Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 130. Di tempat asing.


__ADS_3

Perlahan mata yang terkatup rapat itu membuka. Belum sadar penuh tentang dirinya. Lampu kamar yang kuning pekat asing sekali. Dari balik plafon kamar menyembul cahaya kuning pekat . Cahaya lampu kamar.


Ruangan ini sangat asing. Di manakah dirinya? Vian. Ia teringat Vian. Seketika Laras bangkit. Berjalan ke arah pintu dan memutar handle pintu. Terkunci. Dirinya terkurung. Laras gundah.


"Tolong! Tolong!"


Laras mengetuk pintu berulang kali. Tak seorangpun mendengar teriakannya.


"Tolong buka...!!!"


Tiada orang datang menolong Laras. Laras hampir menangis. Siapa membawa dirinya ke sini? Ingat wajah Vian, terbayang Vim. Tangis Laras luruh juga.


Mas Vim aku di sini. Tolong aku. Tolong aku mas.


Laras duduk lesu di lantai. Siapa yang tega berbuat begini padanya.


Di mana ia sekarang? Laras tergugu. Mungkinkah bisa keluar dari sini? Laras mencari jalan keluar selain pintu. Jendela. Barangkali bisa memanjat jendela agar bisa lolos dari ruangan itu. Laras menghampiri jendela. Menyingkap tirai namun yang kelihatan adalah rerumputan dan pagar tinggi didepannya. Ia membuang nafas.


Laras bagaikan kelinci terkurung di dalam kandang. Perbuatan siapa ini? Vim pasti bingung mencari dirinya. Laras duduk termangu. Ruangan itu benar-benar tanpa celah. Laras tak bisa keluar dari sana.


Tiba-tiba Laras teringat tas yang ia bawa. Laras mencari tasnya. Benda itu juga raib entah di mana. Orang-orang jahat ini berbuat seenaknya saja. Apa motif mereka? Punya salah apa Laras dengan orang itu? Rasanya ia tak memiliki musuh atau mungkin mereka adalah musuh Vim. Ya bisa jadi. Laras mengambil kesimpulan.


Laras merana sendiri. Ia ingin pulang. Ingin melihat Vian. Isakan kecil dari mulutnya terdengar. Berulangkali berucap meminta pertolongan Tuhan. Berganti menyebut nama Vim di dalam hati.


Laras berharap Vim datang menyelamatkan dirinya. Tentu Vim akan datang. Vim takkan tinggal diam mengetahui Laras tidak ada. Namun tidak tahu kapan Vim akan datang. Vim belum mengetahui keberadaan Laras dan mungkin Vim sedang kesusahan mencari Laras. Air mata Laras berjatuhan lagi. Laras ingin pulang. Ia bangkit lagi dan menggedor pintu sekuatnya.


"Tolong!!! Tolong!!!" Dia menggedor kuat. Dokk. Dokk. Dokk.


"Siapa di luar sana?!!! Tolong...."


Suara Laras melemah. Tiada orang menjawab teriakan. Setega ini orang itu mengurungnya. Larasati menangis telungkup di atas ranjang besar ruangan itu.


...***...


"Kapan bos ke sini?" Lelaki gendut berkepala botak bertanya pada temannya.


"Lusa. Ingat! Tergores saja dia, celaka kau!" Jawab temannya.


"Menggiurkan."


"Mau celaka?"


"Tidak! Aku tidak sabar pulang ke rumah."


Lelaki gendut mendorong kursi dengan kasar. Di teman berkata, "Heh kau dibayar. Lakukan dengan baik."


"Yeah...Yeah. Pergi kau lihat dia."


"Ahh biarkan saja. Dia tak bisa kemana-mana. Ambil kartu!"


Dua lelaki itu bermain kartu. Mengisi waktu sembari menjalankan tugas yang diberikan oleh bos mereka.


Pleekk.


Si gendut membuka kartu dengan kasar. Sedikit hentakan di atas meja menimbulkan suara. Kemudian teman satunya melakukan hal yang sama.


"Pergi beli makanan. Dia belum makan. Sakitnya berarti luka kita. Telinga kita bisa diiris."


"Aakh sebentar."


Dookkk!! Dookkk!!


"Dia sudah memanggil." Satu orang berdiri dan si gendut tetap duduk di tempat.


Kleekk. Ceklek.


Laras mundur ke belakang mendengar pintu dibuka. Dengan sikap waspada menanti siapa yang muncul. Sudah pasti orang asing yang kelihatan.


"Si-siapa kau?!" Tanya Laras.


