Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 111. Berusaha.


__ADS_3

Vim menyandarkan punggung di ujung tempat tidur. Kesedihan, kelelahan dan keputusasaan terpancar di wajahnya.


"Pih aku baik-baik aja. Papi tidak perlu menjagaku disini," kata Vim. Berdiam dalam kesendirian lebih baik daripada ditemani. Lamunan panjang akan terganggu bila seseorang menemani terkecuali Laras di sini. Dialah penghibur hati Vim.


"Papi jarang ke sini Vim. Papi ingin berdekatan denganmu."


"Kalau begitu papi di situ. Aku mau tidur."


"Hmmm. Vim...papi teringat saat kau kecil, kau tidak pernah menangis ketika tubuhmu luka karena jatuh. Mami begitu khawatir tapi kau tetap duduk menunggu mami membersihkan lukamu dan memberi obat." Cerita pak Dewantara.


"Dan aku duduk santai menghabiskan es krim yang papi berikan. Hahaa...mami mengomeliku karena itu."


"Yaaahh dan begitulah keinginan papi, Vim." Raut wajah Vim berubah mendengar penuturan papi. Ia tersenyum hambar.


"Kau selalu bangun sendiri setiap jatuh kali dan tak pernah menangis. Kau sering juara dalam setiap perlombaan renang. Vim...papi ingin melihat dirimu yang dulu, yang tak pernah mengenal kata menyerah."


"Aku tak berdaya pih. Aku lemah."


"Bangkit Vim. Dunia masih luas untuk kau taklukkan. Semua masih bisa berubah jika kau mau. Cukup satu kali ini kau mengamuk. Papi tidak mau melihat hal begini lagi."


Triiiiingg...triiiiingg.


Suara panggilan dari ponsel di papi.


"Ya. Tidak. Aku hanya ingin melihat cucuku di rumah Vim. Ya, jangan tunggu aku pulang."


"Mami??" Vim menebak dan dibalas anggukan oleh papi.


Papi berkata lagi, "Sebaiknya kalian pindah di kamar bawah saja. Itu lebih baik untukmu."


Laras datang memberikan papi selimut. Meletakkan bantal di sofa. Papi sendiri yang berkeinginan tidur di sofa.


"Kamar bawah tidak luas," ucap Vim.


"Laras dan Vian bisa tidur di kamar satunya."


"Gimana mas Vim saja, pih. Laras ikut saja. Memang di kamar bawah pemandangannya lebih enak. Buka jendela langsung kelihatan taman. Mas Vim mau?" Tanya Laras pada Vim.


"Boleh."


Laras dan pak Dewantara tersenyum. Vim lebih leluasa bergerak di ruangan bawah dan sesekali bisa menikmati udara luar ruangan walaupun di sekitar rumah mereka. Pemandangan ke arah taman menyegarkan mata saat gorden jendela disingkapkan.


Keesokan hari pak Dewantara memanggil Dion dan Edo untuk mengangkat Vim. Tubuh mereka yang besar sangat imbang untuk mengangkat tubuh Vim.


"Pelan-pelan. Jangan sampai kau terjungkal. Bisa jatuh kita berempat." Begitu kata Dion.


Mereka menuruni anak tangga dengan hati-hati. Vim berada di atas tandu lipat yang digotong oleh kedua sahabatnya.


"Lihat...selamat bukan? Vim..tubuhmu bertambah berat," celetuk Edo.


"Eheem...." Dion memberikan Edo isyarat. Satu katapun bisa membuat Vim terluka.


"Ya iyalah. Gimana nggak berat, kerjaku cuma makan!" Vim ketus.


Pak Dewantara mendorong kursi roda. Vim didudukkan di sana.


"Aku bisa jalankan sendiri pih." Vim menggerakkan kursi roda dengan kedua tangannya.


"Mari kak diminum airnya. Kalian boleh pulang jika sudah makan siang."


Laras membawakan minuman dingin. Edo tidak melirik sedikitpun demi menjaga perasaan sahabatnya.


"Ini kue yang baru dikirim kak Viky. Dimakan kak."

__ADS_1


"Terima kasih Laras. Tidak usah dikeluarkan semua. Tuan rumah nggak kebagian nanti..hahaa." Dion tertawa.


"Dihabiskan sama Dion." Edo menyeletuk.


"Habiskan aja kak. Dikeluarkan buat dimakan kok."


Vim memandang Laras tanpa kedip.


Bisanya kau tersenyum seramah itu, Laras. Tidak ada lagikah kesedihan di hatimu.


"Berikan ini pada Vim, Laras." Dion menyerahkan piring berisi kue dan Laras menerima piring.


"Mas mau ya?" Tanyanya pada Vim.


"Aku nanti saja."


Laras tersenyum samar dan berbalik meletakkan piring ke atas meja.


Bibi datang memberitahu makanan telah selesai dihidangkan. Laras mendorong kursi roda Vim ke ruang makan. Mereka makan tanpa banyak berkata.


...•°•°°•°•°...


Laras memperhatikan amplop yang diserahkan bibi. Membaca bagian alamat. Nama lengkap Vim tertera di sana dan pandangan Laras mengabur. Ia memejamkan mata beberapa saat. Membuka mata kembali dan meyakinkan apa yang dilihat.


"Non baik-baik saja?" Tanya bibi yang masih berada di depan Laras.


"Kurang baik. Bi...rumah ini mau disita bi."


