Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 124. Menyelamatkan rumah.


__ADS_3

Vim berpakaian sangat rapi pagi ini. Hari ini ia akan menemui Kepala Balai Pelelangan Swasta.


Dia bercermin membenarkan posisi dasi.


"Sudah rapi sayang." Laras menanggapi Vim.


"Meyakinkan sekali lagi."


Dalam lubuk hati Laras yang paling dalam terbersit rasa takut wanita-wanita di luar sana tertarik pada Vim. Kharisma Vim terpancar kuat. Vim terlahir penuh keberuntungan. Berbeda dengan Laras yang keluarganya hanyalah keluarga sederhana.


"Sudah ganteng mas. Aku jadi takut loh."


"Kenapa?"


"Takut dilirik orang."up


"Dilirik saja. Itu hak mereka. Aku pergi ya. Cuup."


Laras membalas kecupan Vim. Vim tidak segera ke Balai Pelelangan Swasta tetapi ke kantornya.


"Pimpinan tertingginya belum datang Tuan. Sekitar jam sembilan baru di tempat." Laporan Joel kepada Vim.


"Di atas jam sembilan kita ke sana. Buat janji temu Joel. Usahakan kita yang pertama. "


Baik Tuan."


Kemudian Joel menghubungi staf di sana dan mengatur jadwal pertemuan. Beruntung sang pimpinan belum ada tamu dan jadwal pertemuan dengan siapapun.


Dua jam kemudian Vim dan Joel mendatangi Balai Pelelangan Swasta bernama Kharisma Cipta. Langkah mereka mantap menapak tiga anak tangga di sekeliling kantor tersebut.


Ting. Mereka masuk ke lift menuju ke lantai paling atas. Ruangan ekslusif terbuka didorong oleh staf ahli sang pimpinan.


"Selamat pagi, Pak. Tamu telah tiba."


"Selamat pagi. Silahkan masuk."


Mereka bertiga berjabatan tangan lalu terlibat pembicaraan serius.


"Untuk itu saya datang. Mohon bantuan Bapak. Semua hal berhubungan dengan bank kami selesaikan siang ini juga. Sebagai informasi awal agar pelelangan rumah tidak dilakukan."


"Saya pertimbangkan. Jadwal pelelangan belum berlangsung dan saudara kami beri waktu hingga siang besok."


"Terima kasih Pak. Terima kasih."


Joel melihat pancaran senang di wajah Vim. Bosnya ini terkadang keinginannya di luar dugaan. Lunasi saja semua kewajiban tanpa harus ke sini, pikir Joel.


Vim menarik nafas lega dan bersandar santai di dalam mobil. Ia menambah volume musik di dalam mobil lantas menyeruput minuman yang ada di sana.


"Beres Joel. Jika tidak segera dilakukan, entahlah."


"Ya Tuan. Dalam hal ini harus gerak cepat. Syukurlah Tuan."


Rasa ingin tahu atas informasi rumah membuat Laras memutuskan ke luar pagi ini. Vim tak memberitahunya tentang berita di media yang menyebutkan pelelangan rumah mereka. Laras menyadari Vim tak menginginkan Laras memikirkan hal tersebut.


Laras tidak berani menanyakan pada Vim. Untuk itu ia berniat ke Balai Pelelangan Swasta lebih cepat dari Vim.


Di tempat itulah Laras melihat poto rumah mereka terpampang bersama dua poto lainnya.

__ADS_1


Ia tak menyangka kelupaannya berakibat seperti ini. Hanya tinggal menyelesaikan kewajiban selama tujuh bulan lagi dan rumah mereka tidak akan berpindah pemilik. Kini mereka terancam kehilangan rumah yang diperjuangkan Vim sejak lama.


Laras menatap gambar rumah mereka. Di situ telah banyak kenangan terangkai. Tidak hanya tentang cerita suka saja, namun duka pun tak luput mengisi kehidupan mereka Menghasilkan album memori yang tebal jika dijilidkan dan menjadi bukti perjalanan rumah tangga Laras dan Vim.


Laras menatap tak bersemangat. Apa kata keluarganya jika rumah itu benar-benar lepas dari tangan mereka? Memalukan walau mengatakan secara jujur penyebab sebenarnya. Sepele sekali.


Suara tapak sepatu beradu dengan lantai tak mengalihkan pandangan Laras dari gambar di depannya. Suara yang memanggil namanyalah yang mampu membuat Laras menoleh.


"Laras! Sejak kapan kau di sini."


Mengapa harus bertemu dengan Vim, batin Laras.


"Mas? Eee aku...aku melihat berita ini. Ternyata benar."


"Ini memang benar. Kau kurang percaya? Salahku tidak menunjukkan beritanya padamu. Kita pulang ya?"


"Bagaimana dengan rumah kita mas?"


