
"Papi setuju. Sangat setuju. Kapan kita melamar Laras."
Di meja makan kadang-kadang suasana menjadi cair saat membicangkan hal-hal yang perlu dibicarakan setelah masing-
masing anggota keluarga seharian berkutat dengan kegiatan masing-masing.
"Secepatnya pih."
Vim terlalu bersemangat melamar Laras. Jangan sampai didahului oleh Rony pikirnya. Rony adalah bayang-bayang buruk buat Vim. Sejauh ini Vim tidak pernah memikirkan Rony, rivalnya dari kabupaten lain dalam ajang lomba ketika masih di bangku sekolah.
Untuk Vim ketika kejuaraan yang dikuti selesai Vim akan senang telah mendapat kenalan teman-
teman baru seusia dirinya dari kota-kota lain termasuk Rony. Sayangnya Rony tidak berpikiran seperti itu, hingga kini Rony tetap menganggap Vim saingannya yang akan selalu dikalahkan.
"Begini mi..pii..kita semua mengenal Laras dan menganggap Laras bagian dari keluarga kita. Aku sebagai kakaknya tidak ingin Laras jatuh di tangan orang yang tidak baik. Tidak salah kan kalau aku ingin memilikinya toh kami tidak memiliki hubungan darah sama sekali."
"Kau melupakan satu hal Vim."
Ibu Maharani bereaksi mendengar penjelasan Vim.
"Apa itu mi?"
Vim berhenti menyuap sepotong ayam goreng mentega ke dalam mulutnya sendiri.
"Cinta. Apakah kau mencintai Laras atau sebaliknya?"
"Cinta adalah urusan hati kami, aku dan Laras. Aku percaya suatu saat Laras mencintaiku. Siapa sij yang tidak mau dengan anak mami ini.Aku benar-benar tidak ingin Laras jatuh ke tangan Rony dan aku yakin Laras akan memilihku."
"Bagus Vim. Percaya diri yang besar, papi suka itu." Sahut papi.
"Terima kasih pi."
"Iya sih, tapi mami tetap mikir Laras..."
"Mami mikir anak mami ini dong. Sampai detik ini masih sendiri." Potong Vim.
"Lagian kamu sendiri yang cuek banget sama cewek. Ada Fani, Leoni, Marsha kamu cuekin semuanya. Mau cari yang gimana coba."
Vim yakin hatinya akan memilih yang tepat. Baginya semua cewek-
cewek yang disebut Mami adalah perempuan biasa. Vim tidak pernah merasa tertarik dan memang tidak memperhatikan mereka. Yang berbeda cuma Laras. Iya Laras.
Kedekatan Laras dan Vano telah membuat Vim tidak berandai-
andai memiliki Laras. Cukup
Vano berbahagia, Vim akan senang dan semua rasa untuk Laras ditekan jauh-jauh di lubuk hati Vim demi Vano. Rasa itu telah Vim simpan sangat lama.
Dan gejolak rasa di hati Vim mencuat lagi ke permukaan tanpa bisa ditahan atau dienyahkan jauh-jauh sejak Laras bekerja di rumah mereka. Rasa itu muncul lagi padahal Vim sudah kehilangan rasa pada perempuan sejak pacarnya memilih saran
perjodohan orangtua gadis itu.
"Terus kapan papi dan mami ke rumah Laras?"
__ADS_1
Ibu Maharani melirik suaminya, begitupun sebaliknya.
"Terserah Mami saja. Begini maksud papi akhir-akhir ini papi sedang banyak jadwal, mami urus lamaran ini. Bawa sesepuh beberapa orang. Yaah..intinya papi setuju dengan rencana Vim."
"Ya baiklah. Diusahakan secepatnya Laras untuk Vim. Untuk acara resmi setelah satu tahun kepergian Vano."
"Lama banget mi. Yaahh Mami."
"Huussh untuk kebaikan kalian. Ikuti mami ya."
"Heemm baiklah. Sekalian aku mempersiapkan rumah kami."
Pikiran Vim menerawang pada rumah miliknya yang telah selesai dibangun tahun lalu. Beberapa sudut dan bagian ada yang harus dibersihkan dan disempurnakan.
"Kalian bisa tinggal di sini Vim."
