
Hari-hari serasa cepat berlalu, 2 minggu yang ditunggu akhirnya tiba.
Nimas tengah berada di tengah-tengah rombongan siswa beserta guru yang akan berangkat ke Pangandaran.
Sang Ustadz terlihat sibuk mondar mandir mengurusi segala sesuatu tentang muridnya, Nimas tahu hal itu dia lebih memilih berkumpul bersama beberapa guru perempuan yang terlihat bersantai tak sesibuk suaminya.
"Ini istrinya Pak Zam ya?"
Pertanyaan yang membuat Nimas mengalihkan perhatiannya yang sedang memperhatikan sang suami.
Nimas mengangguk dan tersenyum.
"Hati-hati, jagain suaminya. Di sekolah banyak yang naksir looh."
Bu guru tukang gosip deh tuh kayaknya.
"Contohnya, tuh liat!! Itu Bu Rara namanya, dia gencar banget deketin Pak Zam dari sebelum kalian nikah."
Bu guru bertubuh gempal itu menunjuk Ustadz Zamzam yang tengah berbincang dengan seorang guru wanita muda, cantik itu yang ada di benak Nimas.
--------------------------------------------
Bis pun akhirnya tiba, rombongan satu persatu masuk ke dalamnya.
Nimas tengah duduk di kursi tengah tepatnya dibarisan kedua, Nimas berfikir supaya lebih gampang memanggil suaminya..
Sang Ustadz pun masuk ke dalam bis, Nimas begitu sumringah melambaikan tangannya. "A, disini a."
Sang Ustadz pun melihat ke arahnya namun kemudian dia memilih kursi paling depan. Entah apa alasannya, yang jelas Nimas merasa terabaikan.
Hingga ada orang yang meminta duduk disampingnya Nimas pun mempersilahkannya.
Pandangan Nimas terus ke arah suaminya yang tengah mengobrol bersama rekannya, sambil ketawa-tawa lagi.
Gak liat itu istri cemberut dibelakangmu Stadz.
Nimas memilih tidur, perjalanan masih jauh.
Ustadz Zamzam mengalihkan pandangannya ke belakang. Dilihatnya sang istri tidur, dia memutuskan untuk bertukar tempat dengan orang yang ada di sebelah Nimas.
Sesaat memperhatikan wajah cantik istrinya kemudian tersenyum, di raihnya tubuh Nimas kemudian merengkuhnya membiarkan Nimas tidur dalam dekapannya.
Setelah berjam-jam perjalanan sebentar lagi bus tiba di tujuan. Sang Ustadz melepas dekapannya pelan-pelan supaya tidak membangunkan Nimas kemudian dia mulai memberi aba-aba pada semua agar bersiap turun.
Nimas pun terbangun karena kebisingan. Matanya mencari-cari keberadaan Ustadz yang ternyata telah berada di luar.
Helaan nafas kecewa memenuhi rongga dadanya, Nimas pun ikut turun bersama yang lain.
*S*i Nimas ga tau kalau tadi suaminya sweet gitu *haha***...
Sang Ustadz masih saja sibuk mengatur semua siswa yang akan ada di penginapan. Nimas mengikuti arahan, dia masuk ke sebuah rumah yang di sewakan bersama guru-guru wanita di sana, ada lima guru wanita jadi di rumah itu mereka berenam bersama Nimas.
Ada dua kamar, setiap kamarnya ada tiga orang.
Kebetulan Nimas sekamar dengan guru yang tadi bergosip dan bu guru yang bernama Rara.
__ADS_1
Ini mah bukan bulan madu namanya. Bayangan tentang bulan madu yang romantis sirna begitu saja di benak Nimas****.
Hari sudah gelap, setelah tadi makan makan malam bersama, kini para siswa berkumpul di area pantai bersama semua guru.
Nimas hanya duduk dibangku dekat pantai memperhatikan permainan yang dilakukan anak-anak yang begitu riang itu.
Dua jam lamanya Nimas duduk, akhirnya dia memilih berjalan menyusuri bibir pantai agak menjauh dari kerumunan itu.
Angin malam menerpa gamis navy yang Nimas kenakan kerudungnya menari-nari mengikuti alur angin. Nimas menikmati indahnya pantai malam itu sendirian memejamkan matanya, membiarkan air laut membasahi kaki dan gamis yang dia kenakan, deburan ombak menentramkan jiwa.
