Love In Pesantren

Love In Pesantren
Semudah ini jatuh hati


__ADS_3

Sang ayah masih murka melihat wajah Haqi, ingin rasanya Beliau mengeluarkan jurus bangau untuk mematuk Haqi. Namun itu hanya menjadi keinginan dalam hatinya.


Mama Haji menengahi mereka berdua dan mengajak untuk berbicara secara baik-baik.


Mereka pun duduk untuk bermusyawarah, tatapan ayah Hulliyah tak berpaling dari menantunya. Manghunus tajam seperti ingin mencengkram dan menikamnya.


Haqi membalas tatapan itu dengan senyuman, Haqi tahu kekerasan akan luluh dengan kelembutan.


"Saya kecewa! Seharusnya Mama menjaga amanah saya!" Ayah Hulliyah masih menggebu-gebu.


"Begini Pak, tadinya saya pikir mereka itu sudah suami istri lalu apa salahnya mereka pergi bersama?" Mama Haji berkata selembut mungkin supaya ayah Hulliyah tidak terpancing emosi.


"Pokoknya saya tidak ingin hal ini terulang kembali!" ancam ayah Hulliyah.


"Tidak Pak, saya tidak akan mengulanginya lagi," jawab Haqi tegas.


"Saya tidak berbicara sama kamu!" jawab ayah Hullliyah.


Sepertinya perjalanan Haqi untuk meluluhkan hati sang mertua masih sangat panjang. Tak lama kemudian ayah Hulliyah berpamitan untuk bertemu dengan anaknya. Tinggalah kini Haqi dan Mama Haji.


Mama Haji menatap Haqi dengan serius.


"Nak, maafkan mertuamu yang bersikap seperti itu."


"Tidak Ma, memang saya yang salah. Maafkan saya, Mama jadi ikut terseret dalam masalah ini," ucap Haqi tulus.


Mama tersenyum kemudian berkata, "sungguh mertuamu sangat beruntung memiliki menantu seperti nak Haqi. Mertua adalah orangtua kita juga, maka perlakukanlah mereka sebagaimana adab seorang anak terhadap orangtua. Semoga Alloh segera melembutkan hati mertuamu."


Haqi hanya mampu mengaminkan tanpa bisa berharap lebih. Haqi sadar diri, dirinya hanyalah seorang menantu dadakan yang tiba-tiba datang mempersunting anaknya.


Haqi mengerti perasaan sang mertua yang menginginkan menantu yang sempurna lagi mapan.


------------------


Sejak hari itu Haqi tidak pernah datang ke Pesantren, Haqi memilih menjaga jarak dengan Hulliyah. Tidak bermaksud menjauhi hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya bersungguh-sungguh ingin mendapatkan kepercayaan dari sang mertua.


Terhitung dua minggu lamanya Hulliyah menanti Haqi berkunjung, tetapi Haqi tidak pernah menunjukkan batang hidungnya.


Entah sejak kapan perasaan rindu itu hinggap, Hulliyah ingin sekali bertemu dengan Haqi. Ingin sekali melihat senyumannya, Hulliyah ingin mendengar tutur katanya yang selalu bijak.


Sesibuk itu kamu Kak? Apa Kakak melupakan aku?

__ADS_1


Hulliyah terlihat sedang berada di atap madrasah. Hulliyah memilih menghabiskan waktu istirahat siangnya di sana. Hulliyah ingin menyendiri, menikmati kesendirian dan kerinduan yang tak bertepi.


Tiada lagi nama Beni di hati Hulliyah, Tuhan dengan cepat membalikkan hati Hulliyah. Hulliyah tidak merasakan sakit lagi mengingat kejadian yang mengharuskannya menikah dengan Haqi. Hulliyah bersyukur inilah takdirnya bersama Haqi.


Di tengah teriknya mentari siang ini, Hulliyah masih termenung matanya berkeliling menikmati keindahan daerah yang selama ini menjadi tempatnya tinggal dan menetap.


Dari atas sana Hulliyah bisa melihat lapangan bola dimana dirinya pernah bermain bola bersama di sana. Sebuah senyuman tersungging mengingat hari itu. Hari dimana dia melepaskan jiwanya untuk terbebas dan tertawa lepas.


Mata Hulliyah kembali mengitari sekitar area Pesantren, hingga tak sengaja terlihatlah sosok itu.


Sosok yang dirindukannya, Haqi berada dekat dengannya.


Ya, Haqi sedang mengontrol pembangunan sumur bor yang masih dalam tahap penyelesaian.


Senyuman merekah mengiringi kaki Hulliyah yang berlari.


