Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 128. Aku takkan mengalah.


__ADS_3

Kini Vim semakin dekat dengan Laras. Aroma tubuhnya kian kuat di penciuman Laras. Laras sedikit kaget ketika kedua belah tangan Vim mendekapnya dari belakang dan bertaaut di pinggang Laras.


Bukan marah, Vim justru memuja Laras. Memberikan kecupan di pipi dan leher Laras.


"Apa yang kau lakukan di rumah Edo?" Suara Vim parau.


Vim yang terus memberikan sentuhan membuat Laras kegelian. Tubuh Laras berbalik menghadap Vim.


Pandangan Vim sarat makna antara mendamba dan mengagumi Laras. Laras selalu hanyut di telaga netra Vim. Dua bola mata Vim seolah kerap menyihir Laras tunduk pada Vim.


"Boleh aku tahu?"


"Mas beri kesempatan padaku. Aku akan menjelaskan."


"Aku tidak melarangmu." Vim memainkan kalung dan perhiasan di leher Laras. Dagu Laras menjadi sasaran kecupan berikutnya.


"Serius mau mendengarkan sedangkan mas seperti ini?"


"Memang kenapa? Aku masih sadar kok."


"Tumben tidak marah. Mas Vim aku datang ke rumah Tante Morina tadi siang."


"Aku tahu. Pengawal melaporkan itu. Jadi jangan berbuat macam-macam di luar sana."


"Haaiis mas, ini permintaan Tante Morina. Mas nggak marah kan? Berhenti menciumku."


Laras mengalihkan wajah ke samping. Vim takkan mau mengalah. Laras akan tunduk apapun yang Vim lakukan padanya.


"Menghadap ke arahku Laras. Setelah apa yang terjadi, setelah semua yang kita lalui bersama aku yakin cintamu tak pernah berubah untukku. Aku tidak marah bukan berarti aku tidak menyayangimu. Tetap saja aku tidak ingin orang lain merampasmu dariku termasuk Edo."


"Terima kasih untuk cintamu, mas. Aku akan menjaga kepercayaanmu. Tante Morina meneleponku. Kak Edo mengunci diri di kamar dua hari dan beliau memintaku membantu Edo."


"Mengapa harus kau yang membantunya bukan memanggil kami sahabat Edo."


"Aku tak tahu. Seperti mami yang menyayangiku, tante Morina juga sama. Bahkan tante menginginkan aku menjadi pasangan Edo."


"Huuuuuk. Jangan kau sebut lagi. Membuat perutku mual."


Apakah perkataanku seperti bau busuk hingga perutmu mual?


"Lantas apa yang kalian lakukan di kamar? Kalian berdua saja hah?"


"Iya berdua saja. Tante Morina menunggu di luar kamar. Kak Edo menurut padaku. Membukakan pintu. Keadaannya seperti zombie. Tanpa semangat, tampilan tak terurus dengan ruang kamar berserakan. Tidak mau makan dan makan setelah kusuapi."


Vim menelan saliva. Sedekat itu Edo dan Laras hari ini.


"Mengapa Edo berbuat begitu? Apakah Edo mencintaimu? Katakan yang jujur Laras."


"Penilaian mas gimana?"


"Apa yang ia katakan padamu? Edo mencintaimu??"


"Apa perlu kujawab mas. Begitulah."


"Jadi anak itu masih menyimpan perasaannya padamu."


"Mas takut kehilanganku?"

__ADS_1


"Sangat Laras. Aku akan bicara empat mata dengan Edo."


Kalimat Laras berikutnya membuat darah Vim mendidih.


"Kak Edo mengajakku pergi."


"Apa??! Bisa-bisanya."


"Nah mulai marah kan. Tandanya mas tak yakin dengan keteguhan cintaku. Kita sudah teruji mas. Kalau aku ingin meninggalkanmu, sudah lama kulakukan. Sejak dirimu tak berdaya tapi tak kulakukan."


"Iya Laras. Ma'afkan aku berprasangka buruk. Jangan tanggapi Edo. Biarkan dia berusaha mencari calon istrinya. Dasar pemilih. Teman wanitanya tidak sedikit. Siapa yang tak ingin berpasangan dengan Edo. Dia pewaris tunggal harta orangtuanya."


"Cinta itu rumit."


"Cinta itu indah, Laras. Cinta melahirkan kasih sayang tanpa mengenal batas waktu dan usia."


"Ceritanya seperti itu. Melihat mas Vim dan kak Dion sudah berkeluarga, tentu tante Morina pun ingin melihat kak Edo menikah."


"Yaah wajar sih. Dia sangat serius dengan Kazumi tapi jalan mereka terhenti."


"Aku kasihan sama kak Edo, mas." Laras menelusup ke dada bidang Vim. Haru menyeruak. Terbayang oleh Laras wajah Edo penuh pengharapan padanya. Vim membelai rambut Laras penuh kasih. Untung baginya cuma rasa kasihan yang ada dalam hati Laras. Bukan cinta.


