
Pluuukkk.
Laras kaget. Sebuah benda melayang jatuh menimpa laptop Laras. Benda berbentuk kaos olah raga yang separoh basah bertengger tepat di atas laptop. Laras melotot. Ia mencari sumber datangnya benda tersebut.
Di hadapannya Laras melihat Vim meringis tanpa merasa bersalah. Senyum nakal menghiasi wajah Vim. Ketahuan Vim sedang menggoda Laras. Iseng Vim mengganggu Laras yang sedang mengerjakan tugas kuliah.
"Mas! Bauuu tahu nggak. Iiiiiiih.."
Kedua jari Laras menjepit kaos Vim yang dilempar ke depan Laras tadi. Kaos yang separoh basah oleh keringat itu dipindahkan ke samping di sebelah Laras.
"Hahahaha..bau tubuhku harum kan?" Gurau Vim.
"Bau asem heee." Celetuk Laras. Tertunda menyelesaikan tugas.
"Apa kau bilang?"
Vim mendekati Laras.
"Oh tidak. Jangan mendekat mas. Keringatmu belum kering." Laras menggeser duduknya sembari menutup hidung. Matanya menyipit pertanda ia sedang menahan tawa.
"Siapa yang mendekat? Aku duduk di sini menetralkan suhu tubuh."
Vim meluruskan kaki. Selesai melakukan olahraga sore di rumah sedangkan Laras mengerjakan tugas kuliah setelah selesai mandi. Peluh telah kering di tubuh Vim.
"Tidak ada air putih." Ucap Vim sembari mengelap sisa keringatnya.
"Aku ambilkan." Laras berdiri dan berlalu ke ruang makan. Mengambilkan air minum yang dibutuhkan Vim dan kembali lagi.
"Ini mas." Laras mengangsurkan air mineral botol kepada Vim.
Glek. Glek. Glek.
"Haus ya?" Laras tersenyum melihat Vim.
"Awas tersedak mas."
"Haus. Kau sudah mandi?" Vim memperhatikan Laras tanpa mengedip.
"Sudah. Tugas ini harus diserahkan pukul sembilan malam paling lambat jadi aku harus menyelesaikannya."
Laras mengerjakan tugas lagi. Membiarkan Vim menonton televisi di sebelahnya. Hari hampir senja. Sebentar lagi pekerjaannya tuntas.
"Mandi dulu mas. Hampir malam." Kata Laras.
"Sebentar lagi. Masih lelah.
Keseriusan Laras menarik perhatian Vim. Merasa diacuhkan Vim menggeser tubuhnya lebih dekat di sebelah Laras.
"Serius sekali." Kata Vim.
"Iya. Kan harus selesai."
Vim menempelkan kelima jarinya ke hidung Laras.
"Uuuhuukk. Bau mas! Uweeek."
Vim mundur ke belakang dengan tawa lebar yang pecah dari mulutnya. Tergelak kesenangan.
"Jaahaaat! Tanganmu bau asem."
Laras mengejar Vim di depannya. Tangannya tak mampu menyentuh tubuh Vim. Vim selalu berusaha menghindari Laras yang akan memukulnya.
"Aaah bau keringatku harum sayang." Vim terkekeh.
"Dasar! Jahat! Mas jahat!"
Tangan Laras kini mengepal memukul lengan Vim. Melepaskan kekesalan karena Vim mengganggu. Memberikan kelima jari yang sebelumnya ia tempelkan di bawah ketiak ke hidung Laras. Membuyarkan konsentrasi Laras mengerjakan tugas. Laras bersemangat menggapai Vim.
"Aaahahahaaa..hahahaha..Mau lagi?" Tanya Vim.
"Nggak. Nggak mau. Jika melakukannya, bagian mas di tempat tidur tidak ada selama lima hari." Ancam Laras. Tugasnya belum selesai tetapi Vim terus mengganggu dirinya.
"Berani seperti itu?"
"Siapa takut?" Laras manyun.
"Aku tidak akan mengganggumu lagi asalkan kau mendekat padaku." Ujar Vim. Laras terlanjur parno Vim akan mengganggunya lagi sehingga tidak bergerak dari tempatnya duduk.
"Bohong. Pasti sebuah jebakan."
"Tidak yang. Kau merasa jijik tubuhku bau ya. Katanya sayang.." Vim mencebik.
