Love In Pesantren

Love In Pesantren
Melunak


__ADS_3

Hari ini acara yang di gelar Sulis dan keluarganya dalam rangka syukuran itu sudah usai.


Bocah laki-laki berusia 4 tahun itu, sudah terlihat gagah kini. Ya gagah sebagai lelaki muslim tentunya.


Kebahagiaan tergambar jelas dari semua orang di sana terutama Sulis bersama suaminya. Mereka bersuka cita naik di sebuah panggung kecil.


Melakukan berbagai permainan di atas sana, untuk menghibur sang anak. Tawa menyeruak mengiringi hembusan angin sejuk di tengah terik mentari.


Pemandangan indah interaksi keluarga kecil itu tak luput dari perhatian Sofia. Dirinya yang tengah berdiri di samping Farrel, tersenyum setiap kali melihat mereka tertawa.


Farrel, si keras hati itu terenyuh melihat senyuman Sofia. Baru kali ini dia melihat Sofia tersenyum sedekat ini.


Indah.


"Kamu mau punya keluarga seperti mereka?"


Eh.


Sontak Sofia menoleh ke arah Farrel. Si pemberi pertanyaan menatap lurus ke depan.


Sofia memperhatikan lekuk wajah Farrel dari samping. Hidung mancung, jambang panjang, dagu berbulu.


Hei, otakmu Sof.


Sofia baru saja akan menjawab pertanyaan aneh yang Farrel lontarkan tadi, namun suara seseorang yang memanggil nama Farrel membuat mereka berdua menoleh.


"Ujang.. Jang Farrel !!"


Farrel menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan, setelah pasti bapak itu memanggilnya, dia pun berjalan mendekat pada seorang bapak yang memanggilnya itu.


Yah baru juga Sofia mangap.


Sofia memperhatikan setiap gerak tubuh Farrel. Berbagai keriuhan sudah tak menarik lagi baginya kini.


Di kejauhan sana, terlihat Farrel membantu membongkar tenda. Maklum acara sudah usai, orang-orang diatas panggung sudah kembali ke tempat semestinya.


Rombongan penonton mengurai satu-persatu.


Lihat itu!! Farrel tertawa.


Entah candaan macam apa yang mereka lakukan. Yang jelas Farrel terlihat amat sangat bahagia.


Sofia memperhatikannya sampai lupa berkedip, hingga matanya memerah dan berair.


Eh itu nangis kali.


Dan pandangan mereka bertemu.


Seulas senyum Farrel berikan ke arah Sofia, entahlah senyuman itu untuk siapa. Sofia mengerjap, menoleh kanan kiri depan belakang. Kosong.


Hanya dirinya yang kini berdiri di sana. Saking asik melihat Farrel, dia tak sadar bahwa semua orang telah pergi.


Eh tunggu.


Berarti tadi Farrel senyum sama Sofia.


Wah kemajuan nih.


Sofia yang baru sadar, hendak membalas senyuman sang suami. Tapi sayangnya Farrel sudah tak melihat ke arahnya lagi.


Yah coba lagi Sof.


----------------------


Sore ini Sofia dan Farrel berpamitan pulang, sedangkan Hulliyah tetap di sana untuk beberapa minggu ke depan.


Hulliyah termasuk santri yang jarang pulang, oleh karena itu dia di beri izin libur agak panjang.


Kini di perjalanan berliku ini hanya ada Sofia dan Farrel. Sunyi senyap tak ada suara, baru seperempat jalan mereka lewati tiba-tiba saja terdengar bunyi seperti ledakan yang sangat keras.


DUARRRRR....


Mobil pun oleng kiri kanan.


"Kenapa Rel? Aaaaa."

__ADS_1


Untunglah mobil dapat dikendalikan dan berhenti sebelum membentur pohon.


Kedua insan yang masih dilanda keterkejutan di dalam mobil itu saling berebut untuk mengatur nafas.


Menormalkan degupan jantung karena kaget.


"Kamu ga apa-apa?"


Eh ko barengan.


Mereka terdiam lagi, Sofia masih memegangi dadanya sambil menunduk.


Farrel keluar mobil untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi.


Hei, kenapa kalian jadi seperti salah tingkah begitu?


Setelah beberapa saat, Sofia memilih menyusul Farrel keluar mobil.


"Kenapa Rel?"


"Apa sii tanya-tanya? Ga bakal bisa bantu juga."


Idih selalu aja nyolot.


Sofia membungkam mulutnya seketika.


