong ucapan Laras dengan cepat.


"Oh baiklah kalau begitu. Aku percaya."


"Ketepikan curigamu itu." Pinta Vim.


"Iya. Huush curiga pergi ya."


Vim menggeleng-gelengkan kepala melihat Laras.


"Sudah sampai. Apa perlu kugendong." Vim mematikan mesin mobil.


"Oh iya. Boleh kalau tidak malu sama bibi Am." Laras menanggapi sesuka hatinya.


"Mengapa harus malu? Kita pasangan yang sah."


Vim tidak mau kalah. Baginya ucapan Laras adalah tantangan. Ia bergegas keluar mobil dan membuka pintu mobil sebelah kiri. Bersiap mengangkat Laras. Laras menggerakkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri.


"Tidak. Tidak mas. Aku yang malu hehe." Senyum indahnya merekah.


"Nah..ya sudah. Tolong siapkan pakaianku. Waktunya ke sekolah."


"Kemeja??"


"Jeans dan kaos saja."


"Baiklah."


"Kau menyusahkan pak Uun harus mengambil motormu."


Laras menoleh ke belakang dan tersenyum lebar untuk Vim. Senyuman indah seperti bunga dan mampu membuat Vim terlupa akan lelahnya.


Tubuh Laras tidak kelihatan lagi dari pandangan Vim. Dia mempersiapkan apa yang diminta oleh Vim. Lalu Vim menelpon Pak Uun agar mengambil motor Laras di toko.


"Aku tidak boleh ikut?" Laras iseng bertanya. Iseng-iseng memancing reaksi Vim.


Penampilan Vim sangat rapi dengan kaos yang dimasukkan ke dalam celana jeans. Ia terlihat lebih muda di mata Laras.


"Mau apa di sana. Percuma menungguku, kau akan bosan." Cegah Vim secara tak langsung.


"Melihat eks kakak kelas yang kece-kece." Laras benar-benar asal bicara saja. Memasang wajah polos tanpa dosa.


"Aku sudah kece. Masih kurang?" Vim berkaca di cermin.


"PD amat. Yaah gimana aja gitu mas?"


Laras menahan Vim. Mengajaknya berbicara hanya memperlambat kepergian Vim ke sekolah lama mereka.


"Dasar wanita."


"Dasar pria."


"Apaan?" Vim mendekati Laras. Lebih dekat dan dekat. Laras mundur ke belakang.


"Nggak kok heee. Ya sudah pergi sana. Nanti terlambat." Laras memberikan senyum termanisnya.


" Waktuku dua puluh menit saja. Aku pergi dulu."


Vim memberikan kecupan di bibir Laras. Laras membalas. Vim tidak ingin berlama-lama sebab harus menghadiri pertemuan di aula sekolah. Dia memegang tanggung jawab dan tak mungkin melepaskan seluruh hasrat pada Laras saat ini. Belum waktunya.


💝💝💝

__ADS_1


Terima kasih banyak yang sudah memberikan dukungan.🌷


Besok mampir lagi yaa.💕


__ADS_2