"Iya sih tapi_"
"Mestinya tanpa syarat kalau sayang. Hmm jangan menjauh." Vim menggapai tangan Laras.
"Tidak.Tidak." Laras menggeleng. Wajahnya ditutup dengan kedua telapak tangan.
"Aku sayang padamu. Kemarilah." Rayu Vim.
"Tiidaaaak. Aaaah."
Laras hendak menjauhi Vim. Terlanjur Vim mendekap Laras.
"Bau keringatmu mas huuuu."
__ADS_1
"Wangi haha."
Vim bermaksud menyium Laras namun Laras keburu mengelak. Menunduk menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan. Vim tidak berhenti. Kedua lengannya mengapit pinggang Laras dari belakang. Tawa Vim berderai renyah.
"Tidak. Aku tidak mau. Mandi dulu mas."
"Ya sudah aku mau mandi tapi kita foto dulu ya." Pinta Vim. Tindakannya menggoda Laras dihentikan.
"Buat apa foto. Lihat penampilan mas itu, kucel."
Laras menggelengkan kepala tidak setuju dengan keinginan Vim.
"Aku kucel saja kau takut kehilanganku. Foto ini akan kita kirim ke mami. Kata mami rindu sama kita berdua."
"Baik kalau begitu. Posisi gimana?" Tanya Laras.
"Kau di bawah aku di atas."
"Apa?" Laras terperangah.
"Pikiranmu kotor ya. Apa kurang yang kuberikan tadi malam?"
Laras melotot. Kadang suaminya ini memang mendongkolkan.
Dering video call berbunyi di ponsel Laras. Laras meraih ponsel secepatnya.
"Mami mas." Kata Laras.
"Oya. Sudah diterima?"
Vim membenarkan posisinya tepat di samping Laras.
"Mi sebentar ya. Laras pindah ke web."
Tak lama kemudian.
"Sudah mi."
Vim dan Laras melihat wajah mami Maharani di layar laptop. Tersenyum cerah pada Vim dan Laras.
"Bagaimana keadaan kalian?" Mami menyapa melalui video call.
"Baik mi. Mami gimana, sehat?" Vim bertanya. Wajahnya dan wajah Laras berdampingan agar kelihatan oleh mami.
"Kemarin mami masuk angin sayang. Beberapa kali ke belakang." Mami curhat. Wajahnya berubah sendu.
"Loh kok bisa? Sudah tidak ada makanan yang bisa dimakan ya mi??" Tanya Vim heran. Wajah mami berubah cemberut menanggapi ucapan Vim.
"Iiiiih kamu maaahh. Itu loh hari Selasa lalu mami di rumah Bu Handoko. Beliau minta tolong ada acara. Mami tidak bernafsu makan Viim jika mengikuti acara begitu."
"Mami jaga sehat mi." Sambung Laras. Memberikan kecupan jarak jauh untuk mami Maharani. Wanita yang menyayangi Laras melebihi ibu kandungnya sendiri.
"Tentu sayang. Mami kan ingin melihat cucu mami."
Vim terdesak kesamping karena Laras mendominasi monitor laptop.
"Laras..aku belum selesai." Protes Vim. Ia mencuri cium pipi Laras.
"Mas sih lama amat. Aku mau ngomong sama mami." Laras pun membela diri.
"Tuuuh kaan..bau." Laras melap pipinya.
Keduanya seperti adik beradik sedang merebut perhatian maminya.
"Heleeh dari tadi juga kau berdekatan denganku." Vim tak terima dikatakan bau.
"Loh..loooh kok bertengkar."
Terdengar suara mami.
"Vim mengalah ya sayang." Ucap mami lagi. Sangat hafal dengan watak Vim.
"Selalu mami." Vim menyambung obrolan.
"Beritahu mami kalian sudah merencanakan membuat baby atau belum?"
Pertanyaan yang diajukan mami membuat pipi Laras merona semu.
"Mami do'akan yaa semoga kali ini kami berhasil. Kami sehat dan segera dapat baby." Kata Vim.
Mami cepat mengangguk. Namun mami tidak segera puas dengan jawaban yang diberikan oleh Vim.
"Sayang Laras.. katakan apakah kalian sudah melakukannya?" Mami sangat ingin tahu. Tidak memikirkan menantunya yang sedang malu hati.
"Mami pertanyaannya.Melakukan apa?" Tanya Vim pura-pura bodoh.