"Iya..Iya mami."
"Mami senang sekali mendengar kau mau menikah Vim. Nanti Mami akan menggendong cucu lagi. Sudah lama Mami tidak melakukannya."
"Tenang. Mami mau cucu berapa dari Vim."
"Halaah kamu.."
Vim tersenyum membuat kedua matanya menyipit. Penuh daya tarik.
...~~...
Makan malam usai. Sebuah ide muncul di benak Vim. Tidak ada yang harus disiapkan malam ini untuk tugas besok. Hanya beberapa laporan yang masuk saja dan bisa dipelajari nanti. Lebih baik mengunjungi Laras saja. Dalam hati Vim bersorak kegirangan. Sedang apa anak itu sekarang.
Vim mengetuk pintu dan dari dalam Laras sendiri yang membukakan pintu.
"Mas Vim?"
"Ya aku. Boleh aku masuk?"
"Boleh. Silahkan masuk mas."
"Bapak dan Ibu.."
"Di dalam kamar mas. Mas Vim mau ketemu Ayah dan Ibu? Mas Vim tidak biasanya ke sini. Ada apa?"
"Hanya berkunjung. Laras aku ingin tahu apa benar Rony dan keluarganya datang melamarmu?"
"Benar mas. Tadi sebelum siang."
"Lalu kau menerimanya?"
Laras menggelengkan kepala.
"Belum. Ayah meminta waktu agar aku memikirkan dan memberikan jawaban."
Vim menarik nafas sedikit lega.
__ADS_1
Masih ada kesempatan untuk Vim.
Laras menyadari tentu Vim mengetahui hal ini dari Ibu Maharani.
"Pikirkan baik-baik Laras. Kau tidak mengenal Rony dan semua tingkah lakunya tapi aku tahu siapa dia. Sangat tahu. Pikirkan baik-baik sebelum kau memutuskan."
"Apakah dia adalah Rony yang bertemu denganku di warung waktu itu mas?"
"Ya benar. Aku sangat tidak rela kau bersamanya."
Laras terpaku menatap wajah Vim. Mata Vim jauh memandang ke depan sana. Vim sekarang bukanlah Vim yang ketus seperti Laras pertama temui di rumah Ibu Maharani. Vim yang sekarang lebih perhatian meskipun sedikit. Namun sikap acuhnya tetap dominan.
"Oiya mas Vim mau minum apa. Dari tadi belum kuambilkan makanan dan minuman."
"Tidak usah. Santai saja."
"Aku terpaksa tidak membantu mami tadi mas."
"Mami maklum walaupun sedikit kerepotan."
"Bagaimana dengan Mami jika aku mulai kuliah tahun depan. Aku tidak lagi bisa membantu mami."
"Banyak jalan bila kau mau Laras. Nanti akan ketemu jalannya.
Kemarin bisa saja jika kau mendaftar di swasta. Masih ada pendaftaran yang buka."
"Iya mas tidak apa. Ehm... mas kalau aku boleh tahu tentang Rony"
"Rony? Suatu saat kau akan tahu tentang Rony."
Vim tidak bernafsu untuk bercerita
panjang lebar saat ini. Sama saja dengan menyita waktunya ber
sama Laras dan Vim tidak mau itu. Malam pun semakin pekat untuk bercerita panjang lebar.
"Aku harus pulang sekarang."
Vim berdiri bersiap pulang.
"Ingat Laras pikirkan lagi tentang Rony. Aku mau yang terbaik buatmu."
Laras mengangguk menanggapi Vim. Perlakuan Vim manis sekali malam ini dan perhatiannya pada Laras membuat Laras tersanjung.
Laras mengikuti Vim hingga ke pintu. Terasa berat bagi Vim untuk
melangkah pulang. Terakhir kali ia memandang Laras. Ada yang bergolak di dalam dadanya.
Hasratnya ingin memeluk Laras sangat besar, lalu mencium pipi dan bibir Laras. Semua itu melayangkan angan Vim semakin liar.
"Mas jangan bengong."
"Eh.. Iya. Aku pulang dulu. Tutup pintunya."
__ADS_1
"Iya. Mas hati-hati."
Mimpikan aku Laras. Pilih aku besok atau kau memang harus denganku. Kau aman bersamaku.