Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 112. Terus berusaha.


__ADS_3

Laras tergesa menuruni anak tangga. Malam ini ia pulang telat disebabkan harus menyiapkan semua laporan. Pulang pukul sepuluh saat cafe sedang ramai oleh pengunjung. Laras pulang kerja selalu pukul sembilan malam sesuai perjanjian kerja dengan pemilik cafe.


Buuuuug.


"Oops...maaf. Maaf. Ka- kak Edo??"


"Laras???"


"Maaf kak aku terburu-buru. Sudah lewat dari jam pulang." Laras tak menghiraukan Edo. Dia mempercepat langkah keluar dari ruangan itu.


"Hei tunggu Laras. Mengapa kau ada di sini?"


Edo lebih cepat melangkah hingga mampu menghalangi Laras.


"Aku kerja kak. Mas Vim menungguku. Aku harus segera pulang. Berikan aku jalan, kak."


"Kau kerja di sini?" Edo kurang yakin ucapan Laras.


"Iya, besok saja kita ngobrol kak. Aku harus pulang."


"Aku antar. Ayo masuk ke mobilku."


"Aku bawa mobil. Jumpa lagi kak."


Laras melambaikan tangan dan masuk ke mobil.


Brruuuuum.


Mobil Laras meninggalkan pelataran parkir cafe. Edo tidak percaya atas apa yang ia lihat. Laras keluar rumah malam hari dan bekerja bukanlah hal biasa menurutnya.


Laras menggantungkan kunci mobil di dalam kotak. Dari sana ia menyuci tangan di wastafel dapur kemudian melihat Vian.


"Tidurnya nyenyak non. Belum minta susu."


"Bagus Bi tapi...kalau Vian bangun, dia pasti sangat lapar."


"Non makan dulu."


"Saya sudah makan Bi. Bibi boleh istirahat."


"Baik non."


Laras dan Vian tidur terpisah dari Vim. Sejak Vim mengamuk hari itu, Vim tidak mau tidur ditemani Laras.


Kehidupan berjalan datar. Tiada gelak tawa dan kemesraan seperti yang pernah ada. Menjenguk Vim setelah pulang dari kerja merupakan kebiasaan Laras. Memastikan Vim dalam keadaan baik-baik saja selama ia tinggalkan beberapa jam.


Laras membenarkan posisi bed cover Vim. Menatap wajah tanpa seri itu. Netra Vim tertutup rapat. Sebuah kecupan di kening ia berikan kepada Vim.


"Aku mencintaimu. Selalu," bisik Laras.


Laras tak mengetahui jika kelopak mata Vim membuka ketika Laras berjalan meninggalkannya. Kemudian Vim tidur kembali.


Sebuah panggilan interview masuk di email Laras. Sekedar mengetahui info itu, Laras membaca pemberitahuan tersebut.


Menimbang sebaiknya panggilan itu ia hadiri atau tidak, mengingat ia telah mendapatkan pekerjaan. Tidak ada salahnya dicoba.


Keesokan pagi Laras menyiapkan pakaian untuk interview. Sebelum pergi Laras menyempatkan diri mengurus Vim dan Vian. Dua orang yang sangat ia cintai.


"Mas, aku ada panggilan interview. Aku tinggal dulu ya."Laras mengecup pipi kiri Vim.


"Satu pekerjaan saja tidak cukup untukmu?"


"Mencoba tidak ada salahnya mas. Seandainya yang ini lebih baik, aku akan pindah kerja."


"Aku katakan jual saja tanah kita agar kau tidak bekerja kelas menebus agunan itu."


Berkali-kali Vim mengingatkan Laras tentang tanah mereka. Jual dan jual tetapi Laras tetap tidak menghiraukan Vim. Mendapatkan tanah seluas itu tidaklah mudah. Tenaga, pikiran dan waktu dikorbankan. Oleh karena itu Laras pikir panjang untuk menjual aset berharga tersebut.


Laras menunggu namanya dipanggil. Tiga orang telah memasuki ruangan interview. Ia cukup lega namanya dipanggil oleh seorang karyawan.


Wanita di depan Laras terlihat sangat anggun menggunakan blus dengan hiasan serupa pita yang menggantung di depan leher. Usianya lebih tua dari Laras.


"Selamat pagi," sapa Laras.


"Selamat pagi. Silahkan duduk."


Selanjutnya Laras menjawab petanyaan si wanita dengan lancar. Sesudah itu Laras keluar dari ruangan dengan langkah ringan.

