
Ruangan rawat inap di mana Laras berada menjadi ramai karena kedatangan orang-orang tercinta. Setelah ibu dan ayah kini mami dan papi Laras datang menjenguk di rumah sakit.
Terpancar sukacita di wajah kedua orang tua Vim. Mami memberikan pelukan dan ciuman sayang untuk menantunya itu.
"Sayang Laras, terima kasih nak. Selamat kalian mendapatkan penerus. Maafkan mami ya tidak bisa menemani kalian tadi malam." Mami memandang Laras bangga sekaligus terharu.
"Tidak apa mih. Maafkan juga kami tidak menelpon mami. Kami bingung."
"Mami memahami. Ini pengalaman pertama untuk kalian."
"Vim di mana sekarang?" Papi Dewantara bertanya. Suaranya berat.
"Mas Vim mengganti pakaian sebentar pih. Tadi ayah dan ibu barusan dari sini."
"Oh iya kami bertemu ayah dan ibumu di depan." Kata mami.
"Laras sudah makan?"
"Belum mih. Ransum baru diantar." Laras lirik ransum di atas nakas.
"Mau mami suapi?"
"Ehm Laras makan sendiri saja mih." Bagaimanapun Laras merasa sungkan disuapi mami meskipun mami rela melakukannya.
"Makan ya sayang biar ASI buat baby boy melimpah. Kamu menyusui atau bagaimana?"
"Laras menyusui sendiri mih."
"Sayang.. anak mami benar-benar hebat. Mami percaya baby boy akan tumbuh sehat di tanganmu."
Mami yakin Laras bisa diandalkan. Dia merasa takjub dengan menantunya.
"Do'akan selalu ya mih."
"Oh tentu sayang. Semua anak-anak dan cucu-cucu mami, mami do'akan."
"Mih biarkan Laras istirahat. Mami duduk sini." Pak Dewantara memanggil istrinya.
"Iya Pih. Papi gimana sih. Ini looh Laras belum makan."
"Ya sudah. Berikan Laras makan."
"Laras kamu makan ya sayang."
Laras mengangguk dan memenuhi permintaan mami.
Mami berpindah tempat duduk di sebelah pak Dewantara. Sementara di luar Vim menyusuri lorong menuju ke kamar Laras. Memasuki kamar dan menutup pintu.
"Viiim selamat sayang! Kau menjadi orang tua sekarang." Seketika mami berdiri begitu melihat Vim memasuki ruangan. Vim menyium pipi kiri dan kanan milik ibunya.
"Terima kasih mamih. Pih!"
"Selamat. Syabas Vim. Terima kasih untuk keturunan paling muda di keluarga Dewantara." Papi Dewantara menepuk kedua lengan Vim.
"Terima kasih atas do'a papi dan mami. Oh ya mami papi mau lihat baby boy?"
"Tentu sayang." Ujar mami.
Vim meminta perawat mengantarkan baby boy kepada Laras.
"Boleh disusui bu." Kata suster. Baby boy diserahkan kepada Laras.
"Baik suster. Terima kasih."
Baby boy menikmati ASI namun tidak lama lengkingan tangisnya memenuhi ruangan. Laras menjadi gugup.
"Sayang. Sayang. Iya nak mimik ya sayang." Baby boy belum berhenti menangis. Laras menenangkan bayinya.
"Cucu eyang kenapa menangis? Sini sama eyang ya." Mami mengambil baby boy dari tangan Laras.
"Cucu eyang anak pintar. Tenang ya sayang." Mami terus menimang hingga baby boy berhenti menangis.
"Nama apa yang papimu berikan padamu hmm?" Mami bertanya pada sang bayi. Tentu saja tidak mendapatkan jawaban. Suara tangis baby boy tidak kuat lagi.
"Viandra Lyan Putra Rahasha. Itu namanya mih." Vim menjawab mami.
"Waah cucu eyang namamu mengalahkan papimu."
"Yah harus begitu mi. Termasuk kemampuannya harus melebihi aku."
"Percaya apa yang kau katakan." Papi turut bicara. Papi menikmati buah-buahan di meja dekat sofa.
