
Hari ini kabut kesedihan yang pekat menyelimuti semua orang tatkala mengantar Sofia ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Nimas terkulai lemas di dekapan suaminya merelakan kepergian Sofia sangat sulit sungguh.
Tak jauh darinya, Hulliyah terisak seorang diri merelakannya, walau hatinya begitu pedih. Hulliyah masih berusaha menapak di bumi.
"Apa ini maksud kamu pergi ke bulan Sofi? Sofi, innalillahiwainnailaihi roji'un. Ya Alloooooh."
Hulliyah menunduk seorang diri, di tengah-tengah mereka yang berduka.
Kemudian seseorang menyodorkan sapu tangan tepat di depan wajahnya yang sedang menunduk itu.
Hulliyah mendongak, terlihat pria yang agak asing baginya tapi dia mengenalnya.
"Tidak usah." Hulliyah berpindah tempat meninggalkan pria yang diketahui bernama Haqi itu.
Di belakang Hulliyah, Siti beberapa kali pingsan menghadapi ini semua. Ini begitu cepat, semoga ini mimpi. Ini mimpi!
Uwa mendekap Siti dengan kepedihan yang sama besarnya, terlebih melihat Farrel yang nampak tenang membuat Uwa ketakutan. Uwa takut Farrel memendam kesedihannya lagi seperti dulu.
Di samping mereka, Rista yang datang bersama suaminya sejak tadi menangis histeris tak percaya bahwa teman terdekatnya meninggal bahkan dengan cara seperti ini.
Sementara Orang tua Sofia saling menguatkan diri mereka, mengikhlaskan putri satu-satunya berpulang lebih dulu. Hanya bisa berharap semoga kelak bisa bertemu kembali di kehidupan yang kekal.
Berbeda dengan semua orang yang terlihat sangat sedih, di bawah sana di liang lahat itu, Farrel membantu menurunkan Sofia pada tempat tidur terakhirnya.
Ekspresi Farrel sangat datar, raut wajahnya sangat tenang.
Prosesi pun selesai Mama Haji menutupnya dengan doa.
Kini satu persatu orang telah berjalan untuk pulang. Farrel masih di sana, tak jauh darinya orangtua Sofia yang mulai beranjak.
"Selamat tidur sayang, setelah tujuh langkah aku pergi dari sini semoga kamu bisa menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir."
Farrel pun berjalan pulang, setelah tujuh langkah kembali dia berbalik ke belakang.
"Aku sayang kamu, istriku."
---------------------
Farrel sampai di rumah sedikit terlambat, nampak di sana Ustadz Ahmad yang sengaja sementara waktu menemani Farrel.
"Kenapa gak pulang Mad? Acara tahlilan entar malam di rumah mertua aku. Bukan di sini."
Sesaat setelah Farrel duduk sejajar dengan sepupunya tersebut.
"Lagi pengen main catur, main yuk!"
Ustadz Ahmad mencari cara untuk menghibur Farrel.
Farrel meringis merasa tak bersemangat.
"Lain kali aja yaa, aku cape nih mau tidur bentar. Biar nanti malam ga ngantuk pas acara tahlil."
Ustadz Ahmad pun mengiyakan dan melihat punggung Farrel yang berlalu ke kamarnya.
----------------
Farrel membuka pintu kamar, sesak langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. Perlahan masuk dan menutup pintu.
Farrel tertegun melihat seisi kamar, melihat kasur Sofia, kerudung Sofia yang tergantung. Sakit, satu kata yang diterima otaknya saat ini.
Berjalan perlahan dan duduk di tepi kasur Sofia, terbayang kenangan terakhirnya bersama Sofia.
Saat Sofia meminta ingin dipeluk, Farrel mencelos sakit menyadari memang itulah pelukan terakhir dari Sofia. Andai saja malam itu mereka tetap di rumah, mungkin ....
__ADS_1
Astaghfirulloh, ini sudah jalannya. Manusia tidak bisa merubah garis yng sudah di tentukan.
Farrel menangkup wajahnya kemudian gemetar, tak sanggup sungguh. Berusaha terlihat kuat di depan orang lain sangat berat.
Perasaan Farrel luluh lantah, saat dia ingin memperbaiki diri Alloh SWT kembali memberinya cobaan yang amat sangat berat seperti ini.
Kuat Rel! Kamu pasti bisa.
Farrel kemudian berdiri, Farrel berjalan menuju lemari pakaian Sofia.
Membuka lemari itu, tampak gamis-gamis milik istrinya masih rapi tersimpan. Dibagian tengah lemari, Farrel melihat alat-alat kaligrafi di sana.
