Love In Pesantren

Love In Pesantren
Diam lebih baik


__ADS_3

Neli mendapat tontonan gratis siang ini, syok dan malu dirasanya. Hal yang sama Hulliyah rasakan, sesaat setelah Haqi berpamitan dengan canggung tadi, kini Neli bersama Hulliyah berada di kobong itu dengan perasaan mereka masing-masing.


"Maaf Li, aku gak sengaja liat."


Neli ragu untuk berbicara.


"Ah, emm Nel...aku tadi...ga ngapa-ngapain kok."


Hulliyah nampak malu.


"Mau ngapa-ngapain juga gak yang larang, kan udah halal. Lain kali kunci pintu."


Hah?


Wajah Hulliyah makin bersemu merah karena malu.


"Gak ada yang kedua kali, kejadian kayak gini. Maaf ya Nel," ucap Hulliyah.


Neli tersenyum penuh maksud, "Gak masalah, aku tadi ganggu haha...."


Tiba-tiba tawa Neli pecah membuat Hulliyah refleks membungkam mulut Neli dengan susah payah.


"Neli! Diem gak! Diem gak!"


Hulliyah masih berusaha membungkam mulut Neli sembari memberikan ancaman.


Neli menahan tawanya sambil mengangguk-angguk dalam cengkraman Hulliyah.


"Maaf Li, maaf. Aku jadi geli, tadi itu lagi panas-panasnya malah aku ganggu." Neli lagi-lagi tertawa, tetapi kali ini Hulliyah diam saja tidak memberikan ancaman atau pembelaan. Hal itu membuat Neli berangsur menghentikan tawanya.


"Sebenarnya tadi aku dan Kak Haqi lagi ngobrolin Ustadz Zam." kata Hulliyah.


Neli menangkap keseriusan dalam raut wajah Hulliyah, "memang kenapa dengan Ustadz Zam?"


Hulliyah membuang napasnya berat, "Aku gak mau Nimas terluka Nel. Aku takut Ustadz Zam mencari kesenangan di luar rumahnya."


Neli menatap Hulliyah yang ada di depannya kemudian berkata, "kenapa kamu tiba-tiba khawatir begitu?"


"Aku gak sengaja bertemu Ustadz Zam di Forum bersama wanita." Hulliyah menerawang.


"Loh memangnya kenapa? Selagi gak berduaan, gak masalah. Kamu jangan berprasangka buruk Li!"


"Aku tahu Nel, aku hanya takut saja."


"Eh tadi, aku juga ketemu Ustadz Zam di Pasar. Kami ngobrol sebentar Ibi ngajak makan siang. Ustadz Zam gak sendirian, tadi ada wanita bernama Hanna eh Hannah terus ada anak kecil juga."


Perkataan Neli membuat Hulliyah menuntut penjelasan lebih.


"Mau apa mereka di Pasar?"


"Katanya sih nemenin anak Panti belanja keperluan sekolah. Maklum sebentar lagi tahun ajaran baru, jadi anak itu mau masuk SD. Begono!"


"Udah gak beres ini! Neli, tolong izinin aku ke Bi Haji ya! Aku ke rumah Nimas sebentar."


Tanpa menunggu jawaban Neli, Hulliyah bergegas pergi. Tak ada siapapun sekarang di sekitarnya, yang ada di kepala Hulliyah saat ini hanyalah Nimas.

__ADS_1


Beberapa santri yang menyapa tak dihiraukan, rasa khawatir serta ketakutan melingkupi jiwanya. Bahkan kemarahan yang siap meledak Hulliyah tahan dalam dada.


----------------------


Hulliyah sampai di rumah Nimas, ada hal yang membuatnya makin pilu.


Hulliyah melihat Nimas di terasnya dengan susah payah menenangkan kedua putrinya yang sedang menangis.


Khalila, adiknya Zamima digendong menggunakan kain oleh Nimas. Sementara Zamima digendong dengan sebelah tangan.


Kedua anak itu sedang menangis, bahkan Zamima terdengar menjerit-jerit. Nimas terlihat ikut menangis karena tidak mampu menenangkan kedua putrinya.


"Assalamualaikum, astaghgirulloh ada apa ini?" Hulliyah setengah berlari mengambil Zamima dari tangan Nimas.


Walaupun Zamima meronta, Hulliyah menahannya hingga perlahan Zamima tenang dengan sendirinya.


Sementara Nimas masih berurai air mata menenangkan Khalila, katakanlah Nimas lemah. Namun hatinya yang rapuh membuatnya gampang sekali menangis, apalagi hal itu menyangkut kedua putrinya.


