
Di tempat lain Dion mendatangi kantor polisi dan mengurus pertolongan untuk Vim dan Laras.
"Saya mohon bantuan Anda, Pak. Teman saya dan istrinya dalam bahaya. Mohon bisa dilaksanakan secepatnya," pinta Dion.
"Kami minta maaf. Kegiatan yang padat dan momen besar seperti ini tidak bisa bergerak cepat serta ditinggalkan begitu saja tapi baiklah, kami akan berusaha membantu Pak Vim besok. Saya akan mengirimkan anak buah saya ke sana."
"Terima kasih atas bantuannya Pak."
Dan situasi rumah yang tenang dari malam hingga pagi ini semakin membuat Vim mantap menjalankan rencana. Tidak ada suara-suara Roni dan orangnya baru pulang dari luar. Mereka berdua tidak pulang tadi malam.
Hari masih pagi sekali. Matahari belum naik tinggi. Ben pergi ke swalayan seperti kemarin. Berbelanja kebutuhan memasak. Vim mengirimkan pesan dan perintah untuk Joel dan Robin. Ia mengeluarkan sepatunya. Sepatu kets putih yang ringan saat dikenakan.
Vim mengintip ke ruangan besar. Ada Jon terbaring pulas di sana. Sedikit ragu melangkahkan kaki. Apabila Jon tersadar habislah Vim.
Vim memeriksa ponsel di saku celana. Aman. Baju dan perlengkapan lain ditinggalkan di kamar. Ia hanya membawa diri agar bisa leluasa bergerak.
Vim mengendap-ngendap masuk ke kamar Laras. Kunci pintu telah dilepas Laras dari lobangnya sejak subuh.
Vim bertanya, " Sudah siap?"
"Sudah. Aku takut sayang."
Vim menggenggam erat tangan Laras. Memberi kekuatan sambil berkata, "Jangan takut. Ada aku, peganglah tanganku. Jangan pernah lepaskan."
"Ya sayang."
Perlahan keluar dari kamar. Jon tetap tidur pulas dalam posisi miring ke kiri. Vim menata Laras dan tersenyum. Kemudian menganggukkan kepala. Berdua melewati ruangan itu. Jalan keluar dapur yang tidak ada orang di sana.
Triiiriing. Triiiriiing. Triiiiriiing.
Bunyi ponsel membangunkan Jon. Jon tersentak dan kedua netranya terbuka. Tangan Jon meraih ponsel di sebelah bantal.
"Oke bos. Saya siap-siap periksa nyonya Laras. Maafkan saya baru bangun tidur."
Terdengar suara ketus dari seberang telepon dan Jon mengumpat dirinya sendiri. Tadi malam Roni sudah mengingatkan agar Jon bangun lebih awal dan mempersiapkan Laras untuk di bawa pergi.
Wah celaka bakal kena aku ini. Kenapa aku bisa bangun terlambat?
Jon tak lagi membereskan bekas tidur. Perhatiannya hanyalah Laras. Laras harus dibawa ke halaman belakang karena Roni dan penjaga bertubuh besar akan membawa Laras pergi melalui jalan tersebut. Jalan itu lebih dekat dengan bandara.
Sekelebat bayangan di ruang dapur membuat John curiga. Siapa yang masuk ke dapur sepagi ini lalu pergi lagi. Jon membuka pintu kamar Laras dan melongok ke dalam. Tidak ada sahutan di dalam kamar. Jon membuka pintu kamar mandi dan memeriksa ruangan ganti pakaian. Sama, Laras tetap tidak ada di sana. Jon cepat keluar kamar dan berlari ke dapur. Laras menghilang. Perasaan Jon mengatakan Laras lari dan Vim kemana anak itu? Vim juga tidak ada. Dua orang itu hilang tiba-tiba. Jon mengira-ngira. Laras dan Vim telah lari ke halaman belakang dan Jon tersadar dirinya lalai.
"Hei! Kalian mau kemana? Kembali! kembali! Kalian mau kemana?"
"Cepat Laras. Ayo lari sedikit. Kita tak boleh tertangkap."
Mereka berada di tengah halaman yang luas. Tangan mereka bergandengan. Saling menggenggam erat agar Laras tidak terlepas dari pegangan Vim.
"Cepat Laras, cepat! Kita harus keluar pintu itu"
"Iya sayang. Aduh....!"
Vim menahan Laras dari jatuh. Ujung depan sandal menyangkut di tanah hingga sedikit terlipat. Napas Laras naik turun. Halaman belakang yang luas ini berhasil membuat keringat Laras mengucur sewaktu berlari melewatinya. Laras hanya mengenakan sandal jepit yang tersedia di pintu dapur sedangkan Vum memakai sepatu kets putihnya masih baru. Semangat untuk bebas tak membuat Laras mengeluh apalagi ia melalui ini bersama Vim. Kebebasan sebentar lagi menjelang di depan mata. Laras bisa bertemu dengan Vian dan keluarganya lagi. Laras bahagia sekarang.
