Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 32. Hadiah Mami.


__ADS_3

Bangun pagi dan menyiapkan segala sesuatu keperluan Vim adalah rutinitas Laras setelah menjadi seorang istri. Kini ia bersiap membuat sarapan mi goreng seafood kegemaran Vim. Baru saja ia selesai mandi dan melaksanakan ibadah pagi lalu memulai kesibukan di dapur.


Ibu tidak perlu repot menyiapkan sarapan bila pulang di pagi ini. Untuk itu Laras memasak buat mereka. Pukul tujuh semua telah selesai. Cukup untuk sarapan hari ini.


Cuaca yang dingin membuat tubuh semakin nyaman berada di pembaringan. Begitupun Vim masih meringkuk dalam tidurnya.


Sama sekali tidak terganggu dengan pergerakan Laras dan Laras tak ingin mengganggunya pula.


Satu jam berlalu, tubuh Vim mulai bergerak terlentang dengan tangan menggapai selimut mencari sesuatu di sampingnya. Mendadak netranya terbuka. Mencari sosok Laras dan tersenyum mendapati Laras duduk tidak jauh darinya. Di sana di sofa kamar.


"Kau sedang apa Laras."


"Menunggu mas bangun."


Laras berjalan mendekati Vim. Memberikan kecupan dan ucapan selamat pagi. Hati Vim berbunga-bunga. Memeluk Laras erat dalam pelukannya. Seolah barang kesayangan yang tidak ingin dilepaskan.


"Aku hanya perlu mengganti pakaian tapi mas harus mandi dulu, oke?"


"Baiklah aku mandi. Tarik tanganku."


"Aku tidak kuat." Laras menarik tangan Vim tapi terjatuh kembali dalam pelukan lelaki itu.


"Ayo dong mas. Katanya mau menjenguk mami."


"Sebentar aku mengumpulkan nyawa dulu."


Laras terkekeh mendengarnya. Bagaimana bisa Vim bilang dia mau mengumpulkan nyawa dulu sedangkan netranya telah terbuka lebar dan tangannya bisa menggapai Laras.


Laras menarik nafas. Vim menjadi anak kecil yang manja di matanya.


"Ya sudah kalau begitu. Mas lanjutkan tidur dan aku duluan ke sana yaa."


" Tunggu sayang!" Vim berseru sembari bangkit dan berkata," Aku mandi sekarang."


Sementara Vim mandi Laras mengganti pakaian dan merias wajah. Penampilannya segar berseri. Ini di luar kebiasaannya merias wajah sedikit lebih tebal. Ia juga menyiapkan tas yang kemarin di bawa sewaktu datang ke rumah ibunya.


Ibu dan ayahnya belum kembali. Laras akan menelpon saja nanti. Memberitahu kalau ia akan ke rumah Mami dan dari sana pulang ke rumahnya bersama Vim.


"Mas tidak meninggalkan pakaian kerja di sini."


"Aku ganti di rumah Mami saja. Kau sudah siap?"


Vim merapikan rambutnya di depan cermin. Dari situ pula ia melihat Laras memasukkan make up ke dalam tas.


"Tunggu. Kita jalan kaki ke sana?" Vim mengernyitkan dahinya.


"Apa kusuruh Pak Uun kemari saja."


"Boleh. Kita sarapan dulu sebelum ke sana. Aku sudah menyiapkan


nya."


"Terima kasih sayang." Tangan kanan Vim merangkul pinggang Laras. Mengajaknya ke meja makan.


"Ras aku melihat sesuatu yang bisa kita gunakan."


"Apa itu?" Laras sedang menyuapkan makanan ke mulut.


"Tuh lihat. Sepeda."


"Mas mau naik sepeda??"


"Apa salahnya cuma dekat ini ke rumah Mami. Aku batalkan dulu ke Pak Uun supaya nggak datang menjemput."


"Sudah mas?"


"Sudah. Jangan lupa kunci rumah."


"Keluar dari sini saja mas." Ajak Laras. Vim mengikuti.


Vim menutup pintu belakang dan Laras menguncinya. Berdua mereka menaiki sepeda menuju rumah Ibu Maharani.


Laras tergelak suka cita. Tak menyangka berboncengan dengan Vim menggunakan sepeda.


"Peluk pinggangku Laras!"


"Apa mas?" Laras tertawa lagi dan agak enggan menuruti Vim. Menurutnya lebay di pemukiman begitu harus bermesraan.

__ADS_1


"Kau tidak bisa pegangan apapun. Kau bisa saja jatuh. Ayo pegangan padaku!" Vim mendamba pelukan erat Laras pada pinggangnya.


"Tapi aku_.."


"Kau bisa jatuh Laras."


"Baiklah.."


Laras menyium sisa aroma wangi di kemeja Vim. Aroma yang mulai ia hafal beberapa bulan ini. Aroma yang selalu membuatnya ingin menyium lagi dan lagi. Aroma yang mewakili pemilik diri. Aroma maskulin tapi menenangkan.


