
Ma'af sebelumnya, author membuat cerita ini jadi sedih..
Readers.. jangan lupa kasih dukungan ke author ya. Like, komen, gift atau vote. Bintang lima juga..terima kasih.😘💐
•°
°•
•°
Dokter datang memeriksa Vim. Semua menunggu dan memperhatikan dokter.
Papi yang bertanya pada dokter, "Bagaimana untuk kesembuhan Vim, dokter?"
"Kaki bagian bawahnya sulit untuk digerakkan. Dia mengalami kelumpuhan sementara tetapi... kemungkinan sembuh masih ada. Dengan terapi dan usaha lebih keras, dia bisa kembali berjalan normal." Dokter menjelaskan.
Ucapan dokter membuat lega semua yang berada di situ. Sebuah harapan mereka gantungkan. Berharap Vim pulih dari kelumpuhan.
Papi berjalan keluar diikuti oleh Dion. Dion memberikan ponsel dan kunci motor Vim.
"Oom...ini kunci motor Vim dan ini ponselnya."
Dion yang mengurus motor Vim di kantor polisi. Ponselnya masih berada di saku Vim saat terjadi kecelakaan. Papi menimang dua benda itu di tangan.
"Terima kasih nak Dion. Ini semua Oom pegang. Vim tidak bisa mengurus usahanya sementara. Entah bagaimana nasib perusahaannya nanti."
Papi Dewantara terlihat gusar.
"Om segera ambil alih saja atau percayakan pada orang kepercayaan Vim di kantor," saran Dion.
"Om tidak mengenal mereka. Bagaimana mungkin Oom bisa percaya mereka. Oom lebih percaya padamu, Dion."
"Saya tidak yakin saya mampu Oom."
Pekerjaan Dion sendiri sudah banyak. Lebih banyak lagi kalau ditambah tanggung jawab dari perusahaan Vim.
"Oom minta tolong kau ambil alih tugas Vim."
"Baik Oom. siap-siap apa yang terjadi Oom. Kepercayaan berkurang, produksi anjlok dan yaaa...seperti itulah Oom."
"Kau benar Di."
Mami dan papi menemani Laras di rumah sakit. Laras merasakan buah dadanya berdenyut lalu blusnya basah di kedua bagian itu. Terbayang Vian di matanya. Terngiang tangisan Vian yang menyentuh relung hati Laras.
Mami melihat blus Laras basah dan menegur Laras, "Laras bajumu basah."
"Vian tidak minum ASi mih."
"Kasihan Vian. Laras pulanglah sebentar. Lihatlah Vian, sayang."
Laras memandang Vim yang sedang tidur. Berat hati meninggalkan Vim walaupun sebentar.
"Pulanglah. Pegang Vian sebentar lalu kemari lagi. Ada mami dan papi di sini."
"Iya mih. Vian pasti mencari Laras."
Laras mengangguk. Dia melihat guratan lelah di wajah Vim. Dia melihat kegundahan Vim di sana.
Mas, aku mengerti kesedihanmu. Aku tahu yang kau pikirkan. Aku dan Vian. Mas, tetaplah tegar untukku dan Vian. Aku tetap bersamamu.
Laras mengecup kening Vim dan lirih berkata, "Aku pulang dulu ya mas."
Laras diantar pak Uun yang menunggu di luar. Sesampainya di rumah Laras tidak mendapati bibi. Laras masuk ke kamarnya.
"Non sudah pulang. Non...Bibi ikut sedih non." Bibi terisak.
"Bi! Tolong do'akan mas Vim cepat sembuh ya Bi. Hiiiiks..mas Vim lumpuh Bi."
Laras tak mampu menahan air matanya. Ia menangis memeluk bibi. Mencari sandaran. Tempatnya bersandar sedang rapuh dan mudah patah. Tak mungkin Laras meluapkan air mata di depan Vim. Hal itu hanya menambah kesedihan Vim.
" Non yang sabar ya non. Semoga den Vim bisa jalan lagi dan semua kembali seperti biasa."
Aaaaah rasanya sakit melihat orang yang kita cintai tidak berdaya.
"Kenapa jadi gini Bi..huhuhuhuu."
"Sabar non...ini cobaan. Lihat Vian non, dia butuh non. Sekarang non ganti pakaian dulu , baru pegang den bagus Vian."
