Ketika Cinta Hadir

Ketika Cinta Hadir
Bab 45. Harapan.


__ADS_3







"Katakanlah kau benar-benar menginginkannya atau belum terlalu menginginkannya."


Laras berucap sembari mengelus pucuk kepala Vim.


"Apa itu Laras??" Vim belum jua membuka mata. Dia benar- benar meresapi belaian Laras di bagian kepalanya.


"Seorang bayi mungil mas."


"Kau sangat menginginkannya??"


Vim balik bertanya. Ia mengerti inilah yang dipikirkan oleh Laras sejak keluar dari rumah mami kemarin. Pernyataan dan pertanyaan mami merasuki pikiran Laras. Terus saja menghantui pikiran Laras.


" Tentu saja. Jika seorang bayi perempuan aku akan memasangkan aksesori rambut yang cakep sebagai hiasan."


Laras mengkhayal. Pandangan matanya menembus sisi luar jendela. Yang terlihat hanyalah awan sore yang mulai memancarkan warna pink kemerahan.


"Tenanglah kita akan memiliki anak. Jangan hiraukan ucapan orang. Perjalanan kita masih jauh ke depan."


"Mas bagaimana jika kau mencari seseorang yang bisa memberikanmu keturunan? Maksudku__"


"Apa?!!" Vim segera bangun dan menatap Laras tak percaya. Tatapannya menikam Laras. Sungguh Laras tak ingin kehilangan lelaki ini.


"Apa maksudmu?? Kau mau memintaku menikah lagi? Halo Laras..?"


"Mas maksudku ialah mami menunggu-nunggu ingin menimang cucu dan aku belum bisa memberikannya."


"Lalu kenapa? Ya biarkan saja mami. Jangan terlalu dipikirkan. Aku menginginkan keturunan namun jika belum diberikan bukan masalah. Aku cukup bahagia kau selalu ada di sampingku. Jadi tetaplah bersamaku apapun keadaannya."


Saat ini Vim mengatakan hal ini. Sampai berapa lama Vim tidak memikirkan pewaris semua kekayaannya. Lambat laun pasti ia mengharapkan keturunan dan darah daging sendiri.


"Hei kau termenung? Dengarkan Larasku ini hanya masalah waktu. Tidak ada yang salah dalam diri kita tentang ini karena itu mari kita rajin berdoa meminta pada sang pencipta agar kita diberikan keturunan."


"Iya mas. Aku memikirkan bagaimana seandainya harapan itu tidak pernah nyata."


Laras mulai terisak. Air mata mengalir begitu saja. Pikiran dan perasaan campur aduk menjadi satu. Kehadiran Aurora dan pertemuan-pertemuan dengannya mempengaruhi keadaan hati Laras. Sering membuat Laras memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Tidak perlu dipikirkan berlebihan.


Katanya kau mau belajar menyetir mobil. Pikirkan saja kau harus bisa. Besok boleh dimulai. Instruktur bilang kau boleh memulai kapanpun. Sekarang mana senyummu?"


Vim mengalihkan pembicaraan. Baginya kesedihan Laras adalah sayatan kecil di hati Vim. Ia menanti senyuman manis milik Laras. Hati Laras mengharu biru, senyum itu bersembunyi akibat lara di hati.


"Bersamaku tidak boleh bersedih. Ayo tertawalah..ayo tertawa."


Vim berusaha menjangkau lekukan di pinggang Laras. Memberikan gelitikan di sana. Beberapa kali lagi gelitikan hingga membuat Laras kegelian dan tertawa lepas. Laras menekuk tubuhnya menahan geli. Vim terus saja mengganggu Laras.


"Sudah mas. Sudah. Aaaww!!! Hahahaha!! Geli tahu!!"


"Aku belum melihat matamu menyipit karena tertawa."

__ADS_1


Vim hendak menggoda Laras lagi. Laras berhasil berlari menjauh mengatur nafas sembari berusaha berhenti tertawa. Berdiri di sudut dekat nakas menjauhi Vim.


"Aku tidak mau melihat kau bersedih di depanku oke. Kemarilah."


Laras bergerak maju begitu pun Vim. Keduanya saling berangkulan melengkapi kebahagiaan yang ada. Laras membenamkan wajahnya ke dada Vim. Detak jantung Vim terdengar beraturan dan Vim mendekap Laras serta menyium rambutnya yang harum.


Melodi indah memenuhi relung hati mereka. Nyanyian cinta takkan pernah usai. Selalu Laras pelihara hingga nanti. Selamanya. Dia selalu merasa nyaman berada di pelukan Vim.


...❣️❣️❣️...


Makan malam telah usai dua jam yang lalu tetapi Vim dan Laras masih mengisi malam di ruang keluarga berdua. Vim memainkan remote di tangan menanti jeda acara kesukaan. Laras setia menemani. Di meja tersedia makanan ringan dan minuman bergizi. Laras meneguk minumannya. Susu full cream yang lezat. Melirik Vim yang serius menatap layar datar nan lebar di hadapan mereka.


Laras mengalungkan kedua tangannya di pundak Vim. Pipi kanannya menyentuh pipi kiri Vim. Ciri khas Laras jika sedang manja. Keduanya ama-sama menatap layar. Laras mulai bosan karena diacuhkan.


