
Malam ini Ustadz Zamzam dan Nimas tengah menikmati makan malam berdua, Zamima sudah lama tertidur. Mereka makan dengan cahaya temaram yang berpendar dari sebuah lilin.
Uh romantisnyaaa.
Bukan, bukan karena ingin romantis. Tapi memang keadaan saat itu sedang mati listrik.
"Kalau makan gelap-gelapan begini enak ya neng."
Haiissh enak katanya.
"Apanya yang enak A, ga kelihatan yang ada."
Bener Nim, nanti salah masukin nasi ke hidung haha.
"Yeee, ini kan romantis sayang."
Mulai deh ah.
Nimas tak menghiraukan ucapan suaminya. Nimas tahu kalau terus meladenin suaminya, ini akan berakhir pada pipinya yang merona. Jadi sebelum itu terjadi Nimas memilih fokus memakan makanannya.
Setelah usai makan, Nimas tak langsung ke kamar sebab Ustadz Zamzam menggiringnya ke ruang tamu.
"Mau apa sii A, nanti Mima bangun."
Sedetik setelah mereka duduk berdampingan, sambil gelap-gelapan tentunya.
"Sebentar saja, aku mau ngobrol."
Ustadz Zamzam membalikkan tubuh Nimas kemudian merengkuhnya dari belakang. Ustadz Zamzam menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Nimas.
"A, jangan gini! Nanti ada yang lihat."
Ustadz Zamzam tergelak pelan, sesekali bibir nakalnya menciumi leher Nimas.
"Siapa yang mau lihat neng? Lagian di sini ga ada orang."
Hei author kau anggap apa heuh?!
Nimas pun pasrah mengikuti keinginan sang suami.
"A, besok aku ke Pesantren."
Tiba-tiba Ustadz Zamzam memberi jarak antara kepalanya dan leher Nimas itu.
"Mau ngapain?"
"Aa lupa yaa, besok kan ada donatur buat pembangunan madrasah baru. Ibi memintaku datang, Sofia juga bakal datang."
Sang Ustadz mengembalikan kepalanya ke posisi awal.
"Aku juga besok ke Pesantren."
Kini giliran Nimas yang keheranan.
"Loh, mau ngapain?"
"Besok rombongan LKS Nasional, direncanakan berkunjung ke Pesantren. Aku diminta mengisi taujih besok."
Nimas pun mengangguk.
Sang Ustadz dengan tidak sabaran membalikkan tubuh Nimas.
Dalam kegelapan itu, tangan sang Ustadz meraba-raba setiap lekuk wajah Nimas.
Sang Ustadz menciumi setiap inci wajah sang istri, di kecupnya penuh kasih. Makin lama hawa panas makin menjalar diantara dua insan itu. Sang Ustadz bahkan sudah menindih tubuh Nimas di atas kursi panjang itu.
Adegan mereka makin panas, tidak untuk ditiru ya!
Beberapa saat kemudian Zamima terdengar menangis.
Nimas sontak mendorong suaminya, kemudian beranjak dan berjalan sambil meraba-raba.
Ustadz Zamzam hanya bisa menggigit bibirnya sendiri. Ditinggalkan saat lagi asik-asiknya, eh astagfirulloh.
Buyar sudah hasrat sang Ustadz.
Kasihan deh hihi.
-----------------
Keesokan harinya, Nimas bersama Ustadz Zamzam berangkat menuju Pesantren.
Mereka memilih berjalan kaki, sang Ustadz menggendong anaknya. Nimas berjalan di sampingnya, sesekali mereka bercanda bersama menikmati setiap langkah menuju Pesantren.
Setibanya di Pesantren mereka berpisah, Nimas menuju aula sementara sang Ustadz memilih menemui Mama Haji di rumahnya.
Saat memasuki aula, Nimas mendapati Sofia sudah berada di dalam sana.
__ADS_1
Dengan senyuman tergambar jelas dari bibirnya, Nimas menyapa Sofia.
"Assalamualaikum, Sofia."
Sofia yang awalnya tidak mengetahui keberadaan Nimas, sontak menoleh dan kegirangan.
"Waalaikumussalam Mimaaa."
Sofia meraih Zamima dan menggendongnya.
Nimas tampak cemberut.
"Kamu kenapa Nim?"
Sofia merasa keheranan melihat tingkah Nimas.
"Yang temen kamu itu aku apa Mima si?"
Ya ampun Nimas cemburu sama anak sendiri.
Sofia tertawa mendengar rengekan Nimas. Sofia sangat menyukai sisi kekanakkan dalam diri Nimas. Meskipun terlihat dewasa dan anggun, Nimas tetaplah Nimas si anak bungsu yang lucu.
"Mima, lihat tuh ibunya merajuk."
Sofia berbicara pada Zamima yang ada dalam gendongannya.
Zamima yang belum mengerti malah membuat suara-suara yang membuat Nimas dan Sofi tertawa dibuatnya.