Laras mengusap air mata. Ya dirinya harus tetap berdiri meskipun badai ini datang menghantam bahtera rumah tangganya. Vim menjadi lemah. Sebaliknya Laras tidak boleh lemah.
" Non, Bibi ke dapur dulu ya," pamit bibi.
"Iya bi."
Laras mendekati Vian. Menggoyang sedikit ranjang Vian. Laras terpaksa memberikan susu bantu untuk Vian setelah seharian menunggu Vim di rumah sakit.
__ADS_1
Vian sayang papi sedang sakit. Mungkin kau takkan merasakan tangannya menggendongmu lagi tapi kau harus tahu nak, papimu sangat mencintaimu. Tidurlah sayang.
Sampai di sini Laras berurai air mata. Tubuhnya melemah. Ia terduduk di samping ranjang Vian. Tangannya memegang kaki ranjang dan dadanya sakit. Ia menunduk dalam. Menekan rasa sedih. Kenyataan ini pahit. Air mata Laras semakin deras. Laras menumpahkan kesedihannya di kamar.
Dirasanya Tuhan terlalu kejam pada dirinya. Ujian ini terlalu berat.
Bibi masuk ke kamar. Membawakan makanan untuk Laras.
"Makan dulu non."
"Letakkan saja bi. Bibi malam ini tidur di sini saja," pinta Laras.
"Kalau maunya non gitu...terserah non saja. Bibi ikut saja non."
"Saya mau ke rumah saki lagi bi. Tolong jaga Vian."
"Ya non. Non Laras jangan terlalu sedih ya non. Ingat ada den bagus Vian yang butuh non."
"Iya bi. Laras harus kuat."
Laras mengangkat Vian. Menyium tubuh mungil itu berulang kali. Air mata jatuh lagi. Vian memberinya kekuatan dan semangat. Ia tidak boleh lemah.
"Sudah non nangisnya. Kalau den Vim lihat, den Vim ikut sedih. Non harus kuat."
"Iya bi, saya kuat. Saya harus merawat mas Vim."
"Non makan dulu sebelum ke rumah sakit. Bibi sudah siapkan makanan buat tuan dan nyonya."
"Saya bawa."
Laras makan. Makanan tidak terasa nikmat baginya. Mulutnya sulit menerima makanan. Vim yang terbaring lemah membayang di pelupuk mata. Air mata Laras mengambang.
...°•°•°•°•°...
Laras menyendokkan makan malam Vim. Dilihatnya Vim tak bersemangat. Tatapan Vim hampa. Laras berusaha baik-baik saja. Mami dan papi pulang untuk berganti pakaian.
"Makan ya mas."
"Laras... aku sekarang cacat." Pandangan Vim lurus ke depan.
"Makan ya, aku suapi."
"Laras kau dengar aku?"
"Aku tidak bisa menjalankan kewajibanku."
"Mas jangan pikirkan itu dulu."
Sesendok makanan masuk ke mulut Vim. Lalu sendok demi sendok berikutnya hingga makanan habis.
Suatu pagi Vim diperbolehkan pulang. Kursi roda menantinya di sebelah tempat tidur.
Papi berusaha menolong Vim berpindah duduk dari ranjang rumah sakit ke kursi roda. Vim menolak. Bagian bokongnya masih bisa digerakkan. Kaki bagian bawah saja yang mengalami kelumpuhan. Vim berusaha sendiri. Dia tak mau menyusahkan keluarganya. Setelah dulu ia menyusahkan mereka ketika ditinggal pergi Aurora, Vim tak ingin memberikan mereka kesusahan lagi.
"Aku bisa sendiri," cegah Vim.
"Vim...."
"Aku bisa mih."
Ia tak ingin dirinya kelihatan lemah di mata Laras. Papi berjaga di sebelah Vim. Mereka memperhatikan was-was.
Papi berpesan, "Vim, mulai sekarang papi dan Dion mengurus perusahaanmu. Kau perlu fokus penyembuhan."
"Aku menjadi tak berguna."
"Vim jangan begitu. Ikhlas terima ini semua. Kita ikhtiar penyembuhanmu jadi tetaplah semangat," kata papi.
"Aku tidak sempurna lagi Pih."
"Sabar Vim. Ini ujian."
Vadli dan Vicky, Abang Vim belum bisa datang menjenguk. Mereka menanyakan kabar Vim melalu ponsel.