"Woooi kalian! Tunggu. Jangan pergi!" Jon tetap mengajar meskipun tanpa senjata. Jon tak mempersiapkan diri menyandang senjata di samping tubuhnya saat tidur, sehingga Jon mengejar dengan tangan kosong.
Pintu belakang yang menghubungkan rumah dan jalan dibuka oleh Vim.
"Astaga!! Itu mereka, Roni dan orangnya."
"Bagaimana ini mas? Kita pulang pakai apa? Duuuh ada Roni lagi."
"Tenanglah tenang."
Roni dan suruhannya turun dari mobil, "Hei kemana kalian?! Kembali! kembali Laras." teriak Roni. Penjaga bertubuh besar berlari mengejar Vim dan Laras.
"Mana ini mereka? Lambat sekali huuuh!"
"Robin kenapa kalian lambat?"
__ADS_1
Roni menggerutu melihat Vim baru turun dari mobil. Joel tidak ikut turun.
Buuuuuugg.
"Aaaaakhhh." Pegangan Vim terlepas.
Vim terhuyung tapi masih bisa menguasai tubuh dari tersungkur. Bokongnya terasa panas ditendang Jon.
"Laras minggir! Pergi ke tempat Joel."
"Tidak mas."
"Pergi ke jalan sana Laras. Menjauh sebelum Roni mengambilmu lagi. Jooeell!!" Vim berteriak sekuatnya
Ciaaaaaattt. Vim mengeluarkan jurus beladirinya. Memberikan tendangan kepada penjaga bertubuh besar.
"Hahaha..kalahkan aku kalahkan aku kalau ke bisa," kata si tubuh besar.
Iiiiiiyaaaak. Buuuug.Buuuug. Tendangan Vim mendarat di perut si tubuh besar.
"Ibu...ibu tidak apa-apa? Mari masuk ke dalam mobil "
"Joel! Joel tolong mas Vim."
Robin yang turun dari mobil secepat kilat membantu Vim melawan si tubuh besar. Dari dalam pagar muncul Jon.
"Bodoh kau Jon. Mereka bisa lari haah?!" Roni memarahi Jon.
"Maafkan saya Tuan. Saya tertidur tapi saya akan bereskan mereka. Mereka bisa kita tangkap."
"Semudah itu? Ciiiiih."
Jon membantu penjaga tubuh besar. Roni menghampiri mobil Joel. Vim melihat Roni melangkah ke sana. Laras lebih utama. Satu tendangan untuk Jon dan Vim berlari menyusul Roni. Menghadangnya di depan mobil Joel.
"Hadapi aku dulu." Vim melepas rambutnya.
"Oh kau rupanya!? Sandiwara yang bagus. Rasakan!"
Vim menghindari tendangan Roni
"Joel pergi dari sini !!!" Teriak Vim.
Mesin mobil hidup dan Joel memutar mobil membawa Laras menjauh. Tidak benar-benar pergi namun tidak lagi menunggu di atas jalan beraspal. Lebih jauh dari Vim dan Roni.
dari ujung jalan di belakang Vim datang sebuah sedan hitam mengkilat. Si pemiliknya turun dan menghampiri Vim. Dia adalah Dion. Dion benar-benar datang ke lokasi itu setelah bertanya pada Joel dimana Vim berada bersama Laras.
Hiiiyaa...hiiiyaa. Ciaaaaaattt.
Buuuug...buuuug...buuuug. Dion menyerang membabi buta.
"Lu lagi! Lu lagi! Kapan lu insyaf?!"
Hiiiiiyaaaaaa.
Roni mengangkat kaki kanan. Tendangan Roni mengenai angin. Kekuatan Roni melemah. Pinggir bibirnya berdarah. Hal yang sama dengan Vim. Sama-sama terluka tetapi tak ada yang mau menyerah.
Pertarungan masih berlangsung ketika polisi datang dan berseru, " Berhenti! Serahkan diri kalian!"
Seketika Roni dan anak buahnya berlari meninggalkan tempat itu. Masuk ke mobil dan tancap gas. Mobil melesat laju.
"Akh sialan!" Umpat Robin pada diri sendiri.
"Cepat ikuti mereka! Kudengar Roni mau membawa Laras ke luar. Biar dia berurusan dengan polisi," kata Vim.
Mobil polisi meluncur cepat ke bandara. Vim, Robin dan Dion mengikuti dari belakang. Di belakang mereka, mobil Joel sedang membawa Laras.
