Love In Pesantren

Love In Pesantren
Pelukan itu


__ADS_3

Bulan ini kandungan Nimas sudah menginjak trimester terakhir.


Kebayang dong buncitnya segede apa.


Eh aku kasih tau selama itu pula Ustadz ga bisa nyentuh Nimas ckck puasa si Ustadz haha.


Seusai mengajar siang itu, seperti biasa Nimas main di kobong lamanya yang kini ada tiga penghuni baru di dalamnya.


Sepeninggal Siti, Nimas, dan Rista tinggalah kini Sofia dan Hulliyah dan tiga penghuni baru itu.


"Nimas, kapan mau libur ngajar? cuti gitu.. Kan hamilnya udah gede gitu."


Hulliyah memulai percakapan.


"Belum tahu nih, nanti aku obrolin sama Bi Haji deh."


"Berat ga itu? Engap ga?"


Ya ampun Sofiii pertanyaan macam apa itu?


Tuh kan yang denger ketawa semua.


"Nanti juga kamu ngerasain."


Nimas bicara sambil menahan senyum.


"Emang suaminya ga larang kakak ngajar?"


Itu suara si anak baru, Neli namanya.


Sontak Sofia dan Hulliyah saling pandang.


"Suaminya ga pernah larang-larang."


Nimas tersenyum hambar. Sebenarnya Nimas merasa bersalah pada suaminya karena tak pernah mau berdekatan selama beberapa bulan ini.


Dan setiap kali ada yang membahas satu kata tentang suami rasa bersalah selalu muncul.


Sebelum pulang Nimas sempatkan ke rumah Bi Haji untuk membicarakan cuti mengajarnya.


Uh untung Hulliyah ngingetin, kalau enggak Nimas gak akan kepikiran.


Maklum dia terlalu asik menyibukkan diri untuk mengusir rasa kalutnya.


Kalut mulu perasaan.


"Ibi sih terserah kamu Nim, tapi saran Ibi memang harus mulai libur dari sekarang, biar kamu fokus dengan kehamilanmu."


Itu kata Ibi tuh bener juga.


"Nanti aku bicarain sama A Zam dulu Bi."


Ibi mengiyakannya, Nimas pun pulang ke rumah.


----------


Malam ini, sang Ustadz baru saja pulang dengan wajah lelahnya terlihat sedikit pucat sii.


"Assalamualaikum, neng."


Nimas pun menghampiri, "waalaikumussalam, Aa kenapa?"


Melihat wajah sang suami yang tidak berseri seperti biasanya, membuat Nimas langsung bertanya seperti itu.


"Kenapa apanya? Aa hanya lelah, tadi mengecek hasil ulangan anak-anak jadi pulangnya malem. Maaf ya sayang."


Nimas pun tersenyum, kemudian segera menyiapkan makanan sementara sang Ustadz mandi.


Nimas menunggu di meja makan dan merasa aneh karena sang suami tidak keluar juga. Nimas memutuskan untuk menyusul ke kamar.


Nimas membuka pintu kamar dan mendapati sang suami tengah mengigil di balik selimut.


"Aa, Aa kenapa?"


Cepat Nimas menghampiri sang Ustadz.


"Maaf sayang, tubuhku sedikit gak enak. Makannya nanti saja aku mau tidur, supaya lebih enakan badannya terus bisa makan masakan kamu."


Aiih menurutku sih manis.

__ADS_1


"Ya-yaudah, Aa tidur aja sebentar aku ke dapur dulu."


Nimas ke dapur mengambil air yang dimasukkan ke dalam baskom.


Balik lagi deh dia tuh ke kamar, mau ngompres sepertinya.


"Uh enaknyaa punya istri, sakit ada yang ngurusin."


Celetuk Ustadz Zamzam sumringah melihat istrinya membawa baskom berisi air.


Nimas pun mulai meletakan kain di dahi sang Ustadz, tapi sang Ustadz mengernyit-ngernyitkan keningnya.


"Neng, ini air apa?"


"Air biasa, air keran."


Hah.


Nimas ternyata tidak pandai mengurus orang sakit. Tidak seperti tokoh yang biasa ada di novel atau film.


Sang Ustadz mengulum senyum di bibirnya. Walaupun tak nyaman dengan kompresan di dahinya, namun Ustadz diam.


Takut Nimas marah ya Stadz?


"Kenapa malah senyam senyum begitu A?"


"Aa bahagia lagi sakit begini ada yang ngurusin."


Walaupun yang ngurusin tidak ahli sama sekali, bilang aja gitu Stadz, aku tunggu nih.