"Membuat cucu untuk mami."
"Oo itu. Sudah mi. Sudah." Lalu Vim berkata lagi.
"Benar Laras?"
"Loh mami nggak percaya sih." Vim lagi bersuara.
"Iya mi. Mohon do'anya mi."
__ADS_1
Suara Laras melegakan mami. Wajah mami terlihat sumringah.
"Syukurlah. Kalian sudah bertemu dokter kan?"
"Belum." Vim berkata.
"Loohh??" Kening mami berkerut menanggapi.
"Libur mami."
"Kau pasti sudah tidak sabar ya Vim. Nakal." Kata mami.
"Sesuai waktunya kok mi."
Mami menoleh ke belakang sebentar. Sedetik kemudian muncul papi di monitor laptop.
"Papi! Gimana papi. Sehat pi?"
Vim menyambut kemunculan papinya.
"Sehat Vim. Begitu juga yang papi harapkan dengan kalian."
"Mohon do'a papi." Kata Vim.
"Tentu. Tentu. Vim, papi berencana merenovasi villa." Ujar papi.
"Papi perlu bantuan?" Tanya Vim merespon.
"Tidak. Hanya sedikit renovasi di bagian belakang." Ujar papi.
"Oke pih. Papi berhak melakukan apapun terhadap villa keluarga."
"Ya. Ya. Lanjutkan obrolan kalian. Papi mau keluar bertemu oom Harya." Pamit papi.
"Lanjut Pih. Sehat selalu." Kata Vim.
Papi pergi. Kini wajah mami kembali muncul.
"Vim di rumah banyak mangga dari kebun. Ambil ke sini ya."
Vim mengusap rambutnya.
"Mi maafkan. Vim sibuk mengurus reuni. Belum bisa ke sana." Vim mengutarakan alasannya. Di ujung Minggu ini Vim harus menemui teman-teman lama untuk membahas kelangsungan reuni.
"Ya sudah kalau begitu. Mami titipkan ojek online saja. Pak Uun pasti sibuk mengantarmu ke sana kemari. Kasihan." Kata mami.
"Itu tanggungjawab pak Uun mami."
"Iya mami tahu. Sudah lama mengobrolnya ini. Sudah dulu ya. Jaga Laras baik-baik." Pesan mami akhirnya.
"Baik mami. Jaga kesehatan ya mi." Pesan Vim.
Mami mengucapkan salam perpisahan dan dibalas oleh Vim.
"Mas aku bisa mengambil mangga di rumah mami."
Laras menawarkan diri. Seketika dicegah Vim. Dia tidak ingin Laras pergi jauh sendirian mengendarai mobil.
"Biarkan mami menitip pada ojek online. Tunggu saja di rumah. Oke?"
"Eem..baiklah tuan."
"Baiklah sayang." Vim mengoreksi ucapan Laras.
"Iya sayang. Sekarang kamu harus mandi. Mau dimandikan?"
Spontanitas Laras justru mendapat tanggapan semangat dari Vim.
"Mau dong. Ayo!" Ajak Vim.
"Iidiih becanda sayang." Laras mengelak. Dia hanya bergurau saja.
"Tidak ada penolakan. Konsekuen dengan ucapanmu." Vim tak mau kalah.
"Hahaa..semangat sekali." Laras tergelak sembari berjalan ke kamar mereka.
Di sana Laras menyiapkan air untuk Vim mandi. Kemudian mempersilahkan Vim mandi. Ia menggulung rambutnya dengan jedai. Vim yang melihat Laras tidak sabar menantinya.
"Janji tetap janji Laras." Ujar Vim menunggu di depan pintu kamar mandi.
"Haa..janji apa mas." Mulut Laras menganga.
"Loh tadi ngomong mau mandikan aku." Tagih Vim.
"Oh itu." Senyuman Laras mengembang.
"Apa perlu kugendong?"
"Tidak. Tidak."
Vim keburu mendekati Laras dan mengangkat tubuh Laras yang padat ke kamar mandi. Tidak ada yang mengganggu mereka karena memang hanya mereka berdua di kamar. Belum ada sosok imut mungil yang siap mengalihkan perhatian mereka yaitu balita.
💝💗💝💗
Jangan lupa mampir lagi yaa..trims readers
__ADS_1
Like, comment, gift, vote & five stars. 🌷