Vim mengayuh hingga memasuki halaman belakang. Memarkirkan sepeda di sana. Serentak para pekerja menyapa Vim dan Laras. Senang hati melihat pasangan muda tersebut. Laras yang lebih banyak membalas sapaan mereka. Satu dua kalimat Vim membalas sapaan sambil berlalu melewati para pekerja yang rata-rata berusia di atas 40 tahun itu. Mereka beranggapan Vim adalah calon pengganti Tuan Dewantara di masa depan mengingat hanya Vim yang tetap berada di antara mereka. Sedangkan kakak-kakak


nya sudah menetap di luar negri.


Salam terucap dari bibir Vim tatkala melihat Ibu Maharani berada di ruangan besar dengan banyak kain-kain siap didistribusi


kan.


"Anakku! Kalian datang juga."


Ibu Maharani menyambut dengan wajah sumringah. Vim mencium pipi maminya diikuti oleh Laras.


"Laras ! Mami kangen sekali. Muaaach. Muaaach.


"Laras juga mi. Kangen banget. Mami sehat?"


"Iya mami sehat. Lihatlah." Ibu Maharani merentangkan kedua tangannya.


"Bagaimana denganmu Laras? Sudah ada tanda-tanda baby datang hmm?"


"Mami.." Vim mendelik tidak setuju pada pertanyaan Ibu Maharani.


"Kalau Laras benar hamil, Mami orang nomor satu yang kami beritahu." Lanjut Vim lagi.


" Maafkan Mami. Duduklah."


Laras duduk di sebelah Ibu Maharani. Memperhatikan Ibu Maharani bercerita tentang rumah dan semua perkembanganya.


"Aku ganti pakaian dulu Laras."


"Mas perlu bantuanku? Sebentar ya mi.." Laras berdiri hendak menyusul Vim ke kamar tapi Vim mencegahnya.


"Tidak perlu Laras. Temani Mami saja."


"Ooo."


Tidak segera ke kamar, Vim menghampiri wanita yang menggantikan pekerjaan Laras di rumah itu. Bertanya sejenak pada wanita itu. Agar bisa membawa Laras ke rumah mereka, Vim telah mencarikan pengganti Laras. Jika belum ada pengganti, Ibu Maharani melarang Vim membawa Laras.


Di luar dugaan Laras, dari arah toilet rumah muncul Fani teman Vim sewaktu SMP. Laras terpaku. Ekspresi Fani pun terkejut melihat Laras berada di situ. Tatapannya penuh rasa tidak suka.


"Mi.. Laras dan mas Vim cuma sebentar. Mampir ke sini melihat mami. Nanti di lain waktu Laras datang lagi ya mi."


"Oh Laras, mengapa cepat begitu sayang?"


"Mas Vim dan Laras belum libur. Kemarin mau mampir ke sini tetapi hujan sangat deras. Maafkan Laras ya mi."


"Tante kita bisa berangkat sekarang?" Fani mengalihkan pembicaraan dua orang di hadapannya. Dadanya panas menyaksikan Ibu Maharani sangat akrab kepada Laras. Kelihatan Ibu Maharani seperti sedang memperhatikan koleksi keramiknya saat menghadapi Laras. Padahal sampai detik ini menantunya itu belum memberikan cucu seperti yang diinginkannya.


"Sebentar cantik. Menantu tante dan anak tante ini sekarang sudah jarang kemari. Membuat tante rindu. Duduklah Fani."


Fani terpaksa menutupi perasaannya. Sekuatnya menahan kesal agar wajahnya masih tetap tampil semanis mungkin. Memberikan kesan yang baik pada Ibu Maharani. Di dalam hati Fani mencibir Laras. Gadis kampung nan kuno menurut penilaian nya.


"Laras, bagaimana perlakuan Vim denganmu?" Tanya Ibu Maharani.


"Mas Vim baik mami. Menyayangi dan mengasihi Laras. Sangat sayang."


"Benarkah?? Tidakkah sering memarahimu?"


"Tidak lagi mi. Kalau tidur suka memeluk Laras."


Laras bercerita dengan sorot mata berbinar-binar. Mata Laras melirik Fani. Detik itu juga ia menangkap rasa tidak suka dari wajah perempuan pesolek itu. Tak ingin menahan keinginannya untuk bercerita.


"Kalau makan pagi ya mi..mas Vim belum mau makan kalau Laras nggak duduk di sampingnya. Jadi begitu selesai menyiapkan sarapan pagi, Laras menemani mas Vim." Laras bercerita tanpa rasa malu. Hatinya puas bisa bercerita banyak di depan Fani. Laras bisa menangkap sikap Fani yang tidak suka padanya.


"Syukurlah kau membawa perubahan buat Vim. Perubahan yang baik sekali."


