
Laras kesal pada semua anggota keluarga. Mereka menjawab tidak tahu menahu tentang rencana Vim. Mami sangat terkejut mendapat kabar bahwa Vim akan pergi. Papi baru mendapat informasi tadi pagi. Edo dan Dion juga baru tahu ketika Laras menanyakan.
Kesepian, kesedihan dan merasa diacuhkan bercampur jadi satu. Laras menangis pilu. Jeritan suaranya kalah oleh derasnya hujan dan petir yang menggelegar. Laras semakin tenggelam dalam nestapa.
"Laras, kamu...apa yang terjadi? Tidak masuk kerja?" Risa menelepon setelah hari kedua Laras tidak bekerja.
"Aku sedang sakit." Mendadak sakit karena Vim meninggalkan Laras diam-diam. Hatinya kecewa.
"Tapi besok masuk ya?"
"Tergantung Risa...."
"Kok negitu. Pergilah berobat supaya kamu cepat sembuh. Pak Roni menanyakanmu."
"Untuk apa dia bertanya? Mau diberi bonuskah?"
"Nggak tahu. Kangen 'kaliii..."
"Uwweeek...." Laras memperagakan gaya muntah.
"Hahahaha. Katanya cinta mati sama kamu."
"Omong kosong tuh. Jangan percaya, Risa."
"Penasaran belum dapat kamu. Kata dia sih."
"Nggak bakalan dia maaahh. Aku masuk besok."
"Masuklah Laras. Pekerjaan menumpuk, kamu susah sendiri kan?"
Andai Risa rasa apa yang Laras rasakan. Membangun semangat tak semudah membalikkan telapak tangan.
Laras memasuki kamar Vim. Rapi dan bersih tanpa barang yang tertinggal. Di dekat jendela ia sering melihat Vim memandang keluar.
Sampai hati kamu mas meninggalkan aku sendiri. Setidaknya beritahu aku kalau kau ingin pergi. Istri macam apa aku ini. Suami sakit tidak mendampingi. Tidak menemani dirimu melewati hari-hari yang berat. Mengapa aku ditinggalkan mas?
Laras terisak. Mengusap bantal yang biasa Vim gunakan. Hampa. Ruang hatinya kosong.
"Eee Non...bibi kira di kamar atas. Non belum makan malam." Bibi membuka pintu tanpa mengetuk.
"Saya malas mau makan Bi. Mas Vim nggak ada."
"Tidak boleh gitu Non. Ntar sakit Non Laras. Bibi bisa dimarahi den Vim."
"Mas Vim nggak perduli lagi sama Saya, Bi. Nyatanya pergi saja diam-diam."
"Maafkan Bibi nggak bisa bilang sama Non Laras waktu itu. Den Vim melarang tapi kata den Vim, ini untuk kebaikan bersama."
"Kebaikan gimana Bi? Lihat saya Bi."
__ADS_1
"Iya Non. Pasti Non Laras sedih sekali ya. Perginya jauh lagi, ke Belanda."
"Hiiiiks...kapan mas Vim pulang?" Laras terisak
"Bibi nggak tahu Non. Coba Non Laras telepon den Vadli. Mungkin bisa bantu Non bicara sama den Vim."
"Iya Bi, makasih masukannya."
"Sekarang Non makan dulu. Kalau dengar Non sakit, den Vim bisa ikut sakit juga Non."
Laras makan ditemani bibi. Walaupun sulit menelan makanan Laras berusaha makan. Bagaimanapun ia tak ingin kehidupannya berhenti karena masih banyak hal yang harus Laras perjuangkan.
"Mas Vim mikir saya nggak ya Bi?"
"Pasti Non. Bibi percaya itu...Non Laras kan istrinya."
"Banyak juga istri yang nggak dipikirkan suaminya Bi."
"Den Vim lain Non."
"Saya makan Bi. Tenang saja, saat cuti tiba, saya akan menyusul mas Vim tapi cuti baru bisa dilakukan tahun depan."
"Nah gitu Non. Kan Non harus sehat sampai tahun depan. Kalau Non Laras berangkat, Bibi ikut ya."
"Oiyaa...tentu Bi. Bibi jaga Vian, jadi harus ikut."
"Ya Non. Siapa tahu Den Vim malah pulang duluan ke sini. Sudah sehat gitu Non."
Bibi senang melihat Laras bersemangat. Makannya menjadi lahap. Dorongan untuk bertemu Vim, membesarkan Vian dan menjaga semua harta milik mereka membuat Laras harus mampu berdiri tegak.
Setelah makan malam Laras menghubungi Vadli. Informasi yang diterima Laras, Vim mengikuti terapi dan dari Vim sendiri tidak menghendaki siapapun menghubunginya.
"Mas, aku istrinya. Aku mau bicara dengan mas Vim. Tolong mas... berikan handphone pada mas Vim."
Percuma. Vadli mengatakan Vim tidak berada di dekatnya. Vim berada di suatu tempat khusus dan waktunya tidak memungkinkan ke sana.
"Bibi lihat?! Mau bicara saja susah. Memangnya saya penagih hutang. Mas Vim suami saya loh Bi." Laras kesal.
"Sudah malam ini Non. Kali saja tempatnya jauh Non." Bibi menghibur.
