Love In Pesantren

Love In Pesantren
aku berubah?


__ADS_3

Apa sii tadi maksudnya pakai bilang cinta nomor tiga huh aku makin kesel sama kamu A.


Aku biarkan egoku kali ini menguasaiku dan menyuruh A Zam tidur di luar. Sebenernya sii aku takut khilaf aja , takut tergoda kata-katanya yang selalu gombal.


Maka dari itu aku bersikap seperti itu, aku tahu ini dosa. Tapi aku manusia biasa yang ingin tahu apakah suaminya mencintainya atau tidak.


Eh jawaban yang ku dapat di luar ekspektasi, andai saja tadi A Zam memberikan jawaban yang manis mungkin saja aku akan memaafkannya.


Huhhh tapi ini apa? Aku malah makin keseeel aja bawaannya kalau ada A Zam uh.


Pukul 4 pagi aku terbangun, aku penasaran juga ingin melihat A Zam di luar. Aku pun membuka pintu kamar perlahan ku edarkan pandangan ke ruang tamu namun tak ada sosok A Zam, yang kulihat disana hanya bantalnya saja yang masih tergeletak di atas kursi.


Kemana dia?


Sayup terdengar adzan subuh, tapi aku terpaku mendengar suara muadzinnya.


Mungkinkah A Zam, merdu sekali. Jujur ini baru pertama kali aku mendengar A Zam adzan.


Setelah sholat subuh, aku ke dapur. Sudah lama rasanya tidak memasak, hmmm tapi di sini gak ada bahan masakan. Jadinya aku hanya termangu di meja makan.


"Assalamualaikum."


A Zam pulang tuh.


"Waalaikumussalam." Aku jawab tanpa beranjak dari meja makan.


A Zam pun masuk ke rumah kemudian tersenyum ke arahku.


Hobi banget kamu senyumin aku A.


"Lagi apa ko di sini neng?"


Nyodorin tanganlah dia, ku sambut kemudian balik lagi ke posisi awalku.


"Neng laper?"


Nanya lagi huh. Eh apa cium-cium kepala ih.


"Di depan ada tukang bubur ayam, tadi Aa udah pesan. Bentar Aa ambil dulu."


Eh tumben tuh orang peka.


Setelahnya A Zam kembali sambil membawa dua cup bubur ayam.


"Kenapa ga bawa mangkok di sini sii?"


"Tanggung neng, masa harus di ulangi lagi."


Isshhh gak gitu juga kali Aa.


"Mau sampai kapan neng ngambek terus? Aa ga pernah di kasih senyum lagi."


Bodo ah.


"Dedek kasihan nih ayahnya dicuekin terus sama ibu."


Heii makan mah makan aja A, jangan sok manis gitu pegang-pegang perutku.


"Maksud Aa semalam apa si?"


"Apa?"


Sebenarnya aku malas untuk membahasnya membuat pagiku suram aja.

__ADS_1


"Itu yang katanya cinta itu nomor tiga."


Ditanya malah ketawa, getok takut dosa. Eh emang dosa sii.


"Gini ya neng, dalam kehidupan sesama manusia memang butuh cinta. Tapi yang terpenting itu menurut Aa adalah tanggung jawab dan kasih sayang."


A Zam menjeda pembicaraannya.


"Kenapa Aa bilang cinta itu nomor tiga, ya karna letaknya setelah tanggung jawab dan kasih sayang. Neng juga harus ingat kita tidak boleh mencintai sesama manusia lebih besar daripada cinta kita pada sang pencipta. Neng ngerti?"


Aku pun mengangguk, ini nih yang namanya kuliah subuh ck.


"Neng jangan berubah ya.."


Apa katanya aku berubah?


"Tetaplah jadi istriku, apa pun yang terjadi tetaplah di sisiku."


Harusnya aku kembalikan kalimat itu padanya huh.


------------------------------


Entah ada angin apa, siang ini A Zam mengajakku pergi. Mungkin dia mau nyenengin aku kali biar gak di suruh tidur di luar lagi hihi.