"Masih lama tante??"

__ADS_1


Fani sudah tidak tahan mendengar celotehan Laras. Baginya Laras mengarang-ngarang sebuah cerita.


"Sebentar lagi Fani. Laras mami punya sesuatu buatmu. Tunggu di sini ya."


Ibu Maharani meninggalkan Laras dan Fani. Masuk ke kamarnya.


Laras tidak ingin menyapa perempuan angkuh itu. Lihat bagaimana cara ia memandang Laras. Pandangannya itu merendahkan Laras. Apa ia tidak mengerti bahwa Laras adalah menantu kesayangan di rumah ini? Laras sedikit menyombong


kan diri sendiri agar tidak jatuh mental berhadapan dengan Fani.


"Mengapa kau begitu yakin Vim menyintaimu?"


"Tentu saja. Sikap dan perlakuan Vim padaku menunjukkan itu."


" Terlalu percaya diri." Fani membuang wajahnya ke samping.


Ia merasa mual melihat Laras.


"Vim juga mengatakan padaku hanya ada satu wanita dalam hidupnya dan itu adalah aku. Menyenangkan bukan? Jadi_.."


"Laras ambillah ini untukmu."


Mami menyerahkan sebuah kotak kepada Laras. Fani menyaksikan tanpa berkedip. Ia penasaran isi kotak tersebut.


"Apa ini mi?"


"Laras ayo kita pergi." Vim menyela dari pintu kamar. Ia baru muncul kembali dengan penampilan yang rapi dan wangi.


"Mami memberikanku ini mas."


Laras menunjukkan kotak kecil berukiran indah di tangannya.


"Oya? Buka dan lihat apa isinya. Boleh kan mi?" Vim meminta persetujuan Ibu Maharani.


"Tentu Vim. Bukalah Laras. Semoga kau suka."


Laras menggeser pengaitnya dan mengangkat bagian atas kotak sehingga kotak terbuka. Netranya terbelalak melihat perhiasan dari batu permata di tangannya. Kilauan permata nan indah tiada tara kini di hadapannya. Laras seperti bermimpi. Rasanya ia tak pernah bermimpi seperti ini. Jangankan permata, perhiasan emas saja Laras hanya memperoleh yang beratnya tidak seberapa dari ibunya.


"Mami waaaww..ini..bagus sekali."


"Mami membelikan khusus buatmu. Terima kasih sudah mengurus Vim."


"Mami." Laras memeluk Mami Maharani. Ia sungguh terharu.


"Mami, ini semua terlalu banyak buat Laras."


"Tidak usah dipikirkan dan jangan khawatir, semua dari kalian sudah mendapatkannya termasuk Sinta dan Alya."


"Mami terima kasih banyak."


Laras mengusap air matanya. Haru biru menguasai hatinya mendapat perlakuan istimewa. Laras merasa dirinya tak berarti apa-apa dibandingkan dengan perlakuan keluarga Vim padanya. Saat itu juga Laras mengucapkan puji syukur dalam hatinya.


Fani merasa dirinya sedang sial melihat kejadian barusan. Anak kampung itu mendapatkan hadiah luar biasa. Bagi Fani Laras itu tidak istimewa sama sekali. Tubuhnya saja pendek dan penampilannya terlalu biasa untuk ukuran istri seorang pengusaha. Dibandingkan dirinya yang penuh gaya dan selalu tampil trendy, Laras kalah banyak.


"Simpan perhiasan itu di dalam tas. Waktunya sudah dekat. Aku harus ke kantor." Ucap Vim barusan.


"Baik mas."


"Mama juga harus pergi dengan Fani. Kenalan mama ingin bertemu Fani."


"Makasih ma." Vim memeluk maminya sesaat.


"Ya. Sayangi Laras ya. Dia anak baik." Bisik mami pula.


"Ayo Fani. Ma'afkan tante membuatmu menunggu lama sekali."


"Tidak apa tante. Vim aku pergi ya." Pamit Fani pada Vim tapi tidak pada Laras.


"Hati-hati Fan."


"Mas bagaimana aku bisa membalas perlakuan Mami padaku. Aku berhutang banyak."


Laras mengiringi langkah Vim ke luar rumah. Tangannya melingkar di lengan Vim. Mesra dan mengalirkan kehangatan di hati Vim. Pak Uun sudah bersiap mengantarkan mereka. Menunggu di sisi mobil.


"Cukup menjadi istri yang baik buatku. Itu saja sudah membuat Mami bisa membalas semua yang mami berikan."


Langkah mereka sarat kepastian. Bahagia mereka tak terukur meskipun belum hadirnya tangisan bayi di antara mereka. Jiwa mereka saling mendamba satu sama lain. Hari berputat bulan berganti. Rasa sayang di antara keduanya semakin tebal. Cinta semakin tumbuh subur dengan siraman kasih sayang tanpa batas.

__ADS_1


__ADS_2