Joel dan Laras menunggu di luar. Polisi mengejar masuk ke dalam. Melacak keberangkatan pesawat. Menurut pihak bandara satu pesawat pribadi akan melakukan keberangkatan. Polisi bergegas mengejar sebelum pesawat berangkat. Kecurigaan mereka pesawat itu membawa Roni. Bukan pesawat pribadi. Roni menyewa pesawat sesuai keterangan dari pihak bandara.
Belum lagi mereka keluar dari pintu ruangan tunggu, sebuah pesawat sedang lepas landas. Mereka kalah cepat. Vim mengibaskan tangannya.
__ADS_1
"Kalian selamat bro, " kata Dion sembari menepuk pundak Roni.
"Ya. Terima kasih Di tapi dia lepas." Mereka berangkulan.
"Yang penting kalian selamat."
Laras menyandarkan kepalanya ke bahu Vim. Kini hari-hari yang sulit telah terlewati. Laras bisa berkumpul kembali dengan keluarga kecilnya.
...ΩΩΩ...
Orang tua Vim dan Laras berkumpul di rumah Vim. Mereka langsung datang begitu mendapat kabar Laras telah ditemukan dan diselamatkan.
Suka cita dan ucapan syukur terucap dari bibir mereka tatkala Vim dan Laras tiba di rumah.
"Alhamdulillah kalian sudah kembali. Selamat sayang. Laras anak mami. Muaah...muuaah. Kau juga Vim. Baru berapa hari pipimu terlihat kempes. Kurang makan ya?"
"Yaaa mami. Ini karena aku berpikir keras setiap malam agar bisa membawa Laras pulang."
"Laras kau baik-baik saja nak? Tubuhmu kurusan. Besok kau harus rajin makan supaya lebih berisi," Ibu memberikan penilaian.
Laras menyalami satu persatu semua yang ada di rumahnya termasuk pak Uun dan bibi Am. Laras memandang bibi Am.
"Terima kasih Bi sudah menjaga Vian."
"Sama-sama Non. Itu juga tugas Bibi di sini. Sekarang Den Vian masih tidur. Non sebaiknya membersihkan tubuh dulu."
"Betul Bi. Badanku kotor. Papi, mami, ayah, Ibu, Laras ke kamar dulu ya. Mau mandi."
"Ya...ya pergilah. Kalian istirahat saja dulu," kata papi.
"Vim bersihkan tubuhmu dan minta obat sama Laras agar lukamu tidak infeksi."
"Luka ringan ini Pih."
Vim juga memilih masuk ke kamar. Tubuhnya terasa pegal-pegal dan seperti tidak bertulang.
"Mas aku mandi dulu ya. Nanti kubantu membersihkan tubuhmu."
"Wooo sudah nggak sabar nih?"
Laras menjulurkan lidah. Tambahnya, "Lihat saja siapa yang mau duluan?"
"Hahaha...ya dirimulah."
Senyum Laras tersungging.
"Kalau iya kenapa?"
"Aku senang sekali. Ayo mandi."
"Aku sudah selesai. Giliran mas yang mandi."
"Laras aku tak ingin tubuhku basah. Tolong bantu lap bagian yang tidak luka. Aku tidak bisa bagian belakang."
"Baik sayang. Aku ambil handuk kecil dulu ya."
Keduanya sudah bersih. Laras dengan pakaian tidurnya dan Vim mengenakan bathrobe.
"Piyama mau mas?"
"Tidak. Aku lebih suka ****** ***** saja bila didekatmu." Vim mendaratkan kecupan di kening Laras. Tak berhenti di situ karena Laras adalah madu baginya. Vim menguasai wajah Laras dan Laras mengimbangi. Sesaat mereka terbuai. Kehangatan kembali hadir di rumah itu setelah sempat hilang.
Laras teringat Vian. Ia merenggangkan jarak dari Vim. Vim menahan beberapa saat kemudian benar-benar melepas pagutannya. Vim membiarkan Laras berjalan ke kamar Vian. Dirinya mengikuti dari belakang.
"Kita belum melihat Vian," ucap Laras.
Laras membuka salah satu sisi ranjang Vian yang berfungsi sebagai pagar agar bayi tidak jatuh ke bawah. Vian sedang tidur. Laras menyiumnya dengan lembut. Kening, pipi kiri, kanan lalu mengulanginya lagi. Senyum Laras merekah. Bergantian dengan Vim. Laras memberi Vim kesempatan melepas kerinduan pada Vian.
Berdua saling pandang dan tersenyum bahagia. Keluarga kecil mereka utuh kembali. Vim merangkul pundak Laras dan mengecup pelipisnya. Terucap kata cinta yang benar-benar tulus untuk Laras.
__ADS_1
...--Sekian--...
...Readers...Akhirnya selesai juga novel ini. Terima kasih tak terhingga semua yang sudah membaca, mampir di karyaku dan memberi dukungan.❣️...