
Tatapan penuh harap itu tidak kurang dari tatapan mata Vim. Sama-sama mampu membuat orang lain mengaguminya. Laras tidak banyak mengenal Rony. Bagaimana Rony yang sebenarnya, namun bagi Laras Rony tak kalah kharismatik.
"Kau berbelanja?"
"Iya ini untuk orang rumah."
"Oooh. Untuk suami?"
"Bukan. Untuk Bibi dan sopir."
"Baik sekali dirimu."
"Sudah menjadi tanggung jawabku pada mereka."
"Kau boleh berbelanja lagi dengan gratis. Ambil saja yang kau mau. Aku pemiliknya."
"Oowhh benarkah? Tapi aku tidak ingin yang lain lagi. Terima kasih."
Laras terkejut mendengar kalimat Rony.
"Benar. Kebetulan ada urusan di sini jadi aku mampir kemari. Mari masuk."
"Aku sedang menunggu suamiku." Tolak Laras sangat halus.
"Suamimu sibuk. Aku tahu bagaimana pekerjaan suamimu. Bisa kita duduk sebentar di sana?"
"Maaf. Tidak bisa. Sebentar lagi suamiku tiba."
Pandangan Rony tidak pernah lepas dari Laras. Rasa penasaran untuk memiliki Laras tak pernah hilang dan kini bertemu pula dengan Laras. Ingin diraihnya, direngkuhnya dan diciumnya Laras sepuas hatinya.
"Kau ingat pada diriku bukan? Laras lihatlah Vim belum juga tiba. Aku akan meminta ijin padanya. Sebentar."
" Anda teman suamiku."
Rony menelpon Vim.
"Dia sedang bersamaku. Gue pinjam istri lu sebentar, hahaa.."
Rony berkata lirih. Hanya tertawa nya terdengar lepas. Di sana di dalam ruangannya Vim mengeluarkan sumpah serapah
nya.
"Aku sudah meminta ijin pada suamimu. Dia tidak mempermasalahkan. Aku ingin berkenalan lebih jauh padamu. Masuklah ke dalam."
"Vim masih sibuk. Aku mau pulang sendiri saja." Laras mengelak dari Rony.
"Sebentar saja Laras. Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Kita masih bisa berteman kan. Kau aman di sini."
"Sebentar aku menelpon Vim dulu."
Laras memencet nomor Vim.
"Iya mas aku baik. Mas Vim aku masih di sini. Love you. Mmmuaaach."
Kalimat yang diucapkan Laras mampu membuat hati Rony nyeri. Tangan Laras dengan cepat ditarik Rony hingga melewati pintu masuk. Menghindari keributan Laras mengikuti Rony menaiki tangga lantai dua dan masuk ke ruangan yang lumayan besar. Ruangan kerja. Sepertinya Rony tidak berniat berbuat jahat. Di sini ramai sekali pembeli. Toh Rony takkan mau reputasi tokonya rusak karena kehebohan yang dibuatnya sendiri.
"Duduklah."
Rony mempersilahkan Laras duduk. Laras memilih berdiri saja.
"Kau takut ya. Laras bagaimana mungkin aku menyakitimu sedangkan kau orang yang kuharapkan, kucintai."
Rony mencoba meyakinkan Laras. Laras bergidik ngeri. Berdoa semoga Rony tidak membalas apa yang telah Laras perbuat padanya. Ia pernah menolak lamaran Rony.
"Maafkan aku tentang itu. Kita tidak berjodoh."
" Yeaahh.. Vim Sia*** itu merebutmu dariku!"
"Ini kehendak Tuhan."
"Kau bahagia dengannya?"
Laras mengangguk cepat.
"Sangat bahagia."
"Tidak ada peluang untukku??"
"Maaf. Aku milik orang lain sekarang."
"Kau bisa ikut denganku Laras."
"Maafkan aku. Aku mencintainya lebih dulu."
Vim meninggalkan berkas kerja. Dia harus menyelamatkan Laras. Prasangka buruk mulai memenuhi isi kepalanya.
__ADS_1
Bagaimana mungkin Laras bisa bersama Rony? Laras bersama Pak Uun tadi. Rony Sia***
"Pak mengapa bapak meninggalkan Laras di sana?" Tanya Vim via hp.
"Ma'af Den. Non Laras meminta saya kembali. Kata non Laras, Den Vim nanti menjemput."
