Love In Pesantren

Love In Pesantren
Sofia pengganggu


__ADS_3

Setelah sadar akan kesalahannya Sofia bergegas menyalakan kompor. Dia mulai membuat telur mata sapi tanpa garam kesukaan Farrel, Sofia melakukannya sambil terus tersenyum.


Emang enak telur tanpa garam?


Mungkin biar ga tambah darah tinggi jadi Farrel mengurangi


makan garam hihi.


Sofia tidak tahu kenapa dirinya bisa sebahagia ini. Yang jelas ada perasaan membuncah dalam dadanya, perasaan semacam mendapat air di tengah gurun pasir.


Ketemu unta ga Sof?


Beberapa saat kemudian Sofia keluar dapur menenteng piring berisi nasi putih beserta telur tadi.


Di ruang tamu, Sofia mendapati Farrel tengah sibuk seperti biasa dengan ponselnya.


Sofia menyodorkan piring itu dan duduk agak jauh dari Farrel.


"Kenapa kalau mau pergi ke luar kota, kamu tuh ga pernah bilang sama aku?"


Sofia merasai jadi istri yang sesungguhnya nih.


Namun yang ditanya malah asik melahap makanannya tanpa menjawab Sofia.


"Aku perlu tahu Rel, biar aku ga salah paham."


Akhirnya Sofia mengeluarkan beban dalam hatinya.


Farrel balik menatap Sofia.


"Emang penting?"


Nadanya sinis gitu Rel.


Sofia meringis memegangi pundaknya, ah ternyata memang ini Farrel.


Saat sedang mengusap pundaknya itu barulah dia sadar, jika dia melupakan penutup kepalanya.


Sontak Sofia lari ke dalam kamar, Farrel yang kaget karena Sofi lari memilih acuh dan melanjutkan makannya.


Sementara di dalam kamar, Sofia memandangi dirinya di balik cermin.


Lagi-lagi dia meringis melihat dirinya sendiri yang terlihat amat sangat menyedihkan.


Lingkaran hitam di matanya adalah hasil karya dirinya selama dua minggu ini. Menangis tidak jelas.


------------------------


Setelah semalam mereka bermalam di rumah orang tua Sofia, kali ini Farrel kembali membawa Sofia ke rumahnya.


Ini bagaikan mimpi bagi Sofia.


Masih belum bangun juga kamu?


Sesampainya di rumah, Sofia nampak keheranan melihat seorang wanita tengah terduduk di kursi yang ada di teras rumahnya.


"Farreeel."


Teriak wanita itu manja.


Farrel melambaikan tangannya sambil tersenyum.


"Kamu nyuruh pacar kamu ke sini?"


"Iya."


Farrel melenggang meninggalkan Sofia di balik gerbang.


Sofia menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian menyusul Farrel.

__ADS_1


Baru saja wanita itu yang Sofia tahu bernama Rani, akan mencium pipi Farrel dengan cepat Sofia menarik baju Farrel.


"Kenapa sii?"


Farrel mengibaskan tangan Sofia kasar.


"Banyak tetangga lewat."


Sofia menjawab datar kemudian masuk ke dalam rumah.


Farrel duduk di samping Rani.


Tak lama Sofia muncul kembali di balik pintu.


"Ngobrolnya di dalam aja!! Malu sama tetangga."


Sofia sedikit berbisik.


Rani nampak jengkel, namun dirinya mengikuti Farrel yang kini menggandengnya masuk.


Di dalam rumah Rani dan Farrel duduk saling berdempetan. Sofia keluar dari kamarnya membawa alat-alat yang biasa digunakannya untuk membuat kalighrafi.


Sofia duduk tepat di hadapan dua anak manusia yang tengah menyalurkan rasa rindu.


"Ngapain kamu di sini?"


Farrel yang risih melihat Sofia langsung bertanya.


"Kalian pasti tahu istilah klasik, kalau berduaan yang ketiganya adalah setan. Nah daripada ada setan beneran lebih baik aku yang jadi setannya."


Farrel dan Rani terbengong mendengar ucapan Sofia.


Nanti author bikin film judulnya, Setan cantik di rumahku haha.


"Biarin aja dia!! Aku kangen kamu."


Rani memalingkan wajah Farrel hingga kini menghadap dirinya dan mulai bergelayut manja.


"Rel, kita nonton yuk!"


Tiba-tiba Rani berbicara serius pada Farrel.