"Kau boleh tidur duluan Laras. Masuklah ke kamar." Vim bersuara. Rangkulan Laras meresahkan jiwa mudanya. Benar-benar menggoda Vim untuk berbuat lebih.


"Sama-sama tidurnya."


"Aku masih lama. Pergilah. Kau mengantuk."


"Belum."


Acara yang mereka tonton telah usai. Laras bersorak dalam hati. Dia tidak akan diacuhkan Vim lagi.


Vim melepaskan tangan Laras.


"Aku lapar lagi. Mau bikin mi."


"Kita kan sudah makan. Apa lapar lagi sih? Aku masakin ya."


"Tidak usah. Duduklah di situ."


Laras mengambil alih remote. Menemukan film jepang di layar televisi. Layar ponsel di meja berkedip terang dan menampilkan notifikasi. Mengundang rasa penasaran Laras untuk melihat pesan di sana. Tertera nama Aurora sebagai pengirim pesan. Laras menjadi kesal selain karena pengirimnya, ponsel Vim menggunakan pengenalan jari pemilik untuk membukanya. Laras tidak bisa membaca pesan yang masuk.


Pandangan Laras tak berhenti mengikuti pergerakan Vim dari Vim muncul dari pintu dapur dengan semangkuk mi di tangan hingga mangkuk diletakkan di atas meja. Asapnya mengepul membangkitkan selera.


"Ehm mi rebus spesial chef Vim. Supaya berkah harus dibagi-bagi nih."


"Tenang karena aku menyintaimu , kau akan kuberi." Vim duduk di depan mangkok. Menggosokkan kedua tangan sebentar dan siap menyantap hidangan mi buatannya.


"Satu untukku." Ia menyuapkan sesendok mi ke dalam mulut. Mengunyah dan," Aahh sedap."


"Sekarang bagianku." Laras tidak merasa sungkan. Meraih sendok satunya.


"Jangan. Ini bagianmu.Aaaaak.."


Vim memberikan aba-aba dan Laras membuka mulutnya. Satu sendok untuk Laras.


"Nah selanjutnya karena aku lapar, kau makan sendiri ya. Ayo."


Vim melahap mi diikuti oleh Laras. Jika Vim sudah menelan mi sebanyak satu sendok, Laras baru menyelesaikan satu sendok.


"Terima kasih cinta tapi aku kalah olehmu. Aku baru mau makan sebanyak dua sendok, kau sudah enam sendok. Tapi tidak apa asalkan kau kenyang."


"Besok kita masak mi lagi ya aku akan membantumu." Saran Vim.


Laras mengangguk mengiyakan ucapan Vim. Sebenarnya ia tidak yakin akan memasak mi seperti itu esok hari.


Vim menepuk pelan perutnya.


"Masih kurang ya?" Tanya Laras.

__ADS_1


"Tidak. Cukup kenyang. Aku menunggu berapa saat baru tidur. Kau tidurlah."


"Aku masih mau di sini."


"Ya sudah."


"Oya mas ada yang mengirimkan pesan. Hp mu menyala tadi."


"Oya? Pasti banyak pesan masuk kan?"


Vim menyentuh layar ponsel dan memperhatikannya lama.


"Bacalah ini."


"Untuk apa mas?"


"Barangkali kau ingin tahu isinya. Aku tak ingin menyimpan rahasia denganmu. Bacalah."


Laras merasa ragu mengambil ponsel dari Vim tetapi karena didesak akhirnya Laras menerima ponsel Vim.


"Sudah mas. Ada pesan dari Aurora."


"Aku baru tahu jika ia yg dikirim untuk mengurus kerjasama ini. Dion tak memberitahuku sebelumnya."


"Jika niatnya adalah bekerja dan mencari nafkah aku percaya padamu mas. Asalkan tidak ada udang di balik batu setelah ini."


"Sayang itu tidak akan terjadi. Pegang kata-kataku."


Semoga kau tidak tergoda dengan mulut manisnya.


"Apa kau takut kehilanganku?"


"Tentu saja. Lihatlah cara ia memandangmu."


"Benarkah? Kalau begitu aku masih laku dong."


Sebuah pukulan di lengan kiri Vim dari Laras. Pukulan tanpa rasa sakit sedikitpun.


"Kau sudah punya istri sayang, nggak boleh ya macam-macam."


Jari telunjuk Lars bergoyang ke kanan dan ke kiri memberikan Vim peringatan.


"Boleh dong macam-macam sama istri sendiri heheee.."


"Yuuuk ah kita ke kamar. Duduk di dalam saja." Ajak Laras. Dirinya sudah ingin meluruskan tubuh di atas bed.


"Oke. Besok ada sesuatu hal ingin kutunjukkan padamu."


"Apa itu mas?"


"Besok kau akan tahu. Tidurlah."


Vim menutup tubuh Laras dengan cover bed dan menyium kening Laras. Laras memeluk Vim dan mengucapkan kata," Selamat malam sayang."


"Selamat malam cinta." Di balas Vim.


Cahaya ruangan telah padam. Keheningan malam mengantarkan dua anak manusia beristirahat panjang hingga pagi. Membawa jiwa-jiwa mereka menjelajah alam mimpi penuh misteri.


✨✨✨


Bersambung >>>

__ADS_1


Janga lupa Like, comment & vote.


Terima kasih..


__ADS_2