Farrel membawanya kemudian duduk di lantai beralaskan karpet.
Tiba-tiba saja rasa penasaran menyusup dalam dadanya. Farrel membuka kotak yang cukup lebar itu.
Hanya kertas-kertas dan alat tulis yang ada di sana.
Namun Farrel menemukan satu helai kertas yang di atasnya terukir nama Sofia. Farrel mengambilnya.
Farrel tercengang melihat ukiran indah atas nama dirinya di atas ukiran nama Sofia.
Coretan tangan Sofia sangat indah dalam melukiskan namanya. Tangan Farrel bergetar mengusap kertas itu.
Ketika Farrel membaliknya, ada catatan di balik kertas itu.
*Duhai pemilik hati yang hakiki, Tuhanku. Maafkan aku telah berbagi hati pada seseorang. Aku merelakan hati ini untuk dia.
Dia yang selalu ku rindu, dia yang ku sayangi, dia suamiku.
Meski suatu saat ragaku telah tiada, aku ingin dia tahu aku menyayanginya. Dia harus menjalani hidupnya dengan baik dekat denganMu.
Kebahagiaanku hanya satu, aku bahagia melihat dia berubah, aku bahagia melihat dia mau belajar untuk dekat denganMu.
Duhai suamiku, semoga kita bisa bersanding kembali di tempat yang abadi kelak*.
Farrel memeluk kertas itu, air matanya kembali berlomba untuk turun.
Melihat semua kenangan ini membuat Farrel menyesal tak mempergunakan waktunya dengan baik. Farrel menyesal karena terlambat menyadari, bahwa Sofialah seseorang yang mampu melindungi hatinya.
"Sesakit ini, Soof. Aku ikhlas."
Farrel sesenggukan sambil menahan suara.
Sini author beri sandaran.
------------------
Sebulan setelah kepergian Sofia, Farrel menghadiri pengajian di Pesantren.
Farrel mulai aktif dalam acara-acara kajian dan semacamnya.
Bila ada waktu senggang, Farrel memyempatkan untuk memgikuti pengajian bulanan di Pesantren.
Hal pertama yang dia ingat dari Pesantren ini tetaplah nama Sofia Mufliha, istrinya yang sudah menanti kedatangannya.
Farrel ingin bertemu kembali dengan Sofi, untuk itu semaksimal mungkin Farrel akan memperbaiki diri. Setidaknya setelah dirinya lebur di neraka, Farrel berharap Alloh SWT mengangkatnya ke surga, mempertemukannya dengan Sofia.
Itulah harapan terbesarnya saat ini.
Maka disinilah Farrel berada duduk mendengarkan kajian dari Mama haji.
Farrel tidak akan terpuruk seperti dulu, Farrel kuat demi Sofia.
Tema kajiannya masih tentang kematian. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami mati. Kita sedang menunggu giliran, entah antrian keberapa kita di jemput. Tak akan ada yang tahu kapan waktunya, karena kematian merupakan rahasia Tuhan.
__ADS_1
Yang selalu diingat ialah maut mengintai kita.
Waspadalah!
'Thor maaf, aku masih sedih ini.
Ah iya maafkan author.'
-----------------
Awan kesedihan yang menggelayut di dada karena kehilangan mempunyai satu obat ampuh yakni waktu.
Seiring berjalannya waktu rasa sakit itu akan tergantikan dengan perasaan rindu dan kenangan yang indah.
Sesaat setelah kajian selesai, Farrel nampak berbincang dengan Mama Haji dan juga Ustadz Zamzam di kursi dekan panggung.
"Masih sering keluar kota nak Farrel?"
Mama membuka obrolan.
"Masih, kemarin baru pulang dari Yogya. Tidak enak hidup melajang lagi, pulang gak ada istri."
Farrel terkekeh.
"Tawakal Rel, semua akan indah pada waktunya." Ustadz Zamzam menimpali sambil menepuk pundaknya.
"Tidak apa-apa ko Stadz, saya ikhlas."
Farrel tersenyum tulus, tersirat di dalamnya bahwa dia tulus.
\*KISAH SOFIA END\*
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
#Haisshh aku gak pandai menyampaikan kesedihan, semoga kisah Sofia menginspirasi kita semua untuk selalu mengingat kematian.
Satu lagi jangan menyia-nyiakan seseorang yang tulus, kalau sudah tidak ada baru terasa.
Akhirnya nyanyi deh, ku menangiiiiis.
#Thor maaf jangan ngelantur (Ustadz Zamzam)
__ADS_1
#Hahhh Ustadz bicara padaku (author)