Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 55. Pusing mendera.


__ADS_3

Vim menapakkan kaki memasuki ruangan kerja Dion. Dia menunggu di dalam ruangan sebab temannya itu sedang turun ke lantai bawah mengurus sesuatu yang harus diselesaikan.


Vim menaikkan kaki kirinya ke kaki kanan dengan tangan menggenggam HP. Terlihat ia mengetikkan sesuatu di ponselnya itu.


'Ingat jangan bermain api.' Tulisnya.


"Aku nggak suka main api. Sukanya main air apalagi air hujan."


Itu adalah jawaban Laras-istrinya- yang sedang Vim hubungi. Sebuah senyuman tersungging di bibir Vim.


'Kau sedang apa?'


'Cari uang. Belum mulai rapatnya mas Vim?'


'Belum nunggu Dion.'


"Selamat pagi Di!!" Suara sapaan beriringan dengan masuknya Aurora di ruangan itu. Aurora terperangah melihat Vim yang berada di situ bukan Dion.


"Astaga kau membuatku terkejut." Aurora mengelus dadanya. Vim bersikap masa bodoh. Memandangi foto-foto Laras lebih menarik daripada menanggapi Aurora di depannya.


"Kau sendiri ya?" Aurora menyapa hangat berbanding terbalik dengan Vim yang memasang wajah datar. Pandangannya tertuju hanya pada HP. Vim benar-benar tidak memperhatikan wanita itu.


Aurora tidak tersinggung sedikit


pun dengan sikap Vim. Baginya


sebuah keberuntungan hari ini bisa melihat pria tampan itu. Tidak dihiraukan juga tidak apa.


"Halo Vim.. di mana Dion?" Selanjutnyat ia bertanya.


"Aku tidak tahu." Jawaban ketus adalah salah satu ciri khas Vim saat menjawab pertanyaan orang yang tidak disukainya.


"Dion tidak ada kau tunggu apa lagi?"


"Aku menunggunya agar ia melihat apa yang telah kusiapkan."


"Konsep??"


"Iya Dion belum mempelajarinya."


"Seharusnya kau bisa mengirim via email atau wa tadi malam. Langsung presentasi saja nanti. Rapat akan dimulai."


Aurora memandang Vim penuh kekesalan. Saran Vim itu akan menjatuhkan image Aurora di mata Dion. Dion akan menganggap Aurora tidak menghargai Dion jika langsung presentasi tanpa mengajukan konsep tersebut terlebih dahulu. Tadi malam sudah terlalu larut saat pekerjaannya selesai. Ia tidak sempat mengirimkan kepada Dion.


"Kalian di sini ya ayo ke ruangan."


"Belum kamu pelajari Di." Saran dari Aurora terhadap Dion.


"Nggak apa-apa nanti saja di sana. Sudah nggak ada waktu." Dion menolak karena rapat segera dimulai. Ia meraih pena di meja. Berjalan keluar diikuti oleh Vim dan Aurora. Vim berjalan beriringan langkah dengan Dion. Aurora tertinggal di belakang.


"Punya kalian saja yang disetujui." Ucap Dion lirih lebih tepatnya berbisik pada Vim. Bisa dipastikan Aurora tidak mendengarnya.


"Beri peluang pada Aurora bro." Balas Vim. langkah mereka semakin cepat.


"Dia mewakili pak Arison di lapangan. Jadi akan kurang konsentrasi. Aku lebih percaya padamu Vim."


Kreeeek. Pintu terbuka kesamping. Mereka kini memasuki ruang rapat dan semua peserta membenarkan posisi duduk masing-masing. Posisi dalam keadaan siap.


Di sini Dion memberikan kata sambutan setelah moderator berbicara. Lalu Aldi dan Aurora memaparkan konsep mereka masing-masing. Tidak ketinggalan konsep ditampilkan pada slide yang telah mereka persiapkan. Perwakilan rapat dimintai pendapat dan memilih konsep mana yang akan digunakan. Dari pendapat ini ternyata konsep Aldi yang menjadi pilihan terbanyak peserta rapat.


Dion tersenyum lega. Dengan begini ia bisa melimpahkan pengawasan kepada Vim sahabat yang sangat dipercaya. Pak Arison sudah tua dan banyak pekerjaan yang ditangani sehingga mereka setuju mengirim Aurora untuk mengawasi perkembangan proyek ini.


Vim menghunus Dion dengan tatapannya. Sahabatnya itu tergelak.


"Busyett."


