
Vim melangkah pasti memasuki pintu depan kantor. Tanpa sengaja bertemu asisten Joel yang juga baru tiba. Dua pemuda berjalan dalam jarak yang tidak terlalu jauh. Jika Vim berusia dua puluh tujuh tahun maka Joel baru berusia 25 tahun.Joel berada di belakang Vim. Sengaja memperlambat langkahagar tidak mendahului Vim.
Vim menyadari ada seseorang berjalan di belakangnya. Tapak sepatu Joel mengeluarkan bunyi yang pelan namun bisa terdengar oleh Vim. Satu lagi suara tapak sepatu wanita terdengar lebih kuat.
"Di depan lift Vim berhenti.
Menunggu Joel memencet tanda di pintu lift.
"Tuan selamat pagi."
"Selamat pagi Joel. Kau baru menyapaku padahal tadi kau berjalan di belakangku."
"Maaf Tuan, saya tidak mau mengganggu anda." Joel berkilah.
"Tunggu!"
Joel menahan agar pintu lift tidak tertutup. Wanita cantik dengan tinggi ideal ikut masuk ke dalam lift. Joel mengenalnya. Begitupun Vim.
Wanita yang selalu dihindari Vim itu kini berada tepat di sampingnya. Joel memasang wajah tidak perduli padahal di dalam hatinya Joel berkata-kata sendiri. Menilai bos dan Aurora yang menurutnya lebih cocok berada di sebelah Vim. Tinggi seimbang tidak berbeda terlalu jauh walaupun tetap Vim yang lebih tinggi. Dibandingkan dengan nona Laras yang hanya setinggi leher Vim, Aurora lebih pas di samping Vim.
Dan pemandangan di depan mata Joel ini akan menjadi indah bila ada Laras. Dipastikan perseteruan terjadi antara Laras dan Aurora. Seperti waktu itu, pikir Joel.
"Joel agenda hari ini?" Vim bertanya pada Joel.
"Pukul satu undangan makan siang di bright tower Tuan."Jawab Joel.
"Yang lain?"
"Hanya itu Tuan."
Pintu lift terbuka. Vim segera melangkah. Aurora juga tergesa keluar seperti hendak mengejar sesuatu. Hingga tubuh mereka bersamaan memenuhi pintu lift.
Joel tersenyum simpul.
"Maafkan aku Vim. Aku terburu-buru." Kata Aurora.
"Silahkan duluan. Oya kemungkinan minggu depan kau pindah dari sini."
"Oya? Apa sudah tidak ada tempat buatku di sini?"
"Kau lebih pantas di sana Aurora. Sesuai dengan ilmu yang kau miliki."
"Aku bisa apa Vim. Keputusan adalah milikmu.'
"Tunggu saja beritanya."
"Baik. Aku duluan Vim."
"Ya."
"Body yang aduhai." Joel berkata lirih seolah-olah untuk dirinya sendiri.
"Ulangi Joel."
Joel tidak menyangka Vim mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Body Sis Aurora Tuan, cakep."
"Kau tertarik? Boleh kau dekati."
"Mana berani saya Tuan. Level saya jauh di bawahnya."
Mereka berdua hampir tiba di depan pintu ruangan mereka.
"Kau tahu cinta itu tidak mengenal level, umur, status sosial. Kalau kena panahnya ya semua itu bisantak berarti sama sekali. Kau mengerti?" Vim menggurui Joel.
"Begitu Tuan. Saya mulai paham."
Joel telah sampai di mejanya. Vim melewati beberapa orang staf sebelum memasuki ruangan ya sendiri.. Staf yang lain sudah berada di belakang meja masing-masing. Hari ini atasan mereka datang lebih cepat.
"Selamat pagi Tuan."
Sapaan hangat terdengar beberapa kali. Vim menjawab satu persatu. Kemudian masuk ke ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya.
Vim tidak langsung bekerja. Masih menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi serta menelpon seseorang. Rupanya Vim menelpon Dion.
"Pagi bro. Bagaimana pekerjaan yang kutanyakan minggu lalu."
'.....'
"Di tempatmu nggak ada? Di tempat temanmu dong."
'......'
"Kau saja yang carikan. Jika aku mencarikannya pekerjaan, dia akan merasa berhutang budi padaku. Itu sangat tidak baik untukku Di."
'.....'
"Apa?! Yang benar saja Aurora kau beri pekerjaan itu?? Aku tunggu beritanya Sabtu depan, oke??"
Percakapan berakhir. Dion belum menemukan pekerjaan yang sesuai untuk Aurora. Yang tersedia hanya lowongan untuk office girl. Vim menggerutu.