"Anda tak perlu tahu. Jangan memukul pintu. Berisik huuh!"


"Apa yang kalian inginkan?? Lepaskan aku."


"Hahaa tak semudah itu Nyonya. Tenanglah kau aman Nyonya."


"Kalian berbuat kejahatan. Biarkan aku pergi!"


Laras maju dan berniat keluar namun tangan kekar lelaki itu menahan Laras. Lengan Laras bagian atas dicengkeram olehnya.

__ADS_1


"Lepaskan! Le-pas-kan!!"


"Menurutlah Nyonya. Jangan menyusahkan kami."


"Oh jadi kalian orang suruhan. Siapa yang membayar kalian??"


Lelaki berperawakan gendut menyusul temannya.


"Lama sekali. Ada apa?"


"Dia minta dilepaskan."


"Biarkan saja pintu ini terbuka. Mau ke mana dia, pintu depan dan belakang dikunci," kata penjaga bertubuh gendut.


"Baiklah Nyonya. Anda boleh keluar masuk ruangan ini tapi tak bisa keluar rumah."


"Siapa bos kalian. Huuuh kalian mau uang berapa? Aku beri tapi lepaskan aku dulu. Suamiku akan membayar kalian lebih dari kalian dapatkan sekarang."


"Hahahahah Nyonya akan melupakan janji itu."


"Tidak. Aku janji."


"Lupakan Nyonya. Kami tidak tergiur."


"Berikan handphone kalian. Aku mohon sama kalian, aku menelepon suamiku. Dia akan membawakan kalian uang yang banyak jika kalian membebaskanku."


"Tenanglah Nyonya. Itu lebih baik."


Semudah itu menyuruh Laras tenang. Tidak tahu hati Laras gusar mengingat Vian.


"Anakku membutuhkanku. Tolong mengertilah. Lepaskan aku dari sini."


"Kami menjalankan perintah Nyonya."


"Siapa orang itu?" Laras penasaran dengan sosok bos mereka.


"Besok Nyonya tahu sendiri siapa orang itu."


"Kasihanilah aku. Anakku membutuhkanku."


Penjaga bertubuh lebar datang membawakan makanan.


"Baik gimana? Semua keluargaku mencariku. Tahu!!!"


"Dan ini pakaian baru buat Nyonya."


Ciiiiiis. Ia tak sudi memakai pakaian tersebut. Di kepala Laras saat ini adalah hasrat pulang ke rumah. Bukan waktunya memperhatikan penampilan. Keselamatannya saja sedang terancam. Masa bodoh dengan penampilan.


"Pergi dari sini kalau kalian tak mau menolongku!"


Kedua penjaga saling berpandangan.


"Tinggalkan dia."


Lelaki gendut mengangguk dan mengikuti kawannya. Laras terduduk di sisi ranjang. Sungguh tak menyangka jadi tawanan orang.


Satu jam merenung Laras merasakan perutnya mulai perih. Jika seperti ini ia bisa dilanda sakit asam lambung. Akhirnya ia memakan makanan yg tersedia dalam jumlah sedikit.


Penjaga datang lagi dan mengambil poto Laras. Laras menoleh ketika mendengar suara langkah kaki dan dengan segera penjaga menekan ikon kamera.


"Untuk apa heh?"


Mata Laras melotot tak terima poto dirinya direkam orang lain. Klik. Satu jepretan lagi. Penjaga tak bersuara banyak. Lebih baik tidak menanggapi perempuan yang lagi uring-uringan.


Terakhir satu jepretan kamera ponsel mengabadikan gambar Laras sedang menyuap makanan.


"Cukup dan hapus semuanya!" Perintah Laras. Penjaga tak mengindahkan lalu berbalik langkah keluar dari kamar.


"Dasar! Seenaknya mengambil poto orang," gerutu Laras.


Sayang tolong aku. Aku mau pulang. Sayang, kamu cari aku nggak sih. Kamu di mana? Aku di sini.


...***...


Roni mengamati gambar-gambar yang diterima. Senyuman tersungging di bibirnya. Sesaat kemudian merungut kurang puas.


"Jon, kenapa dia kucel begitu. Bodoh! Belikan pakaian dan paksa ia memakainya. Jika masih seperti di poto ini, kugampar kalian!" Suaranya lepas terdengar.


'.....'

__ADS_1


"Mengurus wanita saja tidak becus! Kalian ngebo aja hah??!"


'.....'


"Aku datang keadaannya lebih baik dan ingat jangan tergores sedikitpun. Tahu sendiri akibatnya!"


