Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 22. Memasak Sendiri.


__ADS_3

Vim menyentuh dagu Laras. Ikut merasakan lara yang sedang Laras rasakan. Dia menyibakkan anak rambut Laras yang terjuntai ke depan.


Lalu berkata, "Aku sedang berusaha menyingkirkan Aurora dan bayang-bayangnya yang sering datang. Tolong bantu aku Laras. Aku yakin kau bisa mengalihkan hatiku hanya untukmu saja, karena dari awal aku menyukaimu jauh sebelum Vano. Sesungguhnya aku mencintaimu lebih dulu daripada Aurora."


"Mas kita sama-sama berusaha ya. Bantu aku juga untuk melupakan Vano. Tolong genggam tanganku mas agar aku bisa mencintaimu segenap hatiku."


Sampai di sini Laras kembali berurai air mata. Seandainya dulu Vim pernah mengungkapkan isi hatinya tentu Laras bisa merasakan cinta Vim. Mempertimbangkan cinta Vim padanya. Sayangnya Vim memilih mengalah dari Vano. Vim memilih bungkam. Laras tidak pernah mengetahui isi hati Vim.


Pantas bila Vim amat terluka ditinggalkan oleh Aurora. Dua kali ia merasakan hatinya terluka. Berharap pada orang yang tak mengerti pengorbanannya.


"Berhentilah menangis. Seisi rumah akan curiga melihat matamu sembab. Mereka akan menuduhku berbuat macam-macam."


"Mas membuatku menangis."


"Aku kan sudah minta maaf. Aku tidak sadar jika aku mengigau di malam hari. Baru sekali ini bukan?"


Laras mengangguk. Pelan Vim mengusap wajahnya sendiri dan berdiri. Semua di luar kemauannya jika ia mengigau. Dicobanya mengingat mimpi yang menyebabkan ia mengingau tapi tidak berhasil.


"Sama-sama kita memperbaiki diri Laras. Di rumah kita sendiri kita memulai hidup baru. Hanya ada hal tentang kita saja dan anak-anak ya."


"Bantu aku mas."


"Kau pasti bisa Laras. Maafkan aku terpaksa menjauhkanmu dengan Vano. Aku harus memenuhi janjiku untuk membahagiakanmu. Aku tidak mau kau terkurung oleh masa lalu.


"Aku mengerti mas."


Senyum Laras mengembang. Mulai menerima penjelasan Vim.


Dia yang baru berusia dua puluh tahun mudah tersulut emosi dan Vim menyadari itu. Sudah selayaknya bagi Vim yang lebih dewasa membimbing Laras ke arah yang lebih baik.


Laras memandangi punggung Vim. Dia telah berubah tidak lagi kasar seperti dulu. Tidak bicara teriak-teriak lagi.


"Aku mau membersihkan diri. Kau mau ikut?"


Laras menggelengkan kepala.


"Aku nanti saja."


"Kau malu ya. Ngapain malu, kita sudah sah sebagai suami istri. Ayoo."


Vim berbalik menghampiri Laras. Laras menggeleng-geleng kuat. Laras ingin mandi sendiri. Semakin gemetar rasanya saat Vim maju mendekatinya. Laras berdiri dan berlari menghindari Vim. Vim tertawa lepas.


"Kau ini kenapa harus takut. Aku bukan monster tahu!"


"Aku belum mau mandi mas."


Wajah Laras memelas. Tidak terbayangkan oleh Laras bersama Vim berdua saja di kamar mandi.


"Kalau cinta tidak akan ada paksaan. Aku hanya menggertakmu saja haha.."


Sampai kapan kau menghindariku. Aku suamimu. Lihat saja..


Sejatinya dua orang suami dan istri tanpa batas penghalang di antara mereka saling memberi dan menerima. Tidak ada jarak antara satu yang lainnya.


Vim memaklumi Laras harus beradaptasi sedikit demi sedikit memulai hidup berdua dengannya.


Sampai waktu makan malam datang, Vim memilih menemani Laras yang tidak mau ikut makan malam.


"Perutmu akan lapar jika kau tidak makan. Mereka sudah tidak ada di ruang makan. Kau tidak perlu malu."


Laras tetap malu jika matanya yang bengkak dilihat anggota rumah sekalipun itu Bibi pembantu. Lebih baik di kamar dulu.


Vim mengambil hp nya dan menghubungi Bibi kepala pembantu. Minta diantarkan makan malam untuknya dan Laras ke kamar.

__ADS_1


Makan malam datang dan mereka makan berdua seperti sedang berpacaran. Kalau dulu mereka tidak pernah pacaran, sekarang mereka baru menjalaninya terutama Laras.


Begini rasanya memiliki teman hidup. Laras merasa di awang-awang mendapat perlakuan istimewa dari Vim.


Laras seperti memiliki pasangan hidup, kekasih dan juga kakak lelaki.


...🌺🌺🌺...


Rumah baru, perabotan baru dan semua awal yang baru. Di rumah ini kelak Laras akan menjalani hari-harinya bersama Vim. Terselip kebahagiaan di relung hatinya yang paling dalam. Tidak menyangka Vim mempersiapkan ini semua. Dalam hatinya Laras berjanji akan sepenuh hati menjadi seorang istri yang berbakti dan mencintai suaminya sampai maut memisahkan mereka.


"Mami titip Vim ya Laras. Jika ia suka memarahimu, bilang Mami ya."


"Terima kasih Mami. Doakan kami ya mi."


