Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 122. Bahagia menjelang.


__ADS_3

Vian damai dalam gendongan bibi Am. Wajah polos itu menggerakkan kakinya beberapa kali.


"Vian ini papi nak!" Laras berseru.


"Den selamat siang. Selamat Den udah sembuh. Bibi ikut senang."


"Terima kasih Bi. Berkat do'a Bibi juga. Berikan Vian pada saya Bi."


"Ini Den."


Vim meraih Vian. Mengangkatnya tinggi.


"Hei Boy, ini papi sayang." Vim mengangkat Vian dan menurunkan lebih rendah. Begitu hingga tiga kali dan berhasil membuat Vian tertawa. Vik menyiumi Vian berulang kali. Tertumpah semua rasa rindunya.


"Ma'afkan papi menjauhimu. Kau menjaga mami kan nak?"


"Aku mengawasi mami, papi. Mami sering meninggalkanku sendiri. Pergi dengan orang lain." Vim berkata sembari menirukan suara anak kecil.


"Apa? Iidiiiih mas asal aja sih." Laras menyubit lengan Vim. Gemas dengan tingkah Vim.


"Hehehehe..berita yang kudapat seperti itu. Apakah orang-orangku berbohong?"


"Jadi...mas mengawasiku lewat mereka? Berapa banyak orang itu?"


"Bukan mengawasi gerak-gerikmu. Hanya menjagamu," kilah Vim.


"Nggak ada bedanya mas."


"Beda dong. Tulisannya saja sudah beda dan pengertiannya lain."


"Terserah mas saja. Tarik orang itu. Aku nggak mau diekori lagi." Laras bersungut.


"Ya, ya. Permintaanmu diterima sayang."


"Mas sih...."


Cuuuup. Vim melayangkan kecupan di pipi Laras. Kemudian meletakkan Vian di atas bed


yang rapi. Meletakkan dua buah guling di samping Vian. Memberikan Vian botol kosong air minum ukuran kecil agar Vian diam.


Vim meraih tangan Laras. Mengajaknya merapat di dinding. Menatap dalam ke manik mata Laras. Sudah berapa purnama berlalu tanpa kebersamaan dan saling mengisi.


Laras menunduk. Tak pernah sanggup membalas tatapan Vim bila seperti itu. Ia selalu kalah.


"Aku merindukanmu," ucap Vim. Wajahnya hanya sekian sentimeter dari Laras. Aroma parfum Laras yang sangat ia hafal, kembali menggugah hasrat di dalam diri Vim.


"Aku juga." Balas Laras lirih.


"Setiap hari aku menantikanmu."


"Jika tahu mas di sini, aku pasti datang."


"Jangan pergi dariku."


"Aku selalu menunggumu sampai detik ini."


"Jadi kita pulang?"


Laras mengangguk. Netranya terpejam. Debar dadanya semakin menjadi. Sekian lama berjauhan menimbulkan kerinduan yang sangat. Kehangatan yang telah hilang kini kembali menawarkan harapan.


"Aku kangen." Laras menelusup ke dada Vim. Vim memberikan pelukan menenangkan.


"Aku juga Laras. Aku tak sanggup kehilanganmu."


"Aku di sini mas. Kita bersama lagi. Ajak aku kemanapun?"


"Benarkah? Bukankah kau teguh mempertahankan pekerjaanmu."


Laras merenggangkan tubuhnya. Sesekali mengamati Vian dari tempat mereka berdiri. A


"Nggak lagi. Aku berhenti setelah tahu mas di sini."


"Kenapa?"


"Roni dan Aurora melecehkanku."


"Apa? Melecehkan gimana??"


"Roni menghendaki aku dan Aurora menuduhku berniat merampas Roni."


"Bangsat Roni!" Vim menggeram.


"Kau tak boleh bertemu Roni lagi." Jiwa melindungi Vim kambuh.


"Aku juga nggak mau mas."


Eheek. Eeheek. Vian mulai minta perhatian. Rengekannya membuat Laras berpindah ke samping Vian.


"Uuluuu anak mami..udah bosan yaah?"


"Tidurkan. Vian ngantuk."


"Iya mas."


Vim menutup pintu. Meninggalkan Laras dan Vian di dalam. Ia menjauh keluar. Menekan


beberapa digit nomor dan tersambung ke Joel.


"Hentikan pengawasan Laras, Joel. Dia banyak diam di rumah."