"Tapi sayang kau jangan suka bermain hingga larut malam seperti papimu ya." Sebuah kecupan mendarat di pipi Vian.
"Aah mami. Jangan ceritakan padanya tentang kejelekanku."
__ADS_1
Perawat datang mengambil baby boy . Vim berjalan mendekati Laras. Kecupan sayang dan usapan lembut singgah di kening Laras.
"Kau sudah makan?" Tanya Vim setengah berbisik.
"Sudah mas."
"Kau lelah dan mengantuk?"
"Tidak lagi mas. Aku ingin pulang besok." Pinta Laras.
"Kita menunggu arahan dokter ya."
"Baik mas. Mas sudah makan?" Laras balik bertanya. Wajah terkasih itu tidak lagi menampakkan keletihan. Penampilannya sempurna meskipun mengenakan jeans dan kaos oblong yang ditutupi jaket. Terbersit rasa khawatir di relung hati Laras bila suaminya ini disukai banyak wanita.
"Jangan pikirkan aku. Bibi menyiapkan semuanya dengan baik. Jaga sehatmu agar bisa merawat bayi kita."
"Vim ingat ya untuk beberapa minggu kau tidak boleh berbuat lebih jauh pada Laras."
"Maksud mami?"
"Vim kau jangan sok lugu. Tahan hasratmu. Itu maksud mami."
"Yah mami. Itu Vim tahu kok."
"Siapa tahu kau kelewatan."
"Ini Vim..mami. Di luar banyak kok."
"Apa??" Mami melotot.
"Maksudku di luar banyak tapi tidak sama dengan Laras."
"Apaan sih mas?" Laras menjadi malu mendengar pembicaraan Vim dan mami.
"Jadi mami mau tidur di sini atau bagaimana? Papi mau pulang. Sudah malam."
Pak Dewantara berdiri. Siap untuk pulang. Tingginya lebih rendah sedikit dari Vim. Wajahnya masih menyisakan ketampanan saat muda.
"Mami ikut pulang. Vim kalau Laras sudah di rumah katakan pada mami ya. Mami akan mengurus Laras dan Vian." Pesan mami sebelum meninggalkan rumah sakit.
"Baik mami."
"Mami pulang sayang. Cuup." Kecupan perpisahan untuk Laras.
"Jumpa lagi di rumah ya mi."
"Sudah mi?" Papi tidak sabar menunggu. Papi telah berdiri di tengah pintu.
"Papi sabar doong."
"Handoyo ingin bertemu." Kata papi.
"Baiklah. Baiklah."
Vim membenarkan selimut yang menutupi tubuh Laras. Menurunkan bantal dan mengarahkan posisi kepala Laras tepat di atas bantal.
"Tidurlah."
"Mas aku bahagia." Ucap Laras. Bibirnya menyentuh bibir Vim. Vim merasakan hangat menjalari tubuhnya.
"Aku juga bahagia. Beberapa minggu ke depan jangan menggodaku atau kau benar-benar kuterkam."
"Hihihihi..tidak boleh sayang."
"Yeeaah."
Malam merayap naik mengantar jiwa-jiwa pada bunga-bunga tidur yang indah atau sarat misteri.
Sang pagi menyadarkan mereka bahwa ada kewajiban hidup yang harus dijalani.
Pergerakan pintu membangunkan Laras. Bukan Vim yang membuka pintu tetapi perawat jaga sedang melaksanakan tugasnya.
"Pagi bu."
"Pagi suster. Suster bolehkah saya pulang hari ini?"
"Kita tunggu arahan dokter ya bu. Kalau ibu dan bayi sehat kemungkinan besar boleh pulang."
"Anak saya sehat saja kan suster?"
"Iya bu. Saya tinggal ya bu."
"Baik suster."
Laras menggeser duduknya di tepian ranjang rumah sakit. Berdiri perlahan dan menghampiri wastafel. Ia cukup kuat berdiri walaupun berjalan harus pelan-pelan.
__ADS_1
"Ras mau ke mana?" Vim bertanya dan segera bangun dari posisi tidur.
"Wastafel ini mas tapi aku ingin mandi."
