
Haai semuanyaa..
Jumpa lagi dan jangan bosan yaa mampir di sini..😊😚
Suka, komen, fav hadiah dan ⭐5 jangan lupa ..juga vote.
Trims 💕💞
*
*
*
Ruang tidur di lantai bawah selalu dalam keadaan bersih dan bisa digunakan kapanpun. Salah satunya adalah kamar orang tua Vim saat mereka datang berkunjung. Mereka masuk ke dalam kamar yang tidak luas itu. Vim menghidupkan lampu dan AC. Mengibaskan sebentar seikat sapu lidi ke atas spring bed empuk bukan ukuran besar.
Sedu sedan Laras telah berhenti namun hatinya terlanjur sakit. Mengambil posisi di atas ranjang tanpa bicara sedikitpun pada Vim lalu memejamkan mata.
"Kau marah sekali padaku Laras."
Vim berkata tanpa emosi namun tak dibalas Laras. Laras telah lelap dalam tidurnya karena kelelahan menangis. Mata dan kepalanya ikut berdenyut sejak menerima amplop tadi sore. Kemarahan yang membuncah tanpa dilampiaskan langsung kepada Vim membuat sesak di dada. Menyimpan kesedihan hingga malam hari dan baru dilepaskan tadi. Vim mengelus rambut Laras. Iba sekaligus tak rela kehilangan Laras.
Vim keluar dari kamar setelah menyelimuti Laras. Tidak bisa mengatupkan kedua kelopak mata dalam keadaan pikiran yang kacau. Sendiri di ruang tamu dengan lampu menyala terang membiarkan pikirannya menerka-nerka siapa yang mengirimkan foto-foto kepada Laras.
"Joel siapkan pengawal besok. Satu orang standby. Joel???" Perintahnya pada Joel asistennya.
'.....'
"Untukku. Ngapain kau dikawal. Mau nikah?"
'.....'
"Baru jam berapa ini kau sudah tidur?"
'.....'
"Oke. Mimpi ketemu calon istri."
Klik. Panggilan diakhiri Vim. Malam itu Vim tidur dengan rasa penasaran yang menggantung di benaknya.
Pak Uun telah memeriksa pintu kamar atas dan bibi sudah menyiapkan sarapan pagi. Bibi cepat tanggap mengingat kejadian tadi malam disaat Laras mengunci diri dan tak mungkin bangun pagi untuk menyiapkan sarapan.
Laras beringsut dari pembaringan.
Ia belum memberikan pelukan dan kecupan untuk Vim. Ke kamar mandi mencuci wajah dan menyikat gigi.
"Kau cepat bangun." Vim menyapa duluan. Suara khas bangun pagi yang sering di dengar Laras.
"Mau mandi dan ke rumah ibu."
"Jadi ya?" Vim bertanya lesu.
"Ke rumah mami nggak?" Tanya Vim.
"Mungkin." Jawab Laras singkat.
Vim bergerak bangun mengikuti Laras ke lantai atas.
"Untuk hari ini saja kan?"
__ADS_1
"Mami takkan setuju aku ke sana cuma hitungan jam."
"Jadi??" Vim memandang Laras lama. Mereka kini berada di kamar mereka sendiri.
"Seminggu. Mungkin lebih."
"Terserahmu Laras." Vim mengusap keningnya yang tidak berkeringat.
Laras merasa ini sebuah kejutan. Baru kali ini Vim tidak menahan atau melarangnya. Seminggu tanpa Laras di malam hari sanggupkah ia.
"Kemarilah. Kau menghindariku."
Vim mengunci pergelangan tangan Laras. Pegangannya tidak erat tapi mampu menghentikan Laras dari bergerak. Mengarahkan tubuh Laras menghadap dirinya hingga mereka berhadapan face to face. Manik mata Vim mengunci manik mata Laras.
Laras merasakan jantungnya berdegup kencang. Tenanglah wahai jantung jangan sampai Vim tahu rasa ini. Mendengar degup jantung ini.
"Kau membenciku setelah ini? Terlalu salahkah aku, Laras?"
"Aku tak tahu mas." Laras menggerakkan manik matanya ke kiri. Ia tak kuat ditatap lama seperti itu. Tatapan yang menuntut kejujuran Laras untuk menjawabnya.
"Laras cari bukti kebenarannya jika kau tak percaya padaku."
"Waktu akan berbicara tentang kebenarannya. Aku yakin kok mas." Laras yakin akan hal itu.
"Jadi kau tidak marah lagi?"
"Menyimpan kemarahan membuatku tambah sakit. Aku menyerahkan semuanya pada Tuhan."
Jauh di lubuk hatinya Laras tak bisa menyangkal rasa sakit hatinya tetap ada sampai kebenaran terungkap entah kapan.
"Kau bijak. Makasih sayang."
"Aku tidak seperti di foto itu. Cara mereka mengambil posisi sungguh bagus. Aku tidak akan tinggal diam Laras."
"Mencari tahu?"
"Jelas dong."
