
Matahari telah bersinar terang. Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi tetapi Laras baru saja membuka matanya. Rasa malu karena baru bangun sementara di rumahnya ada sang mertua.
Laras berusaha bangun dan berjalan. Rasa sakit tadi sudah berkurang meskipun ia berusaha bisa melangkahkan kaki secara normal tanpa pincang.
Derit pintu berbunyi. Laras mencari sosok Vim tapi tiada sesiapapun di ruangan itu. Mencari Mami mertuanya tapi tidak melihatnya. Kemudian terdengar suara mesin motor meraung pelan dan kuat bergantian. Suara dari halaman samping.
Laras menuju ke sana. Dilihatnya Vim sedang berurusan dengan motor lelakinya. Memeriksa dengan seksama apa yang perlu dilakukan pada si motor.
"Mas mami ke mana? Kok sepi ya."
"Mami sudah pulang sayang. Mami titip salam buatmu."
Ya Tuhan menantu macam apa aku ini. Mertua pulang aku tidak melepasnya.
"Ya ampun mas. Maafkan aku membiarkan mami pulang begitu saja."
Laras menepuk keningnya.
"Tidak apa sayang. Mami mengerti kok. Mami maklum sama kita." Kecupan Vim mendarat di kening Laras. Menggiring Laras duduk di kursi yang menghadap kolam renang kecil dan memanjang.
Vim melepas kaos oblong dan celana pendek miliknya. Menyampirkan pakaian di sandaran kursi yang lain di sebelah Laras.
Byuuuurrr.
Vim membelah air kolam dan terus bergerak maju sampai ke ujung, berbalik kembali lagi ke arah berlawanan. Laras memperhatikan tanpa berkedip.
Hasratnya ingin bermain air bersama Vim namun tubuhnya tidak terlalu fit. Air itu menyegarkan sekali.
Vim menggapai pinggiran kolam dan mengambil handuk yang selalu tersedia di tempatnya.
Mengganti celananya yang basah dengan celana pendeknya. Mendekati Laras dan satu kecupan singgah di bibir Laras.
Pipi Laras merona. Membalas dengan kecupan di pipi kanan Vim.
Laras menemukan bola mata Vim memandangnya tanpa mengedip sama sekali membuat Laras salah tingkah.
"Ehem.. mas kau melamun."
Vim menyadari posisinya. Kini ia merubah berdirinya di belakang Laras. Meletakkan kedua tangannya tepat di bahu Laras. Posisi kepalanya lebih rendah sekarang. Menunduk tepat di atas kepala Laras. Tercium wangi shampo dari rambut istrinya. Selanjutnya kepala Vim berada di samping pipi kanan Laras. Pipi keduanya hampir bersentuhan.
"Aku bahagia Laras, berada di sampingmu. Hidup denganmu. Tidak ada yang lebih berarti selain bersamamu." Vim mengeluarkan isi hati
"Bersamamu adalah anugerah mas. Jangan pernah pergi jauh dariku." Laras membalas menggenggam jemari Vim yang bertengger di bahunya. Sentuhan lembutnya menimbulkan reaksi di dada Vim. Desiran halus sesaat.
"Rumah ini saksi cinta kita Laras. Aku tidak akan menjualnya apapun yang terjadi."
"Semoga tidak terjadi apa-apa sayang. Selamanya milik kita."
"Hmmmm." Vim mengecup puncak kepala Laras.
"Kau ingin berada di sini terus? Perutku terasa lapar." Vim berterus terang.
"Maafkan aku. Lagian mas dari tadi di belakangku terus." Laras mencebik lucu.
"Selesai berenang terasa lapar sayang."
"Oke kita ke dalam ya."
Bibi selesai memasak lebih cepat hari ini. Mengetahui nona rumah tidak bangun di awal pagi seperti biasanya, Bibi cepat tanggap. Menyediakan sarapan untuk Nyonya besar sebelum beliau meninggalkan rumah Vim dan memasak untuk Tuan dan nona muda. Hasilnya telah terlihat di meja makan. Nasi, lauk serta makanan pelengkap lainnya telah terhidang.
"Terima kasih Bibi. Hari ini Laras tidak membantu bibi di dapur."
"Tidak apa non. Ini sudah kewajiban Bibi. Tadi Nyonya pesan Non Laras tidak boleh terlalu cape."