Hulliyah makin tak tega, bagaimana mungkin dirinya mengadu disaat keadaannya seperti ini?


Hulliyah terus menatap Nimas iba sambil menggendong Zamima. Belum ada kata diantara mereka, Hulliyah memberikan waktu kepada Nimas untuk menangis.


Nimas, aku harus bagaimana?


Setelah Khalila agak tenang, tangis Nimas pun perlahan berhenti.


"Waalaikumsalam, maaf aku baru jawab."


Nimas tersenyum sambil menyeka air matanya.


"Kenapa mereka nangis?" tanya Hulliyah.


Nimas tersenyum kecil saling mengecupi pipi Khalila yang ada dalam gendongannya.


Mungkin Mima mimpi ayahnya sama wanita lain.


Hulliyah menatap Zamima dalam pangkuannya, kedua mata jernih Zamima sembab area sekitar mata itu nampak memerah.


"Mima sayang, jangan suka ngamuk ya! Kasihan ibu nak."


Hulliyah berusaha mengobrol dengan gadis kecil yang belum berusia dua tahun tersebut.


Zamima merangkul tubuh Hulliyah erat dan menyembunyikan wajahnya dibalik kerudung yang dikenakkan Hulliyah.


"Eh Mima ngumpet, eh."goda Hulliyah pada anak kecil itu.


Setelah sekian lama, akhirnya Zamima turun dari pangkuan Hulliyah dan mulai bermain dengan bonekanya.


Kini Nimas dan Hulliyah sudah berada di dalam rumah. Nimas sedang menyusui Khalila, sambil memperhatikan Zamima yang sedang bermain boneka.


Hulliyah sedari tadi memperhatikan Nimas dengan penuh kegundahan.


Hulliyah tidak tega melihat Nimas menangis tadi, sementara Ustadz Zamzam asik jalan-jalan di luar. Hulliyah bingung harus berbuat apa.


"Kenapa liatin aku terus Li? Aneh ya? Hehe maaf aku tadi malah ikut koser sama anak-anak."

__ADS_1


Nimas mengeluarkan cengiran khasnya.


"Tumben Ustadz Zam belum pulang."


"Tadi nelpon, katanya mau nganter anak Panti ke pasar."


Hah.


Nimas tahu?


"Sama siapa Nim?" tanya Hulliyah ragu.


"Aku gak tahu, gak sempet nanya tadi."


Hulliyah sungguh-sungguh dalam kondisi yang sulit. Melihat Nimas menangis adalah hal yang sangat menyakitkan untuknya.


"Nimas, lain kali kalau anak-anak ngamuk lagi kamu lari ke Pesantren ya!"


"Dih, malu banget ke Pesantren bikin rusuh. Ini pertama kalinya mereka nangis barengan, semoga besok-besok gak kejadian lagi."


Mungkin anak-anak merasakan hal yang tidak beres tentang ayahnya Nim. Ya Tuhan, aku harus bagaimana?


Hulliyah bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Aku bakalan minta izin setiap hari ke Mama Haji, supaya aku bisa kesini tiap hari jengukin kamu."


Nimas menatap heran sahabatnya itu, " itu tidak perlu Li. Aku...."


"Gak usah bantah, aku akan tetap melakukannya. Kamu harus bahagia Nim! Dandanlah sedikit!"


Nimas mencebik kesal.


"Kamu nyuruh dandan? Apa aku kalihatan jelek banget?"


Hulliyah menggeleng kuat, melihat wajah sang sahabat dengan seksama.


"Kamu sangat cantik, terlalu cantik untuk jadi manusia. Setidaknya kamu harus terlihat ceria dan selalu tersenyum biar seluruh dunia tahu kamu wanita yang kuat."


Nimas tertawa mendengar perkataan Hulliyah.


"Kamu gombal banget sii."


"Aku belajar dari kamu." kata Hulliyah.


Nimas mendelik tajam, "dih, idih aku ga pernah gombal. Oh aku tahu, ini karena efek sudah menikah nih. Ciee aduh...aduh."


Nimas menggoda Hulliyah kemudian dihadiahi gelitikkan dari sahabatnya tersebut.


"Berhenti Li, nanti Khalila kaget lagi."


Nimas menahan tangan sahabatnya kemudian menghentikan tawanya.


"Sini Khalila sama Bibi saja sini!"


Hulliyah mengambil alih Khalila dan menggendong bayi mungil tersebut.

__ADS_1


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka yang semakin asik.


Hulliyah memutuskan untuk menutup mulutnya dan tidak berbicara apapun tentang Ustadz Zamzam kepada Nimas.


__ADS_2