Love In Pesantren

Love In Pesantren
Motivasi hidup


__ADS_3

Hari ini munaqosah digelar, anak-anak calon wisudawan dan wisudawati sudah berkumpul memenuhi Aula. Raut wajah tegang tercetak jelas dari orangtua yang juga hadir menyaksikan anak-anak mereka yang hendak dites kecakapan dalam hapalan itu.


Berbeda dengan orangtua mereka yang sedang dilanda sindrom gugup dan harap-harap cemas, anak-anak yang rata-rata berusia enam tahun itu malah dengan asiknya bersenda gurau tanpa merasakan kegugupan apapun.


Hulliyah yang saat itu sudah bersiap di tempatnya pun menyaksikan bagaimana berbedanya pola pikir antara orang dewasa dan anak-anak.


Seharusnya orang dewasa harus banyak belajar dari anak-anak yang polos. Jika anak-anak hari ini bertengkar besoknya mereka sudah bermain kembali, tetapi orang dewasa yang sudah memiliki pemikiran matang justru sering bersikap kekanakkan dan pendendam.


"Assalamualaikum ... Hulli."


Ucapan salam membuyarkan renungan yang tercipta dalam kepala Hulliyah.


"Waalaikumussalam, Nimas?"


Hulliyah sumringah mengetahui seseorang yang memberikan salam itu ialah Nimas. Mereka berpelukan sejenak, kemudian Nimas duduk di sebelah Hulliyah.


"Eh jangan di situ! Ini tempatnya pendamping," kata Hulliyah.


"Aku juga pendamping, kemarin Bi Haji minta aku buat jadi pendamping anak-anak."


"Terus Zamima dan Khalila dimana?" Mata Hulliyah berkeliling menyisir Aula guna mencari anak-anak dari sahabatnya.


"Mima dibawa Ibuku ke rumahnya, kalau Lila di rumah sama Ibu Mertua," kata Nimas memelankan suaranya karena acara akan segera dimulai ditandai dengan para petugas yang sudah mulai berdatangan.


Acara pun berlangsung dengan lancar, anak-anak yang nampak tenang ternyata memang sudah benar-benar menguasai hapalan suroh-suroh pendek dan do'a-do'a pilihan yang dites hari ini.


-----------------


Seusai acara, Nimas dan Hulliyah masih berada dalam Aula. Mereka mengecek nilai yang tadi diberikan oleh petugas munaqosah.


"Oh iya Li, Rista bakalan ke sini loh," kata Nimas sesaat setelah mereka membereskan kertas-kertas berisi nilai itu.


"Kapan?"


"Tanggal limabelas katanya," jawab Nimas.


"Tanggal limabelas kan sekarang."


Nimas terdiam sejenak mengingat-mengingat hari dan tanggal hari ini.


"Berarti memang hari ini. Hayu ah kita keluar! Siapa tau Rista udah datang."


Hulliyah dan Nimas bersemangat membereskan kertas-kertas itu kemudian mereka keluar dari Aula dengan raut wajah yang cerah. Mereka sangat merindukan Rista si centil yang dulu jadi primadona kobong.


--------


Hulliyah dan Nimas mencari sosok itu, sosok Rista diantara banyaknya orang yang kala itu ada di area Pesantren.


Banyaknya orang yang ada di sana membuat mereka kesulitan mencari Rista.


"Belum datang kali, ke kobongku dulu yuk!" ajak Hulliyah.


Mereka berjalan berdampingan melewati lorong menuju kobong Hulliyah yang terletak paling ujung.


Hulliyah dan Nimas tertegun melihat seseorang terduduk di depan kobong Hulliyah. Seseorang yang berbalut kerudung syar'i panjang itu duduk di bangku bambu sambil membaca buku.


"Rista?"


Nimas meyakinkan bahwa orang itu adalah sahabatnya.


Ketika orang itu menoleh, keriangan langsung tercipta diantara mereka. Hulliyah dan Nimas berhamburan memeluk sahabatnya yang juga merentangkan tangannya menyambut datangnya dua orang yang sedari tadi ditunggu.

__ADS_1


Mereka berpelukan mencairkan rasa rindu yang selama ini membeku.


"Ko ada yang ganjel?"


Hulliyah melepas pelukannya dan mengamati perut Rista yang tertutupi kerudung panjang itu.


"Kamu hamil Ta?" tanyanya.


Rista mengangguk seraya memberikan senyuman termanisnya.


"Alhamdulillah."


