
Keesokan pagi masih dilanjutkan pekerjaan menata dan mendekorasi toko kecil milik Laras oleh tukang. Semua diurus oleh Vim untuk Laras. Lusa Laras sudah bisa menjalankan kegiatan di toko itu.
Laras meletakkan tas berisi notebook di atas meja. Ia sendirian belum berteman dan akan mencari seorang teman sebagai pelayan toko. Dikeluarkannya kertas bertuliskan MENCARI KARYAWAN lalu menempelkan di kaca lebar sebelah pintu. Semoga segera dapat do'anya dalam hati.''
Dua jam berada di sana sendirian kemudian muncul Pak Uun menenteng sebuah tas besar.
"Sudah datang Pak. Gimana mami dan papi?"
Laras membuka tas besar itu dan mengeluarkan sebagian isinya. Memajang di rak dan sebagian di lemari.
"Semuanya baik-baik saja non. Nyonya berpesan non Laras nggak boleh kecapean."
"Uuhm..iya pak tenang saja. Si baby belum mau muncul ini pak."
"Semoga setelah ini si baby datang non."
"Aamiin. Makasih pak."
"Non bilang saja kalau mau susun di mana, biar saya yang susun."
"Baiklah Pak. Terima kasih."
Akhirnya pekerjaan selesai. Laras bersiap mengerjakan tugas kuliahnya. Ia tidak mengadakan acara pembukaan toko. Toko ini cuma berukuran kecil pikirnya.
Di luar toko seorang wanita memperhatikan toko milik Laras. Sejenak ragu memasuki toko. Di tangannya mengapit sebuah map dan menyandang tas di bahu kanan. Dilihat dari wajahnya masih muda seperti Laras.
"Iya mbak nya ada perlu apa? Ada yang bisa dibantu?" Laras menyapa perempuan itu.
Tapi sedetik kemudian Laras berteriak. Dia mengenal perempuan di hadapannya ini.
"Astaga Ririn! Benar kau Ririn kan??! Ririn ini aku Laras."
"Laras??! Oh Tuhan benar kau Laras.Laras!"
Mereka berdua berpelukan. Histeria pertemuan pun terjadi. Saling menanyakan kabar dan bertukar cerita. Laras dan Ririn pernah duduk sebangku waktu di SMA. Pertemuan ini benar-benar kejutan buat keduanya padahal baru dua tahun ini mereka tidak bertemu.
"Bagaimana kamu sekarang Rin. Masih di rumah lama?" Tanya Laras pada Ririn.
"Iya Ras mau ke mana lagi. Apalagi ayah sudah nggak ada sekarang. Aku dan Rika harus menemani Ibu." Wajah Ririn berubah sendu. Terbayang wajah ibunya yang sekarang bertanggungjawab menghidupi Ririn dan adiknya si Rika.
__ADS_1
"Ayahmu ke mana Rin?"
"Ayah..ayah sudah meninggal dua bulan lalu Ras. Serangan jantung."
"Oowh aku turut berduka Rin. Jadi kamu dari mana ini. Senang sekali bisa ketemu." Laras menggenggam tangan Ririn.
"Aku..aku sebenarnya mencari kerja. Yaah terpaksa aku cuti kuliah untuk membantu ibu mencari nafkah. Kasihan ibu kalau harus banting tulang cari uang buat sekolah kami berdua. Aku mengalah saja. Nggak apa-apa."
"Begitu. Eeeh Rin kebetulan di sini lagi mencari karyawan. Apa kamu mau? Aku nggak maksa sih. Kalau kamu mau saja."
"Benarkah?? Boleh aku kerja di sini Ras? Aku mau Ras. Siapa yang punya toko ini?" Balas Ririn antusias. Bola mata Ririn berbinar ceria. Tawaran yang baik tidak boleh ditolak apalagi ia memang membutuhkan pekerjaan. Ia harus mencari uang untuk meringankan beban ibu.
"Aku yang punya toko ini Rin. Sudah tenang saja. Kerja di sini saja ya. Menunggu toko dan melayani pembeli. Kamu bawa satu kunci toko dan aku punya satu kunci lagi tapi aku datang kemari setelah suamiku berangkat kerja." Laras berkata panjang lebar. Ririn manggut-manggut mendengarkan.
"Ini contoh kain bermotif dan harganya. Kamu melihat dari sini jika ada pengunjung yang bertanya. Oke?"
"Baiklah aku mengerti nyonya."
"Oh Ririn tidak. Panggil aku biasa saja. Kita berteman sudah lama. Panggil namaku L-a-r-a-s, Laras."
"Iya deh Laras. Kamu ini tidak pernah berubah. Tetap baik seperti dulu. Yang berubah adalah_."
"Aku kan memang baik hahaa.. apa yang berubah Rin." Laras penasaran dengan ucapan Ririn.
