
Pintu kamar terbuka lebar ketika Vim membukanya. Laras masuk ke dalam mendahului Vim. Vim mengunci pintu.
Kemeja yang Vim gunakan dilepas. Membiarkan kaos putih tanpa lengan menutupi tubuh bagian atas.
Laras mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur kemudian berjalan ke arah pintu.
"Mau ke mana yang?"
Teguran Vim menyurutkan langkah Laras.
"Sebentar aku ambilkan susu buatmu."
"Aku tidak membutuhkan susu itu."
Vim mendekati Laras. Laras berpindah tempat berdiri dan membuat Vim penasaran.
"Mengapa menjauh?" Vim mengikuti Laras terus.
"Siapa perempuan itu mas?" Tanya Laras.
"Perempuan mana?" Tanya Vim.
Vim terus bergerak maju. Laras dengan baju tidur dan bibir merah sensual menggoda Vim. Menggungah selera Vim malam itu. Laras kelihatan seksi dan segar.
"Perempuan itu yang stempel bibirnya ada di kemejamu. Jangan mendekat jika mas nggak menjawabku."
Larangan Laras tak berarti apa-apa bagi Vim. Hasratnya bergolak meningkatkan hangat suhu tubuhnya. Dia terus maju hingga lima belas sentimeter di depan Laras. Laras sungguh mengghairahkan di mata Vim.
Laras menghindari kecupan Vim dan penolakan secara halus itu justru membuat Vim tambah penasaran. Dua minggu ia harus menahan rasa dan esok ia sudah mulai bisa menyalurkan hasrat biologisnya kepada Laras.
"Kau menolakku. Hmm.. dia wanita itu, bukan siapa-siapa." Bisik Vim tepat di telinga Laras.
Vim mengalihkan wajah Laras agar sejajar dengan wajahnya. Laras tidak bisa bergerak lagi. Kedua lengan Vim telah memagar diri Laras. Hal yang sering Vim lakukan jika menghendaki sesuatu yang intim dengan Laras.
Tak menunggu lama Vim segera memagut bibir Laras. Tidak memberi kesempatan kepada Laras untuk menghindarinya lagi. Vim bermain di sana hingga Laras akhirnya pasrah dan menerima perlakuan Vim.
Vim melepas pagutan itu. Ia mengelap bibir Laras dan mengatur pernafasan. Hal yang sama dengan Laras. Mengambil udara yang ia perlukan.
"Jangan gunakan lipstrik merah itu. Aku tidak mau orang lain tergoda melihatmu." Ujar Vim.
Tak cukup sampai di situ Vim kembali memeluk Laras dan memberikan ciuman yang lebih dalam. Laras tak bisa menolak. Vim tidak memberinya kesempatan sama sekali. Akhirnya Laras terbawa mengikuti alur permainan Vim.
Mereka berdua lupa segalanya. Lupa bahwa Laras baru mulai sembuh. Mereka terbuai asmara yang memabukkan. Keduanya melampiaskan hasrat yang sempat tertunda. Memecahkan sekat yang dua minggu ini menghalangi mereka untuk memadu kasih.
__ADS_1
"Kau siap?" Bisik Vim yang berada di atas tubuh Laras.
Laras mengangguk. Baginya siap atau tidak, Vim terlanjur dikuasai *****. Dia penuh semangat dan berghairah. Laras tidak sampai hati mengecewakan Vim.
"Ijinkan aku masuk. Pelan-pelan. Katakan sakit jika kau merasakannya." Lembut suara Vim terdengar. Laras merasakan rasa sayang Vim padanya.
Keduanya benar-benar terbuai. Vim memuja dan memberikan kasih sayangnya malam itu. Hanya Laras yang bisa merasakannya. Di ujung aktivitas Vim menyebut nama Laras dan mengatakan cinta. Kini ia tergolek puas di sebelah Laras. Senyumnya menyiratkan kepuasan. Hanya bed cover yang menutupi tubuh mereka berdua saat itu.
"Terima kasih sayang." Ucap Vim. Matanya terpejam untuk kemudian terbuka kembali.
"Setelah semuanya boleh aku bertanya yang?" Laras memiringkan tubuhnya menghadap Vim.
"Tanyalah. Apa itu?"
Satu hal yang mengagumkan. Vim selalu bisa bersikap tenang.
"Mas pernah melakukan hal ini dengan wanita lain?"
Suara Laras agak tersendat tatkala menanyakan hal itu. Ia mengamati wajah Vim. Khawatir Vim menjadi marah atas pertanyaannya.
