
Haqi kembali ke dalam kamar, kemudian meletakkan piring yang dibawanya ke atas meja kecil di samping tempat tidur. Haqi melihat Hulliyah yang sudah memejamkan mata.
Haqi tersenyum kecil lalu mendudukkan tubuhnya pada tepian tempat tidur. Tangan Haqi mengulur bebas ke atas kepala istrinya yang sudah terlelap, mengelus kepala itu lembut.
Aku tidak akan pernah menyerah untuk memperjuangkanmu. Aku yakin setelah semua rintangan ini, kita akan dipersatukan dengan cara yang indah.
Haqi tersenyum memandangi wajah Hulliyah yang nampak damai dalam mimpinya. Belama-lama menatap sang istri tidak membuat Haqi mengantuk sama sekali.
Sepanjang malam Haqi tidak tidur, dirinya menikmati malamnya dengan mendekap, memandang, dan menciumi istrinya.
-------------------------
Pagi harinya Haqi dengan setia mendampingi Hulliyah. Dia sengaja tidak mengajar hari ini dan memilih libur selama riga hari ke depan.
Haqi ingin menikmati kebersamaannya bersama Hulliyah selagi bisa, selagi ayah Hulliyah masih anteng dengan diamnya.
Haqi menyuapi Hulliyah di ruang tengah dimana ayah mertuanya pun ada di sana sedang menikmati singkong rebus kesukaannya.
Haqi menyuapi Hulliyah dengan sangat telaten, tangannya sesekali mengusap bibir Hulliyah saat di rasa ada makanan yang tersisa di sana.
"Kakak, kata Ummi masih suka disuapin ya?" tanya Hulliyah.
"Ish Ummi, lain kali jangan terlalu percaya sama Ummi. Beliau suka berlebihan." jawab Haqi.
"Tapi bener 'kan?" kata Hulliyah meledek Haqi.
"Enggaklah ...." jawab Haqi singkat.
"Enggak kok mukanya merah gitu, bener 'kan bener?"
Hulliyah terus menggoda Haqi sampai suaminya itu kelimpungan saat menjawab. Hulliyah tetawa lepas melihat raut wajah tegang bercampur malu suaminya itu.
Sang ayah bagai cicak putih yang anteng mendengarkan tanpa sadar menarik sudut bibirnya samar. Sang ayah bahagia melihat anaknya kembali tertawa lepas seperti itu.
Makan dengan canda tawa nyatanya berhasil membuat Hulliyah dua kali menambah porsi makannya. Sang atah kembali memperhatikan interaksi anaknya dengan Haqi.
Ayah Hulliyah sedikit takjub dengan sikap Haqi yang penuh kesabaran. Ayah Hulliyah pun senang melihat Hulliyah kembali makan dengan lahap.
"Aku mau mandi Kak," kata Hulliyah sesaat setelah makanannya habis.
"Bentar ya, aku tanya Ibu dulu."
Haqi pun berlalu menuju dapur menemui sang ibu mertua.
Sungguh tidak ada lagi kecanggungan diantara Haqi dan Hulliyah, setelah mereka tinggal bersama selama seminggu.
Mereka beradaptasi satu sama lain dengan sangat cepat.
"Airnya sudah siap." Haqi kembali dari dapur kemudian membantu Hulliyah berdiri.
"Ih Kakak, aku udah sembuh kenapa dipapah? protes Hulliyah.
"Ya kan takutnya jatuh, kalau dipegangin gini kan nanti jatuhnya ga sakit."
__ADS_1
Sambil berjalanpun mereka terus saling menggoda seakan di rumah itu tidak ada lagi penghuninya selain mereka berdua.
Sang ayah menatap mereka yang berjalan menjauh itu dengan tatapan yang serius. Ternyata sang ayah sedang menimbang-nimbang keputusan yang akan diambilnya.
-------------
Hari semakin siang, Hulliyah memilih beristirahat tidur sementara Haqi mengecek keadaan mobilnya yang terparkir jauh. Haqi memanaskan mesin mobil dan mengecek segala sesuatu tentang mobilnya berhubung besok dia akan pulang dan memakai jasa mobil kesayangannya itu.
Setelah selesai dengan mobilnya, Haqi berniat kembali ke rumah Hulliyah. Namun teriakkan seseorang yang memanggil namanya berhasil membuatnya berhenti.
Sang ayah mertua memanggilnya sambil mwlambaikan tangannya di depan saung kecil tepa di tengah perkebunan teh.