"Ya sudah Pak."
Melajukan mobilnya padahal jarak tempuh hanya sepuluh menit Vim menuju ke tempat Laras berada. Rute jalan memutar jika ditempuh dengan mobil dan ditempuh hanya dalam waktu lima menit bila berjalan kaki.
Bunyi pintu terbuka terdengar keras.
Pintu terdorong dengan kasar. Tubuh Vim yang besΓ r dan tinggi sudah berada di antara mereka. Wajahnya memerah menahan marah. Rony dan Laras benar-benar kaget.
"Mas Vim?!! Mas aku tidak ngapa-ngapain di sini."
"Ya aku tahu. Kau diapakan oleh Rony!!?"
Tatapan Vim menghunjam Rony. Ingin rasanya ******* Rony sampai hancur.
"Nggak ada mas. Aku baik-baik saja. Rony cuma mengajakku kemari."
Vim menatap Rony sinis. Tidak ada kata teman buat Rony. Dia bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuaannya. Vim tahu itu.
"Sekali lagi gue tekankan. Jangan sekalipun bikin Laras luka atau kesakitan!"
Rony membuang wajahnya dengan kasar dari Vim.
"Sama seperti lu, Laras ada di hati gue sampai kapanpun. Lu sudah ambil Laras dari gue!"
Laras mulai pusing melihat pertikaian itu. Dua orang yang memperebutkan dirinya. Laras tidak bangga tapi menyesal kenapa jadi begini. Mengapa Rony tidak mencari wanita lain saja sebagai ganti dirinya.
"Maaf Tuan Rony. Saya memberikan masalah pada anda. Lupakan apa yang pernah terjadi. Semoga anda menemukan pendamping hidup yang lebih baik dari saya."
"Tidak semudah itu Laras, menempatkan sebuah perasaan yang bernama cinta kepada siapa saja." Rony menjawab bijak.
"Semoga anda menemukan orang yang tepat."
"Kita pergi dari sini Laras." Ajak Vim.
" Permisi Tuan Rony."
Setelahnya Laras berlalu meninggalkan ruangan diikuti Vim. Kepalanya terasa berat. Baru beberapa jam tadi bertemu Aurora, sekarang berurusan dengan Rony.
...πππ...
"Kau mau kemana lagi sekarang." Tanya Vim memecah keheningan mereka.
"Pulang. Seharusnya mas tidak bersikap seperti tadi. Rony tidak berbuat jahat padaku." Protes Laras.
Laras memasuki mobil. Duduk di dalamnya dengan wajah yang ditekuk. Laras ngambek.
"Sayang.. Rony itu menyukaimu. Wajar kalau aku khawatir ia menyekapmu atau membawamu lari dan mengambilmu dariku."
Vim memberikan penjelasan.
"Tidak akan terjadi karena aku hanya menyintaimu."
Ucapan Laras yang spontan dan cepat menyentakkan Vim. Sepertinya Laras kelepasan berbicara.
"Apa yang kau katakan? Ulangi lagi Laras."
"A..aku..karena aku hanya menyintaimu mas. Aku tak mungkin mengikutinya."
Lagi Laras mengalihkan tatapan
nya dari Vim setiap kali ia merasa malu.
"Kemungkinan itu selalu ada Laras. Syukur kalau kau berpikiran begitu. Aku bahagia mendengar
nya."
Vim mempercepat laju mobilnya tepatnya mobil Edo sebab dari tadi siang Vim meminjam mobil Edo. Vim akan meminta Pak Uun mengembalikannya nanti.
Mereka tiba di rumah. Pak Uun sedang menyuci mobil. Di luar dugaan Ibu Maharani telah berada dirumah mereka dan menyambut kedatangan Vim dan Laras.
"Anak-anak Mami, kalian sudah tiba."
"Mami! Kapan Mami datang."
Vim menyalami ibunya diikuti oleh Laras.
"Dua jam tadi Vim. Mami kangen sama kalian. Kalian baik-baik saja bukan?"
"Kami sehat mami."
__ADS_1
"Syukurlah. Jaga kesehatan terutama Laras. Jangan capek berlebihan dan Vim kurangi kesibukanmu. Kalian harus mulai program memiliki momongan."
"Iya mi kami sedang berusaha untuk itu."
