
"Laras kau di mana?" Panggil Vim dari ruang dalam. Ia mencari Laras di dalam kamar tetapi tidak menemukan Laras.
"Aku di sini mas! Sebentar." Laras membersihkan mulutnya dengan tisu. Membenahi cobek dan kulit mangga yang baru saja ia kupas.
Belum sempat Laras berjalan ke ruang tengah Vim telah berdiri di hadapannya.
"Ke rumah mami jam berapa?" Tanya Vim.
"Jam sepuluh ya mas."
"Oh tidak." Vim seperti mengingat sesuatu.
"Jam dua saja Laras. Aku baru saja mampir di rumah mami. Mami membutuhkan bantuanmu. Ada arisan di rumah." Cerita Vim.
Hari ini adalah hari Minggu. Vim baru selesai lari pagi dan sempat mampir ke rumah orang tuanya. Saat itulah mami menyampaikan pada Vim bahwa ia membutuhkan bantuan Laras nanti sore.
"Kalau begitu lebih baik kita datang lebih cepat mas. Aku mandi dulu ya." Laras bersemangat.
"Bau harum mangga Laras." Vim menyeletuk. Netra coklatnya celingukan mencari sumber bau.
"Baunya saja sayang. Sudah ah aku mau mandi." Laras berlalu meninggalkan Vim.
Langkah Vim mengikuti Laras ke kamar. Kamar mereka telah ditambahkan kamar mandi. Berbeda dengan dulu saat mereka baru menikah, Vim harus mandi di kamar mandi di dekat dapur.
"Dengarkan. Kita ke rumah mami jam dua agar kau tidak kelelahan membantu mami. Mengerti?" Pegang Vim pada kedua bahu Laras. Pandangan mata mereka sejajar lurus.
"Mengerti." Tetap saja Laras memasuki kamar mandi.
"Sayang mami nggak akan menyuruhku membantu banyak kerjaan. Aku percaya itu." Laras berkata sebelum menutup pintu kamar mandi.
"Tapi kau tidak akan diam saja di sana kan?"
Ceklek. Pintu kamar mandi dikunci oleh Laras.
"Ras barengan yuk." Vim mengetuk pintu kamar mandi.
"Apaan mas?" sahut Laras dari dalam.
"Barengan mandi."
"Nggak ahh." Sahut Laras lagi.
"Huuhh."
Vim bersabar menunggu Laras selesai. Tiga puluh menit berlalu Laras belum keluar dari kamar mandi. Lama sekali pikir Vim.
"Ras sudah belum mandinya?" Vim mengetuk pintu kamar mandi tiga kali.
"Sudah mas. Perutku mas. Aduuh."
Laras merasakan perutnya seperti tertarik di bagian dalam. Tidak terlalu sakit tapi Laras merasakan tegang di perutnya. Ia memegang perutnya bersandar di dinding sebelah pintu. Menarik nafas dalam agar rasa itu berkurang.
Keluhan Laras membuat Vim khawatir. Vim berusaha membuka pintu. Pintu belum dibuka Laras.
"Buka pintunya. Laras kau baik-baik saja?!"
Ceklek. Terdengar suara kunci pintu di putar. Vim segera masuk. Sedikit lega mendapatkan Laras baik-baik saja meskipun raut wajahnya menyiratkan ke khawatiran.
"Aahh Laras. Kau baik-baik saja kan?" Vim melihat Laras masih terdiam bersandar di dinding dan meringis memegang perutnya. Meskipun begitu Laras tetap tenang. Vim mengangkat Laras yang masih mengenakan bathrobe pink kesayangan Laras.
"Suatu saat kau mandi pintu jangan ditutup. Oke??"
Laras mengangguk. Vim meletakkan Laras di atas bed. Laras menyandarkan punggungnya di ujung bed.
Perlahan rasa tegang diperutnya berkurang dan menghilang. Laras merasa lega.
"Minumlah." Vim memberikan Laras segelas air putih hangat. Kemudian meletakkan kembali gelas ke atas meja setelah Laras meneguk habis air putih itu.
"Sebaiknya sore saja kita ke rumah mami. Tidak ada bantahan." Ucap Vim tegas. Laras tidak berkata-kata. Vim selalu mampu menguasai Laras.
