Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 135. Memulai petualangan.


__ADS_3

Rifka menyeduh teh dengan air panas dari dispenser ketika dilihatnya Joel gelisah di dekat pintu masuk ruangan mereka.


Rifka menegur Joel, "Nggak bisa diam sih. Duduk dulu dong sini, minum teh biar sedikit tenang."


"Ini gimana dengan Pak bos, suruh aku datang cepat sendirinya datang telat. Aku sudah ngopi di rumah, Rif."


"Kesiangan mungkin. Tak ada yang bangunin pagi."


"Nah itu, tadi malam aku agak berat mau menemani di kafe tapi nggak tega juga lihat wajahnya kusut. Biar terhibur dikit. Akhirnya kayak gini, telat masuk."


Srreeeek. Pintu dorong terbuka.


Refleks Joel mengucapkan salam pada si pemilik wajah yang baru muncul.


"Pagi Tuan, saya menunggu anda."


"Aaakh kau Joel. Mengapa tidak menelponku huh? Rifka mana barang yang dibeli? Lengkap?"


Joel terlebih dahulu menjawab, " Saya kira Tuan terhalang macet."


"Semua barang ada di ruangan Tuan," jawab Rifka.


"Oke terima kasih. Joel masukkan semuanya ke ranselku. Satu saja barang ketinggalan, gajimu kupotong."


"Nggak ada istri," kode Joel kepada Rifka. Mulutnya bergerak tanpa suara mengucapkan kalimat itu.


Busyet. Joel berjalan mengikuti Vim dari belakang. Ini bos dari kemarin ancamannya potong gaji dan potong gaji melulu. Kehilangan istri menjadikan bos lebih kejam menurut Joel.


Vim memilih dan mengeluarkan celana serta kaos dari dalam bungkusan.


"Bereskan semua yang lainnya Joel. Tunggu di sini, aku ganti baju dulu."


"Ya Tuan."


Lima belas menit menunggu akhirnya yang ditunggu Joel muncul namun Joel sangat terkejut melihatnya.


"A-an-da siapa?? Tuan!!!" Joel bertanya heran sekaligus berseru memanggil Vim. Tak ada sahutan jawaban dari dalam ruang istirahat Vim. Wajah di depannya ini asing bagi Joel.


"Tuanmu sudah berganti. Aku Tuanmu sekarang."


"Mana Tuan Vim? Kenapa anda menyusup di sini dan kenapa bisa? Oh anda mata-mata ya? Sebaiknya anda berterus terang sebelum saya memanggil pihak keamanan. Anda mencelakai Tuan kami, anda akan menanggung resiko."


"Haahaahaha kau berani melawanku?"


"Siapa anda?? Cepat katakan sebelum saya menelpon security! Rifka! Rifka!!"


Rifka datang mendengar teriakan Joel. Suara Joel terlalu nyaring dan hampir membuat jantungnya jatuh.


"Apa sih Joel? Ada tamu sepagi ini ya? Joel... aku datang paling awal, tidak ada seorang pun di ruangan ini. Ini siapa? Tuan Vim di dalam sana kan?" Tanya Rifka heran demi melihat orang tak dikenal di antara mereka.


"Maka itu aku memanggil kamu. Dia penyusup dan mengganti dirinya menjadi Tuan Vim," tuduh Joel. Memandang tidak suka ke wajah asing itu.


"Tunggu Joel. Pakaian itu yang aku beli untuk Pak Vim. Apakah...?" Rifka maju mendekati sosok berwajah asing berambut sedikit gondrong. Mencermati penampilannya.


"Huuumm...Pak ini adalah anda. Astaga Joel! Ini Pak Vim, Joel! Iiiih kamu gimana sih Joel, nggak kenal sama bos sendiri. Sehari-hari keluar masuk ruangan ini."


"Apa!!? Apa iya Rif??"


"Ya iya. Mana mungkin aku bohong. Baju dan celana ini aku yang beli dan lihat jam tangannya juga sama."


"Tunggu! Aku periksa di ruangan istirahat. Jangan-jangan dia mencelakai Tuan Vim dan mengambil barang-barangnya." Joel tak mau menerima begitu saja. Sekarang ini banyak musuh bos yang bermunculan.


"Dasar Joel! Masih ragu? Nih lihat ini!" Lelaki itu menunjukkan tahi lalat di bawah dagu lalu berkata, "Ini aku, Vim! Huuuh kamu ini perlu latihan mencermati sesuatu."


"Anda Tuan? Ma'afkan saya Tuan." Joel menepuk keningnya.


"Hahahaa Tuan bisa menjadi aktor." Joel mengacungkan jempol.


"Dan kau jadi asisten pribadi begitu ya?"


