Love In Pesantren

Love In Pesantren
Perjuangan cinta


__ADS_3

Setelah mendapat izin dari sang mertua, Haqi beranjak menuju kamar yang diketahui sebagai kamar Hulliyah. Haqi mengetuk pintu itu, namun tak ada respon dari dalam. Tak menyerah sampai di situ, Haqi membuka pintu kamar perlahan.


Pertama yang dilihatnya adalah dekorasi kamar pengantin yang masih terpasang.


Kemudian matanya mendapati sosok Hulliyah yang tengah membelakanginya, Hulliyah menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.


Hulliyah bahkan tak menyadari kedatangan Haqi.


"Assalamualaikum."


Hulliyah mengerjap lalu membalikkan tubuhnya menghadap Haqi yang sudah mendekat. Jarak mereka tinggal dua langkah lagi akan berdekatan.


"Waalaikumussalam."


Hulliyah memalingkan pandangannya setelah tadi sempat bersitatap sebentar.


"Saya ingin bicara sebentar." kata Haqi.


"Silahkan!"


Duh suami istri ini kaku banget ya.


Mereka duduk di tepian ranjang saling membelakangi, Hulliyah di sisi kiri sementara Haqi di sisi kanan.


"Saya pamit pulang."


"Iya."


Hulliyah menjawab cepat.


Haqi menoleh ke arah istrinya tersebut, menatap punggungnya. Ingin rasanya Haqi mendekapnya, menjatuhkan Hulliyah ke dalam pelukannya.


"Maaf, saya menikahi Sypa seperti ini."


Hening.


"Tapi saya berjanji akan segera meresmikannya," lanjut Haqi.


"Kenapa Kak Haqi melakukannya?"


Huliyah berbicara dengan nafas memburu.


"Seharusnya Kakak tidak usah berbuat sejauh ini, apa Kakak kasihan pada saya?"


"I-itu ...."


"Saya tidak butuh dikasihani, kalau begini saya jadi bingung. Kakak bisa langsung mentalak saya sekarang juga."


Haqi terhenyak dengan perkataan Hulliyah.


"Saya tidak akan pernah melakukan itu."


Hulliyah tak menjawab, Haqi hanya melihat punggung sang istri bergetar seperti sedang menahan tangis. Haqi menatap punggung itu dengan sendu. Haqi mengerti dengan keadaan Hulliyah saat ini, hati Haqi perih tatkala mendengar isakan halus di balik punggung itu.


"Tunggu saya kembali, saya pasti kembali ke sini."


Belum sempat Hulliyah menjawab, ketukan pintu membuyarkan obrolan itu.


"Waktunya habis, cepat keluar!"


Teriakan dibalik pintu itu membuat Haqi berdiri.


"Saya pergi dulu, assalamualaikum."

__ADS_1


Haqi pun berjalan menuju pintu itu, saat Haqi akan memegang handel pintu, tiba-tiba Hulliyah berkata, " tunggu!"


Hulliyah berjalan mendekati Haqi, mereka kini saling berhadapan. Hulliyah menunduk kemudian meraih tangan sang suami dan menciumnya.


Haqi terkejut dengan tindakan Hulliyah, sebelum akhirnya ribuan bunga berjatuhan dalam hatinya. Rasa haru tiba-tiba menyeruak dalam dada.


Sebelah tangannya mengelus kepala Hulliyah dengan ragu.


Hulliyah pun melepaskan tangan Haqi, Hulliyah jadi salah tingkah sendiri, menunduk dalam menyembunyikan wajahnya dari pandangan Haqi.


"Buka pintunya!"


Suara sang ayah dari luar membuat Haqi terburu-buru membuka pintu itu.


"Kamu tidak ngapa-ngapain anak saya kan?"


Sang mertua menarik tangan Haqi menjauhi kamar itu.


"Ayah! Biar bagaimanapun nak Haqi menantu kita, jangan kasar begitu!"


Sang ibu tidak suka dengan perbuatan suaminya.


"Helleh ... ini gara-gara ibu! Ayah terpaksa menikahkan Hulli dengan lelaki tidak jelas ini." Sang ayah menghardik.


"Tapi nak Haqi kelihatannya anak baik."


"Darimana Ibu tahu? Ketemu juga baru hari ini, tadi apa pekerjaannya? Guru?"


Sang ayah berdecak kemudian menatap Haqi dengan tatapan penuh.


"Seorang guru gajinya berapa sih? Apa bisa dia menghidupi anak kita? Harusnya ibu berpikir jauh sebelum memutuskan!" teriak sang ayah.


"Ayah, rejeki sudah ada yang mengatur. Ayah tidak usah pusing memikirkannya."


Ibu mencoba menenangkan sang suami.