"Yeay ... alhamdulillah, aku dapat ponakan baru." Hulliyah girang bukan kepalang.


"Ponakan mulu, anak sendirinya kapan?" goda Nimas.


"Iya, kapan? Kalau bisa secepatnya biar nanti umur anaknya gak jauh beda, terus kita masukin Pesantren yang sama."


Rista menghayal.


"Ah penyakit lamanya kambuh. Yuk masuk dulu!"


Hulliyah yang enggan menanggapi kebiasaan Rista yang selalu berkhayal kemudian mengajak para sahabatnya itu untuk masuk ke dalam kobong.


"Neli kemana Li?" tanya Nimas.


"Udah dua hari aku di kobong sendiri, Neli pulang kampung," jawab Hulliyah.


"Wah ... bisa dong suruh Bang Haqi nginep?"


Lagi-lagi Nimas menggoda sahabatnya itu.


"Ye ... mana boleh," kata Hulliyah.


"Ish ... kalian."


Hulliyah berhenti menanggapi ocehan kedua sahabatnya itu dan lebih memilih membuka laci lemari kecil yang ada di samping tempat tidurnya.


"Eh sini deh! Kalian masih inget foto ini?"


Hulliyah mengeluarkan sebuah foto tanpa pigura dan memperlihatkannya pada Rista dan Nimas.


"Ya ampun ini kita."


Nimas mendadak berkaca-kaca melihat foto dimana mereka berlima ada di dalamnya.


"Sofi paling cantik ya mashaalloh," kata Rista yang juga dilingkupi keharuan.


"Allohummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fuanha."


Mereka serentak berdoa untuk Sofia.


------------------


Setelah kesedihan pasti ada kebahagiaan, setelah kehilangan pasti ada kemenangan.


Setidaknya motivasi itu bisa dipegang manusia untuk bersemangat menjalani hidup ini seikhlas-ikhlasnya.


Malam ini Hulliyah merenung sendiri di dalam kobongnya. Semua yang telah dia lewati kini tinggal selangkah lagi menuju hidup normal. Pernikahan yang diidamkan tidak selalu nampak indah diawal.


Hulliyah hanya berharap tidak akan ada kendala dalam rencana manisnya ke depan.

__ADS_1


Lamunan Hulliyah seketika buyar ketika terdengar suara salam dan ketukan pintu dari arah luar.


"Waalaikumussalam, siapa?"


Hulliyah membuka pintu dan terkejut melihat seseorang di balik pintu itu.


"Malam Sypa ...."


Sapaan seseorang yang selalu memanggilnya Sypa meyakinkan Hulliyah bahwa ini bukanlah mimpi. Iya, Haqi datang.


"Boleh masuk?" tanya seseorang itu lagi.


Hulliyah mengerjap dari mencoba menguasai diri dari keterkejutan itu.


"I-iya silahkan!"


Hulliyah membuka lebar pintu kobong itu.


"Kakak sedang apa di sini?" tanya Hulliyah sesaat setelah mereka masuk ke dalam kobong dan duduk berselonjor kaki di bawah tempat tidur.


"Ngapelin istri," kata Haqi dengan entengnya.


Kalimat sederhana itu nyatanya mampu membuat rona berwarna merah jambu menyembul jelas di kedua pipi Hulliyah.


"Sypa tenang saja, aku udah izin Mama Haji kok. Meskipun katanya ini yang terakhir." Haqi tergelak mengingat ancaman Mama Haji terhadapnya ketika dia meminta izin untuk menginap di Pesantren.


"Harusnya Kakak ga usah nginep di sini! Kalau santri yang lain tahu aku gak enak."


"Iya, ini terakhir kok. Sekalian aku minta izin Sypa untuk pulang ke Palembang," kata Haqi.


Hulliyah menoleh ke arah Haqi yang ada di sebelahnya.


"Ke Palembang?"


Haqi mengangguk seraya menghela napas dalam, tatapannya berubah sendu. Hulliyah menatapnya dalam mencoba menebak arti dari gerak gerik suaminya itu.


"Abi sakit, sekarang dirawat di rumah sakit."


"*Innalillah*i, Abi sakit apa?" tanya Hulliyah.


Haqi kini menghadap ke arah Hulliyah, ditatapnya wajah sang istri dan membelai pipinya lembut.


"Aku belum tahu kepastiannya Abi sakit apa, makanya besok aku dan Ummi mau ke sana."


Kini Hulliyah menunduk lesu, ada rasa tidak rela untuk membiarkan Haqi pergi.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2