Iya Sof percuma ngomong sama orang darah tinggi seperti itu.


"Sial... Bannya bocor."


Tadi ada yang nanya ga di jawab, sekarang malah ngomong sendiri ckck.


---------------


Selagi menunggu Farrel mengganti ban, Sofia memilih untuk berjalan-jalan di sekitaran sana. Jalanan yang mereka lewati sangat sepi karena jauh dari pemukiman. Hanya sesekali kendaraan yang melintas melewati mereka.


Sofia mendudukkan dirinya pada sebuah batu besar yang menghadap langsung ke sebuah sungai.


Yaa, di bawah sana adalah sungai yang cukup besar. Bebatuan besar berada di sepanjang sungai itu.


Sementara di seberang sana di balik perkebunan itu terlihat genting-genting rumah yang terlihat seakan berdempetan satu sama lain.


Bener deh ini seperti piknik, cuma kurang makanan dan miuman saja.


Tiba-tiba Farrel menghampirinya dan ikut duduk di batu besar itu.


Sofia merangkai pertanyaan dalam hati.


Udah selesai?


Gimana udah bisa jalan?


Namun pertanyaan itu tak jua dia ucapkan, karena terlalu takut mendengar bentakan dari Farrel.


"Untung aja bawa ban cadangan, huh Kalau engga nih kita bisa bermalam di sini."


Seakan menjawab pertanyaan Sofia, Farrel berbicara sendiri.


"Kita istirahat dulu ya, aku masih kaget ini."


Lagi, Farrel berbicara tanpa di tanya.


Farrel tuh bicaranya harus melalui kalbu yee hihi.


"Ko ga ngomong?"


Sofia mengerjap, Eh apa katanya?


Nyuruh Sofia ngomong?


"Kamu pasti kaget ya?"


Entah perasaan Sofia atau memang benar, nada suara Farrel terdengar seperti godaan menggelitik di telinga Sofia.


"Orang nanya itu dijawab!!"

__ADS_1


Wah sudah mulai kesal rupanya.


Tuh Rel, di acuhkan saat bertanya itu ga enak. Kamu dari kemaren begitu tuh sama Sofi.


Diam kau author kaleng!!


Ck malah ngatain.


"Aku takut salah ngomong, eh ternyata ga ngomong juga lebih salah."


Ucapan Sofia barusan seperti menampar Farrel.


Farrel mendesah pelan, seperti menyadari sesuatu.


"Tentang pertanyaanku tadi siang..."


Eh.


Menoleh juga akhirnya Sofia.


"Yang mana?"


Sebenarnya Sofia ingat, tapi dia ingin mendengar sekali lagi dari mulut lelaki ini.


"Belum tua udah pelupa, itu looh tadi aku nanya. Apa kamu mau punya keluarga sendiri, terus punya anak?"


Senyum Sofia terbit begitu lebar.


Waaah jangan-jangan Farrel ngajak bikin anak nih haha.


"Dih malah senyam-senyum, jawab oneng!!"


Ga sabaran amat sii kamu tuh.


"Siapa sih yang ga mau Rel, setiap orang pasti maulah. Termasuk juga aku."


Kali ini Farrel menatap Sofia dalam.


Ajak aku Rel, ajak aku bikin anak.


Sofia ngawur dan ngarep banget sii.


"Lakukanlah!! Pergilah!! Kamu berhak untuk memiliki keluarga."


Seketika senyuman Sofia sirna, Sofia merancau dalam hati.


Tapi aku mau kamu, mau sama kamu.


"Kita lanjutkan perjalanan!! Takutnya kemaleman."


Farrel berdiri merapikan bajunya kemudian berjalan meninggalksn Sofia yang masih termangu dengan fikirannya.


"Cepetan!!! Kalau engga aku tinggal nih."


Suara Farrel dari balik kursi mengemudi membuat Sofia mengerjap dan berlari masuk ke dalam mobil.


Mobil pun bergerak maju, meninggalkan sisa-sisa kehangatan di atas batu itu.


Sisa apa?


Yaa batunya anget setelah mereka duduki tadi.


Perjalanan mereka lanjutkan masih dalam keheningan.


Sebenarnya ada kekecewaan yang Sofia rasakan, tapi kenapa?


Bukankah dia harusnya senang Farrel melepasnya?


Bukankah dirinya sudah berhasil membuat Farrel sedikit demi sedikit melupakan Nimas?


Bukankah itu tujuannya?


Tapi kenapa sekarang dirinya sangat berat pergi?


Kenapa?

__ADS_1


__ADS_2