Aiisshh ayah Hulliyah penghinaan begini ya.


Ustadz Zamzam sudah akan maju untuk membalas perkataan mertuanya Haqi, namun Haqi memegang lengannya sambil menggelengkan kepalanya.


"Pak, Bu, saya permisi pulang dulu! Nanti saya akan kembali bersama orangtua saya." ucap Haqi.


"Pergi sana! Pergi! Gembel aja sombong, kalau bisa pas ke sini bawa pesawat. Haha eh lupa mana ada gembel pake pesawat."


Eh ayah Hulliyah kenapa nyakitin bebeb Haqi ya?


---------------------


Tiga hari telah berlalu dari insiden pernikahan yang maha heboh itu. Hulliyah mulai menata hidupnya kembali, Hulliyah sudah mulai keluar rumah sekedar untuk menjemur diri.


Seperti pagi ini, Hulliyah berdiam diri di depan rumah menikmati segarnya udara pagi hari. Tetesan embun membasahi dedaunan nan hijau, semilir kesejukkan angin menerpa wajah. Sang netra dimanjakan hamparan perkebunan di seberang rumah.


"Lia, sehat?"


Seorang tetangga yang tidak sengaja lewat menyapa Hulliyah, kemudian mendekatinya.


"Alhamdulillah Bu," jawab Hulliyah.


"Suami dadakannya belum nengokin lagi ya?"


Eh.


Hulliyah hanya tersenyum menanggapi tetangganya itu.

__ADS_1


Tetangga itu semakin mendekati Hulliyah kemudian berbisik, "tadi pagi Den Beni pulang sama wanita cantik banget."


Ini mau manas-manasin atau apa sii?


Hulliyah tersenyum lagi walau getir hatinya mendengar itu semua.


Menahan air mata yang tanpa diundang sudah berkumpul di pelupuk mata itu sulit. Hulliyah memalingkan pandangannya ke arah jalanan setapak, kemudian mata berairnya menangkap sosok yang tiga hari ini berstatus sebagai suaminya.


Ya, Haqi nampak berjalan mendekati rumah Hulliyah.


Haqi sampai di halaman rumah Hulliyah dan berhenti sejenak, memberikan senyuman pada Hulliyah yang sedang memandangnya.


"*Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam* ... eh suaminya pulang, ibu permisi dulu ya Lia."


Tetangga itu kalang kabut meninggalkan rumah Hulliyah.


Kini, Haqi dan Hulliyah masih berdiri di teras itu saling bertatap-tatapan. Keduanya bingung harus bagaimana bersikap.


Hulliyah lebih dulu tersadar, "Eh Kakak, ayo duduk!"


Hulliyah mengajak Haqi duduk di kursi plastik yang ada di teras itu.


"Mmm ... eh minum ya? Sebentar aku ambilkan minum dulu."


Hulliyah gelagapan tidak jelas.


"Tidak usah Sypa, saya ke sini hanya sebentar. Mau bertemu dengan bapak."


Eh kenapa ya, Hulliyah sedikit kecewa karena alasan Haqi datang hal itu.


"O, sebentar saya panggilkan Kak."


Hulliyah pun masuk ke dalam rumah.


Tak lama kemudian, sang ayah keluar diiringi Hulliyah.


"Hulli masuk!" titah sang ayah.


Hulliyah pun terpaksa masuk ke dalam rumah, sementara Haqi tak mengalihkan pandangannya mengikuti gerak tubuh Hulliyah yang mulai menghilang di balik pintu.


"Mana orangtua kamu?"


Nada suara ayah masih tak bersahabat.


"Kedatangan saya ke sini untuk membicarakan masalah itu Pak."


"Apa yang ingin kamu bilang?"


Haqi menarik napasnya terlebih dahulu sebelum akhirnya berkata, "Orangtua saya tinggal di Palembang Pak, mereka belum ada waktu untuk datang ke sini."


"Itu alasan kamu 'kan?" seru ayah.


"Tidak Pak, orangtua saya berhalangan hadir karena mereka benar-benar sibuk."


Sang ayah memelototkan kedua matanya geram.


"Alasan. Pokoknya saya tidak peduli apapun alasannya, kamu harus membawa orangtua kamu ke sini. Ya, kalau tidak saya tidak akan mengizinkan kamu menemui Hulli."


"Tapi Pak, tujuan saya ke sini untuk meminta izin membawa Sypa ke Palembang. Ibu saya ingin bertemu langsung."


Haqi sedikit memohon.

__ADS_1


"Kalau ingin bertemu langsung, suruh mereka datang ke sini. Lebih baik kamu jangan ke sini lagi sebelum berhasil membawa orangtua kamu. Sekarang, pergilah!"


Sang ayah masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Haqi yang termangu karena ucapannya.


__ADS_2