"Sorry bro. Kau pasti bisa. Jadwal ku padat."


"Sama!!" Bantah Vim.


"Kau takkan pernah menyerah. Ayolah demi proyek ini hahaah."


Sebelum pulang Dion mengajak Vim ke ruangannya lagi.

__ADS_1


"Aku sudah lama di sini aku ingin segera pulang."


"Tunggu sebentar. Ada titipan Anggia untuk Laras."


"Apa aku harus membawanya?" Tanya Vim tidak percaya. Ia membayangkan membawa bingkisan di tangan sendiri di perusahaan sebesar ini. Vim menyesal tidak membawa Joel bersamanya. Andaikan ada Joel, asistennya itu yang akan menenteng titipan dari Anggia.


"Kau sayang Laras bukan? Nah kau bawa ini. Sedikit buah tangan atau panggil saja pak Uun."


" Pak Uun mengambil mobil mami. Vadli membeli mobil dan diletakkan di sana jadi punya mami diberikan pada Laras. Oh Tuhan ini demi Laras." Vim memandang paper bag yang ia jinjing.


"Benar."


"Aku pulang Di."


"Yoi hati-hati."


Pekerjaan besar bermula. Vim disibukkan dengan tugas barunya selain pekerjaan yang telah ada. Demi masa depan dan kebahagiaan Aurora Vim mengerjakan dengan serius.Ia hanya menunggu hasil dari kerja keras ini. Proyek harus selesai tepat waktu agar klien semakin percaya kepada mereka. Setelah berjaya Vim akan mempercayakan Aldi memimpin biro advertising itu. Laporan akan masuk kepadanya dan Dion.


Keinginan Vim untuk pulang tepat pada waktunya gagal. Titipan dari Anggia belum ia serahkan pada Laras sebab pekerjaan membutuhkan perhatian lebih hari ini. Banyak berkas laporan yang masuk ke ruangannya. Ditelitinya satu persatu laporan yang disusun berbaris ke atas oleh Joel tepat di samping kanan mejanya. Rasa pegal menyerang tengkuknya tapi Vim tetap melanjutkan pekerjaan. Tekadnya pekerjaan hari ini selesai semua sehingga besok terasa lebih ringan. Tidak menumpuk seperti sekarang.


Belum terlalu malam saat Vim menelpon Laras. Tapi panggilan ponsel itu tak berbalas. Ia mengulangi hingga dua kali. Masih sama. Ia melanjutkan lagi mempelajari setiap berkas. Sampai berkas terakhir ia memutuskan untuk pulang.


Sementara Laras telah terlena di atas kursi goyang di ruangan kamar mereka. Panggilan ponsel dari Vim tidak terdengar sama sekali. Benda kecil itu tergeletak di atas meja di samping Laras berada.


Laras merasakan tubuhnya kurang fit. Pusing yang tiba-tiba kerap dirasakan akhir-akhir ini sedikit menganggu aktivitas. Saat mengerjakan tugas kuliah, atau sekedar bergerak di dalam toko rasa sakit kepala itu hadir mendadak. Tapi cepat pula rasa pusing itu hilang. Laras tidak minum obat sakit kepala seperti saran bibi.


"Sudah non istirahat saja. biar bibi lanjutkan." Kata bibi tadi sore kala mereka menata hidangan di meja makan.


Laras tampak lesu dan tidak bersemangat.


"Sedikit lagi bi.." Terakhir Laras meletakkan tumis tauge yang ia masak ke atas meja makan.


Laras merasakan pusingnya datang kembali.


"Bi.. Laras ke kamar ya."


"Baik non. Mari bibi antar."


Bibi mengantar hingga ke kamar tetapi Laras tidak memilih pembaringan untuk beristirahat melainkan kursi goyang favoritnya.


"Non mau diambilkan makanan apa?"


"Saya mengantuk bi. Tidak ingin makan."


"Loh nanti non tambah sakit. Bibi buatkan susu saja ya. Nanti kalau den Vim datang ikut makan."


Laras mengangguk. Mata yang indah itu mengatup dan raganya menikmati ayunan kursi goyang.


"Non jangan tidur dulu. ini susunya diminum. Non.."


Kelopak mata Laras terbuka.


"Iya bi.."


"Aduuh non sakit apa sih?" Kekhawatiran terpancar di wajah bibi.


"Cuma pusing dikit bi. Bibi janji nggak ngomong mami sama mas Vim ya."


"Iya iya bibi nggak ngomong sama mereka kalau non nggak enak badan. Non minum ini biar kuat lagi."


