Love In Pesantren

Love In Pesantren
tetap sama


__ADS_3

Subuh ini Nimas terbangun dan pergi ke kamarnya berharap sang Ustadz sudah pergi ke mesjid.Dan benar saja di dalam kamar tak ada sosok itu, hal ini pun membuat Nimas lega bergegas dia ke kamar mandi.


Setelah segala urusannya beres Nimas keluar kamar dan mendapati suaminya itu di teras rumah tengah berbincang dengan para lelaki lain di rumah itu.


Di rumah terlihat sibuk dengan persiapan resepsi ketiga kakak iparnya heboh berdandan, sedangkan Nimas malah asik bercanda dengan Deva keponakan yang dirindukannya.


"Dek, cepat sini kita make up!!"terdengar Ayu istrinya Bang Anton memanggil.


"Ga usah mba, Nimas gausah dandan."kata Nimas.


"Issh anak ini, siapa yang mau jadi mantennya ini.Ko malah ga mau dandan."Saut ibu yang kemudian meyeret Nimas supaya berdandan.


Setelah pukul 8 pagi, acara pun dimulai. Nimas kini tengah bersanding bersama Ustadz Zamzam, meski dengan wajah muram Nimas masih bisa sesekali tersenyum.


Tibalah saatnya rombongan dari pesantren datang termasuk pimpinan pesantren yakni K.H Turmudzi disana bersama Ibi tentunya.

__ADS_1


Telihat juga Rista, Hulliyah dan Sofia ada rasa yang sulit diungkapkan di benak Nimas saat ini.Dimana dirinya harus lapang dada menerima garis takdir yang tidak disangka ini, namun naluri sebagai manusia yang dimilikinya seakan berontak ingin marah pada semua orang.Sungguh syetan mampu menggoda hati umat-Nya dengan sangat mudah.


"Selamat ya Nimas, semoga bahagia"ucap Sofia ketika menyalami Nimas.


Seperti sindiran kalimat itu di kepala Nimas, dirinya merasa bagai seorang antagonis di sinetron sinetron.


Terlebih Rista pun tak berkata apa apa saat menyalaminya, ini bagai sebuah hantaman batu besar terkena dadanya sesak dia rasa kawan selama sepuluh tahun kini seakan menjauh.


Hulliyah tersenyum hangat pada Nimas, sepertinya hanya dia yang masih peduli padanya hingga memeluk Nimas mereka pun saling rangkul dan menangis.


"Subhanallah, ciptaan Tuhan paling indah."Decak kagum Ustadz sesampainya mereka di dataran agak tinggi.


"Saya masih mau mengajar."perkataan Nimas membuat sang Ustadz menoleh padanya.


"Tentu saja, saya sudah menyiapkan rumah untuk kita dekat lingkungan pesantren."kata sang Ustadz.

__ADS_1


Sampai sedetail itu Ustadz menyiapkan masa depannya, apakah itu awalnya untuk Sofia? Mendadak hawa panas melingkupi hati Nimas, namun sekuat tenaga dia tahan.


"Saya tidak akan mengajar lagi di Tk?"kata Ustadz lagi.


Nimas mengernyit heran.


"Saya akan mengajar di Mts mungkin tiap hari, saya sudah meminta izin pada Mama akan hal ini, beliau setuju.Saya akan memulainya sepulang dari sini."kata Ustadz Zamzam.


"Terserah apa yang akan anda lakukan, saya ingin keadaannya tetap sama seperti senelum ada kejadian ini.Anda tenang saja akan melaksanakan kewajiban saya sebagai seorang istri dalam hal apa pun.Tapi saya minta waktu untuk sepenuhnya menerima anda dalam kehidupan saya." Tutur Nimas.


Ustadz Zamzam merasa lega akan penuturan Nimas setidaknya bayangan akan adanya perjanjian sirna sudah.Ah jangan samakan ini seperti cerita cerita romantis tentu ini adalah kenyataan yang dijalani dua insan mengharap ridho sang ilahi.


#Semoga bisa menjadi istri sholehah (Nimas)


#Amiin (author)

__ADS_1


__ADS_2