"Pih untuk terapinya aku biayai," ujar Vadli si sulung. papi membesarkan volume ponsel.
"Dengarkan Vim," kata papi.
"Vadli membantu."
Vim semakin merasa tak berguna. Lihatlah dia menyusahkan keluarganya. Semua ikut memikirkan dirinya.
"Aku ingin pulang."
"Kita mau pulang mas. Tunggu pak Uun ya."
__ADS_1
Sejak saat itu Vim berubah sensitif. Lebih banyak termenung dan diam. Vim berubah drastis. Dia bukan lagi Vim yang enerjik penuh semangat tapi Vim yang terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Laras, aku bukan aku yang dulu. Aku tidak pantas bersamamu."
"Mas...apapun keadaanmu, mas tetap suamiku dan ayah dari Vian."
Laras menyingkap bed cover. Vim akan berbaring di sana.
"Kau jangan menutup mata Laras. Aku cacat dan tidak berguna."
Vim duduk di kursi roda. Bicara tanpa melihat Laras.
"Aku mencintaimu mas." Laras berdiri menghadap Vim. Wajah tegas itu menjadi dingin lagi.
"Buka matamu Laras. Aku tidak berdaya. Berdiri saja sudah tidak mampu."
"Mas nggak usah bilang begitu. Aku tahu."
"Apa yang kau harapkan dariku? Aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya sampah!"
"Mas! Cukup." Lara menyanggah cepat.
Ooooeeek!!!
Suara Laras yang keras membangunkan Vian. Ia mengangkat Vian segera.
"Aaahh sialaan!" Vim memukulkan tangan ke kursi roda. Ia kecewa pada keadaan.
Laras menenangkan Vian dan membawa ke kamar bayi. Disana ia menidurkan Vian. Kembali lagi.
"Sudah malam, mas istirahat ya."
Laras mendorong kursi roda. Mencoba membantu Vim berpindah ke bed tapi Vim menepis tangannya. Ia tidak butuh bantuan. Perlahan ia berpegangan pada kursi roda. Mengangkat bokong dan mendudukkan diri ke atas bed. Semua ia lakukan sendiri hingga berbaring di ranjang. Laras menutup tubuh Vim dengan bed cover.
"Selamat tidur sayang."
Hening tanpa balasan. Begitu juga keesokan malam. Vim tak membutuhkan belas kasihan. Tak ingin dikasihani. Saat makan tiba, Laras hanya menyiapkan makanan saja di meja kamar. Vim tidak bersedia disuapi. Padahal Laras ingin memberi perhatian pada Vim. Melayani makan meskipun tidak di meja makan.
Praaaangg!
Mangkok sayur jatuh dari meja. Isinya mengotori lantai. Vim akan mengambil botol air mineral di sebelah mangkok, tapi tangan kirinya menyenggol mangkok dan membuat mangkok jatuh ke lantai.
"Mas katakan mas mau apa. Aku bisa bantu." Laras datang untuk membersihkan sayur yang tumpah di lantai.
"Air."
"Oh air. Ini airnya."
Vim meneguk air minum. Lalu mengatakan, "Perutku sakit."
"Mau ke kamar mandi mas?"
"Ya."
Laras mendorong kursi roda ke kamar mandi. Membantu Vim membuka pakaian bagian bawah. Tatapan Vim lekat pada Laras. Rasa iba muncul. Tak menyangka Laras menjalani kehidupan seperti ini bersamanya.
"Kau tidak malu suamimu lumpuh?" Tanya Vim.
"Tidak."
"Kau tidak bisa bersenang-senang."
"Aku sudah cukup bersenang-senang."
"Waktumu habis mengurusku."
"Aku tak keberatan."
"Aku tidak bisa memberimu nafkah lahir dan batin...."
"Aku bahagia berada di dekat...."
"Bohong!" Potong Vim cepat.
"Percaya mas."
Vim berpindah duduk di toilet. Laras menutup pintu kamar mandi. Ia terisak kecil di kamar Vian. Menghapus air mata dan datang lagi kepada Vim.
"Sudah mas?!"
"Sudah!"
Laras membantu Vim di kamar mandi. Senyum Vim langka dilihat. Betapa Laras rindu dengan senyum Vim. Wajahnya pun mulai ditumbuhi rambut-rambut halus yang selama ini tak dibiarkan tumbuh.
Bersambung...
__ADS_1