"Menurutmu gimana?" Vim balik bertanya.
"Wanita itu.. lipstiknya menempel di bagian belakang kemejamu. Aku menemukannya saat akan menyuci kemeja itu. Aku butuh penjelasan dan kejujuranmu mas."
Stempel lipstik merah berbentuk bibir yang kurang sempurna bentuknya menurut Laras.
"Dua hari yang lalu." Jawab Laras.
Vim berusaha mengingat apa yang telah dilalui dua hari lalu dan ia pun mengutarakan kepada Laras yang sebenarnya.
"Selesai kerja malam itu aku janji temu dengan pemilik Moresta. Urusan keluarga yang tiba-tiba membuat Dean pemilik Moresta tidak bisa datang. Aku melepas lelah di sana karena aku baru saja datang."
Vim merubah posisi menghadap Laras. Mengusap lengan Laras dan meneruskan cerita.
"Pipis yang gak bisa kutahan, aku menuju ke toilet. Belum terlalu jauh dari tempatku berjalan, seorang wanita memegang lenganku dan memohon pertolongan." Vim lanjut bercerita.
"Maafkan aku. Tolong lindungi aku dari lelaki itu. Aku tidak mau pergi bersamanya." Kata wanita itu dengan nafas memburu. Vim melanjutkan ceritanya.
Kemudian si wanita berlindung di balik punggung Vim. Tangannya erat mencengkeram kedua lengan Vim saat lelaki yang memburunya datang dan berhadapan dengan Vim.
"Aku merasa kasihan. Wajahnya penuh ketakutan. Dia begitu lekat bersembunyi di balik punggungku dan saat itu aku tidak sadar jika ia sangat ketakutan sehingga berdiri menempel di belakangku. Saat itu wajahnya tentu menempel di bagian punggung ku dan noda lipstik menempel di situ. Susah payah aku beradu pendapat dengan lelaki yang mengejar wanita itu dan aku harus bersyukur dia tidak main adu phisik kepadaku. Jika tidak.."
Vim berhenti sampai di situ. Dia menggapai Laras ke dalam pelukannya. Wajah Laras tenggelam di dada Vim.
__ADS_1
"Jika tidak kau babak belur kan?"
"Ehemm dan kau akan mengira yang lebih parah dari perkiraan mu saat ini."
"Lalu apa yang diberikan perempuan itu sebagai rasa terimakasih?" Laras bertanya jauh di luar perkiraan Vim.
"Tidak ada. Hanya ucapan terima kasih itu saja. Kau menginterogasiku Laras."
"Aku mencari kebenaran." Dalih Laras.
"Kau pintar mengelak."
"Kau mengajariku menjadi pintar atau memang beginikah ketika kita telah berumah tangga?" Laras bertanya dan tidak butuh jawaban Vim. Dia diam saja. Vim tidak memberikan jawaban pertanyaan Laras barusan.
"Aku serius tentang hal kita berdua. Apa perlu saksi kebenaran ceritaku? Ehm siapa ya." Vim berpikir.
"Sudahlah mas. Semoga tidak ada kebohongan di atas semua ini. Sebuah kebohongan akan menyakitkan sekali saat terkuak."
Vim tidak menyangka Laras bisa berbicara seperti orang dewasa. Laras belum terlalu dewasa bagi Vim. Masih ada sifat kekanakan di dalam diri Laras. Terkadang Laras cukup bijaksana.
"Pintar. Percayalah aku bicara kejujuran. Belah dadaku agar kau percaya." Vim bercanda.
"Hiiiih..lebay."
Laras mendorong bahu Vim. Menggerakkan tubuh ingin bangkit namun segera sadar bahwa dirinya tidak mengenakan pakaian.
"Bagaimana ini aku ingin ke kamar mandi." Ucap Laras menatap Vim. Malu baginya lari ke kamar mandi dalam keadaan tanpa busana.
"Tunggu."
Vim mencari sesuatu di bawah cover bed.
"Dapat. Ini aku pakai dulu." Vim menunjukkan ****** ***** miliknya pada Laras.
Setelah itu Vim turun dari ranjang dengan bertelanjang dada.
"Pergilah. Bawa bed cover ini."
Laras berjalan ke kamar mandi dengan bed cover menutupi tubuhnya. Keluar lagi mengenakan bathrobe dan mengganti dengan pakaian tidur. Keresahan yang hadir sirna berganti kedamaian Laras tertidur dalam pelukan Vim.
🌈🌈🌈
Like, comment, gift, vote & five stars.
__ADS_1
Trims. 💕