
Laras dan Roseli duduk saling berhadapan tanpa melepas senyum satu sama lain.
Laras menyerahkan barang yang di bawa.
"Motif yang bagus dengan detail yang dilukis halus. Terima kasih untuk semuanya." Roseli menatap hasil buatan tangan dengan takjub.
"Saya yang harusnya berterima kasih Ibu. Semoga ibu suka."
"Sangat suka. Semua ini akan saya kirimkan pada teman-teman saya di luar negeri. Meskipun tidak digunakan tetapi kain-kain ini bisa menjadi koleksi."
Perempuan setengah baya itu meletakkan paper bag berisi pesanannya.
"Saya transfer uang nya boleh nak Laras?"
"Boleh Bu." Laras mengangguk cepat.
"Baiklah."
Roseli menekan tuts hp miliknya, dalam sekejap jumlah uang yang ia ketik telah berpindah ke hp Laras. Salah satu manfaat teknologi terasakan. Tidak perlu membawa banyak uang untuk sebuah transaksi. Klik..klik dan semua beres.
"Sudah masuk notifnya Bu. Terima kasih." Laras menutup ponselnya kembali.
Kreeeekk.
Suara daun pintu yang didorong terdengar dibalik dinding ruangan itu. Tidak berapa lama terlihat sosok seorang lelaki muncul dari pintu yang menghubungkan ruangan kerja Roseli dan ruangan tempat istirahat dimana terdapat single bed di dalamnya. Laras terperangah tetapi dengan cepat menguasai rasa terkejutnya. Dia mengenali lelaki ini.
"Hai jumpa lagi. Masih ingat denganku?" Sapa Herdi ramah.
"Hai Herdi." Dan Laras tidak berani menatap lama mata Herdi. Ia hanya memberikan senyuman dan kembali menatap Roseli.
"Kalian berteman ya?"
"Aku membeli kado Clara di tokonya tante." Clara adalah keponaan Herdi. Herdi menatap tanpa kedip. Mengagumi makhluk ciptaan Tuhan di depannya ini.
Laras merasakan jengah dengan tatapan Herdi. Tidak tahukah Herdi bahwa ia telah menikah. Lihatlah cincin berbentuk belah rotan yang melingkar di jari manisnya. Lalu Laras mengangkat kedua tangannya di depan dada. Jemarinya saling bertautan. Hal ini sengaja Laras lakukan.
Herdi melihat cincin emas yang melingkar di jari manis Laras. Menarik nafas dalam lalu mengalihkan tatapannya ke hp. Sialan. Dia bukan single, batin Herdi. Siapa lelaki beruntung itu.
Petanyaan bermunculan di kepala Herdi.
"Enam bulan lagi saya akan memesan dalam jumlah yang banyak. Kami akan mengadakan pameran di luar negeri. Bantu saya ya Laras." Pinta Roseli.
"Baik bu. Berapa jumlah yang ibu butuhkan kami usahakan tersedia."
"Siiiip. Herdi masih ada yang ingin kau sampaikan sama tante?"
"Tidak ada lagi tante."
"Kau menunggu apa? Pekerjaan mu sudah selesai?" Tanya Roseli.
"Hari ini tidak banyak pekerjaan."
Roseli memperhatikan ponaannya yang bernama Herdi. Gelagatnya tidak biasa. Mata Herdi tak lepas dari menatap Laras. Laras di pun merasakan itu.
"Ibu karena urusan telah selesai saya permisi dulu."
"Jangan terburu-buru Laras. Duduklah di sini dulu."
"Maaf bu ada pekerjaan menunggu di toko."
"Baiklah. Jangan menyesal ya datang kemari."
"Tidak ibu."
Dagangannya terjual saja Laras merasa senang. Tidak mungkin ia menyesal telah memasuki kantor Roseli. Laras berjalan menuju pintu.
"Tante aku harus pergi sekarang. Ada tamu mencariku." Herdi meraih kunci mobil dan poselnya dari atas meja.
__ADS_1
"Oke Herdi. Katakan jika ada masalah."
"Tidak ada Tante."
Herdi keluar ruangan. Dilihatnya Laras di depan hendak memasuki lift. Herdi menahan pintu lift dan segera masuk.
"Senang berjumpa lagi. Kau sendirian ya?"
"Dari tadi aku sendiri."
"Dia tidak takut kau dibawa lari orang?"
Laras mulai malas menjawab pertanyaan Herdi.
"Dia siapa?"
"Suamimu. Siapa suamimu?"
"Apakah penting?"
"Siapa tahu aku mengenalnya."
Laras enggan menjawab. Herdi tidak perlu tahu. Lelaki ini belum lama mengenalnya tapi ingin tahu tentang Laras. Laras diam.
"Tidak apa kalau kau keberatan."
Laras mengucapkan syukur karena pintu lift terbuka.
"Boleh kuantar Laras?"
"Tidak terima kasih Herdi. Aku membawa motor."
"Oh baiklah. Hati-hati ya."
"Terima kasih."
