Love In Pesantren

Love In Pesantren
Tidur di luar


__ADS_3

Farrel datang menghampiri teman-teman dari almarhumah Sofia. Farrel menyapa untuk sekedar menanyakan kabar.


Sejak masuk ke area Pesantren, Farrel seakan melihat Sofia apalagi saat teman-temannya sedang berkumpul seperti ini. Farrel seakan melihat Sofia ada diantara mereka.


Meski sudah satu tahun yang lalu Sofia meninggal, Farrel masih belum bisa melupakan bayang-bayang istrinya itu.


Bukan.


Farrel bukan meratapi, hanya saja Farrel tidak bisa melupakan istrinya itu. Entah sampai kapan, yang jelas Farrel semakin hari semakin mencintai Sofia. Walaupun raganya sudah tiada dimakan bumi. Farrel mencintai ketulusan yang dulu pernah ada itu.


Meski Farrel terlambat menyambut bahagianya, semoga masih ada kesempatan bertemu di tempat yang kekal abadi suatu hari nanti.


"Assalamualaikum."


Nimas, Hulliyah, dan Neli menoleh secara bersamaan.


"Waalaikumussalam."


"Senang bertemu di sini," Farrel menyunggingkan senyuman ramah.


"Jarang ikut pengajian ya sekarang?" tanya Hulliyah.


"Kebetulan beberapa bulan ini saya ada pekerjaan di luar kota. Wah Nim, anaknya perempuan lagi?"


Farrel melihat Khalila yang masih tertidur.


"Ehm iya."


Rasa canggung tiba-tiba menyeruak dalam dada Nimas.


Dulu mereka pernah sangat dekat walaupun terlambat bertemu.


Kalau dipikir hidup Farrel miris banget ya, sama author aja Rel. Mau?


Akhirnya mereka terlibat obrolan yang seru mengenang Sofia, tidak ada tangis di sana hanya senyuman keikhlasan dan kerinduan.


---------------------


Langit menggelap lebih cepat sore ini, mendung menyapa menghalangi senja.


Nimas berkumpul bersama kedua anaknya di karpet yang digelar di depan televisi. Menikmati waktu bertiga seperti ini seolah menjadi me time tersendiri untuk Nimas.


Nimas berbaring diantara kedua putrinya, Nimas mendengarkan celotehan Zamima yang sudah mulai lancar berbicara. Zamima menceritakan tiga hari di rumah neneknya, bermain dengan sepupunya dan masih banyak lagi yang gadis polos itu rekam di memorinya.


Hingga terdengar salam yang menghentikan sementara obrolan Zamima dan ibunya. Zamima berlari ke arah pintu karena mengenali suara seseorang yang memberi salam tersebut. Zamima menjawab salam dengan cadelnya, sehingga membuat seseorang di balik pintu itu tertawa gemas.


"Anak Ayah sudah pinter jawab salamnya ya." Sumringah Ustadz Zamzam pulang disambut sang putri yang sedang lucu-lucunya itu.


Namun ketika kedua bola matanya masuk lebih dalam dirinya tak mendapati senyum dari sang istri.


Ah rasanya dunia hampa tanpa senyuman Nimas.


Nimas berlalu ke dapur membawakan air minum untuk suaminya tanpa berkata apapun. Jika dengan bersikap manis dianggap tidak berakhlak, maka Nimas akan melakukan hal sebaliknya.

__ADS_1


Sudah cukup Nimas selalu luluh dengan perkataan Ustadz Zamzam, sudah cukup kesakitan yang selalu ditorehkan selama ini. Berontak sedikit akankah akan membuatnya jadi istri durhaka?


Sementara selama ini dirinya mematuhi suami bisa dibilang tidak berakhlak.


Sesekali durhaka enggak apa-apa ko Nim🙈.


-----------


Malam datang dan semakin larut, Nimas tak berpindah dari tempatnya masih di depan televisi yang tidak dinyalakan. Menidurkan Khalila di sana.


"Neng, enggak pindah?"


Sang Ustadz keluar kamar setelah menidurkan Zamima.


"Lila kepanasan, malam ini tidur di sini saja. Aa temenin Mima di dalam."


Ustadz Zamzam membaringkan tubuhnya disamping Khalila. Sehingga kini Khalila diapit kedua orangtuanya. Sang Ustadz mencium pipi anaknya dan mengusap-usapnya.


Tak lama kemudian tangan itu berpindah ke pipi ibunya Khalila.


Nimas terperanjat menjauh.