Setelah mamastikan bahwa benar dirinya yang dipanggil, Haqi pun berjalan cepat menuju ke saung itu.
Apa Bapak ngajak duel di sini ya?
Pertanyaan konyol muncul dalam benaknya. Apa harus dia mengeluarkan jurus maut yang dipelajarinya sewaktu kecil ketika menonton film China dengan tokoh utama dua bocah botak?
Masih banyak jurus-jurus yang belum dipraktekan oleh Haqi. Apakah ini waktunya praktek?
Ketika sampai di depan saung itu, Haqi berdiri memasang kuda-kuda berjaga jika lawan menyerang tiba-tiba.
"Duduk!" ucap ayah mertuanya.
Hah?
Pertarungan yang dibayangkan oleh Haqi sepertinya tidak akan terjadi.
Haqi menuruti perintah mertuanya, duduk dengan menjaga jarak antar keduanya.
"Tentu Pak, saya sangat serius." ucap Haqi mantap.
Sang ayah mertua memandang Haqi lekat penuh selidik. Memastikan bahwa Haqi sungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Apa kamu akan menerima segala kekurangan Lia? Apa kamu akan menjaga Lia?"
Haqi mengangguk dengan senyuman yang berkembang lebar dari bibirnya.
"Saya menyayangi Sypa, saya akan menjaga dan menyanginya sepenuh hati."
Sang ayah memalingkan wajahnya lurus ke depan memandangi hamparan kebun teh itu.
"Saya ini sudah tua, sudah tidak bisa lagi menjaga Lia. Lambat laun Lia akan meninggalkan saya. Setelah menikah Lia pasti jarang mengunjungi saya di sini."
Sorotan mata sang ayah berubah sendu, rasanya setiap kata yang diucapkannya mengandung banyak racun yang siap mematikannya kapanpun.
"Bapak ini bicara apa? Saya tidak akan mengekang Sypa untuk bertemu dengan keluarganya. Tempat Bapak tidak akan tergantikan oleh siapa pun termasuk saya. Seorang ayah adalah cinta pertama anak perempuannya. Saya tahu Sypa sangat menyangi Bapak, untuk itu Sypa begitu patuh dengan semua keputusan Bapak kemarin."
Sang mertua terdiam menelaah setiap makna dari ucapan Haqi.
"Kapan orangtuamu datang ke sini lagi?" tanya sang mertua.
Haqi tiba-tiba menatap mertuanya tidak percaya dengan kalimat yang baru saja di dengarnya.
__ADS_1
"I-ini Bapak serius?"
"Kapan? Sebelum saya berubah pikiran lagi nih." kata ayah Hulliyah.
"Inshaalloh secepatnya Pak, secepatnya. Akhir pekan ini ... iya akhir pekan ini saya akan membawa Ummi." Haqi sangat bersemangat saat ini.
"Lalu Bapakmu?"
"Abi pulang ke Palembang ada urusan pekerjaan, tidak apa-apa 'kan Pak kalau hanya Ummi yang kemari?" jawab Haqi.
"Apa boleh buat, salah saya kemarin tidak memanfaatkan waktu."
Eh.
"Semua yang terjadi sudah ada takdir yang mengatur Pak."
Haqi menangkap guratan sesal dari wajah ayahnya.
"Pak, saya ke rumah dulu. Takutnya Sypa sudah bangun." kata Haqi.
"Iya sana! Lia kalau sudah sakit seperti anak kecil, maafkan ya. Jadi kerepotan begini."
Haqi tersenyum, "tidak apa Pak saya senang direpotkan kok."
Haqi pun berbalik badan dan siap mengayunkan kakinya meninggalkan sang mertua.
"Nak Haqi ...." Tiba-tiba suara sang mertua menghentikan langkahnya.
Haqi pun berbalik.
"Maafkan saya dan semua sikap saya."
Sang ayah menunduk dengan sesalnya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan saya mengerti apa yang Bapak rasakan." Senyuman itu berkembang sempurna menyejukkan mata.
Sang mertua menyodorkan tangannya kepada Haqi.
Haqi menyambutnya dengan senang hati.
Inilah buah dari kesabaran, hasil dari kesakitan. Di tengah perkebunan teh itu Haqi berhasil memenangkan pertarungan yang sesungguhnya.
Hamparan teh, langit yang biru, dan rerumputan hijau menjadi saksi perdamaian diantara mereka.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.