Sebuah berita muncul di televisi yang dihidupkan oleh Vim.
" Anak perusahaan Nomissi melaporkan Big Hope atas tuduhan pencemaran nama baik. Sebelumnya Big Hope menyatakan bahwa Nomissi telah mengambil data-data mereka secara ilegal."
Itulah secuil berita yang dilihat Vim barusan. Vim tidak memperhatikan berita lebih lanjut. Ia menekan nomor kontak pengacaranya dan tersambung.
"Selamat pagi Pak. Tolong tangani laporan Nomissi dan saya melaporkan mereka karena mencuri data saya."
'.....'
"Terima kasih Pak. Selamat pagi."
Vim menutup panggilan. Tubuhnya berdiri dengan kedua telapak tangan bertumpu di atas meja. Wajahnya menyiratkan kemarahan. Anak perusahaan Nomissi melaporkannya. Rupanya mereka tidak sadar telah melakukan kesalahan yang lebih parah darinya. Jika Vim mau ia bisa melaporkan mereka duluan tapi ia tidak melakukannya. Sebaliknya perusahaan Rony yang melaporkan Vim.
"Masuk Tuan."
"Masuk."
Joel membawa sepucuk surat dan menyerahkan kepada Vim. Vim membuka surat tersebut kemudian membacanya. Isinya panggilan menemui pihak berwajib atas laporan seseorang pada dirinya.
__ADS_1
"Tuan berita di televisi_.."
"Aku sudah tahu Joel. Pengacara akan mengurusnya."
"Baik Tuan. Semoga masalah ini cepat selesai."
"Aamiin. Terima kasih Joel."
Vim tidak terlalu bersedih atas pelaporan terhadap dirinya. Toh ia bisa membalas Rony dengan pelaporan juga.
Satu lagi yang membuat Vim senang, produk baru milik perusahaannya terjual laku di pasaran mengungguli produk milik Rony. Manajer pemasaran telah menelpon Vim menyampaikan berita baik tersebut.
Kerja keras bagian pengembangan produk dan bagian pemasaran membuahkan hasil. Sebentar lagi mereka akan menikmati bonus yang pernah dijanjikan oleh Vim.
Vim tersenyum puas. Membayangkan reaksi Rony menghadapi kenyataan ini. Vim merasa tak pernah memulai semua ini. Jika orang lain mengusik usahanya, Vim tidak akan tinggal diam.
Tiba-Tiba Vim mengingat Laras. Ingin segera kembali ke rumah dan membelikan sesuatu untuk Laras sebagai ungkapan rasa bahagianya atas rezeki yang di dapat. Tentu ada rezeki untuk sang istri dibalik ini semua.
Berpikir lagi untuk membelikan seikat buket bunga kepada Laras. Di mulai dari yang kecil dulu sebagai permulaan pikirnya.
Satu jam sebelum pulang, Vim berpamitan pada Joel. Pulang lebih awal. Rasa kangennya datang mendera. Sebelum tiba di rumah Vim singgah untuk membeli sebuah buket bunga nan cantik.
"Silahkan dipilih Tuan." Penjual menawarkan. Vim hendak memilih satu yang paling bagus tapi ia terlihat bingung. Semuanya indah.
"Mengapa bagus semua bu?" Pertanyaan Vim konyol.
"Jika tidak bagus tidak akan laku Tuan. Apa Tuan membeli semuanya saja buat istri Tuan?"
"Tidak Ibu. Saya pilih yang ini saja."
Bungapun didapat. Vim membayar dengan harga lebih. Tidak mengambil uang kembalian. Ibu penjual merasa senang.
"Terima kasih Tuan. Semoga murah rezeki dan istri Tuan menyayangi Tuan selamanya ." Tutur Ibu penjual.
"Terima kasih Bu."
Vim membawa buketnya ke dalam mobil. Hari ini ia memilih menyetir kendaraan sendiri. Tidak memakai jasa Pak Uun.
Bruuuumm.
Mobil melaju meninggalkan ibu penjual bunga. Vim tidak sabar
untuk menemui Laras. Tiga puluh menit kemudian ia tiba di rumah. Disambut dengan senyuman oleh Laras.
"Buatmu Laras."
"Wow indah sekali mas."
"Kau suka?" Laras mengangguk senang lalu menyium bunga tersebut. Berikutnya mengalungkan kedua lengan di leher Vim dan menghadiahi Vim sebuah kecupan.
"Terima kasih sayang."
🌷🌷🌷🌷🌷
Masih tetap semangat menulis walaupun mata seperti bolam lima watt.🤗🤭✌️
__ADS_1
Like, fav & comment, please..