
Bismillah.
-------------- :-) -----------------
Setelah Sofia sampai di rumahnya, bergegas dia menuju kamar.
Mana ponselnya kok gak ada?
Sofia merogoh tas yang dibawanya dan mengambil ponselnya, kemudian dia mengernyit.
"Farrel nelpon?"
Memang dari tadi ponsel miliknya dalam keadaan disilent, alhasil Sofia tak mengetahui jika ada yang menghubunginya.
Beberapa detik kemudian, nampak nama Farrel di layar ponsel milik Sofia memanggil. Dengan gerakan cepat Sofia menerima panggilan itu.
Sofia kamu dimana? Kamu gak apa-apa?
"Waalaikumussalam, katanya ponsel kamu ketinggalan? Kok bisa nelpon?"
Kamu lagi dimana? Jawab!
"Aku di rumah, tap ...."
Sofia tak melanjutkan perkataannya karena Farrel menyelanya dengan cepat.
Kamu tunggu, jangan kemana-mana aku ke rumah sekarang.
Isshh ga sabaran amat Farrel.
Kemudian tanpa mengucap salam Farrel menutup sambungan telpon itu. Sofia mengeleng-gelengkan kepalanya sedikit kebingungan.
Menunggu di dalam rumah membuat Sofia jenuh, kemudian dirinya memutuskan menunggu di luar rumah.
Awalnya Sofia berdiri di teras kemudian dia berjalan ke halaman sambil membuka pintu gerbang pagar.
Sofia berdiri menunggu Farrel di luar gerbang.
Cahaya yang berasal dari lampu sebuah mobil membuat Sofia menyipitkan kedua matanya karena lampu mobil itu tepat menyorot ke arah dirinya.
Sofia tersenyum kala melihat mobil itu adalah milik Farrel.
Namun lama-kelamaan mobil itu makin cepat melaju ke arah Sofia. Diiringi teriakan dari dalam.
"Sofi awas! Sofiiiiiiiiiiiii ...."
Senyuman Sofia memudar seiring dengan hantaman keras tepat mengenainya.
BRUKKKKKK ...
------------
Farrel menggerakan tubuhnya, rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya. Sakit yang amat sangat dia rasa pada kakinya membuat Farrel mengerang.
Perlahan matanya terbuka, sayup perkataan orang-orang terdengar di telinganya yang mengeluarkan darah.
"Yang nabraknya sadar! Bantu keluarin!"
Farrel melihat banyak sekali tetangganya berkumpul bahkan ada polisi di sana.
Sebagian warga mencoba mendongkrak bagian depan mobil yang menghimpit kaki Farrel. Sebagian membantu Farrel keluar dari sana.
Rasanya badan Farrel remuk redam saat ini, terlebih kaki sebelah kirinya terhimpit. Saat warga mengeluarkannya Farrel amat sangat kesakitan.
Setelah berhasil keluar, Farrel terduduk di atas tanah menormalkan pandangan dan ingatannya. Beberapa saat kemudian barulah Farrel sadar bahwa dia melupakan sesuatu.
"Sofia mana? Sofi ..."
Farrel kelimpungan tak mendapati Sofia di tengah kerumunan itu.
"Sebelah sana!" kata salah seorang warga.
Farrel mencoba bangkit namun gagal, rasa sakit pada kakinya tak memungkinkan untuk dia berdiri.
Kemudian Farrel memilih menyeret tubuhnya ke arah kerumunan yang letaknya tidak terlalu jauh.
Beberapa warga membantunya.
Susah payah Farrel mendekati.
__ADS_1
Apa ini?
Tidak Sofi, tidaaak.
"Minggir kalian minggir!"
Kerumunan pun mengurai, terlihatlah di sana sosok wanita yang tadi menunggunya, seseorang yang dia tabrak. Kerudung berwarna putih itu kini berubah warna akibat darah yang mengalir di kepala Sofia.
Farrel mendekat dengan gemetar, diraihnya tubuh sang istri, beberapa kali Farrel mengguncangnya, menangkup wajahnya. Namun wanita itu tak kunjung bangun.
Orang-orang yang berkerumun itu saling berbisik, Farrel tak peduli.
"Kenapa Farrel bisa nabrak istri sendiri ya?"
"Husstt ...."
Segelintir perkataan yang bisa ditangkap Farrel.
Kenapa begini?
Farrel sungguh tak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini, dia berteriak.
"Sofiaaa ... Bangun!"
Tak lama suara ambulan dengan bunyinya yang khas datang. Farrel sama sekali tak mau melepaskan Sofia dan terus di sisinya meskipun dia sendiri butuh perawatan saat itu.
-------------------
Berada di rumah sakit Farrel terpaksa berpisah dengan Sofia yang harus segera di tangani di ruang IGD, sementara dirinya di ruangan lain.
Fikirannya kacau.
Bagaimana bisa dia menabrak Sofia?