__ADS_1


Klik. Sambungan diputus. Vim takkan mengijinkan Laras bekerja lagi. Cukup apa yang telah dilalui Laras. Dia akan menyelesaikan masalah keuangan rumah tangganya dan bukan Laras yang bersusah payah untuk itu. Vim telah kembali menjadi Vim yang dulu.


Malam tak lagi sepi menggigit. Kehangatan mulai mengisi hubungan Laras dan Vim. Dua-duanya mulai terbuai dengan nikmat dunia. Dunia orang dewasa seharusnya.


"Lagi sayang," ujar Vim tanpa malu.


"Apanya mas?"


"Yang tadi itu."


"Eehm...mau lagi? Besok lagi dooong."


Laras menarik bed cover menutupi kepala. Kali ketiga jika benar terjadi Vim melepaskan hasrat. Boleh jadi akan ada tambahan permintaan sampai pagi menjelang.


"Hahahaha....geli.. Geli. Sudah dua kali mas." Tawa Laras pecah karena Vim menggelitik pinggangnya. Bed cover berpindah posisi ke bawah kaki.


"Baru dua kali."


"Mas baru sehat. Tidak boleh diforsir."


Vim berhenti. Ya kenapa dirinya sangat bernafsu.


"Bajumu menggodaku," celetuk Vim sekedar beralasan. Tidak mau mengakui ia ingin.


"Loooh baju tidurku dari dulu kayak gini, Mas."


Benar juga. Laras selalu berpakaian tidur bertali satu dengan tinggi di atas lutut. Berbahan lembut sedikit menerawang.


"Sama saja kau memancingku Laras."


"Terserah anggapan Mas tapi aku cuma punya model begini. Sudah ah. Yuuk tidur."


Tak mau memperpanjang pembahasan Laras menarik selimut tebal yang tersingkirkan tadi. Memejamkan mata menghadap Vim. Di situ Vim memberikan kecupan selamat malam.


"Selamat tidur sayang. Mimpi indah."


...ΩΩΩ...


"Mas, telepon!" Laras berseru. Vim masih di kamar mandi. Setengah jam berlalu tapi belum keluar dari sana.


Kreeeek. Pintu terkuak.


"Dari siapa?"


"Mas Viky. Mas lama amat di dalam. Ngapain aja."


Vim memberikan kode lima jari dan masuk kembali ke kamar mandi. Laras terpaku di luar kemudian pergi ke dapur.


"Di mana mas?"


"......"


"Aku ke sana besok."


"......"


"Mas ini sarapan. Ada berita dari mas Viky?"


"Huum. Laras...."


"Ya ada apa mas? Serius sekali sih." Wajah Vim tegang.


"Berapa lama kewajiban kita belum dibayarkan?" Suara Vim pelan tapi seperti sengatan lebah buat Laras. Pikiran Laras segera tersambung.


"Astaga...hampir dua bulan ini. Mas aku lupa."


"Surat pemberitahuan?"


"Ada mas. Aku lupa benar."


"Laras, rumah kita masuk dalam pameran pelelangan. Aku dapat berita dari mas Viky."


"Oh Tuhan. Apa yang kulakukan? Kenapa secepat ini?!"


"Kau jangan panik sayang. Aku yang mengurus ini besok. Mas Viky melihat gambar rumah kita di berita dan menelponku tadi. Dia mengirimkan uang dan kita mengganti uang Viky."


"Bagaimana ini mas?"


"Tenanglah. Aku harus berhasil merebut rumah kita. Sebelum acara pelelangan kuusahakan surat-surat kembali."


"Mas aku bikin masalah ya?" Laras menyesal ini terjadi. Ia terduduk di sofa.


"Bukan salahmu. Kau sudah mempertahankan semampumu. Terima kasih untuk semua ini sayang."


"Mengapa aku bisa lupa... huuuh." Laras menepuk jidatnya.


"Urusan itu kita selesaikan besok. Temani aku berenang huh?"


Tapi Laras menolak dengan alasan, "Aku tak bisa berenang. Mas kan tahu itu."


"Kau tak pernah mau belajar karena itu tidak bisa. Sekarang belajar denganku."


"Tidak mau. Biarkan aku bodoh berenang."


"Ya udah, nyemplung saja..


"Ti-dak ma-u. Mas sendiri aja!"


"Baiklah kalau tidak mau."