Perkiraanku salah, ternyata A Zam mengajakku bertemu teman-temannya. Di sana ada bu Nanda dan juga bu Rara, ih kalau bukan karna terlanjur, ingin rasanya aku pulang lagi.


Kami berangkat bersama menggunakan mobil minibus sementara mobil A Zam di titipkan di rumah salah satu temannya.


Coba tuh lihat dia, Uh becanda-canda gitu sama temennya.


"Neng jangan cemberut terus, gak enak sama yang lain."


A Zam berbisik padaku, aku tak mungkin menyautnya jadi aku tersenyum saja terpaksa ini kepaksaaaa.


Ternyata baru aku tahu ternyata A Zam bersama teman-temannya sudah setahun ini membangun mesjid ini.


Dan sekarang adalah pertama kalinya mesjid ini di buka untuk umum.


Aku ada di antara mereka yang berbahagia, itu suamiku itu A Zam yang memberi sambutan.


"Wah Pak Zam emang keren !!"


Bu Nanda menyenggol lenganku.


Bu Nanda emang bawel hihi, jujur aku bangga sama kamu A.


"Nimas, beruntung deh bisa punya suami seperti Pak Zam. Semoga masih ada stok banyak yaa."


Aku mengkerutkan kening.


"Stok apa bu?"


"Ya stok laki yang mirip-mirip Pak Zam."


Aku menahan senyum mendengar ucapan Bu Nanda.


Setelah ini akan ada acara santunan anak yatim. Ku perhatikan A Zam yang sibuk itu dari kejauhan.


Pria itu, ya dia adalah suamiku. Pandanganku tak pernah lepas darinya, namun kemudian pandangan kami bertemu. A Zam nampak menatapku dan tersenyum, jelas aku salah tingkah dibuatnya.


Duh tar si Aa geer aku lihatin.


Beberapa saat kemudian, A Zam menghampiriku.

__ADS_1


"Kita keliling yuk neng, sambil menunggu waktunya sholat dhuhur !!"


Aku pun mengiyakannya, eh tunggu!!


Apa harus ya gandengan gini, lihat semua orang itu mereka menatap kami.


Aku menarik tanganku, eh diambil lagi bahkan sekarang digenggam makin erat.


"Malu A."


Aku menunduk menyembunyikan panasnya wajahku.


"Kenapa malu neng? Aku kan suamimu."


Iya sii, tapi beneran deh ngapain pegangan.


"Neng gak liat gadis-gadis itu."


Eh apa?


Aku mengangkat wajah ini dan melihat sekeliling. Eh iya loh jemaah yang rata-rata ibu-ibu itu diselipi beberapa gadis cantik. Aku jadi panas sendiri membayangkan A Zam juga lelaki normal yang pasti menyukai keindahan.


Aku saja yang baru sadar, lah dia udah sadar dari tadi udah kenyang liatin mereka tuh uh sebel.


"Tadi pemuka agama di sini nanya."


"Nanya apa?"


"Katanya aku udah punya pasangan apa belum? Kalau belum, katanya beliau mau mengenalkanku sama anak gadisnya."


APAAAAA?? Syok dong aku.


"Hei !! Kok melamun.."


Tuh kaan aku jadi kepikiran.


"Neng tenang saja, Aa tadi sudah bilang kalau Aa sudah punya istri."


Terserah Aa deh.


Ketika kami tengah berjalan-jalan memperhatikan setiap keindahan arsitektur mesjid ini seseorang memanggil A Zam.


A Zam pamit meninggalkanku, sebentar katanya. Eh tapi lebih dari 10 menit ini.


Aku berdiri di bagian teras mesjid yang klasik namun nampak mewah. Sesekali memperhatikan A Zam, eh apa itu pemuka agama yang diceritakan A Zam.


Dan apakah itu gadis itu?


Ah tidak segera aku hapus fikiran negatifku. Jujur sih aku takut.


"Neng."


Aku pun menoleh, apa itu? Apa dia sedang memotretku?


Kulihat A Zam memegang ponselnya.


"Aa foto aku ya?"


Eh malah ketawa.


"Ga apa-apakan? Aa gak punya foto neng looh."


#mana coba author liat (author)

__ADS_1


__ADS_2