Bagaimana bisa mobilnya tak dapat dikendalikan?
"Aku kenapa? Aaaaaaaarrrrgggghhh ...."
Farrel berteriak tak jelas.
Kemudian dari arah pintu, Uwa muncul dengan raut wajah cemasnya. Mendekat ke arah Farrel dengan tangisan tertahan.
Saat menerima kabar Farrel dan Sofia kecelakaan, Uwa sangat syok bahkan sempat pingsan.
Setelah sadar, Uwa bersikeras pergi ke rumah sakit, mencari kebenarannya sendiri memastikan bahwa yang didengarnya itu bohong.
Farrel menabrak Sofia? Oh kenyataan macam apa ini author?
"Aku ga tahu Wa."
Farrel menangkup wajahnya penuh sesal.
Uwa mendekati Farrel kemudian memeluknya, meskipun tidak tahu bagaimana kejadian sebenarnya Uwa yakin Farrel tidak mungkin melakukannya.
Uwa sangat takut luka dalam hati Farrel bertambah. Pilu Farrel terisak di pelukkan Uwanya.
"Sofia gimana Wa? Aku harus melihatnya."
Farrel mencoba turun dari bangkar itu.
"Rel, Farrel dengarkan Uwa! Kamu harus tenang, Sofia pasti bisa melewatinya."
Uwa mencoba menenangkan Farrel yang meronta itu.
"Farrel nabrak Sofia Waaa, Farrel nabrak istri Farrel. Aaaaaaaa."
Pecahlah tangisan itu lagi menggema di seisi ruangan.
---------------
Sementara di tempat lain rumah sakit itu, tepatnya di depan ruang emergensi. Orang tua Sofia bahkan Nimas dan Ustadz Zamzam beserta Ustadz Ahmad menunggu dengan kecemasan tiada tara.
Mereka tak tahu apakah ini sebuah kenyataan atau mimpi buruk yang datang menghampiri secara bersamaan.
Nimas saling berpelukan dengan ibu dari sahabatnya itu mencoba menenangkan walau dirinya pun sama cemasnya.
Farrel datang dipapah sang Uwa, Farrel menuju arah pintu yang berkaca kecil itu. Farrel dapat melihat mata Sofia yang masih terpejam.
Luruh badannya hampa dan ambruk, Ustadz Ahmad segera membawanya agar duduk di kursi.
__ADS_1
Ustadz Zamzam mendekat, "istighfar Rel yang tenang."
Farrel memejamkan kedua matanya mencoba tenang meskipun tak bisa.
Orang tua Sofia tak banyak bicara, mereka sangat syok mendapati kenyataan bahwa anak mereka satu-satunya ditabrak oleh suaminya.
Mereka harus apa?
Akhirnya menunggu Sofia sadar adalah solusi yang mereka pilih.
--------------------
Sekian lama dokter yang menangani Sofia pun akhirnya keluar diiringi para perawat yang membantunya.
"Gimana Dok? Anak saya?"
Ayah Sofia menerobos.
"Benturan keras pada kepalanya mengakibatkan pasien koma, sekarang hanya doa yang mampu membantu pasien pulih."
Dokter pun berlalu meninggalkan keluarga yang berselimut kabut kesedihan itu.
"Ini gara-gara aku."
Farrel kembali menangkup wajahnya, sang Uwa mendekati dan membawanya pada pelukan.
----
Farrel setia menemani sang istri di tatapnya wajah teduh yang terlelap entah kapan akan terbangun itu.
Seminggu setelah kejadian, Sofia masih belum sadarkan diri selama itu pula Farrel tak pernah sedetik pun meninggalkan Sofia.
Dokter pun akhirnya merawat mereka dalam satu ruangan.
Terakhir Farrel mendapat kabar bahwa ada yang mencoba mencelakainya dengan memanipulasi mesin mobilnya.
Farrel sempat mencurigai Rani, tapi ternyata orang tersebut adalah rivalnya dalam bekerja.
Tapi kenapa bukan dia saja yang celaka?
Kenapa Sofia terseret dalam pusara kesialannya?
Malam ini, selesai sholat isya Farrel duduk di kursi yang ada di samping bangkar Sofia.
Diusapnya tangan sang istri, mengecup keningnya berharap ada respon dari sang istri. Kemudian Farrel berbisik dengan rasa sakit yang menelusup ke dasar hati. Farrel merindukan Sofia, sangat rindu.
"Sofi, bangun sayang ... Katanya kamu mau memberiku kesempatan. Bangun, lihatlah aku selesai sholat ini. Kamu lihat kan aku pake peci nih."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.**KEJUTAAAAAAN ...
Di jauh hari aku nyiapin ini hiks, maaf yaa bila rada-rada ga jelas. Tapi aku gak bisa rubah konsep cerita yang udah ada di kepala.
Semoga para readers semua suka dengan kejutannya**.
__ADS_1