Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 33. Aurora Lagi.


__ADS_3

Vim sedang memikirkan hadiah apa yang akan ia berikan pada hari ulang tahun Laras besok. Kemarin Mami telah memberikan perhiasan satu set. Vim masih mereka-reka mencari jawaban sendiri.


Joel memasuki ruangan setelah mengetuk pintu lebih dahulu.


Pada jam segini ia akan mengantar surat atau berkas ke meja Vim.


"Joel tunggu. Beri masukan kado apa yang harus kuberi pada istriku." Ucapan Vim menghentikan langkah Joel.


"Banyak Tuan. Bisa gaun, sepatu, tas yang mana semua nya dengan harga spesial atau mobil, rumah ataupun perhiasan."


"Semakin kau sebutkan semakin aku bingung memilih."


Joel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Rumah saja Tuan." Usul Joel asal saja.


"Tidak. Aku tidak siap untuk itu."


"Mobil Tuan. Biasanya wanita menyukai warna pink. Nah belikan saja mobil berwarna pink Tuan."


"Itu mobil mamiku yang berwarna pink." Vim teringat mobil mami


nya. Apa Laras dan Mami akan bersaing dalam hal ini.


"Tidak Joel. Aku juga tidak merencanakan mobil dari awal."


Lalu yang mana, tanya Joel dalam hati.


"Joel kau carikan tas yang paling mahal. Tapi sebelum kau beli, poto tas itu padaku, oke??"


"Oke Tuan. Laksanakan."


"Pergilah cari yang terbagus."


"Baik Tuan."


Joel meninggalkan pekerjaannya demi memenuhi titah bos nya.


Tidak beberapa lama muncul kiriman gambar tas wanita yang elegan. Vim memilih satu yang menurutnya bagus.


"Joel bungkus yang rapi dan menarik ya. Minta no rekeningmu. Uangnya ku transfer."


Itu pesan Vim pada Joel. Besok adalah hari ulang tahun Laras ke 20 tahun. Memberikan hadiah kecil agar Laras semakin bahagia.


Tok tok tok.


"Masuk!"


Pintu terbuka. Wajah cerah ceria dan penuh semangat memasuki ruangan.


"Hai sayang. Sedang apa?"


Laras mendekati Vim. Memberi


kan kecupan pada Vim lalu meletakkan sesuatu di tangannya ke atas meja.


"Hai! Kau ke sini? Kenapa tidak menelponku?"


Mengikat rambut yang tergerai dan mendudukkan tubuhnya di sofa. Laras membuka tempat makanan yang di bawa.


"Aku membawakan makanan untukmu. Mas belum makan kan?"


Vim datang mendekat. Wajah di hadapannya ini selalu membuat


nya takjub. Selalu membuatnya ingin memberi kecupan.


"Tugasmu sudah selesai? Kau tidak les?"


"Tentu saja. Tugas kuliahku beres. Miss Sissy ijin urusan keluarga, jadi aku memutuskan datang ke sini saja. Kau keberatan?"


Laras menatap Vim dengan tangan bersidekap di dada. Sedikit cemberut.

__ADS_1


" Tidak sama sekali. Kebetulan aku sangat lapar."


"Makanlah ini. Mas pasti suka. Tongseng baru kumasak tadi."


"Hmmm. Kau makan juga ya?"


Aroma tongseng membangkitkan selera Vim untuk segera menikmati masakan Laras.


"Sedap kan mas?"


"Ehm...lumayan."


"Kok lumayan?" Kening Laras berkerut. Lebih dulu selesai menyantap makanan.


"Untuk pemula spertimu. Lumayanlah."


"Tidak apa. Dalam waktu yang lama aku akan menjadi mahir memasak. Mas lihat nanti."


"Iya. Iya. Aku percaya."


Mungkin saat usia Laras dua kali lipat dari sekarang, Laras sudah pintar memasak. Tak ingin Laras kecewa, setiap masakannya selalu dimakan oleh Vim.


Tok. Tok. Tok.


Pintu diketuk kembali.


"Tuan ini barangnya. Selamat siang Nyonya."


"Selamat siang."


Laras mengangguk. Joel juga mengangguk. Joel permisi keluar lagi.


"Apa itu mas?"


"Ini sesuatu."


"Buat siapa??" Laras bertanya heran. Bungkusan besar yang mencurigakan.


"Ngajakin aku ke undangan ya?"


Vim menempelkan telapak tangannya di mulut Laras.


"Dengarkan dulu sayang. Karena kau telah melihatnya sekarang, ambillah kado ini buatmu."


"Serius??"


"Iya buatmu. Ini kubeli buatmu. Hadiah ulang tahunmu besok. Tidak apa kan kuserahkan sekarang."


"Woooww!" Laras memeluk Vim spontan. Kegirangan teramat sangat. Bahkan ia sendiri lupa besok adalah hari ulang tahunnya.


"Terima kasih mas!"


