
Keesokan pagi..
"Kak Edo buka pintunya kak. Ijinkan aku masuk."
Laras mengetuk pintu beberapa kali setelah mengucapkan salam. Tidak terdengar jawaban dari dalam. Mencoba mengintip dari jendela tapi penglihatannya terhalang kain penutup jendela.
Ada orang nggak di dalam. Maafkan aku kak aku masuk, menghilangkan rasa penasaran ini. Sedang apa mereka di dalam hingga tak mendengarkan panggilanku.
Beruntung bagi Laras pintu tidak dikunci. Tidak ada siapa-siapa di dalam tapi hatinya bertanya-tanya kemana si empunya rumah pergi. Hubungan kekeluargaan diantara Vim, Dion dan Edo membuat mereka terbiasa memasuki kediaman masing-masing tanpa ijin, tanpa diikuti niat burut di antara mereka. Masing-masing telah saling percaya satu sama lainnya. Bagi mereka persahabatan terlalu berharga dan seharusnya berlangsung lama sampai mereka menua. Mereka sudah sepakat. Begitupun dengan istri masing- masing.
Laras mengamati ruangan itu. Akhirnya penglihatannya menangkap sosok Vim tertidur di atas karpet mewah di depan televisi 32 inch. Laras tersenyum. Hatinya memang amat sangat kesal kemarin sore. Akan tetapi seperti biasa seiring hari berganti pagi, kemarahannya menguap sendiri entah kemana. Laras sendiri heran ia takkan bisa lama menyimpan kemarahan terhadap Vim. Apabila pagi menjelang rasa kesalnya terhadap Vim luntur hilang ditelan waktu berlalu. Lalu Laras akan menyapanya setiap pagi sesuai kebiasaannya. Apalagi saat Vim menggodanya saat Laras sedang dalam keadaan marah, Laras yang semula berkotak-kotak wajahnya seketika tertawa terbahak-bahak oleh ulah Vim.
"Mas bangun. Ayo bangun." Usik Laras. Menggoncang tubuh itu hati-hati. Tak ingin membuat Vim terkejut.
"Hmmm." Mata Vim terbuka.
"Kau? Jam berapa ini??" Tanyanya lagi. Dinginnya udara pagi membuatnya malas bergerak. Meringkuk dalam dingin.
"Jam tujuh mas. Bangun. Mengapa tidur di sini?"
"Mengapa kau ke sini? Kehilangan aku ya??"
"Tidak. Khawatir saja."
"Nggak ngambek lagi. Nggak ngunci diri lagi??"
"Iiiiihh mas ini. Oke aku ngambek lagi ya. Aku pergi saja kalau begitu." Laras hendak berdiri.
"Eeiits tunggu! Di sini saja temani aku." Tubuh Laras tertahan. Tangannya berada dalam genggaman Vim. Sorot mata Vim berubah lembut.
"Maafkan membuatmu kesal."
"Mungkinkah ini berulang lagi mas?" Laras menunduk. Pikirannya menerka-nerka. Galau tersirat di wajahnya yang ayu itu.
"Kemungkinan tapi yang harus kau ketahui aku tidak menginginkan bertemu dengannya. Tidak juga mengajaknya bertemu. Sudahlah lupakan tentang Aurora. Kita harus bahagia bukan?"
"Iya tapi..."
"Tidak ada tapi. Jangan dipikirkan lagi dan berhentilah marah padaku. Kepalaku sakit jika kau mengacuhkanku. Ayo kita ke sebelah karena perutku sudah minta diisi. Dari malam aku belum makan."
__ADS_1
Vim memegang kedua pipi Laras dengan kedua tangannya. Meyakinkan Laras memang sedikit memakan waktu. Meskipun tidak yakin dengan kata-katanya Vim percaya ia dan Aurora bertemu lagi tapi tidak untuk bersatu.
"Wow! Wow! Baru marahan sudah mesra banget. Apa mataku salah melihat?!"
Kemunculan Edo membuyarkan kemesraan sahabatnya. Lelaki itu baru saja datang dari luar bungalow mengenakan celana olahraga. Vim dan Laras tersenyum malu. Vim mengajak Laras berdiri.
"Tidak, yang kau lihat barusan memang benar."
"Jadi sudah akur nih?? Ckck."
"Iya sudah. Kami mau ke sebelah. Ayo kita sarapan." Ajak Vim.
Sifat Laras yang mudah mengalah menjadi salah satu alasan Vim begitu menyayangi Laras. Saat marah Laras yang terbawa emosi bisa mengeluarkan amarahnya yang meledak. Namun aneh bagi Vim keesokan hari pagi menjelang, sikap Laras akan kembali seperti biasa bahkan memperlakukan Vim dengan hangat dan Laras tidak membahas masalah yang barusan mereka hadapi. Lalu semuanya kembali berjalan wajar tanpa ledakan emosi.
"Aku memasak mie goreng seafood dan nasi gurih. Semoga kalian berdua suka." Ucap Laras dengan suaranya yang renyah.