"Tidak pernah cape Bi. Kan ada Bibi yang membantu." Laras mengedipkan sebelah matanya.
"Mau tetap mengobrol atau makan?" Tanya Vim setengah protes.
"Sebentar sayang."
"Maaf Den. Non..bibi mau membersihkan ruang depan ya. Makan yang banyak ya non biar sehat." Bibi segera berlalu tak hendak mengganggu Tuan mudanya lebih lama.
"Iya Bibi."
Bagi Laras Bibi itu sudah seperti keluarga sendiri. Kadang Bibi memberi nasehat dan kadang mengajak Laras bercanda. Saat mereka masih di rumah orang tua Vim, Bibi dan Laras sering bertukar cerita sambil menyelesaikan pekerjaan mereka.
__ADS_1
Tapi tak lama kemudian Bibi datang lagi membawa panci ukuran sedang beserta tutupnya.
"Bibi membawa apa?" Laras bertanya lebih dulu.
" Sebelum pulang Nyonya menyuruh Bibi merebuskan daun sirih buat non Laras. Buat basuh-basuh non."
Laras dan Vim saling berpandangan. Vim tersenyum geli juga menjeling setengah nakal pada Laras.. Ia tahu maksud Bibi bahwa air tersebut buat membasuh organ intim.
"Aaa.. yang siap pakai banyak bi."
"Benar non tapi Nyonya meminta Bibi siapkan rebusan ini dan non harus pakai. Bibi letak di kamar atas ya non."
Kan Mami bisa saja sih. Lihat dia senang melihatku harus melaksanakan yang Mami perintahkan. Mamiiii..
"Boleh. Letakkan di kamar mandi ya bi. Hati-hati menaiki tangga bi."
Laras melanjutkan menyendokkan makanan ke piring untuk Vim.
"Kau diperhatikan Mami demikian rupa tapi lihatlah Mami tidak menitipkan apapun untuk diriku. Apa Mami lupa aku anaknya?"
Laras tertawa kecil.
"Jadi mas nggak rela nih perhatian Mami untukku? Mas kan sejak bayi mendapat perhatian dari Mami."
"Itu saat aku bayi."
"Ya nanti mas minta sama Mami saja yang mas inginkan ya."
"Nggak perlu. Itu sama saja bukan dari Mami."
"Hahaaa.."
Mereka berdua melanjutkan makan siang. Hening merayap. Masing-masing konsentrasi menghabiskan makanan. Hanya terdengar suara dentingan sendok menyentuh piring sesekali.
Vim mengambil tisu dan membersihkan sisa makanan di mulut.
"Aku ke kamar dulu dik."
Untuk pertama kalinya Vim memanggil Laras dengan sebutan itu. Lebih menyejukkan hati Laras.
Laras menjadi cekatan mengurus hal rumah tangga sekarang meskipun tetap dibantu oleh bibi. Tidak semua tapi ia mulai terbiasa dengan tugas kewajibannya sebagai istri.
Meja makan telah bersih dari makanan. Yang tersisa di sana hanya sekelompok sendok dan garpu di dalam wadahnya beserta tisu di dalam kotak tisu.
Laras menyambangi Vim di dalam kamar. Dilihatnya Vim sedang membuka laptop. Tidak ingin mengganggu, Laras diam saja lalu menatap Vim dari atas bed.
Dilihatnya wajah itu yang terlihat tenang di depan. Tidak menyangka wajah setenang itu mengeluarkan amarah yang dahsyat jika sedang emosi. Vim mengangkat pandangannya. Tertuju pada Laras.
"Kau sudah di sini ya."
"Mas serius kali sih."
"Berhubung produk baru akan launching, memerlukan perhatian ekstra sayang. Sampai di mana prosesnya. Oya aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Apa itu? Seriuskah?"
Vim berjalan mendekati Laras. Duduk di sisi Laras. Mengusap-
usap lengan Laras perlahan-lahan. Membelai rambut wanitanya itu sangat hati-hati seolah tak ingin menyakiti.
"Begini saat memulai usahaku yang ini, aku memerlukan modal yang sangat besar. Untuk itu aku meminta bantuan papi agar menyukupi dana yang kurang. Papi membantuku setengah dari dana yang kubutuhkan. Syukurnya bantuan papi sudah hampir selesai bulan depan."