"Di sana kau akan sibuk dan aku khawatir perutmu sakit lagi. Kita berobat besok."
"Tid..tidak. Aku baik-baik saja mas. Mungkin angin di perut karena aku mandi kelamaan." Laras beralasan.
"Keras kepala."
"Rasa sakitnya sudah hilang dan tambah sehat kalau sudah di rumah mami. Ayo kita ke sana mas." Ajak Laras berusaha membujuk Vim.
Tapi Vim mengacuhkannya membuat Laras gemas.
Sebuah nada dering terdengar dari ponsel Laras. Vim menyerahkan kepada Laras ponsel yang tergeletak di atas meja tersebut
__ADS_1
"Mami." Laras memandang Vim dan menghidupkan speaker handphonenya.
"Assalamualaikum mami."
"Waalaikumsalam sayang. Kapan kalian mau kemari?" Tanya mami.
"Maaf mami. Sore kami baru ke sana."
"Baiklah. Oh ya Laras pergilah beli baju baru dan minta tolong Vim mengantarkanmu." Perintah mami.
"Baju baru? Buat apa mih?" Laras menautkan kedua alisnya.
"Baju untukmu Laras dan pakailah saat kau datang ke sini." Laras semakin keheranan.
"Apa harus mih? tapi baju Laras banyak dan masih bagus mih."
Vim mendengarkan percakapan dua wanita yang sangat dicintai. Merasa heran juga atas permintaan mami agar Laras membeli baju baru.
"Pergilah supaya kau kelihatan cantik nanti."
"Berikan HP padaku." Bisik Vim ditelinga Laras. Menurut Vim permintaan mami mengada-ngada.
"Maaf mih, mas Vim mau bicara."
Ponsel Laras diraih Vim.
"Mi apaan sih mih pakai beli baju baru segala. Memangnya mau pesta." Protes Vim pada maminya.
"Sayang mami, pokoknya kamu antarkan Laras beli baju baru. Nanti mami ganti uangnya."
Klik. Percakapan diputus oleh mami. Vim menghela napas.
"Sekarang gimana?"
"Aku tidak membutuhkan baju baru mas." Jawab Laras. Ia enggan menuruti kemauan mami Maharani. Lalu Laras beringsut dari tempat tidur. Membuka lemari pakaiannya yang memiliki tiga pintu. Ia ingat memiliki beberapa potong gaun yang ia tinggalkan di rumahnya. Ada berapa potong gaun yang masih bagus di sana. Salah satunya adalah hantaran pemberian Vim pada saat pernikahan mereka.
Vim memperhatikan Laras dari tempatnya duduk. Laras memilah-milah gaun yang bergantung.
"Mas aku pakai ini aja. Gaun ini belum pernah kugunakan. Jadi tidak perlu beli." Laras meminta pendapat Vim.
"Boleh juga. Bagus kok. Itu yang kita cari sama-sama waktu itu kan?" Tanya Vim.
"Benar. Aku belum pernah menggunakan ini di depan mami." Laras mengeluarkan gaun tersebut dan menggantungkannya di pintu lemari.
"Iya."
"Mami sih aneh. Acara arisan saja harus pakai baju baru." Ucap Vim sembari menggelengkan kepala.
Menjelang sore hari Laras dan Vim telah siap mengunjungi rumah masa kecil Vim. Setiba di sana belum ada teman-teman arisan mami Maharani yang hadir. Setengah jam lagi acara arisan akan dimulai.
Bakso, kue-kue, buah-buahan dan minuman terhidang di meja makan.
"Laras kau cantik sekali sayang." Mami menyambut kedatangan mereka berdua. Vim membiarkan keduanya saling melepas rindu.
"Mih aku mau rasa baksonya." Vim sedang memperhatikan makanan yang terhidang di atas meja.
"Boleh. Laras akan mengambilkannya untukmu."
"Baik mih." Mami tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Kalian boleh makan tapi yang di belakang sana ya. Itu buat tamu."
"Ayo Laras. Kau juga makan ya." ajak Vim pada Laras.
"Aku masih kenyang mas."