__ADS_1


"Ras kau di sini juga?!" Teriakan dari samping membuat Laras menoleh.


"Kak Edo. Loooh kakak juga di sini?"


"Kebetulan melintas di sini. Tempatku bekerja di kawasan ini Ras."


"Oh aku lupa kak."


"Kau...ada perlu apa di situ?" Edo menunjuk tempat Laras keluar tadi.


"Aku...aku selesai wawancara di situ." Laras ragu mengatakan pada Edo. Tidak nyaman rasanya jika Edo mulai banyak bertanya.


"Wawancara? Kau mau bekerja di situ? Laras kau membingungkan. Kemarin malam kau berada di cafe. Hari ini kau bilang selesai wawancara. Kau...kau kerja di dua tempat ya?"


Nah kan Edo mulai banyak bertanya membuat Laras risih.


"Satu saja kak," jawab Laras.


Edo menggamit tangan Laras. Mengajaknya berjalan menuju sebuah rumah makan yang tak terlalu besar.


"Kak Edo, kita mau ke mana? Aku mau pulang kak." Laras menarik kembali tangannya. Percuma. Tangan Edo lebih kuat menahan tangan Laras.


"Duduklah sebentar. Ceritakan padaku apa yang terjadi. Mengapa kau melamar pekerjaan lagi?"


"Maaf kak aku tidak bisa. Ini urusan rumah tanggaku dan nggak ada yang berarti sedang terjadi. Aku sedang berusaha, itu saja."


"Laras...aku sahabat Vim. Sahabat mu juga. Aku tahu kau butuh tempat curhat."


"Aku sudah curhat, sama Yang Di Atas."


"Siapa Yang Di Atas?"


"Tuhan."


"Oh kukira ada orang lain lagi."


"Nggak lucu. Sudah aah...aku pulang ya kak. Titip salam buat Tante."


"Please Laras...duduk sebentar."


"Apa yang ingin Kakak ketahui. Yang jelas kami butuh uang dan karena itu aku bekerja."


Laras tak mungkin mengutarakan perihal besarnya uang yang bakal ia terima sebagai upah bekerja. Sudah cukup pertolongan yang diberikan oleh Edo maupun Dion. Ia menghindari bantuan mereka meskipun mereka tak keberatan menolong.


"Sudahlah kak. Jika yang ini sesuai dengan harapanku, aku kerja di sini. Aku pulang dulu ya kak."


Laras menghindari duduk berdua Edo. Berdua dengan lelaki lain dalam keadaan Vim sakit, hanya akan menimbulkan fitnah. Menimbulkan salah paham bila Vim mendengar kabar kabur.


Edo hanya mampu memandang Laras yang lincah keluar dari rumah makan. Padahal Edo masih ingin berbincang. Salahkah ia berharap pada Laras. Ah tentu saja bukan pada tempatnya. Edo bangkit dan pergi.


Laras tak habis pikir kenapa akhir-akhir ini sering bertemu Edo. Edo yang ingin tahu banyak tentang apa yang Laras lakukan.


"Kapan mobilmu jadwal service, Laras?" Vim bertanya malam ini. Seingat Laras enam bulan terakhir belum pernah dicek.


"Seharusnya bulan ini mas. Kondisinya masih baik kok." Laras menjawab sembari mengeringkan rambutnya yang basah.


"Sudah waktunya. Minta tolong pak Uun supaya diperiksa. Punyamu saja."


Vim memikirkan keselamatan Laras. Perawatan berarti uang sedangkan mereka sedang butuh uang sekarang. Laras tak hendak membalas ucapan Vim.


"Bulan depan saja mas."


Bulan depan Laras menerima bonus. Bisa dimanfaatkan untuk itu.


"Uangku masih ada. Pergunakanlah untuk apa saja."


Sampai di mana kemampuan uang yang mereka miliki. Tanpa pernah ditambah lagi, lama kelamaan berkurang dan habis. Laras memejamkan mata.


Laras lalu bercerita tentang pertemuannya dengan Edo siang ini. Di luar dugaan Laras, wajah Vim menunjukkan ketidaksukaan.


"Maafkan aku kalau mas tidak suka ceritaku."


"Kalian kemana saja?"


Laras tercengang. Barangkali ia salah dengar.


"Apa mas? Kami kebetulan saja bertemu. Tidak kemana-mana. Berbincang pun sekejap."