"Aman." Vim menggamit tangan Laras. Joel mengikuti dari belakang.


"Benarkah? Aku pulang sendiri. Mobilku_"


"Kita memang berjodoh Laras. Selalu bertemu saat kau membawa mobil sendiri. Sekarang tidak ada Pak Uun yang akan membawa mobilmu pulang. Aku dan Joel ke kantor."


"Bukan masalah sih mas. Aku pulang sendiri bisa kok. Ya sudah kita pisah di sini ya. Daaaah..."


Laras baru saja membalikkan badan ketika tiba-tiba Vim memegang pergelangan tangannya. Vim merangkul pinggang Laras. Belum ada orang lain di sana selain Vim, Laras dan Joel.


"Aaaaww! Kenapa mas?!"


"Pulang denganku."


"Wooow!!! Berkumpul di sini kita!"


"Tidak dengan kalian," balas Vim.


"Kukira kau masih bertahan di kursi roda. Hampir saja kau kehilangan Laras. Sebentar lagi kau akan kehilangan rumah kalian. Hahah!!"


"Bukan urusanmu. Pergi dari kehidupanku. Jangan ganggu istri dan anakku!"


"Aku tidak mengganggu Laras. Kesalahannmu karena kau merebutnya dariku. Kau memotong jalanku saat aku melamarnya."


"Kau yakin dia memilihmu? Dia lebih mengenal siapa aku." Vim boleh sombong.


"Tunggu saja. Sebentar lagi rumah kalian akan tergadai dan Laras takkan sanggup menerima kenyataan."


Vim tersenyum sinis. Makhluk satu ini sangat sombong. Dia tidak tahu apa yang telah Vim lakukan dengan Kepala Balai.


"Kita lihat! Sia-sia kau datang kemari. Sebaiknya kau pulang!"


"Hahaha urusanku belum selesai. Bersiaplah mencari rumah pengganti. Kalian akan tergusur."


"Aku takkan pernah keluar dari rumahku. Kau mengerti!!?"


"Keadaan akan memaksamu hhh!"


Roni meninggalkan tempat itu. Berjalan ke arah yang tadi dilewati Vim. Vim mengajak Laras pergi.

__ADS_1


"Aku khawatir denganmu. Joel bawa mobil pink ke rumahku. Aku dan Laras menaiki mobilmu."


"Baik Tuan."


Dan mereka mengendarai mobil depan belakangan.


"Tetaplah di rumah. Pergi denganku atau minta tolong Bibi jika kau perlu sesuatu." Pesan Vim sebelum kembali ke kantor.


"Aku di rumah saja. Paling jauh ke toko."


"Janji."


" Ya janji kecuali mendesak. Ada hal-hal yang benar-benar harus kucari."


"Tunggu aku. Kuantar kemanapun."


Waktu luang Vim hanya ada di akhir Minggu. Laras menarik nafas.


Sesudah terbiasa meninggalkan rumah untuk bekerja, menjadi sesuatu jika harus lebih banyak berdiam di rumah. Kehadiran Vian menjadi obat kesepian Laras. Mengurus, merawat dan menemaninya bermain pasti menyenangkan.


Getar ponsel menyadarkan lamunan Laras. Tertera nama Edo di sana.


Edo : "Benar Vim sudah kembali?"


Laras : "Benar kak. Mainlah kemari."


Edo : "Selamat untuk kalian berdua tapi mengapa aku baru tahu sekarang?"


Laras : "Kami terlalu bahagia sampai lupa info ke kakak dan kak Dion. Ma'afkan kami."


Edo menelan saliva membaca pesan Laras. Laras sedang berbahagia mendapatkan Vim yang seperti dulu.


Edo : "Dasar Vim. Mau diberi dia."


Laras : " Jangan kak. Aku akan nangis kalau kakak memukul mas Vim."


Edo : "Bercanda Laras. Serius sekali. Titip salamku buat Vim ya."


Laras : "Ya kakak."


Sampai di situ chat berakhir. Laras menghampiri bibi di dapur dan menanyakan Vian. Hilang sudah hal yang mengganjal di hati Laras. Rumah ini tetap milik mereka.


"Non Ririn datang tadi, Non. Mengantar parcel buah."


"Oya? Jam berapa Bi?"


"Nggak lama sesudah Non pergi. Bibi tanya ada pesan nggak, jawabnya nggak ada."


"Mengantar parcel saja."


"Iya Non."


"Ya Bi. Letakkan di kulkas saja buahnya. Saya ganti pakaian. Kalau sudah selesai Bibi boleh istirahat."


"Baik Non."


Waktu menunjukkan pukul empat belas. Saat yang tepat untuk tidur siang. Laras tertidur di sebelah Vian.

__ADS_1


Bersambung...


***up sedikit, cuaca sedang tidak bersahabat***


__ADS_2