"Kenyang terus. Memangnya makan apa."
"Benar deh aku kenyang."
Laras telah mengambilkan Vim semangkok bakso. Tak lupa meletakkan kecap dan saos di hadapan Vim.
"Aku tinggal ya mas. Mau menemani mami."
"Oke."
Satu dua tamu mulai berdatangan. Teman-teman mami sesama alumni sekolah tinggi yang tinggal di kota yang sama.
Mami tersenyum sumringah menyambut kehadiran teman-temannya.
"Elsa apa kabar?" Peluk mami pada wanita yang bernama Elsa.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja." Jawab Elsa.
"Hai Wina. Hai semua. Senang bertemu kalian." Sapaan mami akrab dan ramah. Senyum kebahagian terpancar di wajah mereka semua. Laras tak berhenti tersenyum menyaksikannya.
Mereka berkumpul di ruang tengah atau ruang keluarga yang telah disiapkan untuk acara arisan. Canda, cerita serta tawa mereka mulai mengalir seru. Dari tempatnya berdiri Laras menangkap pembicaraan mereka walaupun tidak terlalu menghiraukan. Ia sibuk menuangkan es kuwut buatan mami ke dalam gelas satu persatu. Telah selesai dan siap diantar kepada para tamu teman-teman mami Maharani.
"Silahkan tante minumannya."
"Terima kasih. Siapa namanya?" Tanya seorang teman mami yang Laras tidak ketahui namanya.
"Laras Tante."
"Oh Laras. Rani mantumu cantik sekali!" Kata wanita itu lagi.
"Tentu dong. Itu pilihan Vim." Mami mengobrol dengan seorang temannya.
"Sudah berapa lama menikah?" Tanya wanita yang lain lagi.
"Mau dua tahun Tante." Laras merasa sungkan untuk pamit dari hadapan mereka sementara pertanyaan masih mengalir dari teman mami Maharani.
"Sudah punya anak?"
"Belum Tante." Jawab Laras.
"Ooo."
"Sudah konsultasi dokter?"
"Sudah tante."
"Beda-beda sih ya setiap pasangan itu, menanti kehadiran momongan." Ucap tante yang lain.
"Saya dua bulan nikah sudah isi." Kata Tante yang satunya lagi
"Saya tiga tahun lebih baru hamil. Sabar ya Laras." Kata Tante yang berada di samping Laras. Ia memilih duduk di atas karpet
"Iya tante. Silahkan diminum Tante. Laras permisi."
Laras menarik nafas lega terlepas dari pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin saja bisa muncul.
Nampan ia letakkan di atas meja dan menyusul Vim di dalam kamar mereka.
"Sudah?" Tanya Vim singkat.
"Sudah." Jawab Laras singkat pula.
"Mengapa cemberut" Tanya Vim lagi.
"Mereka menanyakan baby." Laras menunduk. Wajahnya cemberut.
"Oo itu biarkan saja. Itu hak mereka bertanya. Jadi kau mau baby?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu mari kita bikin."
Laras menjulurkan lidahnya dan Vim tertawa lepas.
"Kemarilah." Laras datang mendekat pada Vim. Mencari kenyamanan di bahu Vim. Bahu Vim selalu menenangkan untuknya bersandar.
"Jangan didengarkan semua yang dikatakan orang karena yang tahu tentang kita adalah kita diri sendiri. Meskipun ada kalanya mereka benar namun tidak semuanya benar."
"Mas kau selalu menguatkanku." Laras mendongak menatap Vim.
"Untuk itulah kita hidup berdua."
"Terus dan selalu genggam tanganku mas agar aku menjadi matang dan tegar sepertimu." Laras mengharu biru.
"Kok nangis sih. Aah cengeng. Aauww!"
Laras menyubit pinggang Vim. Vim bukan kesakitan tetapi kegelian. Laras terus menyerang Vim dengan cubitannya.
"Ampuun nyonya!"
~Kadang hal-hal kecil mendatangkan kebahagian yang tak terlupakan.~
🌹🌹🌹
Haai semuaa..
Berikan komen, suka, hadiah dan vote nya ya..😍
__ADS_1
Trims 💕