Roni tak meneruskan kalimatnya. Ia mengutak-atik ponsel di tangan. Mengirimkan gambar-gambar tadi kepada si pemilik tubuh Laras. Vim. Sekian detik tak ada jawaban dari Vim. Dilihat pun tidak pesan dari Roni.


Sementara Vim menerima kabar dari Bibi Am bahwa Laras belum pulang dari tadi siang. Sudah tiga jam berlalu sejak Laras keluar rumah. Kata bibi, Laras membeli pembalut bayi Vian yang habis di rumah.


Vim kebakaran amarah. Berita yang diterima bagai petir di siang bolong. Pengawal dianggap tidak bekerja dengan baik. Bagaimana mungkin Laras bisa hilang.


"Joel kamu nyetir!"


"Ke mana Tuan?"


"Bising amat. Cepat! Kemana saja asalkan ketemu!"


"Ba-baik Tuan." Joel meraih kunci yang diletakkan Vim di meja. Tidak banyak bertanya lagi ia mengikuti Vim dari belakang.


Dengan sigap Joel menahan tombol lift agar ia tak ketinggalan. Sementara pengawal Laras tak berhenti mencari Laras.


"Supermarket M!" Perintah Vim. Tempat di mana Laras pergi siang ini.


Tiba di Supermarket M, Vim menghubungi pihak informasi. Dari situ bagian informasi mengeluarkan pengumuman Larasati ditunggu oleh Vim di lantai paling atas.


Menunggu namun tak jua Laras muncul. Vim bertambah gusar. Keselamatan Laras terancam. Ia memejamkan mata. Laras mengabaikan larangan Vim. Jangan keluar rumah tapi Laras tetap pergi sendiri.


"Joel suruh pengawal kemari. Aku tunggu di D'Cafe."


"Baik Tuan."


Joel lantas menelepon pengawal Laras.


"Cepatlah kemari. Tuan Vim akan menanyaimu. Jawablah apa adanya. Kami di D'Cafe supermarket M."


Joel turun ke lantai dasar di mana Vim berada. Tuannya sedang meneliti ponsel. Wajahnya yang putih memerah bak kepiting direbus. Apalagi yang dilihatnya?


Joel mendekat dan duduk di hadapan Vim. Berkata seperlunya sebab wajah Vim sedang tak ramah.


"Pengawal menuju ke sini Tuan."


"Hmm." Beku. Raut wajah Vim dingin.


"Sialan!! Dia berhasil menculik Laras. Roni bangsat!" Makinya kemudian. Joel mengambil ponsel yang disodorkan Vim kepadanya.


"Oh ulah tuan Roni."


"Keparat itu. Awas dia!"


Dari pintu masuk pengawal Laras kelihatan mendekati Vim dan Joel.


Dalam posisi berdiri pengawal berkata, "Ma'afkan saya Tuan. Hukumlah saya Tuan."


"Duduk dan ceritakan apa yang terjadi."


"Sekitar pukul dua siang Nyonya keluar ke supermarket ini. Parkir di belakang gedung dan pastinya masuk dari pintu belakang juga."


"Pastinya bagaimana? Kau tidak melihatnya?" Tanya Vim. Joel hanya mendengarkan saja.


"Tidak Tuan. Ma'afkan. Saya ke toilet ketika Nyonya membuka pintu mobil. Saya keluar dari toilet dan menunggu Nyonya tapi... satu jam setengah menunggu dan mulai mencari Nyonya ke dalam, tak menemukan Nyonya."


"Keteledoranmu mengakibatkan fatal. Istriku tidak baik-baik saja."


"Sekali lagi ma'afkan saya. Sampai detik Tuan Joel memanggil saya, Saya berusaha mencari Nyonya."


"Di mana dia menyembunyikan Laras?"


"Tidak tahu Tuan," Joel berkata.


"Cari tahu, Joel."


Joel berpikir kemudian kata Joel, "


CCTV ada rekamannya Tuan. Kita minta tolong pihak keamanan."


"Oh ya. Ayoo... Lebih cepat lebih baik."


Vim ingin Laras segera ditemukan. Ia juga memberitahukan Dion dan Edo. Dion menyarankan meminta bantuan pihak berwajib tetapi Vim belum sempat ke kantor polisi dan Laras baru menghilang beberapa jam. Edo sedang ke Jepang sehingga tidak bisa membantu Vim. Keadaan Edo mulai membaik. Emosinya telah stabil. Dia sedang beristirahat di negeri Sakura tersebut.

__ADS_1


__ADS_2