"Masih marah aja, udah lebih dari tiga hari ini."


Nimas diam.


"Aku kan udah minta maaf Neng...." Sang Ustadz terdengar putus asa.


Rasanya kata maaf tidak akan mungkin menyembuhkan luka hati Nimas yang terlanjur dalam.


Hal itu langsung membuat sang Ustadz tersenyum. Tangan Ustadz Zamzam kembali mencoba meraih wajah istrinya.


Lagi-lagi Nimas menghindar.


Ustadz Zamzam pun kembali menurunkan tangannya, kemudian membelai kepala Khalila menghilangkan rasa kecewa.


"Oh iya Neng, akhir pekan ini kita piknik yuk! Nginep semalam di Vila dekat danau."


"Ngapain?" Nimas bangun dari posisinya kemudian masuk ke dalam kamar untuk mengecek keadaan Zamima.


Saat Nimas kembali, suaminya nampak sudah terduduk di sofa.


"Kita ngobrol dulu!" ajak Ustadz Zamzam.


Meskipun sangat enggan, tetapi Nimas menurutinya.


Nimas mendudukkan dirinya di seberang Ustadz Zamzam.


"Jauh banget duduknya?"


Nimas diam.


Ustadz Zamzam hanya bisa membuang napasnya gusar, mencoba menahan amarah karena tingkah Nimas yang sangat menyiksanya.

__ADS_1


"Kita harus nolongin Hulliyah sama Haqi, supaya mereka bisa ngobrol dan berduaan."


Nimas menatap suaminya bingung, "maksudnya?"


"Iya, kita piknik barengan sama mereka. Lagipula sudah lama kita tidak menghabiskan waktu untuk berlibur."


Ustadz Zamzam memperhatikan istrinya dalam.


"Itu karena Aa sibuk dengan Hannah."


Ustadz Zamzam mendadak gusar dengan jawaban menohok dari Nimas.


"Udah dong Neng, kenapa masih bahas Hannah si? Kasihan dia terseret masalah kita."


Apa?


Kasihan?


"Tidak segampang itu A! Setelah apa yang Aa lakukan, Aa bilang Kasihan dia?"


"Neng!"


Suara Ustadz Zamzam meninggi.


"Apa? Kelihatan banget Aa milih dia daripada aku. Aku emang gak berakhlak beda sama dia yang lemah lembut. Aku juga kucel gak terurus beda sama dia yang cantik."


Nimas berkata diselingi isak tangis, Nimas mengeluarkan semua uneg-uneg yang selama ini ditahannya sendiri.


Sebelum Ustadz Zamzam melakukan pembelaan, Nimas pergi meninggalkannya.


Beberapa detik kemudian Nimas berbalik dan berkata, "ayo kita piknik! Tapi ini semata karena aku ingin membantu Hulliyah. Maafkan aku yang semakin tak berkhlak ini, tapi aku belum melupakan kata-kata Aa yang menyakiti hatiku. Sebelum aku yakin kalau Aa sudah berubah, maaf aku akan selalu bersikap tidak berakhlak seperti ini. Satu lagi! Malam ini Aa temani Mima tidur. Aku tidur di luar."


Waduh ternyata Nimas yang kalem bisa marah juga ya.


Bagaikan sebuah tamparan telak, Ustadz Zamzam tidak mampu berkata-kata lagi. Dirinya hanya bisa memandangi istrinya yang pergi menjauh.


Sosok istri lembut itu sudah tidak ada lagi. Istri yang dulu rajin tersenyum itu, tinggal kenangan.


Ayolah Stadz, Nimas hanya butuh kamu sadar. Hadeuh ingin ku menjitakmu eh.


--------------------


Ketika pagi itu tiba, tak ada kalimat yang terucap dari kedua insan yang sedang berseteru itu. Mereka sibuk dengan anak mereka tanpa saling menyapa.


Ketika sang Ustadz berpamitan berangkat bekerjapun Nimas hanya mengantar ke depan pintu tanpa tersenyum. Hal itu membuat hari Ustadz Zamzam seakan tak beirama.


Satu harapannya, semoga pada acara piknik yang mereka rencanakan akan memperbaiki hubungan mereka yang semakin merenggang.


Salah siapa ini Stadz?


Setelah satu jam Ustadz Zamzam pergi, terdengar ketukan pintu di luar sana. Nimas yang baru saja selesai memandikan Zamima segera membuka pintu.


Saat pintu itu terbuka, raut wajah Nimas berubah jadi masam.

__ADS_1


*****


__ADS_2