Love In Pesantren

Love In Pesantren
berbalik marah


__ADS_3

"Nyonya Nimas...... Nyonya Hannah."


Pengeras suara lantang memanggil namaku dan pasien lain yang akan di periksa dokter.


Eh tunggu ku dengar tadi nama Hannah. Oh aku akan satu ruangan pemeriksaan bersamanya.


Rista ku suruh menunggu di luar, begitu namaku di panggil bergegas aku menuju ruangan pemeriksaan. Aku harus menahan perasaan sakit ini. Aku menahan sekuat tenaga, aku harus kuat di saat aku sedang membutuhkan suamiku ada di sisiku tapi ku dapati dia depanku memapah perempuan lain.


Sesekali menoleh ke belakang yang dimana ada aku yang juga akan masuk ruangan yang sama.


Setelah pintu terbuka, kami masuk. Rupanya ruangan ini dibagi menjadi dua dengan sekat gordeng dan ada dua dokter di sana.


Aku mendudukkan diriku di hadapan dokter wanita itu. Dan aku merelakan suamiku di sekat sebelahku bersama wanita lain.


"Ibu sendiri ke sini?"


"Ah tidak dok, saya bersama teman."


Harusnya aku bilang, disini ada suamiku.. Itu suamiku. Harusnya aku berkata seperti itu. Tapi lidah menghianati hatiku.


Sayup ku dengar pertanyaan yang hampir mirip dengan yang dokter tanyakan padaku tadi.


"Anda suaminya?"


"Buk-bukan dok."


"Dia calon suami saya dok."


Boom.......


Ledakan boom baru saja meledak di dadaku, tepatnya hatiku.


Dengan kaki gemetar aku menuruti perintah dokter untuk berbaring di atas ranjang itu.


"Ibu relax bu,ini tekanan darahnya kenapa rendah sekali. Coba ibu tenang dulu."


Bagaimana aku bisa tenang doook, ingin aku menangis menjerit saat ini. Seperti seseorang di balik gordeng itu yang meringis-ringis kesakitan dan merancau memanggil-manggil nama suamiku yang bahkan kini ada di sisinya.


"Apa ibu memiliki riwayat anemia?"


Aku hanya mengangguk.


Dokter itu kelihatan membuang nafasnya pelan.


"Ibu harus makan makanan yang bisa menambah darah ya bu, nanti juga saya akan berikan obat penambah darah."


Kemudian Dokter itu pun mengarahkan alat USG ke perutku lalu menjelaskan detailnya.


"Alhamdulillah bayinya sehat ya bu, ibu hanya perlu memperhatikan pola makan dan jangan terlalu stres."


Lagi-lagi aku hanya mengangguk, jujur aku terganggu dengan suara jeritan di sebelahku.


Aku selesai lebih dulu dari Hannah. Ku arahkan cepat langkah kakiku mencari keberadaan Rista.


Syukurlah Rista segera menghampiriku, akhirnya kami berjalan menuju parkiran.


Setelah tiba dekat motor Rista, segera aku pakai helm dan bersiap naik motor itu.


Sebuah suara mengagetkanku.


"Neng, tunggu neng !! Astagfirulloh neng naik motor?."


Perlukah aku jawab?


"Maaf ya Neng, aa ga bisa nganter pulang soalnya Hannah di rawat, aku membantu Pak Mustafa menyiapkan segala sesuatunya. Setelah itu aku pulang dan kita bicara."

__ADS_1


Adakah yang lebih tajam dari pedang? Perkataan A Zam ini berhasil mengoyak hatiku hingga tak berbentuk.


Aku kira A Zam mengejarku untuk menawarkan pulang bersama.


Haiisssshh mimpiku sederhana, tapi tak bisa terwujud.


"Neng naik taxi aja ya ? Jangan motor !!"


Terserah aku dong ih.


"Ga usah, ayo Ta.."


Aku pun naik motor itu.


"Rista bawa motornya hati-hati."


Apa sii teriak-teriak ih.


Urus sana cewek kamu A.


Saat tengah berada di atas motor yang tengah di lajukan oleh Rista, aku masih menahan gejolak kerapuhanku.


"Menangislah di punggungku."


Sedikit terkesiap namun aku menuruti ucapan Rista.