Maha besar Tuhan yang menciptakan keindahannya.
"Neng.."
Suara yang sangat dikenal Nimas itu membuyarkan renungan Nimas.
Nimas menoleh ke belakang sang Ustadz tersenyum di sana.
Meraih tangan Nimas lembut.
"Ke dalam neng, dingin. Tangannya sampai dingin begini."
"Bentar lagi A, anak-anak udah selesai?"
Sang Ustadz membalikkan tubuh Nimas dan mendekapnya dari belakang.
"Semua sudah istirahat, tinggal kita aja nih yang masih di luar."
"Yaudah kita juga ke dalam, A Zam juga istirahat."
"Neng tau gak seberapa bahagia aku memilikimu?"
Oiiii mulai lagi deh ahh.
Nimas menggelengkan kepalanya.
"Neng lihat bintang itu."
Sang Ustadz menunjuk bintang nan jauh di kegelapan langit malam.
"Sebesar bintang itu." katanya.
Kecil banget....
"Sebesar bintang itu?" Tanya Nimas.
"Iya, seperti bintang itu kecil tapi banyak."
Seketika Nimas tersipu malu, sang Ustadz membalikan tubuhnya.
Ustadz nakal ih liat tuh Nimas, pipinya merona begitu.
"Aku akan berusaha jadi imam yang baik untukmu dan anak-anak kita kelak."
Cieeee.. Duh Author yang baper.
__ADS_1
Tak bisa menjawab Nimas kaku di hadapan sang Ustadz.
*Jangan percaya Nimas itu gombal haha
author kompor*..
Setelah menghabiskan setengah jam berdua, akhirnya Nimas dan Ustadz Zamzam berjalan menuju penginapan, rumah yang bersebelahan itu menjadi pemisah diantara mereka.
"Tidur yang nyenyak istriku."
Aihh rajanya emang kamu Stadz.
Mereka masuk ke penginapan masing-masing untuk beristirahat.
---------------------------------------
Kumandang adzan subuh membangunkan semua orang dari mimpi setiap insan.
Setelah selesai beribadah bu guru gosip, eh bu Nanda namanya. Beliau begitu heboh mengajak Nimas dan Bu Rara untuk melihat matahari terbit.
"Cepet dong, ayoo jalannya keburu telat kita."
Bu Nanda sedikit menarik Nimas dan Bu Rara.
Setelah sampai di tempat yang strategis bisa melihat sunrise mereka berdiri mengagumi keindahannya.
"Fotoin dong tolong!!" Pinta bu Nanda pada Nimas.
Beberapa fose di pakai Bu Nanda, ada yang sendiri berdua dan mereka bertiga.
Sesekali Nimas pun ikut tertawa karena kelakuan Bu Nanda yang mampu menghiburnya dan dan sedikit merasa mempunyai teman baru.
Setelah di rasa cukup, akhirnya mereka memutuskan kembali ke penginapan untuk memulai hari yang melelahkan tentunya.
Sesampainya di penginapan mereka berpapasan dengan Ustadz Zamzam.
"Eh Pak Zam mau kemana?" Tanya Bu Nanda.
"Saya mencari bu Rara dari tadi."
Nah loh, bisa gak sih kalimatnya dipertegas supaya tidak ada yang salah paham.
Nimas memilih masuk penginapan dengan perasaan yang berkecamuk. Di depan matanya suami tersayang menanyakan wanita lain dan bahkan dirinya merasa sangat terabaikan tidak di sapa.
Sementara di luar sang Ustadz tengah menanyakan jadwal kegiatan anak-anak hari itu pada Bu Rara.
"Tuh kan bener, Pak Zam deketin Bu Rara." Bu Nanda yang tiba-tiba masuk sedikit mengagetkan Nimas.
Bisa gak sih sejenis manusia seperti bu Nanda di pelankan suaranya. Ada yang panas di sini.
Nimas tersenyum menyambut gosip pagi hari, dia memilih mandi supaya dihindarkan dari bisikan-bisikan keraguan dalam hatinya.
#Kasar kamu thor menggambarkan bu Nanda (Nimas)
#hehe maaf keceplosan jarinya yang ngetik bukan mulutku yang ngomong (author)
__ADS_1