__ADS_1


Vim mengangkat Laras. Membawanya ke bagian belakang villa. Laras menepuk dada Vim berulang kali.


"Aku tidak mau. Tidak mau! Aku sudah mandi Mas! Pemaksaan!"


"Biarkan pemaksaan. Ini bukan pemerkosaan!"


"Ngelantur."


"Takut amat sama air. Ini bukan mandi tapi berenang. Nikmati sayang."


Sebagian tubuh keduanya telah basah oleh air. Vim tertawa renyah. Senang melihat Laras


cemberut tak terima kelakuan Vim padanya. Sekarang Laras berdiri di dasar kolam.


"Basah aku! Mas berenang sendiri. Aku gini saja."


Alhasil Laras berendam di dalam air. Selamanya begitu bukan masalah baginya. Laras bahagia melihat Vim berenang. Percikan air mengenai Laras disusul derai tawa Laras. Sejenak masalah terlupakan.


Krrrrrk. Krrrrrrk. Dinginnya air membuat perut Laras berbunyi. Duduk dengan kaki menggantung di pinggir kolam menikmati nyanyian di dalam perut


"Kenapa?" Vim mengernyitkan dahi.


"Perutku lapar."


"Ya sudah, berhenti saja."


Laras meraih handuk besar di kursi. Bathrobe tidak ada di sana. Dari kamar mandi belakang Laras datang lagi membawa setoples cemilan.


"Wooow! Laras gunakan pakaianmu. Kenapa mengenakan handuk saja?"


"Ada yang salah mas? Dari tadi aku memakai ini."


"Cepat ganti pakaianmu. Aku tidak mau para asisten melihat tubuhmu!"


Laras membelalakkan mata. Tidak ada siapa-siapa di villa. Hanya bibi yang menjaga Vian. Asisten lain sedang ijin keluar.


"Sepi mas."


"Biarpun sepi. Pasang pakaianmu."


"Baik Tuan." Laras memutar tubuh. Baru sembuh sudah mulai kelewat perhatiannya.


Vim mencari Laras di dalam kamar. Tidak ketemu. Beralih ke belakang. Di dapur Laras sedang memasak sesuatu.


"Masak apa?" Kecupan mampir di pipi kiri Laras.


"Sup krim jagung." Senyum Laras merekah. Tangannya mengaduk bahan di wadah tahan panas.


"Oh itu. Kemarin pak Koki masak untukku."


"Ini beda. Rasa istimewa ditaburi cinta."


"Aahaahaha...."


"Mas nggak percaya? Dengan jampi-jampi supaya mas tidak jauh dariku," canda Laras.


"Naahhh ini aku percaya. Pantasan aku selalu memikirkanmu."


"Oya? Seberapa sering?"


"Setiap hari, setiap menit namamu kusebut."


"Waaah!"


"Ehm iya. Kau saja tidak merasakan bukan?"


"Siapa bilang? Sudah matang, mas makan ya."


Laras menyendokkan semangkok sup.


"Masih panas beib."


"Ya bentar lagi."


Laras menghidupkan kipas angin agar sup cepat dingin. Di dapur hanya ada kipas angin bukan AC.


"Aku rindu suapanmu. Hidangan lebih enak kalau kau yang menyuapi."


"Huum...mulai deh gombalannya."


"Sah aja kan. Tak ada larangan menggombal."


"Bayar kalau gombalnya di sini. Ini dimakan."


"Hmmm...lagi. Nanti kubayar pakai cinta." Vim menikmati bubur yang masuk ke mulutnya. Suapan demi suapan dari Laras.


"Mengalahkan Vian saja."


"Papinya butuh perhatian juga, sayang."


"Iya deh. Sudah habis. Mau nambah mas?"


"Cukup. Akh kenyang. Makasih sayang. Rasanya enak. Aku tidak tahu kau bisa bikin itu."


"Dapat belajar dari mami Mas. Aku mandikan Vian dulu ya?" Gantian kecupan Laras mendarat di pipi Vim.


"Di sini doong." Vim menunjukkan bibirnya. Laras menurut memberikan kecupan kedua.


"Mandikan aku kapan?!" Seru Vim. Laras menoleh dan melempar senyum membuat Vim gemas.

__ADS_1


...💞💞💞...


•••Like, komen, fav, gift, vote dan bintang lima. Terima kasih semua...💐


__ADS_2