"Dengarkan dulu nyonya eh nona eh Laras. Kamu tambah cakep sekarang. Siapa dia yang beruntung memilikimu?"
Laras membuka bungkusan makanan yang dibeli Pak Uun. Tadi Laras yang meminta Pak Uun untuk mencarikan nasi bungkus.
"Makanlah Rin. Ini untukmu."
Mereka makan di belakang lemari pajangan yang telah disusun untuk menutupi sebuah meja kecil yang sengaja disediakan untuk keperluan makan siang di situ.
"Terima kasih Laras. Aku merepotkanmu. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu."
"Jangan berpikiran seperti itu Rin. Kebetulan saja kita bertemu, aku membutuhkan karyawan dan kamu membutuhkan pekerjaan. Klop deh."
Laras tahu Ririn teman yang bisa dipercaya. Dua tahun duduk sebangku bersama Ririn, Laras menjadi hafal dengan sifat dan tingkah laku Ririn. Untuk itu ia tak ragu menerima Ririn bekerja dengannya. Hitung-hitung Laras ingin menolong temannya yang sedang kesusahan.
"Kamu mulai bekerja besok saja Rin. Kalau kamu mau pulang dulu boleh kok."
"Laras aku masih ingin di sini. Di rumah nanti ibu pasti senang mendengar cerita bahwa aku sudah mendapatkan pekerjaan."
"Senang sekali bisa menolongmu Rin dan aku nggak usah kesusahan mencari teman kerja iya kan. Tuhan mengirimmu padaku."
__ADS_1
Bahagia terpancar di wajah keduanya. Laras merasakan nyaman berbincang-bincang dengan Ririn. Mereka mulai bernostalgia bercerita tentang apa saja di saat-saat sekolah dulu.
Seorang tamu menghentikan obrolan mereka. Memasuki toko dan mengucapkan salam. Laras segera berdiri menyambut dengan ramah. Ririn juga berdiri menyambut sang tamu.
"Bagaimana tentang barang yang saya tawarkan?" Tanya sang wanita. Ia sudah lama menunggu jawaban Laras untuk mau menerima produk sandal home made buatannya. Beberapa gambar sudah dikirimkan kepada Laras sebagai referensi dan Laras berminat menjual sandal-sandal tersebut di tokonya. Sandal-sandal wanita itu tidak seperti sandal-sandal kebanyakan di pasaran. Oleh karena itu Laras ingin memasarkannya.
"Dengan catatan tidak ada model sandal atau sepatu yang sama satu dengan lainnya."
"Tentu saja. Produk kami punya keunikan tersendiri dan toko nona sangat mewakili image produk kami."
"Semoga berkenan. Besok sudah boleh dikirim ke sini sesuai dengan gambar yang saya pilih. Oya kenalkan ini asisten saya. Jika saya tidak di tempat, Ririn akan menghandle semuanya."
Ririn mengulurkan tangannya begitu pula wanita itu. Ririn tidak menyangka mendapat kepercayaan sebesar itu dari Laras.
"Baiklah nona. Kerjasama yang menyenangkan. Semoga menjadi awal yang baik. Sampai jumpa lagi. Permisi." Wanita itu pamit.
"Mengapa terburu-buru sis. Mari kita rayakan kesepakatan ini walaupun sederhana." Laras berusaha menahan. Sebenarnya ia ingin mengetahui kenalannya lebih dalam lagi.
"Maaf bukan tidak ingin tapi saya harus mengunjungi seorang kerabat yang sedang sakit. Saya sudah terlambat menjenguknya." Sis Laria menjelaskan.
"Oh kalau begitu baiklah. Senang bertemu dengan anda sis Laria."
"Senang juga bertemu dengan anda. Bye."
Laras dan Ririn melambaikan tangannya mengantar kepergian Laria. Mereka berdua melemparkan pandangan dan tersenyum satu sama lain.
"Jangan sungkan-sungkan denganku Ririn. Anggaplah toko ini seperti rumahmu ya."
"Tentu saja. Aku sangat berterimakasih padamu Laras."
"Jangan dipikirkan. Justru aku senang kamu membantuku di sini. Hari ini kita sampai jam segini dulu. Besok kita sampai jam lima ya."
"Baiklah nyonya."
"Nyonya lagi!" Laras mengacungkan ujung jari telunjuk. Menggoyangkan ke kiri dan ke kanan.
"Hahahaha baiklah Laras temanku yang baik hati."
"Ayo kita pulang."
Mereka menutup pintu toko dan memberi gembok lalu berpisah. Laras menggunakan motor yang diambilkan oleh pak Uun tadi siang sedangkan Ririn telah memesan ojek online.
🌾🌾🌾🌾
__ADS_1
Jangan lupa like, comment & vote.
❣️❣️❣️