Sejenak Farrel melihat ke arah Sofia yang tengah sibuk mencoret-coret kertas.


"Boleh, tapi aku mandi dulu."


Farrel baru saja akan beranjak, tapi tiba-tiba Sofia berkata, "aku ikut."


Kedua orang itu saling tatap.


"Enggak, gak boleh. Masa mau ikut, jangan Rel."


Rani menolaknya mentah-mentah.


"Aku bilang Uwa."


Sofia berbicara sesantai mungkin.


Akhirnya malam itu mereka bertiga pergi bersama.


Rani terlihat sangat jengkel dengan kelakuan Sofia yang selalu mengganggunya setiap kali dirinya berdempetan dengan Farrel.


Sepertinya hari ini Sofia sukses mengacaukan kencan mereka.


Sukses kamu jadi setan Sof, eh.


-----------------


Beberapa hari kemudian, Uwa datang ke rumah Farrel. Uwa ke sana seperti biasa minta di antar belanja. Namun kini, rasanya ada yang aneh Sofia rasakan.

__ADS_1


Uwa belanja dua kali lipat lebih banyak dari biasanya.


"Mau ada acara ya Wa?"


Tanya Sofia yang penasaran saat mereka telah tiba di rumah Uwa dan membereskan belanjaan.


"Iyaa, besok malam mau tahlilan mengenang kepergian ibunya Farrel."


Seketika Sofia tersentak, berarti hari ini dan besok adalah hari yang tersedih dalam hidup Farrel.


"Kamu nginep di sini sama Farrel."


Uwa meminta pada Sofia dengan tulus.


Dan akhirnya Sofia dan Farrel pun menginap di rumah Uwa.


Tempat tidur di kamar ini lumayan besar dibandingkan dengan yang ada di rumah Hulli, jadi kali ini Sofia leluasa memilih tidur di atas kasur.


Nanti juga Farrel datang, lebih baik aku tidur duluan. Cape banget uh.


Sofia bergumam sendirian saat malam menerpa. Beberapa saat kemudian dia pun tertidur dengan pulas karena kelelahan seharian berbelanja menemani Uwa.


Jiahh Sofia ***** juga.


Hampir tengah malam, barulah Farrel masuk kamar. Dibukanya pintu perlahan, dirinya takut membangunkan Sofia.


Farrel menguap berkali-kali dan meregangkan otot-ototnya yang di rasa kaku.


Farrel merasa bingung harus dimana dia tidur, hingga akhirnya dia menatap ke arah Sofia yang sudah terlelap itu.


Namun Farrel segera memalingkan wajahnya gugup.


Apa yang Farrel lihat?


Sofia tidur dengan tidak anggun, posisi terlentang bahkan satu kakinya terangkat ke atas. Sofia tidur menggunakan gamis karena lupa membawa baju tidur.


Alhasil ketika kakinya terangkat, tersingkablah gamisnya dan mengeksplor paha mulus putih bersih itu.


Celana mana celana.


Farrel berjalan mengarah ke atas tempat tidur dengan masih memalingkan wajah.


Kenapa Rel?


Takut khilaf ya?


Farrel kesulitan menarik selimut yang tertindih badan Sofia.


Dengan tekad kuat, akhirnya Farrel mencubit sedikit gamis Sofia, mencoba menariknya ke bawah dengan tujuan menutupi bagian tubuh Sofia yang mulus itu.


Farrel melakukannya sambil berpaling muka, sedikit dan perlahan.


Namun ketika Sofia menggeliat, sontak Farrel melepas cubitan tangannya.


Tanpa berhasil menutupi paha Sofia, akhirnya Farrel memilih berbaring dan membelakanginya.


Farrel takut Sofia terbangun dan menyangka dirinya akan berbuat macam-macam.


Farrel memejamkan matanya dengan jantung yang berdebar kuat, peluh keringat bercucuran meskipun cuaca nampak sejuk tapi Farrel merasa sangat kepanasan.


Apalagi saat Sofia dengan tidur ala koboynya itu, terus mendekat dan mendekap Farrel.


Lah itu pasti disangka guling itu.


Farrel semakin gelisah karena baru kali ini dia tidur bersama sedekat ini.


Biar bagaimana pun Farrel adalah lelaki dewasa yang normal.


Sabarr Rel ini cobaan.

__ADS_1


Farrel tak bisa mengontrol hasratnya lagi dengan sekali gerakan dia membalikkan badannya ke arah Sofia yang masih tertidur.


__ADS_2