Sebulan berlalu sejak Laras bertemu Herdi. Kehidupannya berjalan biasa. Kuliah, bekerja, melayani dan mengurus keperluan suaminya semua Laras jalani. Laras tidak menyadari ada yang berhenti dari siklus bulanannya. Sudah sebulan ini tamu bulanan itu tidak datang. Namun Laras berpikiran masih di dalam batas wajar. Mungkin saja dirinya sedang stres mengakibatkan siklus bulanannya tidak teratur.
Hari ini Laras pulang lebih cepat. Ia akan menyiapkan makan malam. Memasak makanan kesukaan Vim dan sesudahnya bermanja-manja dengan sang suami. Suami yang seperti abang dan teman bagi Laras. Kedekatan itu akhir-akhir ini sedikit terganggu karena kesibukan masing-masing.
Belum pukul lima sore Vim melajukan mobil menjemput Laras. Ia tidak melihat motor Laras di halaman parkir tapi memutuskan untuk turun memasuki toko. Belum sempat kakiny melewati pintu seseorang memanggil Vim.
"Selamat sore Pak."
Vim menoleh. Mendapati kurir membawa sesuatu di tangannya.
"Selamat sore."
"Kami mengantar ini Pak. Mohon diterima."
Sementara itu Ririn tidak sengaja melihat Vim dan kurir berbicara. Ia sangat ingin tahu ada apa sebenarnya.
"Dari siapa?" Kening Vim berkerut.
"Ini pak."
"Oke terima kasih."
Sialan. Siapa dia berani mengirimkan bunga ini untuk Laras.
Ririn melihat perubahan pada wajah Vim. Ia membalikkan badan sebelum Vim melihatnya. Pura-pura menghitung barang.
"Ririn! Kau kenal nama ini?! Herdi."
"Ti tidak kenal Pak."
"Kau bohong!"
__ADS_1
"Benar Pak. Cuma memang orang itu pernah belanja di sini."
"Berapa kali?!" Emosi Vim meluap.
Dulu papan ucapan, sekarang buket bunga. Besok apa lagi? Siapa lagi ini?
"Baru sekali Pak. Katanya mau pesan lagi."
"Huuuhh??"
Vim mengambil gambar bunga yang diterima dari kurir lalu membuang ke tong sampah. Sekali lagi mengambil poto bunga itu. Vim mengajak sopir pulang ke rumah.
Di rumah di depan pintu..
"Laras!! Laras!!"
Suara Vim menggema.Bukan Laras yang muncul melainkan Bi Am.
"Non Laras di kamar Den. Mungkin mandi. Tadi selesai masak sama bibi."
Vim bergegas memasuki kamar. Menutup pintu kamar dan menunggu Laras. Benar kata bibi, Laras sedang mandi.
Pintu kamar mandi terkuak.
"Mas sudah pulang? Aku siapkan air panas ya."
"Tidak usah Laras. Katakan siapa Herdi!?"
Laras tercekat. Raut wajah Vim membuat nyali Laras surut ke belakang.
"Temanku mas."
"Teman atau teman mesra!!"
Astaga. Laras benar-benar merasa kerongkongannya seperti diikat. Sepertinya Vim mau membuatnya mati dengan teriakan dan tuduhannya itu.
"Temanku. Lebih tepat pembeli."
"Kau menyimpan rahasia Laras. Katakan ada apa antara kalian."
Laras hampir menangis mendengar tuduhan Vim. Ia terpaku di tempat. Air mata mengambang siap untuk mengalir. Hatinya menangis karena tak memiliki tempat perlindungan dari kemarahan Vim. Lihatlah wajah Vim yang memerah tersulut amarah.
"Lihat ini. Lihat bunga yang dikirim untukmu. Bunga mawar merah. Kau tahu artinya kan."
Vim menunjukkan gambar yang ia ambil saat di toko. Bunga dari kurir. Laras tak percaya menatap poto itu. Ia terhenyak di atas sofa. Bunga ini yang membuat Vim begitu marah. Pengirimnya seorang lelaki. Vim merasa tersaingi.
"Mas Vim dengarkan aku. Aku mengenalnya tapi sama sekali aku tidak memiliki hubungan dengan nya selain pertemanan. Percayalah."
"Bisa kupercaya?"
"Mas harus percaya sama aku. Aku tidak bohong sedikit pun."
Vim mengusap wajahnya. Gundah gulana. Laras sang istri dilirik orang.
"Mana cincinmu?" Tanyanya dingin.
"Ini masih kupakai. Aku tidak pernah melepaskan cincin ini."
"Lepaskan jika ada pengkhianatan."
"Mas." Laras tak bisa membendung air matanya. Tuduhan Vim menyakitkan.
"Aku tidak pernah berkhianat. Aku mencintaimu." Ujar Laras terisak.
Hening. Hanya isakan Laras yang terdengar di kamar mereka. Sesungguhnya Vim menyesal membuat Laras menangis. Ingin dirinya merengkuh bahu Laras namun ia harus menyelesaikan masalah ini. Hatinya tidak menerima Laras berhubungan dengan orang lain terutama lelaki. Egoisnya Vim. Baginya Laras itu hanya miliknya.
💔💔💔💔💔
__ADS_1
Like, comment, Fav, gift & vote.😚😇😘