"Buka. Ayo buka sekarang."


Laras mengikuti perintah Vim. Mengeluarkan tas dari paper bag besar. Matanya berbinar-binar melihat pemberian dari Vim.


"Terima kasih mas."


Detik berikutnya buliran kecil air mata menetes keluar. Terharu Vim memperlakukannya demikian rupa. Tas itu tentu mahal pikirnya. Vim tidak pernah memberikannya barang yang biasa-biasa saja. Pin rambut saja bisa yang paling mahal apalagi sebuah tas merk terkenal.


"Semoga suka."


"Apapun itu aku suka mas. Terima kasih ya mas."


"Kau istirahat saja di dalam. Aku melanjutkan pekerjaanku."


Vim mulai menekuni pekerjaannya lagi. Satu jam berlalu tetapi Laras tetap menunggu dengan setia. Duduk di sofa dengan hp di tangan lumayan bisa menepikan kebosanannya.


Laras membidikkan kamera hp ke arah Vim secara diam-diam. Penampilan Vim yang selalu rapi tidak berubah sejak pagi ia berangkat kerja. Sekarang sudah pukul dua siang, rambutnya tetap saja klimis rapi. Begitu juga dengan kemeja bagian depan.


Laras mengagumi lelaki di depannya itu. Suaminya. Suami yang akhir-akhir ini menggugah rasa cemburunya jika kedapatan berbicara dengan wanita lain.

__ADS_1


Suami yang sekarang terlalu perhatian pada Laras dan suami yang akan ia sayangi selamanya.


Suami yang...


Tok. Tok. Tok.


"Masuk." Suara Vim terdengar berwibawa.


"Selamat siang Vim."


"Aurora! Mengapa kau kemari??"


Vim bertanya penuh keheranan. Sama sekali tak menyangka kedatangan Aurora ke ruangannya. Laras terbelalak. Dadanya bergemuruh. Hatinya menahan emosi. Mencoba menahan agar lengkingan suaranya tak keluar memaki Aurora.


Mau apa lagi wanita itu berdiri di hadapannya. Mencari Vim. Laras merasakan panas hati dan kepalanya.


"Mau apa kau kemari?!" Laras bergerak maju di depan Aurora. Mencegah wanita itu agar tidak masuk ke dalam.


"Vim aku membawakan makanan untukmu. Ini_.."


"Tunggu!!"


Vim memperhatikan apa yang dilakukan Laras. Suara Laras terdengar tinggi di pendengaran Vim. Aurora memandang tidak suka pada Laras.


"Suamiku tidak membutuhkan makanan dari siapapun. Setiap hari aku memasak untuknya. Bawa saja makanan itu."


Laras merasa berhak menghalangi Aurora memberikan makanan itu untuk Vim. Kecurigaan menari-nari di pikirannya tentang makanan itu. Jangan-jangan makanan itu akan membuat Vim sakit. Siapa tahu Aurora mempunyai niat jahat.


"Vim tolong terima ini." Pinta Aurora.


"Aku sudah pernah katakan jangan pernah kemari Aurora. Bawa makanan itu bersamamu." Kata Vim.


"Kau tunggu apa? Lihat kami baru saja makan berdua." Sambung Laras.


"Pergilah Aurora."


"Kau tega mengusirku Vim."


"Maafkan aku. Pergilah."


Aurora luluh juga. Berbalik langkah meninggalkan Vim dan Laras. Kekecewaan memancar di wajahnya. Laras segera menutup pintu.


"Mas mengapa dia ada di sini? Apa dia sering ke sini?" Tanya Laras.


"Dia kerja di sini."


"Apa mas?? Kok bisa sih."


" Kau cemburu lagi?"


"Jelas saja. Dia mantanmu mas." Jawab Laras terus terang. Itulah yang Vim suka dari Laras. Kata-kata Laras benar-benar berasal dari hatinya dalam kondisi tertentu. Tidak disembunyikan.


"Dia cuma sebentar di sini Laras."


"Dia berharap padamu mas. Aku merasakan itu. Besok kuharap dia tidak ada di sini lagi." Laras mendikte tapi Vim menanggapi dengan santai.


"Baik Nyonya."


"Mas!!" Laras menghentakkan kaki kanannya. Merajuk bak anak kecil meminta jajanan pada Ibunya.


"Iya. Iya. Tenang saja. Jangan terlalu kau pikirkan."


"Akan kutanyakan pada Joel esok. Dia masih di sini atau tidak."


"Boleh. Kau cek besok ya. Sekarang mau pulang atau tidak?"


Tanya Vim. Pekerjaan hari ini tuntas. Memakai jas dan mengajak Laras pulang ke rumah lebih baik daripada terus berada di situ. Laras tetap terbakar cemburu jika berada di sana terus.


Wajahnya yang putih berganti merona merah karena menahan amarah. Wajahnya yang tadi ceria berubah mendung kelabu.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2