"Apa non?? Kok bisa?"


"Bisa bi."


Laras memasuki kamar lain. Termenung di sana agar Vim tidak melihat. Bagaimana ini? Rumah akan disita karena menunggak penyetoran di bank. Laras memutar otak. Lalu terbayang perhiasan-perhiasan mahal miliknya. Ya dia harus mengorbankan satu atau dua set perhiasan itu untuk menyelamatkan rumah yang diagunkan.


Keadaan menuntutnya berpikir cerdas. Vim setuju atau tidak, Laras tetap akan jalan.


"Mas...aku akan bekerja."


Kau mengatakan itu lagi Laras. Aku benar-benar tidak berguna kan. Aku hanya parasit.


"Dengan begitu kita bisa menyelesaikan kewajiban kita pada bank."


"Jual semua tanah dan perhiasanmu. Semua itu cukup untuk menutupi bank dan kebutuhan."


"Cukup sampai di mana mas?"


Lambat laun semua akan habis dan aku tidak bisa berdiam diri, mas.


Vim terdiam. Sebanyak-banyaknya tabungan tanpa usaha mengisi kembali, akan berkurang akhirnya.


Diamnya Vim kemenangan bagi Laras. Dengan diam Vim berarti menyetujui keputusan Laras.


Laras mulai menyiapkan lamaran pekerjaan. Vim mendapati Laras begitu sibuk dan bersemangat. Ia tak mampu lagi melarang Laras karena ia sendiri tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Laras. Karena dirinya Laras kini mengalami kesusahan.


Sebuah panggilan dari tempat hiburan malam diterima Laras. Posisi yang ditawarkan lumayan sebagai wakil pemilik cafe besar. Laras hanya perlu berangkat kerja dari sore hingga jam sembilan malam. Gajinya lumayan bisa menutupi kebutuhan sehari-hari.


Setiap hari Laras pulang malam. Vim memandang tidak suka. Pikiran negatif mulai merasuki pikiran Vim. Laras menjadi wanita penghibur. Vim mencibir.


"Tidak adakah pekerjaan yang lebih baik, Laras?" Tanya Vim suatu malam. Laras baru pulang malam itu.


"Ini baik kok mas."


"Baik kau bilang? Berkumpul bersama orang-orang nggak jelas."

__ADS_1


"Nggak jelas gimana mas?"


Laras merasa dirinya tidak berbuat hal yang menyimpang. Apalagi dia bekerja di suatu ruangan tertutup. Mempelajari dan menerima laporan setiap hari. Itu saja.


"Tidak semua mereka baik, Laras."


Vim teringat saat Laras pertama kali mencari Vim di klub. Vim teringat keluguan Laras. Sekarang Laras harus bekerja di tempat yang lebih kurang seperti itu. Apa bisa?


"Aku bisa menjaga diri mas." Laras menyisir rambut. Ia asal menyisir saja tanpa bercermin.


"Aku mengkhawatirkan keadaanmu."


"Do'akan semua baik-baik saja mas. Do'amu melindungiku."


Jika kebutuhan sehari-hari bisa tertutupi, tidak dengan agunan rumah. Satu perhiasan telah terjual untuk menutupi tagihan yang menunggak. Haruskah Laras menjual lagi perhiasan yang lain.


"Sudah larut malam mas. Mari tidur."


"Aku tidak mengantuk."


"Oh ya mas...mas Viky nanya, terapi dengan dokter Andreas dimulai kapan?"


Viam diam. Tidak berminat menjawab. Ia tidak mau menyusahkan abang-abangnya. Mereka sudah menolong perusahaan Vim. Jangan direpotkan lagi dengan memikirkan biaya pengobatan Vim.


Di luar dugaan Laras, Vim bertanya," Apa yang telah mereka lakukan padamu?"


"Mereka siapa mas?"


"Mereka di cafe."


"Apa yang mereka lakukan? Ahh tidak ada. Aku tidak bicara langsung dengan mereka."


"Oh ya? Kau tidak berbohong kan?"


"Mas??" Laras mengernyitkan dahi.


"Aku tidak pernah berbohong padamu."


Vim memandang Laras. Laras masih muda. Seperti orang lain Laras juga manusia. Punya hasrat dan keinginan dan sayangnya Vim tidak bisa memenuhi kebutuhan Laras. Apa tidak mungkin Laras mencari kepuasan di luar sana?


Vim menepis pikiran buruk yang melintas.


"Tidak perlu dibahas lagi mas. Niatku benar-benar mencari rejeki. Bukan yang lainnya. Buang pikiran jelek itu ya."


"Apa aku harus mempercayaimu?" Vim gamang.


"Lalu? Kau tidak percaya padaku??"


"Entahlah."


"Ya Tuhan. Aku benar-benar bekerja mas. Percayalah."


"Baik aku percaya. Semoga kau bisa menjaga kepercayaanku."


"Tentu."


Kesepian semakin menghampiri Vim. Malam-malam berlalu sunyi. Menunggu dan menunggu kepulangan Laras. Secuil kekhawatiran akan keselamatan Laras selalu hadir setiap malam.


Jika masih ada asa terselip, kenapa dibiarkan berlalu begitu saja?


...🌷🌷🌷...


Like, komen, gift, vote dan bintang lima.

__ADS_1


Terima kasih masih mampir di sini.🌷💕


__ADS_2