Kenyataannya Vim selalu sibuk bekerja membuat aktivitas ranjang bersama Laras kurang ia perhatikan. Terlebih lagi ia baru saja menyelesaikan masalah masa lalu dengan Aurora yang sempat mengganggu hubungan
nya dengan Laras. Membuat jarak di antara Vim dan Laras secara tak langsung. Sesudah ini tidak akan ada gap lagi antara ia dan Laras Mungkin memang benar apa yang dikatakan mami. Ia harus lebih sering pulang awal dan menyediakan waktu lebih agar bisa berduaan dengan Laras.
Lalu Vim teringat baby Devan yang menggemaskan. Ia juga ingin punya baby.
"Ya sudah. Laras ikut Mami sebentar ya."
"Baik mi."
Di dalam kamar Mami, Laras diberikan sebuah bungkusan.
"Ini buat Laras. Semoga Laras suka."
Bola mata Laras berbinar bahagia menerima bingkisan dari Mami.
"Terima kasih ya mi."
"Iya. Sekarang bersihkan dirimu. Pakai wewangian agar Vim betah di sampingmu."
Laras tersipu mendengar penuturan Ibu Maharani dan pamit keluar. Tidak tahu apalagi yang akan diajarkan jika Laras masih berdiri di situ.
"Apa yang Mami katakan padamu?"
" Tidak ada mas. Mami memberikan ini padaku."
"Apa itu, coba kau buka."
Laras membuka bungkusan itu perlahan.
"Sepertinya ini pakaian. Bahannya sangat lembut di tangan."
Benar saja bingkisan itu adalah pakaian tidur dengan bahan kualitas premium.
"Wooow bagus itu Ras. Gunakan malam ini." Kata Vim dengan senyum menggoda.
Tentu saja Vim senang melihat pakaian tidur dengan lengan seperti tali tersebut. Panjangnya tidak lebih dari lutut Laras. Sama dengan milik Laras yang lainnya berbahan transparan.
"Menambah koleksiku mas. Mami bisa saja memilihkan seperti ini."
"Mami pernah muda Laras. Sangat mengerti tentang suami istri."
Laras merapikan rambutnya , memilin menjadi satu ke atas dan dijepit dengan jepitan rambut besar. Bersiap akan ke kamar mandi.
"Mau mandi? Aku boleh ikut ya." Tanya Vim.
"Nggak ah. Aku mandi sendiri dulu sayang. Besok saja ya."
"Oke. Besok pagi saja."
Mereka mengejar waktu makan malam. Malam ini ada Mami bersama mereka sehingga mereka berdua mempersiapkan diri sebelum makan malam tiba.
"Beritahu Mami kapan dan kemana kalian akan pergi berbulan madu. Mami akan memesan tiket buat kalian."
Laras dan Vim saling berpandangan belum siap menjawab pertanyaan mami.
Vim membenarkan letak duduknya.
"Begini mi sebenarnya kami belum menyusun rencana. Saat ini perusahaan sedang butuh perhatianku dan Laras konsentrasi sama kuliahnya."
"Kau ini Vim, kau bisa memberikan sebagian tanggungjawab perusahaan pada orang yang kau percaya dan Laras, bisa kuliah dalam keadaan hamil. Apalagi Laras kuliahnya dari rumah.
Kalau kalian saling sibuk begini, kapan buat momongan."
"Iya mami sabar ya. Nanti malam Vim bikin sama Laras."
Laras hampir ketawa mendengar ucapan Vim. Memangnya bikin kue.
"Ini dimakan tumis tauge ikan asinnya. Enak loh. Laras berikan sayurnya pada Vim."
"Baik mi."
"Cukup Ras. Sudah banyak yang kau tuang ke piringku."
"Makanlah Vim. Tauge itu meningkatkan kesuburan Vim..supaya bibit kau cepat jadi."
"Iiiih Mami aku ini subur mi."
"Keras kepala."
Di satu sisi Vim senang Mami berkunjung ke rumahnya namun di sisi lain Vim keberatan dengan menu tauge yang Mami sediakan untuk Vim. Ketika masih tinggal di rumah orang tuanya, selalu tersedia sayur tumis tauge di meja makan dan sekarang Mami menyediakan makanan itu lagi di rumah Vim. Tauge oh tauge..
__ADS_1
πΎπΎπΎ
Bersambung..