"Tentu saja, selama ini saya asisten pribadi Tuan."


"Joel memang begitu Tuan. PeDe ( Percaya Diri ) habis," Rifka menyela.


"Harus dong Rif. Apalagi kalau berjalan dengan Tuan Vim, hal itu diperlukan."

__ADS_1


"Waktunya berangkat Joel. Robin menunggu di bawah. Rifka tolong perhatikan kantor. Saya tinggal dulu."


"Baik Tuan. Selamat sampai tujuan. Joel jaga Tuan Vim dengan baik ya," ujar Rifka.


"Tentu saja. Aku dan Robin bersama Tuan Joel. Kau mau dibawakan apa kami pulang nanti?"


"Tidak usah Joel. Kalian kembali saja aku ikut senang."


Vim, Joel dan Robin berada di dalam mobil. Memulai perjalanan ke suatu tempat. Robin si pengawal telah mengikuti jejak penculik Laras dan akhirnya mengetahui tempat itu. Vim tidak sabar ingin membebaskan Laras.


"Saya sudah menemukan rumah tempat kami menunggu Tuan dan arahan selanjutnya nanti. Jaraknya sekitar satu kilometer Tuan."


"Dekat juga."


"Sesuatu yang mendesak Tuan segera hubungi kami. Keselamatan anda berdua lebih penting."


"Aku tahu. Jangan khawatir," ucap Vim.


"Ini ibarat masuk ke kandang macan Tuan. Keselamatan anda dan ibu menjadi taruhan. Oh bagaimana ini?"


"Do'akan saja lancar dan berhasil Joel. Tidak ada seorangpun yang tahu rencana ini kecuali kita."


Joel pantas khawatir. Bosnya itu tidak membawa senjata apapun untuk membebaskan Laras. Meskipun Vim bisa ilmu bela diri tidak akan seimbang jika Roni dan kawan-kawan menggunakan senjata walaupun hanya pisau dapur.


"Sebaiknya anda berpikir lagi sebelum masuk ke sana Tuan," saran Joel.


"Setidaknya aku sudah berusaha jika nasib berkata lain. Tidak. Laras dan aku harus selamat," kata Vim dengan tatapan jauh ke depan.


"Jika aku meminta pertolongan kalian maka Laras yang harus kalian dulukan," pesan Vim.


Joel mengedikkan bahu dan menggeleng. Si bos terlalu ngelantur bicaranya.


"Maaf Tuan...berapa lama kita di sana?"


"Tergantung keadaan dan peluang. Bisa cepat tapi tidak akan lama."


"Waaah..."


"Kenapa? Apa tunanganmu tidak mau ditinggalkan huh? Bagaimana jika suatu saat kau harus berada di luar kota untuk urusan pekerjaan sementara istrimu tidak mau ditinggalkan?"


"Beda kondisinya Tuan. Dia pasti mengerti saya harus mencari nafkah."


"Gampang Tuan. Dia paling baik di dunia ini. Dia pengertian sekali kok."


"Iya..iya.. yang lagi kasmaran. Pasti dia yang paling...paling..."


"Hahahaa..."


"Maaf Tuan, bolehkah saya membeli rokok?" Tanya Robin. Di sebelah kanan jalan di depan sana terlihat sebuah warung.


"Ya boleh. Begini saja , kita turun semua dan sarapan pagi. Kalian belum sarapan kan?"


"Belum Tuan." Joel dan Robin menjawab serentak lalu mereka turun dan mendekati warung makan yang tidak terlalu luas ukurannya.


"Yakin makan di sini Tuan?"


"Loh memangnya kenapa?"


"Ini rumah makan biasa Tuan, tidak seperti biasanya."


"Daripada kelaparan."


Joel memperhatikan sekeliling rumah makan sederhana tersebut. Jauh dari kesan mewah sedangkan Vim jarang makan di tempat biasa. Makan di luar berarti makan di rumah makan pilihan.


Mereka tidak punya pilihan lain. Tidak ada warung makan lagi selain itu dan rumah yang akan ditempati Joel dan Robin berjarak 100 meter dari warung.


"Aaakh Joel! bukan waktunya memikirkan bagus atau tidaknya rumah makan ini. Apapun menurutmu, perutku sudah terlalu lapar. Aku tidak sempat sarapan tadi."


"Baik Tuan...ma'afkan saya."


"Aku nasi pecel saja, kalian pesanlah."


"Nasi pecel dua, nasi rames satu. Air jeruk satu, teh tawar satu dan kopi satu. Itu saja Pak?" sebut si penjual.


"Bener Bu. Tidak pakai lama ya Bu," Joel menambahkan.