"Aku nasi gurih saja Laras dan semua lauk." Pinta Vim. Laras menyendokkan nasi beserta lauk pauk ke dalam piring. Sangat jarang Vim mau makan nasi di pagi hari. Pagi ini ia sepertinya memang kelaparan. Piring s diletakkan Laras di hadapan Vim.
"Aku mi goreng seafood saja." sambung Edo.
"Kau ambil sendiri Ed."
Edo bersungut-sungut, Vim tertawa kecil memperhatikan wajah Edo. Senang sekali menggoda Edo.
"Mas Vim kapan mengajari aku menyetir mobil?" Laras menyela pembicaraan.
"Kapan kau mau Laras. Aku daftarkan les mengemudi ya."
"Aku mau belajar sama mas saja."
"Sayang.. waktuku terbatas. Bagaimana les bahasa Inggrismu?"
"Minggu depan ujian. Setelahnya aku bisa les mengemudi."
"Baiklah tapi ada syaratnya."
"Pakai syarat juga mas. Apa syaratnya?"
"Saat kau sudah bisa menyetir mobil, tidak pergi kemana saja tanpa tujuan yang jelas. Itu saja syaratnya. Ringan bukan?"
__ADS_1
"Oke gampang mas tapi mas kalau aku mengantar barang dagangan mami.. boleh ya." Laras menawar. Selama ini ia selalu menggunakan jasa pengiriman jika ada pembeli yang membeli barang yang ia pasarkan.
"Bro aku sudah selesai. Aku pulang ya dan Laras terima kasih sarapannya. Makanan yang enak sekali." Edo berpamitan.
"Cepat sekali kak Edo."
"Merasakan makananmu saja sudah cukup. Jangan suruh aku menyaksikan kemesraan kalian ya haha..."
Dilihatnya Vim tak bereaksi atau memang enggan menanggapi selorohnya.
"Sering-seringlah melihat kemesraan kami agar kau segera menyusul." Dugaan Edo salah. Vim
membalas selorohnya.
"Oke selamat bermesraan dan berikan aku ponaan yang ganteng dan cantik ya. Dua sekaligus. Aku pulang duluan Vim. Mami memanggilku pulang. Bye."
"Apa!? Mami memanggilmu!? Siap-siap dikenalkan calon istri Ed hahaa..!!" Teriak Vim. Edo mengibaskan tangan dari jauh.
"Kau tahu sudah tiga wanita yang dikenalkan tante Ernita padanya. Semuanya tidak dianggap."
Vim menggelengkan kepala. Tidak mungkin wanita tidak ada yang tertarik kepada sahabatnya ini. Meskipum dia bekerja dengan perusahaan asing, menduduki jabatan yang lumayan tinggi. Pekerjaan yang dimulainya dari awal masuk dengan jabatan biasa hingga menduduki kursi penting. Untuk itulah alasan Edo masih mempertahankan pekerjaannya daripada mengambil alih bisnis keluarga. Suatu saat kelak jika tiba masanya Edo memilih hengkang dari perusahaan asal negara Sakura tersebut.
"Mas bagaimana yang tadi?" Laras kembali bertanya. Ia menunggu persetujuan Vim.
"Apaan? Oh itu ya. Sebaiknya menggunakan jasa angkut saja Laras. Selama ini tidak ada masalah bukan. Aku tidak setuju kau bepergian jauh mengendarai kendaraan. Keselamatanmu lebih penting."
"Tapi kalau mengantarkan pesanan tidak terlalu jauh boleh ya mas. Boleh ya?? Dengan begitu aku menjadi lancar mengendarai nantinya." Laras memohon dengan wajah memelas. Memasang jurus wajah minta dikasihani agar Vim mengabulkan keinginannya.
"Hmm baiklah. Sekarang persiapkan barang-barang kita ya. Nanti siang siap dibawa pulang."
"Terima kasih sayang." Ucapan terima kasih dan kecupan diterima Vim. Laras mengayunkan langkah mencari bibi Am. Meminta pertolongannya mengemasi barang-barang. Vim melangkah ke arah kolam renang di belakang dan menyeburkan diri ke dalamnya. Di luar Pak Uun sedang mencuci mobil. Sayup-sayup suara siaran berita televisi terdengar dari ruang santai tanpa ada penontonnya.
Laras riang, Laras bahagia. Terlupakan kejadian semalam ia melihat Vim dan Aurora. Kemarahannya sirna. Permasalahan itu tidak perlu dibesarkan. Apalagi ia tidak melihat kenyataan sesungguhnya kalau Vim memang memiliki hubungan dengan Aurora. Belum ada bukti tentang hal tersebut. Laras mulai menata hati untuk selalu siap menghadapi Aurora. Mulai hari ini.
🌻🌻🌻🌻🌻
Hadir lagi...
Like, comment, gift and vote ya..biar semangat menulisnya..
__ADS_1
Terima kasih pembaca yang budiman.🤗😚😍