Laras meneguk susu yang bibi berikan. Isinya berkurang setengah dari gelas.


"Lagi non. Dihabiskan."


"Sudah bi. Makasih."


Bibi menerima gelas kosong dari Laras.


"Bibi tinggal ya non atau non mau dipijit?


"Tidak bi tidak usah."


"Baiklah bibi ke belakang ya non."

__ADS_1


"Tolong tutup rapat pintunya Bi."


"Baik non. Selamat tidur."


Bibi berlalu. Laras kembali terbuai di atas kursi goyang hingga tak mendengar panggilan ponsel dari Vim.


Vim membuka pintu mobil. Pak Uun telah membuka pintu dengan kunci yang dipegangnya. Mereka berdua masuk kedalam. Pak Uun segera ke belakang ke kamarnya sedangkan Vim mencari Laras. Tidak menemukan Laras di ruangan itu. Begitu pula di ruang makan.


Bibi datang menghampiri.


"Laras di mana bi?"


"Den..non Laras sejak tadi di kamar. Kurang sehat terus nggak mau makan. Jadi non Laras belum makan den malah tidur."


"Benarkah?"


"Oya den katanya suka pusing."


"Jadi nggak makan sama sekali bi??"


"Non Laras nggak mau den. Bibi buatkan susu agak kental tadi den biar kenyang." Tetap saja bibi mengadu pada anak asuhannya sejak kecil itu.


"Bagus bi. Makasih." Vim bergegas melangkahkan kaki ke kamar. Tidak sabar ingin tahu keadaan Laras. Tadi pagi dilihat nya Laras baik-baik saja. Pantas saja ia menelpon tidak diangkat dan dijawab.


Vim memutar gagang pintu perlahan sekali takut mengejutkan Laras.


Nyatanya Laras tetap nyenyak di kursi goyang. Tidak terganggu dengan kedatangan Vim.


Vim membasuh tangan dan kakinya. Setelah itu mendekati Laras. Titipan dari Anggia diletakkan di atas meja. Tidak akan tersentuh malam ini. Vim mengecup kening Laras. Kemudian berusaha memindahkan Laras ke pembaringan. Tidak disangka Laras membuka matanya. Vim memberikan senyuman.


"Mas sudah pulang?" Ia membenarkan punggungnya yang bersandar di kursi goyang.


"Ia sayang. Mengapa tidur di sini hmm?"


"Nyaman. Mas sudah makan?" Suara Laras terdengar lemah.


"Belum. Aku makan rujak tadi sore. Aku mengkhawatirkanmu. Kau terlihat lemah. Wajahmu pucat."


"Tidak apa-apa."


"Besok kita berobat ya?"


"Tidak perlu mas. Aku hanya perlu istirahat."


Laras bergerak ingin bangkit dan Vim mencegah.


" Aku gendong ya. Ke situ." Vim menunjuk pembaringan. Laras menggeleng.


"Tidak. Kita ke ruang makan."


"Kau lapar ya. Lain waktu kau tidak perlu menungguku. Saatnya makan kau harus makan."


Vim menuntun Laras. Melingkarkan lengannya di pundak Laras.


"Kau mau makan apa?" Vim hendak menyendokkan makanan ke piring Laras.


"Aku bisa sendiri sayang. Sudah mendingan kok."


"Tidak apa. Kau pasti kelelahan."


"Jangan banyak-banyak. Aku baru minum susu."


"Biar kau cepat sehat." Vim mengangkat sendok berisi sayur. Menyuapkan kepada Laras."


"Aku bukan sakit parah mas. Besok biasanya sudah baik. Mana piringku?"


"Ini habiskan ya. Mubazir kalau dibuang."


"Makan dong jangan lihatin aku terus." Laras mencebik.


"Ah yaa aku makan nih. Nah ini..kau masak tumis tauge buatku." Senyum Laras melebar. Sangat senang bisa mengambil hati Vim. Laras memperhatikan Vim makan dengan penuh semangat. Kesibukan Laras di dapur hari ini tak sia-sia meskipun ada hidangan yang tersisa di meja makan. Vim tetap memakan hidangan walaupun hidangan telah dingin. Terkadang Vim mengacaukan perasaan Laras dalam sesaat namun sesekali ia tahu kapan harus menghargai Laras.


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป

__ADS_1


Next >>>


Suka, komen, vote dan bintang lima jangan lupa..๐Ÿ’š๐Ÿงก๐Ÿ’œ


__ADS_2