__ADS_1


"Bisa kupercaya?"


"Kenapa tidak? Apa yang mas pikirkan tentangku?"


Vim keterlaluan. Vim mencurigai Laras.


"Tidak ada. Lupakan."


"Mas bohong."


Entah kapan kesedihan ini berakhir. Kecurigaan, kecemburuan dan kegelisahan. Kepergian Laras bekerja setiap hari menimbulkan syak wasangka Vim. Vim tidak pernah tenang. Berdiam diri saja juga bukan jalan keluar. Laras bimbang. Apakah salah dirinya berusaha?


>>>>>


>>>>>


Pagi mendung...


Wanita berambut potongan Bob meneliti sekian map lamaran kerja. Dia mencari berkas seorang pelamar. Derap langkah seseorang semakin mendekati wanita tersebut. Wanita itu mendongak dan memberikan salam hormat.


"Pagi Pak."


"Pagi Risa. Gimana..sudah ketemu?"


"Belum Pak. Orangnya sudah ada. Cocok untuk di sini. Berkas lamarannya ada sama saya. Mau saya serahkan ke Bapak."


Pria itu mengamati meja Risa yang penuh dengan berkas lamaran.


"Cari satu orang saja...berantakan begini."


"Kemarin saya letakkan di sini, sekarang kok tidak ketemu."


"Cari pakai mata. Bukan pakai deng..." Sampai di situ ucapan si pria. Tangannya meraih sebuah map lamaran yang menarik perhatian. Ia mengenali poto di map lamaran yang terbuka.


Lalu ia menyambung kalimatnya," Terima pelamar ini. Berikan gaji yang besar. Saya pertimbangkan dulu nominalnya. Nanti malam saya WA."


"Baik Pak."


Tidak perlu menunggu lama. Wawancara kemarin membuahkan hasil. Laras mendapat panggilan hari ini. Cepat sekali. Ia belum mengundurkan diri dari cafe. Tunggu dulu. Apakah ini panggilan menentukan?


Vim mengamati kesibukan Laras. Cuma itu yang bisa ia lakukan. Diamnya Vim bukan berarti ia tidak berpikir. Ia menimbang berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk terapi. Dia belum bersedia menerima uluran bantuan Vadli. Sungkan pada Shinta, istri Vadli.


Plok...plok...plok.


Suara tapak sepatu Laras beradu lantai menimbulkan suara khas. Laras mendekati bayinya. Memberikan ciuman sayang untuk Vian yang berada dalam gendongan bibi.


"Mami pergi dulu ya sayang. Jangan nakal ya? Mmuaaach."


"Aku pergi ya mas."


Selalu meskipun tanpa balasan dari Vim, Laras tak pernah luput berpamitan pada Vim. Sampai kapan Laras harus bekerja keras. Vim merasa kasihan. Cinta? Tentu rasa cintanya pada Laras tak pernah berkurang seujung jari pun.


Laras masuk ke ruangan. Risa menunggu Laras di dalam.


"Duduklah. Selamat anda diterima di sini. Ini ruangan anda." Risa mempersilahkan.


"Tapi bagaimana dengan gaji saya? Maksud saya penawaran kemarin."


"Tuan memberikan gaji di atas itu."


"Oh terima kasih."


"Anda bisa memulai besok. Hari ini ruangan ini akan dibersihkan."


"Sekali lagi terima kasih."


Laras tidak menyangka tuan pemilik lembaga keuangan ini begitu baik. Mungkin memang sesuai dengan tanggung jawab Laras di situ sehingga ia diberikan penghasilan yang besar.


"Aku pindah kerja mas. Tempat kerjaku di EBS Tower." Laras menyebut nama kawasan bisnis


Vim bukan tidak tahu kawasan terkenal tersebut. Dirinya kerap mondar mandir di sana untuk kepentingan bisnis.


Vim suka atau tidak, Laras selalu memberitahu Vim setiap peristiwa apapun apalagi berhubungan dengan dirinya. Laras tidak ingin Vim menduga hal negatif ketika Laras berada luar rumah .


Di tempat kerja yang baru nanti gaji yang diberikan lebih menjanjikan bahkan bersisa setelah digunakan menyelamatkan agunan rumah mereka.


🌾🌾🌾

__ADS_1


Like, komen, gift, vote dan bintang lima. Terima kasih...πŸ§‘πŸŒ·πŸ’


__ADS_2