Langkah cepat itu tak disadari semakin cepat, hingga Hulliyah tersandung dan terjatuh berkali-kali. Hulliyah tidak peduli seberapa sakit lutut dan telapak kakinya yang tidak dilapisi alas.


Hulliyah hanya ingin bertemu Haqi, Hulliyah ingin berbicara dengan suaminya itu. Sungguh Hulliyah merindu.


Suasana Pesantren yang sepi membuatnya tak banyak berpapasan dengan santri yang lain. Kebanyakan santri sedang melakukan ritual tidur siang supaya nanti malam mereka semangat mengaji sampai tengah malam.


Hulliyah terus berlari, tinggal beberapa langkah lagi dirinya sampai di depan gerbang itu. Tubuh Haqi sudah terlihat sangat dekat. Haqi masih berbincang dengan para pegawai itu.


Haqi terlihat beranjak dari tempatnya, kemudian berjalan menjauh dan semakin menjauh. Hulliyah yang baru saja sampai di depan gerbang dengan napas yang tersenggal-senggal hanya bisa menatap punggung Haqi yang menjauh.


Gerbang itu terkunci, memang selalu terkunci supaya santri tidak bebas berkeliaran di luar.


Hulliyah lemas memandang Haqi yang semakin menjauh, untuk memanggil namanya saja sudah tidak ada tenaga lagi.


Hulliyah berjalan pincang menuju tempat teduh di sekitar tempatnya berada. Hulliyah mendudukkan dirinya dan memijat kakinya yang baru terasa sakit.


Sepertinya Kak Haqi tidak ingin bertemu denganku. Ah bodohnya aku, seharusnya aku tidak berharap lebih padanya. Kak Haqi adalah korban yang menyelamatkanku. Pasti sangat terpaksa menikahiku, pantas saja dia tidak ingin menyentuhku.


Mata bening itu kini berkaca-kaca, Huliyah menyadari bahwa hubungannya dengan Haqi adalah sebuah kesalahan.


--------------------


Hari-hari dilewati Hulliyah berusaha tidak merindu lagi, Hulliyah membiarkan perasaannya mengambang dan berharap cepat menghilang.


Malam ini seperti biasa malam mingguan para santri ialah mendengarkan kajian dari sang pemimpin Pondok Pesantren.

__ADS_1


Mama Haji mengabsen satu persatu santrinya, mengumpulkannya dalam satu ruangan besar aula Pesantren.


Hulliyah berbaur dengan santriwati lainnya bersiap mendengarkan kajian malam ini. Mencoba mengalihkan perhatian dari kegamangan hatinya, memantapkan diri mencari ilmu tanpa adanya godaan duniawi.


Mama Haji telah berdiri di depan mimbar, memulai kajian lebih cepat dari biasanya.


"Pernahkah kalian mendengar kata istidraj?"


Ditengah ceramahnya Mama Haji melayangkan pertanyaan yang disambut jawaban dari para santri.


"Pernah...."


"Apa itu istidraj? Istidraj bisa diartikan sebagai azab berwujud kenikmatan. Loh memangnya ada Ma? Jelas ada!"


Pembawaan Mama yang interaktif membuat para santri semangat mendengarkan kajiannya.


"Alloh Subhahuwata'ala berfirman dalam surat Al An'am ayat 44 yang artinya, maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka. Kami pun membukakan semua pintu kesenangan bagi mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka. Hingga Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa."


"Ayat itu menjelaskan bahwa ketika seorang muslim banyak melakukan maksiat dan jarang beribadah, namun hidupnya dilimpahi kenikmatan. Maka haruslah berhati-hati itu adalah tanda-tanda sedang diistidraj."


Tiba-tiba seorang santri mengacungkan tangannya untuk bertanya.


"Apa ada ciri-cirinya Ma?"


"Jelas ada, beberapa diantara cirinya adalah satu, malas beribadah namun hidupnya begitu nikmat. Dua, banyak mengerjakan maksiat namun dilimpahi ketenangan. Tiga, jarang sakit."


Mama melanjutkan kajiannya sampai tengah malam.


--------------------


Setelah kajian usai, Neli dan Hulliyah bersiap tidur di kobong mereka.


Sebelum menutup mata, Neli mengajak Hulliyah berbicara.


"Li, apa aku sedang diistidraj ya?"


"Memangnya kenapa?" kata Hulliyah yang mulai terkantuk-kantuk.


"Soalnya aku bahagia menjomblo." kata Neli polos.


"Dih itu mah nasib. Udah ah aku ngantuk."

__ADS_1


Hulliyah menutup harinya dan mengistirahatkan tubuhnya berharap esok hari akan ada bahagia tanpa istidraj.


__ADS_2