Vim begitu saja menarik wajah Laras dan memberi kecupan berulang kali. Laras kelabakan. Seolah ingin menebus kesalahan dengan memuja Laras. Rasa sayang Vim meluap saat itu. Terbayang tangisan pilu Laras tadi malam dan tekanan yang Laras rasakan. Vim ingin menebusnya pagi ini.
Orang yang mengirimkan foto-foto itu sudah pasti mau menghancurkan rumah tangganya. Dipagutnya bibir Laras lama dan lembut. Tak memberi waktu pada Laras untuk mengambil udara sampai Laras memukuli dadanya pelan.
Laras mengatur nafasnya yang ngos-ngosan turun naik.
"Ingin menebus kesalahan?"
"Tentu sayang."
"Jauhi Aurora." Laras berjalan ke kamar mandi.
"Untukmu sayang, sesudah proyek ini kelar!"
Yess. Vim menggenggam jemarinya. Mengetuk pintu kamar mandi dan meminta ijin untuk masuk. Sayangnya Laras telah mengunci pintu kamar mandi dan memilih mandi sendirian saat itu.
Ia menunggu Laras di sisi bed. Laras keluar dan bergegas ganti baju.
"Bathrobe merah muda kau sungguh menggoda."
"Haalaah mas..rayuanmu. Mandi sana." Pipi Laras bersemu merah muda. Sejenak masalah terlupakan. Selalu begitu. Vim selalu bisa menguasai keadaan lebih cepat.
__ADS_1
"Berdiri di situ sih?" Tanya Laras urung membuka bathrobenya.
"Pakai saja pakaianmu. Mengapa malu toh aku sudah tahu semua tentangmu luar dan dalam." Vim tetap berdiri menyilangkan kedua tangan di dada dekat jalan masuk ruangan ganti pakaian. Memasang wajah tak berdosa.
"Ya ampun aku malu." Laras menutup wajahnya.
"Cepat mandi mas dan antar aku ke rumah ibu." Laras mendorong Vim agar mundur dari ruangan ganti pakaian tetapi tetap saja kekuatannya tak mampu menggeser tubuh Vim.
"Mas cepat doong. Kan mau ke kantor juga."
"Iya cepatan satu putaran saja."
Laras mencebik," Memangnya lari pagi."
"Lari di atas ranjang."
Vim semakin gemas melihat ekspresi Laras. Tubuhnya yang berisi dan menggairahkan selalu membangkitkan hasrat Vim. Ia bergerak maju, mendekat dan menjadi sangat rapat pada Laras. Pandangan matanya berharap lebih. Merengkuh tubuh mungil itu dan menghujani dengan ciuman lembut di wajah dan lehernya. Laras tak kuasa menolak. Apalagi mereka berada dalam ikatan yang sah sebuah pernikahan. Ia biarkan Vim menjelajahi tubuhnya dan pasrah mengikuti permainan Vim sampai Vim berhenti. Vim tidak membawanya ke ranjang. Ia pun heran. Vim menghentikan permainannya.
"Aku akan mengantarmu. Siapkan apa yang kau butuhkan. Kaosku masih ada di sana?"
"Kaos dan celana pendek dua stel." Sahut Laras. Mereka meninggalkan sedikit baju di sana sebagai ganti saat berada di rumah ibu.
Laras merasa tak enak hati meninggalkan Vim sendirian. Dia memang keras kepala menuruti kehendak hatinya saja. Meskipun kemarin emosi harusnya hari ini ia bisa mengalah untuk tidak ke rumah ibu. Tetapi bukankah Laras juga sering mengalah.
Biarlah sebentar saja ia merasakan jauh dariku.
"Maafkan aku, aku kangen mereka." Laras mengelus pipi Vim.
"Ini bukan sebuah kesalahan. Jangan lama-lama di sana ya. Aku bisa diambil orang."
"Weeee...kalau kau tidak mau tentu nggak diambil orang." Laras mengejek.
Vim tertawa lepas. Bersenandung kecil memasuki kamar mandi untuk kemudian keluar lagi dalam keadaan bersih dan beraroma sabun dan shampo yang segar.
Keduanya telah siap sedia berangkat.
"Pak kalau sore bapak kembali ke sini." Permintaan Vim pada pak Uun.
"Iya den."
"Bawa mobil pink itu untuk mengantar Laras." Perintahnya lagi.
"Baik den."
"Kita berangkat." Vim memasuki mobil.
"Berangkat ya bi." Pamit Laras pada bibi.
"Iya non jangan lama-lama non. Bibi kesepian."
"Nggak bi sebentar aja kok. Tolong makanan mas Vim ya bi." Laras memeluk bibi.
"Iya non tenang saja. Den bagus Vim sudah saya urus sejak kecil."
Dan bibi tak yakin apakah Vim bisa berjauhan dari Laras. Dalam hati bibi mendoakan agar rumah tangga tuan muda nya itu langgeng selamanya.
💖💖💖
>>>>>
__ADS_1