"Tentu saja. Semoga kalian bahagia dan selalu bersama."


Begitu ucapan Mami tadi kala Vim dan Laras berpamitan.


"Sayang nanti malam kita memilih furniture. Pilih yang kau suka."


"Baik mas. Ini bagus interiornya mas."


Pandangan Laras mengitari ruang tamu.


"Yah.. Dion yang mengenalkanku pada desainer interior nya. Semoga kau suka."


"Suka mas. Cakep banget."


Vim lebih cepat mencari desainer


yang menghiasi ruang tamu mereka. Sayangnya Vim belum mengisinya dengan sofa. Tadi ada beberapa pilihan sofa yang diusulkan oleh penata ruangan dan sudah disesuaikan dengan warna ruangan. Vim belum memberi keputusan karena ia akan meminta pendapat Laras. Vim memberikan Laras kesempatan untuk memilih sofa sebab Vim telah menentukan warna dindingnya.


"Mas terima kasih untuk semua ini."


Vim balas memeluk Laras. Mengecup pelan kening Laras. Imajinasinya mulai bermain saat melihat bibir Laras tapi Vim tidak melakukan yang lebih jauh lagi.


Di ruang makan Bibi telah selesai menyediakan makan siang dan mempersilahkan Vim juga Laras menyantap hidangan. Laras dan Vim menyambut dengan senang hati.


Laras melayani dengan sepenuh hati tanda baktinya pada sang suami.


"Lapar ya mas."


"Hhmm..kalau kutahu punya istri itu enak, dari dulu aku menikah." Vim melepaskan tawanya.


"Kalau kau menikah duluan..bukan aku yang di sini mas."


"Oiya, nggak jadi deh. Syukur sekarang kau ada di sampingku."


Vim makan dengan lahap. Terlintas dipikiran Laras untuk menyediakan makan malam. Laras akan berbelanja sebentar diantar sopir kemudian memasak makanan nanti sore.


"Mengapa kau berhenti makan? Ini makan lagi."


Laras menolak suapan Vim tetapi Vim bersikeras menyuapnya. Laras pun mengalah.


"Sudah mas aku kenyang."


"Dua sendok saja."


"Mas aku mau belanja ya di depan sana. Tadi kulihat ada mini market lumayan lengkap."


"Mau mencari apa. Kau bisa minta tolong Pak Uun untuk membeli


nya."

__ADS_1


"Bahan masakan mas. Sekalian aku ingin tahu sekitar sini."


"Kau mau memasak? Malam ini kita pesan makanan saja."


"Aku mau memasak untuk nanti malam."


Vim meneguk air putih.


"Kau bisa masak??"


"Di rumah Mami aku selalu bikin sarapan buat mas kan?"


" Tapi itu nasi goreng sayang. Itupun kau dituntun Bibi."


"Mas aku mau masak dan mau belanja." Laras merajuk.


Melihat keinginan Laras yang kuat Vim jadi mengalah.


"Nanti aku minta antar Pak Uun. Mas tenang saja, aku tidak akan hilang."


"Kehilanganmu akan membuat detak jantungku melemah."


Laras menyipitkan mata," Benarkah?"


"Ini pegang dulu. Besok kita membuat kartumu sendiri."


Laras menerima kartu pembayaran yang diberikan Vim.


...🌺🌺🌺...


Laras menatap makanan-


makanan yang sudah tinggal setengah piring. Wajahnya sedikit kecewa.


"Masih banyak bi."


"Sudah nggak apa-apa non nanti biar dihabiskan Pak Uun. Toh tadi Den Vim makan juga."


Iya terpaksa. Vim makan masakan Laras tapi Laras melihat wajah Vim berbeda saat makan masakan Laras barusan.


"Kenapa mas? Asin ya?"


Vim menganggukkan kepala dengan wajah tidak sampai hati mengungkapkan apa yang ia rasakan dari ayam goreng mentega buatan Laras.


"Maaf ya mas aku lupa mencicipnya. Rupanya kebanyakan garam."


"Tidak apa. Yang penting kau sudah mencoba memulainya. Sayurnya enak. Daging Lada hitamnya agak pahit."


Vim mengedipkan matanya dan meninggalkan meja makan. Laras jadi sedih. Sebenarnya Laras tidak jago masak, ia hanya biasa membantu bibi menyiang sayur dan menyiapkan bumbu. Soal rasa Bibi yang menangani.


Sayur tumis brokoli dan Jamur kancing tidak bersisa di piring. Vim menghabiskannya. Hal ini membuat Laras sedikit terhibur.


"Jangan menyerah non. Besok coba lagi. Lama kelamaan non jadi pintar masak."


"Nanti nggak enak lagi bi."


"Bibi bantu non. Den Vim kurang suka asin yang terasa non."


Laras memang mengerjakan semua sendiri sebelum memasak. Ia tidak menanyakan pada Bibi berapa banyak garam yang harus ia tuang ke masakan dan lupa mencicipnya. Ayam goreng menteganya hampir kering. Laras segera mengangkat dari kompor.


"Saya di rumah Mami sampai sore. Bibi masak saja ya. Nanti kalau sudah ada yang menggantikan saya di sana, kita masak bareng ya bi."


"Iya non. Bibi siap kapan saja."

__ADS_1


Laras harus belajar banyak tentang segala hal. Memasak, mengurus suami termasuk mengurus diri sendiri agar selalu menarik di depan Vim. Laras merasa betapa banyak kekurangan pada dirinya.


__ADS_2