Aku tak segan memeluk Rista dan tersedu sejadi-jadinya.


"Sembunyikan aku Taaaa, aku ga mau pulang."


Rista menepikan motornya di tepi jalan, kami pun turun dan duduk di sebuah bangku di trotoar ini.


Rista memegang tanganku.


Aku menunduk tak bisa menjawab.


"Dari awal kamu sesakit ini Nim, bahkan dulu aku ikut-ikutan menorehkan luka itu."


Jangan nangis dong Ta !!


"Ga apa-apa kok Ta, aku ga apa-apa. Cuma aku lagi ingin menangis saja, nanti aku juga lupa."


Aku paksakan senyuman diantara isakku. Sama sekali aku tak tega melihat Rista menangis penuh sesal begitu.


"Harusnya kamu jangan terlalu baik Nim ! Harusnya kamu marah yang lama."


"Eh eh ko tumben ngajarin aku yang gak baik."


Aku tertawa kecil kini.


Rista kembali memegang tanganku.


"Aku siap bantu kamu."


Aku tersenyum.


"Aku gak ingin pulang dulu Ta."


"Ok kita jalan-jalan aja. Eh kita beli es krim yuk."


Aku mengangguk, setidaknya aku harus menghibur diri daripada harus berlarut dalam kesedihan.


Kami pun beranjak dari tempat itu dan mencari gerai es krim.


Ah tapi kami sudah muter-muter belum ketemu juga, mana mataku sudah mulai berkunang-kunang lagi.

__ADS_1


"Ta, kita pulang aja, jajannya lain kali."


Rista berfikir sejenak kemudian dia memutar arah menuju jalan pulang.


Sesampainya di rumah, segera aku tutup pintu dan masuk ke kamar. Kemudian kepalaku semakin berat aku pun tersungkur jatuh di lantai kamar. Setelah itu hanya gelap yang ku rasa.


Aku membuka mata, aku masih di lantai ini. Apa tadi aku pingsan?


Segera aku bangun, ada sedikit nyeri di kepalaku. Ku lihat jam, ternyata dua jam sudah aku tadi tak sadarkan diri.


--------------------


Gelisah aku menanti A Zam sampai larut begini belum juga pulang. Aku pun ketiduan di depan televisi lagi.


Ah emang tempat favorit buat bobo deh.


Aku merasakan belaian di kepalaku yang membuatku terbangun. Dan apa ini? Aku ada di kamar.


Mataku menatap sosok yang dari tadi aku tunggu. Sosok A Zam pasti masuk dalam alam mimpiku.


"Neng.."


Bahkan suaranya begitu nyata oh pasti kualitas mimpiku sudah 4G ini.


"Neng, kita perlu bicara."


Eh tunggu.


Perlu bicara?


Ini bukan mimpi, aku baru sadar ini nyata.


Segera aku bangun dan menyandarkan diri di kepala tempat tidur. A Zam duduk di sebelahku.


Eh ini seperti acara selimut kejujuran yaa, semoga A Zam jujur kali ini.


"Waktu acara tadi pagi, Hannah pingsan terus Aa membantu pak Mustafa membawanya ke rumah sakit. Pas sadar, Hannah kesakitan di bagian perut. Kata Pak Mustafa Hannah mengidap tumor ganas di rahimnya. Dan tadi Aa antar dan ketemu neng di sana."


Aku mencoba mencerna informasi yang masuk ke otakku itu perlahan.


"Aa ga bisa nganter aku, tapi dengan senang hati nganter perempuan lain."


Boleh ga sih aku egois di sini?


A Zam menghela nafas.


"Ini situasinya beda neng, bisa gak sih kamu ngerti."


Sakit aku dibentak kamu A.


"Kamu harus ngerti dong, ini kecelakaan !! Sisihkan amarahmu sebentar, lihat kejadiannya di sisi positifnya."


Apa tadi dia bilang, Sisihkan amarahku?


Kalau aku mengikuti amarahku sudah dari tadi siang aku melabrakmu A.


"Cape emang ngomong sama orang yang egois."


Apa sekarang A Zam marah?


Loh loh dia ngambil bantal terus berlalu keluar kamar.


Di sini yang harusnya marah kan aku.


#Rancu hihi (author)

__ADS_1


__ADS_2