__ADS_1


Ibu penjual bergegas menyiapkan permintaan mereka. Pembeli adalah raja dan selayaknya diberi pelayanan terbaik. Kalau mereka suka pembeli akan datang lagi.


"Silahkan Pak."


"Di sini sangat tenang sekali. Apakah cuma ini kawasan tempat tinggal Bu? Kelihatan hanya perkebunan di sekeliling."


Joel bertanya. Berbeda dengan Vim yang lebih dulu mengetahui keberadaan perkampungan tersebut dari Robin.


"Benar Pak. Untuk ke kampung selanjutnya sangat jauh. Di perbukitan ada beberapa rumah besar milik para hartawan. Jarak antar rumah lumayan jauh dipisahkan pekarangan mereka yang luas." Si ibu menjelaskan.


Sampai di sini Vim hampir tersedak makanan yang ia suap ke mulutnya demi mendengar penuturan si ibu. Tapi dirinya bukan hartawan. Nyatanya ia tak mengerti di lokasi ini ada beberapa rumah elite. Dirinya ketinggalan informasi. Vim meringis tipis.


"Kenapa Pak? Mohon ma'af kalau kurang enak," kata si Ibu.


"Oh tidak Bu. Saya ingat ucapan istri saya saja."


Joel dan Robin melempar senyum. Mungkin begitu efek lama tidak bertemu orang terkasih, pikir Joel.


"Lima belas menit lagi kita ke sana. Turunkan aku dua ratus meter dari rumah itu. Kalian menunggu di sini. Ingat jangan bepergian jauh. Sewaktu-waktu aku membutuhkan kalian, segera datang." titah Vim.


"Kami siaga Tuan," kata Joel.


"Sudah? Ayo lanjut. Kalian tahu apa yang harus dilakukan."


"Tahu Tuan."


"Bayar Joel. Semua keperluan kita di sini aku yang menanggung tapi jangan curang."


"Oke Tuan."


Sepuluh menit kemudian mereka berada seratus meter dari lokasi yang dituju.


Vim bersiap turun dan ketegangan terpancar di raut ketiganya.


Robin si pengawal mengingatkan dengan berkata, "Tuan sebaiknya kita menunggu polisi bertindak. Ini berbahaya untuk anda dan Ibu."


"Santai saja. Segala sesuatu mengandung resiko. Kalian kembali ke bawah."


"Kami di sini sampai Tuan memasuki pintu pagar." Joel belum ingin meninggalkan si bos.


"Jangan lama-lama. Jangan sampai mereka curiga dengan mobil ini."


"Ya Tuan. Semoga Tuhan melindungi anda."


"Terima kasih. Aku pergi."


"Saya bawakan ranselnya Tuan." Joel berbaik hati menawarkan jasa.


"Diam Joel! CCTV di pos mereka. Pikir!"


"Iya juga. Ya sudah Tuan. Semoga berhasil dan selamat. Selamat berjumpa dengan ibu Laras."


"Jumpa lagi." Vim menutup pembicaraan. Ia melangkah maju menuju pintu pagar yang menjulang tinggi.


"Tuan! Jangan lupa rambut anda tidak asli. Jangan terlepas." Teriak Joel.


"Oke Joel!" Vim membalas sembari menautkan ujung ibu jari dan telunjuk menjadi lingkaran.


"Mengkhawatirkan," ucap Robin.


"Huum hari-hari mendebarkan menunggunya. Bagaimana jika dia terluka lalu mereka membiarkan? Oh Tuhan. Kita tidak bisa tidur nyenyak."


"Berpikir yang baik saja agar Tuan Vim tidak kenapa-kenapa," sambung Robin.


"Semoga berhasil. Ngotot sekali harus sekarang. Ada pihak yang lebih ahli menangani ini."


"Biarkanlah. Tuan tahu apa yang dilakukan. Semangat berhasil. Yakin berhasil," tambah Robin.


"Rumah sementara itu kubayar untuk seminggu. Pemiliknya minta sebulan. Nego dan akhirnya diperbolehkan. Jika waktu seminggu tidak cukup atau Tuan Vim belum selesai dengan rencananya, kita perpanjang saja."


"Sebenarnya dibayar sebulan tidak apa. Tuan Vim tak keberatan," kata Joel.


"Tidak selama itu. Kau yakin Roni tidak mengenali Tuan Vim?"


Joel mengangguk dan berucap, "Aku asistennya saja tidak bisa mengenali apalagi Roni yang jarang bertemu Tuan Vim. Rambut baru Tuan Vim tidak sama dengan yang asli."

__ADS_1


Senyum Robin mengembang. Kemungkin tipis Roni dan kawan-kawan mengenali Vim


>>>>>>>


__ADS_2