"Masih sangat pagi sayang. Cuci muka saja."
"Aku rasa tidak nyaman." Ujar Laras.
"Kau sanggup? Kau baik-baik saja?"
"Ya aku baik-baik saja. Lihat aku bisa berdiri dan berjalan."
"Kau tidak membangunkanku. Bagaimana jika kau jatuh?"
Vim segera meraih ujung tangan Laras dan membimbing ke kamar mandi. Membiarkan Laras membersihkan diri.
"Sudah?" Tanya Vim begitu Laras keluar dari kamar mandi.
"Iya sudah. Segar rasanya."
"Duduklah. Rambutmu masih basah. Berikan handuk itu."
Handuk di tangan Laras berpindah ke tangan Vim. Kemudian Vim mengusap rambut Laras dengan handuk hingga rambut Laras tidak terlalu basah.
"Belakang ini basah Laras. Sebaiknya kau ganti pakaian." Vim menyentuh punggung Laras bagian atas. Laras memejamkan mata. Rasa yang tak asing sering dirasakan Laras jika Vim menyentuhnya. Hanya Laras yang mengerti rasa itu.
"Aku ganti di sini dan mas menghadap ke jendela ya."
"Boleh. Aku ambilkan bajumu."
"Nah sekarang mas minggir dulu. Menghadap keluar ya."
"Baik nyonya. Lakukan sekarang."
Vim menarik tirai kain agar menutupi sebagian kamar. Laras mengganti bajunya.
"Sebenarnya aku tidak terpengaruh meski kau membuka pakaian di depanku. Mengapa harus berpaling begini?" Vim berkata membelakangi Laras.
"Yakin tidak tergoda?"
"Yakin."
Laras tidak akan tega membiarkan Vim melihat tubuhnya di saat-saat begini. Di kala mereka harus mengekang rasa sampai batas waktu tertentu. Laras menjalani masa pemulihan setelah persalinan.
"Sudah belum?"
"Sudah mas."
"Pagiii! Ada orang di dalam?"
"Anggia!" Seru Vim.
Sreeeett.
Vim membuka tirai secara cepat. Wajah segar dengan senyum penuh semangat hadir di depan mereka.
"Anggia!"
"Hai Vim! Hei sedang apa kalian menutup tirai sepagi ini?" Anggia bertanya menyelidiki. Senyumnya berganti mengejek. Ia menjulurkan lidah.
"Ah pikiranmu. Laras mengganti baju."
"Iya percaya hahaa."
Pipi Laras bersemu merah muda. Ia membiarkan Anggia dengan pemikirannya. Anggia memang senang menggoda Laras dan Vim.
"Ini kubawa sarapan untuk kalian. Selamat ya kalian menjadi papa dan mama. Dia lelaki. Jika perempuan siapa tahu berjodoh dengan Devan hahaa." Tawa Anggia renyah.
"Devan dengan siapa?" Tanya Vim.
"Daddy nya. Dia menangis ketika kutinggalkan. Aku pulang ya. Sehat ya Laras. Muaaah."
"Terima kasih mbak. Hati-hati."
"Vim awas jaga jarak dengan Anggia. Jangan sampai tertarik dalam sebulan lebih ini."
"Hahahaha aman tuh. Nggak mungkinlah." Seru Vim.
Jam pemeriksaan dokter telah tiba. Melihat keadaan Laras dan bayinya yang sehat, dokter mengijinkan Laras pulang ke rumah. Mereka bersiap pulang.
Mami dan bibi menunggu ketibaan mereka. Suasana gembira menyambut Vian malaikat kecil di rumah itu. Di dalam mobil Laras dan Vim tak berhenti memperhatikan bayi mungil kebanggaan dalam dekapan Laras. Dekapan erat memberikan ketenangan dan perlindungan pada baby Vian. Mami akan selalu merawat dan menjagamu nak. Tidurlah.
...π»β¨π»β¨...
πTerima kasih readers masih membaca karya receh ini dan.. tetap di sini ya..luv u semua.π
__ADS_1
~Suka, komen, hadiah, vote atau bintang lima yaa..trims~π