Vim berhenti sebentar. Tampak ragu meneruskan kalimatnya. Laras menatap Vim tepat di manik matanya. Di situ ia melihat keresahan.
"Syukurlah. Aku senang mendengarnya. Apa ada lagi mas?"
"Ada Laras tapi kuminta kau tidak akan marah."
"Katakan mas. Mengapa mas ragu begitu. Aku istri mas akan selalu menjadi pendengar." Ucap Laras bijak dan meyakinkan. Vim tidak menyangka pikiran Laras seperti wanita dewasa.
" Sebenarnya aku menjadikan rumah ini jaminan atas biaya usaha itu, sebab membutuhkan dana yang sangat besar. Dibantu tambahan dana dari papi. Maafkan aku Laras."
Vim menunggu reaksi Laras. Laras diam tanpa ekspresi terkejut sama sekali.
"Mas..kau memulainya ketika kita belum menikah. Saat itu aku belum berhak apa-apa atas rumah ini jadi aku tidak berhak marah padamu. Apalagi itu semua untuk tujuan yang jelas dan masa depan."
__ADS_1
"Terima kasih sayang. Kau sangat mengerti. Masih setengah lagi yang harus ditutupi. Sebenarnya bisa tertutup seandainya tanah dari papi kujual."
Vim menyium Laras bertubi-tubi tanda gembira sang istri tidak marah atau mengalahkannya.
"Terima kasih sayang." Ucap Vim lagi.
"Mas sudah ah. Aku nggak bisa bernafas. Tidak apa, tidak usah dijual tanah dari papi. Gunakan kita punya saja mas."
"Terima kasih kau bisa menerima. Aku akan menebus rumah ini lagi sayang."
"Sekarang masih ada yang mas simpan dariku?"
"Ada tapi ini berhubungan dengan produk. Tidak semua tahu, hanya sahabatku saja."
"Aku tidak boleh tahu?"
"Tidak perlu. Cuma formula produk yang dirahasiakan."
"Oo gitu. Ya sudah."
Vim merasa lega sudah menceritakan rahasia yang disimpannya. Yang terpenting bagi Vim dukungan Laras dengan tidak marah atau keberatan. Bagi Laras sendiri bukanlah masalah karena nafkah dari Vim tetap lancar meskipun tanggung jawab yang harus dipenuhi atau dibayar terhitung banyak. Berarti penghasilan dan usaha Vim masih menutupi semua kebutuhan.
" Mas kau telah mengatakan sesuatu. Aku boleh nggak ngomong juga?"
"Mau ngomong apa sayang. Katakanlah."
Vim meraih remote televisi. Mencari sebuah saluran. Membuka suara tidak terlalu kuat.
"Gini mas. Sebenarnya aku ingin melanjutkan Les bahasa inggrisku."
"Kau pernah les bahasa Inggris?"
Vim bertanya merasa tidak yakin pada Laras.
"Iiiih mas..pernah loh waktu SMA."
"Serius mau les lagi?"
Laras mengangguk pasti.
"Oke kalau benar-benar mau. Tapi tunggu dulu. Bagaimana kau mengatur waktu?"
"Sesudah membuat tugas kuliah, sore hari aku bisa memulai les bahasa Inggris. Tidak setiap hari les nya mas."
"Menyita waktumu dik. Kau harus ingat Mami minta cucu. Jika kau sibuk kuliah, les dan mengurusku kau akan kelelahan."
"Mas..please deh." Rayu Laras.
"Boleh ya mas. Nanti mas kupijit kalau boleh."
"Baiklah. Kucarikan guru private."
"Kalau datang ke lembaga kursus?"
"Menyulitkanmu harus ke sana kemari."
"Yaahh..." Suara Laras lemah dan lirih.
"Jadi maumu datang ke tempat les??"
Laras mengangguk.
"Tidak saat ini Laras. Kita sedang mempersiapkan bayi. Dari rumah saja les nya ya."
Laras menarik nafas dalam.
"Ya sudahlah. Yang penting jadi les."
"Gitu dong." Satu kecupan mampir lagi di kening Laras.
"Aku tidak bermaksud membatasimu. Untuk kebaikanmu juga."
Sampai di situ, Laras merebahkan kepalanya di bahu Vim. Cinta selalu butuh pengorbanan. Oleh sebab itu Laras tidak ingin menuntut lebih banyak. Bersyukur sang suami mau memenuhi keinginannya.
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1