Acara pun dimulai, Sofia masih memangku Zamima yang terlihat anteung itu. Nimas di sebelahnya, sesekali mengedarkan pandangan mencari Ustadz Zamzam.
"Nimas, aku mau ngasih tahu sesuatu."
Tiba-tiba Sofia berbicara setengah berbisik karena sang donatur di panggung sana tengah memberi kata sambutan.
"Ngasih tahu apaan?"
Nimas penasaran.
"Aku sedang bahagia."
Hah?
Nimas mengerutkan keningnya, belum sempat Nimas bicara. Suara di atas panggung membuatnya terdiam seketika.
"Dimohon untuk tidak mengobrol selama acara!"
Sebentar lagi acara usai, Zamima mulai rewel. Nimas memilih membawa Zamima keluar dari aula.
Setelah berada di luar Nimas mencoba menenangkan Zamima.
Nimas melihat ada rombongan yang datang.
"Oh mungkin itu rombongan LKS Nasional yang dibilang A Zam."
Nimas kembali fokus pada Zamima yang rewel.
"Teh Nimas!"
Sebuah suara yang menyebut namanya membuat Nimas menoleh.
Nimas mencari asal suara tersebut ada di antara rombongan. Tak lama salah seorang dari mereka melambaikan tangannya.
"Shanti?"
Nimas menerka tatkala mengenali seseorang diantara rombongan tersebut.
Anak yang dipanggil Shanti tersebut berjalan ke arahnya bersama seorang temannya.
"Assalamualaikum teh, kumaha damang?"
Sapa Shanti yang merupakan kerabat Nimas.
"Waalaikumussalam, pangestu. Shanti ngiring LKS Nasional yang di Singaparna?"
"Iya teh, ini kenalin temen aku Bening. Dia dari Propinsi Kepulauan Riau."
Shanti mengenalkan temannya pada Nimas. Sekilas Nimas lihat seorang gadis bernama bening itu sangat cantik.
Bening pun tersenyum dan menyodorkan tangannya sopan.
"Assalamualaikum Ustadzah."
Namun ketika Bening akan mencium tangan Nimas, Nimas segera menarik tangannya.
"Walaikumussalam,eh gak usah cium tangan. Aihh bening pisan kamu tuh, manggilnya teteh atau kakak aja ya jangan Ustadzah."
Nimas merasa tak nyaman dengan panggilan dari bening barusan.
__ADS_1
"Tadinya, aku fikir ga bakal ketemu teteh di sini, iih ga nyangka bisa ketemu Zamima. Makin gembul aja sii adeek."
Shanti merasa gemas pada Zamima.
"Iya kebetulan banget ya, Teh Sofi baru aja pulang barusan. Mima rewel mungkin kepanasan makanya teteh keluar."
Bening terlihat melihat ke arah dalam aula.
"Lagi ada acara ya teh di dalam?"
"Iya acara donatur pembangunan Madrasah baru, hayu atuh masuk!"
Ajak Nimas pada Bening, seorang gadis yang sepertinya sangat ingin tahu.
"Pengen sii tapi takut ditinggal rombongan hehe."
Nimas tersenyum.
"Ya udah jalan-jalan aja dulu deh, nanti sepertinya A Zam juga akan ngisi taujih buat LKS Nasional. Mungkin setelah acara ini.
Nimas kembali menenangkan Zamima yang kembali rewel.
"Oo, ya udah deh kita permisi dulu teh. Assalamualaikum, bye Zamima."
Shanti dan Bening berpamitan pada Nimas untuk menyusul rombongan yang hampir menjauh.
---------------
Setelah acara santunan usai, kini giliran acara taujih untuk rombongan LKS Nasional, rombongan pun masuk ke dalam aula setelah tadi puas berkeliling di area Pesantren.
Ustadz Zamzam naik ke atas panggung kecil itu dan mulai memberikan taujih kepada rombongan LKS tersebut.
Sang Ustadz memilih tema umum yakni keutamaan bersilaturahmi dan keberkahan yang akan didapatnya.
Semua siswa di sana sangat antusian mendengarkan taujih sang Ustadz bahkan ada di antara mereka yang mencatatnya kedalam buku catatan mereka.
Acara pun lancar tanpa kendala dan sukses seperti yang telah di rencanakan.
Pesantren bukan hanya untuk mencari ilmu melainkan untuk mempererat persaudaraan sesama manusia.
Pesantren menyenangkan juga yaa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Haha, intermezo pemirsa.
Kalau yang penasaran sama kisahnya si Bening bisa di cek tuh di OTW Soleha.
Gimana kolaborasi kita hihi?
Mohon maaf bila ada adegan-adegan yang tidak sesuai yaa, author hanya manusia biasa yang suka berbuat dosa.
Duh ilah udah ah.
Terimakasih kalian setia membaca jangan lupa like, komen, terus kalau mau bisa vote juga.
Dasar author serakah haha.
__ADS_1