"Udah neng."


Sang Ustadz mengambil kompresan di dahinya memberikannya pada Nimas.


"Kok udah, emang udah sembuh?"


Ustadz Zamzam tergelak pelan.


"Lama kalau di kompres, ada cara yang lebih cepat biar sembuh."


"Gimana? Oh pasti minum obat ya, bentar aku ambilkan dulu, eh kita ga punya stok obat A. Cuma ada obat sakit perut aja. Perutnya sakit gak? Minum itu aja yaaa.. Eh atau aku ke warung nyari obat ya."


Nimas akan beranjak, sang Ustadz yang sejak tadi menahan rasa gelinya melihat kepolosan sang istri, menahan tangan Nimas.


"Bukan minum obat sayang, sini deh deketan !!"


Nimas menurut dan duduk di samping Ustadz Zamzam.


Kemudian sang Ustadz berbisik, "Obatnya hanya satu."


"Apa?"


"Di peluk."


Apa?


Nimas memicingkan matanya tajam.


"Mana ada."


"Ya udah kalau ga percaya, aku masih bisa tahan kok. Semoga tidak tambah parah besok."


Akal-akalan Ustadz aja itu.


Nimas nampak berfikir sejenak.


"Beneran bisa sembuh?"


Ya ampun Nimas kamu umur berapa sii polos amat.


Sang Ustadz mengangguk lemah, ah dilemah-lemahin itu.


"Ya udah deh peluk."


Ah masuk perangkap kan jadinya.


"Jadi boleh?"


Nimas mengangguk, eh tapi tiba-tiba ada perasaan malu dalam hatinya.

__ADS_1


Yaiyalah malu dan canggung lagi maklum berbulan-bulan uyyy ga sedekat itu dengan suaminya. Dan kini boleh, ya boleh dalam artian terpaksa.


Sang Ustadz tersenyum. Seneeeeng Ustadz seneeeng.


Pelan-pelan Sang Ustadz meraih istrinya yang ada di sebelahnya.


Akhirnya, ya akhirnyaa Ustadz berhasil juga meluk Nimas. Uh.


Mereka pun menikmati pelukan itu dalam fikiran masing-masing mencurahkan rasa rindu yang selama ini membelenggu keduanya.


"Apa neng mendengar detak jantungku yang bergaduh itu?"


Sang Ustadz sengaja nih meletakkan kepala Nimas di dadanya ternyata ada modusnya. Hadeuh.


Pasti denger atuh orang masih hidup.


Nimas mengangguk pelan, ternyata bukan hanya jantungnya yang hendak copot tapi sang suami juga.


Ada kebahagiaan di sana hingga terukir senyum tipis di bibir Nimas.


Lama semakin lama pelukan itu makin dalam seakan mereka tak ingin melepaskan satu sama lain.


Sang Ustadz mengusap punggung Nimas pelan, sementara Nimas menikmati sentuhan itu dan memejamkan matanya.


"Aww.."


Tiba-tiba Nimas memekik, membuat Ustadz Zamzam melepas pelukannya.


"Kenapa neng?"


Ada rasa khawatir di sana.


Nimas tersenyum.


"Enggak kenapa-napa hanya..."


"Hanya apa?"


Sabar dong Stadz buru-buru amat.


"Hanya dedeknya nendang keras banget."


Sang Ustadz diam, "dedek nendang?"


Ck jangan bilang dia ga tahu lagi.


Lagi-lagi Nimas mengangguk.


"Emang bisa gerak?"


Tuh kaan Ustadz Zam gak tahu hadeuuh. Pasangan terpolos ampun dah.


"Semenjak trimester ini dedeknya aktif banget A. Nendang-nendang terus."


Nimas mengelus-elus perutnya.


"Neng gak pernah bilang."


Nimas hanya nyengir tanpa dosa.


"Boleh aku lihat?"


"Tentu."


Setelah pelukan barusan Nimas merasa harus memberikan suaminya kesempatan untuk lebih dekat lagi.


Sang Ustadz menyingkap baju yang di kenakan Nimas dan alangkah terkejutnya dia melihat tonjolan-tonjolan yang muncul timbul itu.


Tangannya mendadak gemetar memegang tonjolan itu, ada keharuan di sana dibalut rasa syukur.


"Neng."


Ucapnya bergetar.


Nimas mengangguk sambil tersenyum seakan tahu apa yang dirasakan suaminya.


"Subhanalloh dek."


Ustadz mendekatkan wajahnya pada perut Nimas dan menitikkan air mata haru sambil mengecupi anaknya eh perutnya.

__ADS_1


__ADS_2