"Jauh gimana Bi. Mas Vim kan ikut mas Vadli."
"Mungkin den Vim maunya tenang Non. Sabar Non."
"Nggak bisa tenang Bi. Suami sakit dan saya nggak di dekat mas Vim. Rasanya...."
Malam yang menjelang terasa sepi dan Laras meminta bibi menemani tidur. Sebuah kasur single diletakkan di kamar Vian untuk bibi Am. Di situlah mereka tidur bertiga.
Suatu waktu Bibi akan masuk kamar tetapi bibi melihat Laras menangis di ranjangnya. Bibi maklum Laras pasti mengingat Vim dan rindu. Bibi pernah muda sehingga mengerti hal itu.
__ADS_1
Pernah pula pintu tertutup rapat dan bibi mendengar sedu sedan Laras di dalam kamar. Bibi mencoba memutar gagang pintu tetapi terkunci. Akhirnya bibi kembali ke kamar. Laras sedang tidak ingin diganggu.
...ΩΩΩ...
Di tempat lain Vim sunyi sendiri di dalam kamar. Tak berbeda dengan Laras ia memikirkan istri dan anaknya. Merindu hanya membuat dada sesak. Semakin dipikirkan semakin teringat belahan jiwanya itu. Tidak memikirkan Laras juga tak mungkin. Bayangan Laras kerap hadir. Bukan hitungan jam. Rasanya setiap saat wajah, gaya dan kenangan bersama Laras menari-nari di pelupuk mata Vim. Mana mungkin bisa hilang begitu saja.
Laras sedang apa? Memikirkan dirinya atau berbalas pesan dengan orang lain atau Edo. Beginikah rasanya berjauhan tanpa saling komunikasi.
Seperti halnya bibi Am, Pak Uun melayani Vim dengan setia. Mengurus semua keperluan Vim. Hanya memasak saja yang dikerjakan oleh ART lain.
Informasi tentang perusahaan diterima Vim dari papi. Dia mulai mempelajari info sedikit demi sedikit. Kesembuhan adalah tujuan utama. Dia ingin bekerja lagi semampunya. Berharap Tuhan membantu memberikan peluang kedua padanya untuk meraih sukses.
Laras. Apa kau masih memikirkan aku? Mengharapkan menata asa bersama lagi sedangkan di sekelilingmu banyak harapan lain yang menunggu? Peluang ini terbuka. Kuberikan jalan agar kau bisa memilih. Bersamaku atau memulai hidup baru? Kau tahu, mustahil aku bisa menghapus namamu. Sangat sulit, Laras. Biarkan jarak dan waktu ini memberi kesempatan padamu untuk berpikir.
Vim tak mengalihkan tatapan pada poto Laras. Nyeri di dada membayangkan Laras bersama Edo atau Roni. Bisa jadi pula bukan bersama mereka tapi dengan orang lain. Kebahagiaan Laras hal yang paling penting. Asalkan Laras bahagia. Tentang Vian? Suatu saat Vian akan mengerti dan mencari papinya atau Vim yang akan mencari Vian.
"Den jangan melamun terus. Tidak baik." Pak Uun membawakan Vim air minum. Beginilah kalau hanya mereka saja di tempat itu tanpa anggota keluarga lain yang bisa mengajak Vim mengobrol. Vim tenggelam dalam lamunan. Pak Uun kadangkala mengajak Vim mengitari halaman villa di mana mereka berada sekarang.
"Duniaku seperti ini ya Pak. Suram."
"Jangan begitu Den. Den Vim sedang berusaha buat sembuh. Berdo'a biar cepat baik, Den."
"Sampai kapan ini Pak."
"Jalani dengan sabar Den, sampai bisa jalan seperti dulu."
"Saat saya sembuh, mungkin Laras sudah memilih jalan lain Pak."
Pak Uun memberikan penghiburan dengan berkata, "Semoga tidak Den. Berdo'a."
"Biarkan rumah itu buat Laras, Pak. Dia berusaha mempertahankan, saya ikhlas."
"Den ini ngomong apa? Non Laras pasti sudah tahu Den Vim menjalani terapi dan menunggu Den Vim pulang. Semangat Den. Harus semangat."
"Berapa bulan ini saya tak memenuhi kebutuhan Laras. Tak adil saya mengharapkan Laras setia Pak."
Pak Uun melihat kekosongan pandangan Vim.
"Memang Den tapi percaya saja Non Laras lurus-lurus tidak berbuat macam-macam. Keluar rumah cuma buat cari duit. Berharap yang baik-baik ya Den."
Ada kekuatan atas ucapan Pak Uun. Menambah daya dan semangat Vim.
"Tentang nanti gimana besok saja Pak. Sekarang kita istirahat. Besok ada terapi."
"Benar Den. Kalau jodoh tetap jodoh. Nggak kemana ini Den. Mari tidur."
Dalam ucapan tetap saja penuh keyakinan namun kenyataannya Vim merindukan Laras setiap malam. Menatap poto Laras dan Vian. Lalu tidur ditemani syal yang dirajut Laras ketika hamil. Syal itu pula yang dikenakan di leher Vim bila udara terasa dingin.
>>>>>>>
__ADS_1
🌷Like, komen, gift, vote dan bintang lima. Terima kasih sudah mendukung dan bikin othor semangat.😍💞