"Edo lelaki, sayang. Dia akan bangkit lagi. Percayalah. Ketika kehilangan Kazumi dia juga begini. Diantara aku, Edo dan Dion hanya Dion yang tidak mengalami patah hati. Suka dengan Anggia. Cinta lalu menikah. Aku dan Edo merasakan sakitnya putus cinta."


"Aku jahat kan mas."


"Tidak. Kau sudah benar mempertahankan cinta kita. Harus ada yang mengalah Laras dan aku takkan mengalah apapun menyangkut dirimu walaupun Edo terlibat." Vim mempererat rangkulan.


"Berhentilah menangis. Usah pikirkan Edo. Pikirkan aku saja ya."


"Satu yang ingin kutanyakan mas, pengawal itu buat apa? Perlu sekali ya?"


"Saat ini sangat perlu. Ma'afkan karena kau kurang nyaman tapi ini yang terbaik."


"Ada apa sebenarnya mas?"


"Tidak ada apa-apa sayang. Eh apa kita mau begini terus? Aku lapar nih."


"Oh iya. Sudah lewat jauh waktunya. Bibi menyiapkan semua. Aku masih mandi tadi."


"Tidak masalah. Sebaiknya kau mengurus Vian saja. Pekerjaan lainnya bibi yang mengerjakan."


Layaknya kemarin Laras mengambilkan Vim makanan yang tersedia di meja makan. Vim makan dengan lahap begitupun Laras.


"Ma'af mas, aku makan agak terburu. Aku belum menemui Vian."


"Vian tidur kan?"


"Sesudah makan tadi Vian tidur."


Makanan di piring belum habis tetapi suara tangis Vian terdengar dari kamarnya. Vian tidak sendiri. Vian ditemani oleh bibi


Laras mencuci tangan di wastafel. Mengeringkan air di tangan dan meninggalkan Vim.


"Aku naik ya sayang."


"Ya. Berjalan saja menaiki tangga"

__ADS_1


"Iya sayang."


Bibi menimang Vian. Dari mulutnya terdengar nada teratur. Bibi meninabobokan Vian.


"Anak mami bangun ya. Mari Bi, saya tidurkan Vian."


"Badannya agak panas Non."


Laras meraba kening, tangan dan kaki Vian.


"Benar Bi."


Sebentar saja Vian berpindah ke pelukan Laras. Pelukan hangat seorang ibu.


"Kamu sakit sayang."


"Vian tidur?" Vim datang meyusul ke kamar Vian.


"Vian hangat mas. Raba keningnya."


"Normal. Hangat saja."


"Bagaimana kalau menjadi tinggi panasnya?"


"Semoga tidak."


"Aku gendong Vian." Vim meminta.


Dia membuka kaos dan mendekap Vian ke dada.


Vian mengeluarkan lenguhan kecil. Vim akan menenangkan sembari berjalan ke sana kemari.


"Panasnya bertambah. Ambil termometer."


"Buka saja bajunya mas."


Laras mengikuti perintah Vim. Sebentar kemudian termometer telah terselip di bawah lengan Vian. Tak berhenti di situ saja, Laras mencari pengompres untuk Vian. Seingatnya ia pernah menyimpan barang itu. Letaknya di dalam kotak P3K. Sengaja Laras meletakkan di sana bersama obat-obatan lain agar mudah dijangkau saat diperlukan.


"Tiga tujuh. Lumayan," ujar Vim.


"Vian sudah pakai kompres. Kau tidur saja dulu Laras." Kepala Laras menggeleng.


"Mana mungkin aku bisa tidur mas sedangkan Vian menahan sakit."


"Tidurlah. Kita bergantian menjaga Vian ya."


"Kalau gitu aku duduk di sini saja sampai mas lelah menggendong Vian."


"Vian akan baik-baik saja. Aku pindahkan ke ranjang sebentar lagi."


Laras menggoyangkan kursi yang ia duduki. Kursi goyang bagaikan buaian. Tidak lama kemudian Laras telah tertidur di atasnya.


Vim meletakkan Vian sangat hati-hati. Mencegah Vian bangun kembali. Kasihan Vian jika terjaga terus. Baru ini tidurnya pulas setelah tadi gelisah.


Tengah malam Laras terjaga. Syukurlah semua baik-baik saja. Vian tidur nyenyak begitu pula dengan Vim. Vian diletakkan Vim di tengah bed. Laras menghampiri mereka berdua. Memandang dua orang yang ia cintai. Anugerah Tuhan yang sangat besar untuk dirinya. Vim yang ia berikan kecupan lembut pertama kali lalu berbaring ke kanan menghadap Vian. Mengelus wajah polos itu dengan kasih dan tak lupa mengecup penuh sayang. Kehidupannya sempurna dan bahagia. Apalagi yang ia cari? Tidak ada. Semua lebih dari cukup. Sebuah kata syukur terucap di bibir Laras yang tipis.


Dalam hati Laras berjanji akan membuat Vim dan Vian benar-benar bersyukur memiliki Laras. Mencurahkan segenap kasih sayang untuk mereka berdua karena ia hanya memiliki cinta yang luas buat mereka, Vim dan Vian. Laras tak memiliki materi melebihi kepunyaan Vim.

__ADS_1


__ADS_2