Love In Pesantren

Love In Pesantren
Mahramku


__ADS_3

Petang ini, Farrel dan Sofia baru tiba di rumah mereka. Seperti biasa tak ada kalimat berarti diantara mereka.


Setelah hari yang melelahkan akhirnya Sofia bisa juga berbaring di kasurnya yang empuk.


Tiba-tiba Sofia teringat akan kejadian tadi siang. Bahkan pesan dari Uwa sebelum dirinya pulang masih terngiang jelas di telinganya.


"Uwa, mengandalkanmu Sofia. Terima kasih sudah mau bertahan."


Huhh awalnya mau menyerah ga jadi kan.


Sofia merasa tak tega pada Uwa.


Tak lama kemudian dia mendapat pesan dari Nimas.


"*Assalamualaikum Sofi, maafkan aku. Sof apakah kamu baik-baik saja di sana?"


"Waalaikumussalam, aku baik-baik aja ko."


"Syukurlah, eumm Sof kemarin aku liat foto Farrel bersama wanita. Itu siapanya ya? Maaf aku ikut campur*."


Nimas ember juga ternyata.


Sofia termangu sebentar. Sampai akhirnya dia berbohong pada Nimas bahwa wanita itu ialah saudara Farrel.


Semua itu dia lakukan guna menutupi aib suaminya.


Sofia bangkit dari pembaringannya, kemudian keluar kamar mencari Farrel yang ternyata tengah bekerja menghitung laba bengkelnya.


Sofia mendekatinya perlahan dan hati-hati.


"Farrel."


Farrel berjingkit kaget.


"Bisa ga sih kalau datang itu ga usah diam-diam !!"


Datang diam-diam ke dalam hati yaa Rel.


"Maaf."


Sofia menunduk.


"Mau apa? Kamu ganggu tahu ga."


Farrel jengah melihat Sofia.


"Aku tadi siang bicara banyak sama Uwa tentang kamu."


Farrel menghentikan aktivitasnya dan menatap Sofia tajam.


"Terus?"


"Uwa bilang kalau kamu buat kesalahan langsung laporin Uwa."


Sofia sedikit berbohong, tuh kaan udah bohong berkali-kali karena Farrel Sofia tuh.


Eh tapi kalau bohong demi kebaikan di perbolehkan ko.


Farrel tergelak kencang atas penuturan Sofia.


"Kamu fikir aku anak kecil, haha"


"Terserah mau bilang apa, tapi aku sudah bilang iya sama Uwa. Dan sekarang kamu punya kesalahan besar."


Sofia menguatkan dirinya mati-matian untuk berani berbicara seperti itu.


Farrel diam dan meletakkan pulpen yang tadi di pegangnya.


"Kesalahan? Kesalahan apa? Bisa anda jelaskan nona Sofia."


Farrel sinis ih.


"Kamu salah karena pamer pacar di sosial media."


Bergetar suara Sofia.


Farrel diam sejenak.


"Apa masalahnya sama kamu, terserah dong aku mau ngapain. Ko situ yang repot."


Sofia makin menguatkan dirinya untuk meladeni ucapan Farrel.

__ADS_1


"Bukan masalah buat aku, tapi buat kamu. Kalau sampai Uwa tahu, beliau pasti sangat kecewa. Inget Rel, Uwa berperan banyak dalam hidup kamu."


Farrel sedikit berfikir.


"Terus, aku musti ngapain biar kamu ga ngomong sama Uwa."


Skak, pinter deh Sofi menyerang tepat pada kelemahan Farrel.


"Mulai sekarang kamu harus sholat."


"Emang kemaren-kemaren aku ga sholat apa?"


Farrel sewot pemirsah.


"Sepertinya sih enggak, secara ku lihat kamu sibuk kerja. Sekarang aku tanya kamu udah sholat isya?"


Sofia bersidekap dada bertingkah angkuh seolah dia tak takut akan Farrel..Nyatanya, Sofi saat ini tengah ketakutan setengah mati.


"Udah."


Ucap Farrel sambil memalingkan muka.


"Belom."


Sofia yakin.


"Udah."


"Ok aku telpon Uwa."


Sofia memegangi ponselnya.


"Iya ini baru mau iniiiii."


Haha Farrel nyerah juga, berjalan kesal menuju kamar mandi.


Entah mengapa Sofia ingin mengikutinya.


"Ya ampun bukan gitu cara berwudhu Farrel."


Sofia kaget karena melihat Farrel hanya membasahi wajahnya asal.


"Ck ribet. Yang penting basah."


Rel jangan rusak otak author.


Farrel berlalu melewati Sofia, namun Sofia dengan cepat menariknya kembali masuk kamar mandi, Farrel mengibaskan tangannya kasar.


"Berwudhu itu yang bener !! Nih liat aku !!"


Farrel hendak berlalu kembali namun langkahnya terhenti saat Sofia kembali mengancamnya dengan nama Uwa.


Sofia pun memberikan contoh pada Farrel cara bersuci dari hadas kecil itu.


Awalnya Farrel merasa malas untuk memperhatikannya, namun karena nama Uwa terus disebut Sofia akhirnya Farrel serius belajar wudhunya.


Gitu dong Rel biar cepet selesai kan.


---------------------


Meskipun dengan hati kesal, Farrel tetap menurut dan menjalani hukuman yang diberikan Sofia.


"Nanti subuh kamu ke mesjid ya."


Kata Sofia sesaat sebelum mereka terlelap malam ini.


"Gak."


Sofia membalikkan tubuhnya menghadap kasur yang di tempati Farrel.


"Kenapa enggak?"


"Males."


Isshh Farrel.


"Pria itu harus sholat di mesjid berjamaah, kalau sholat sendirian di rumah mending pake mukena aja."


"Lama-lama kamu ngelunjak ya."


Farrel kesal.

__ADS_1


Mendengar nada suara Farrel meningkat sedikit saja sudah membuat nyali Sofia menciut.. Namun Sofia berusaha menyembunyikannya dengan sisa tenaga yang dia miliki.


Kamu habis ngapain Sof? Ko tenaga bisa habis gitu wkwk.


"Aku lapor Uwa !!"


Kali ini Farrel sudah tidak bisa lagi menahan kegeramannya karena Sofia yang terus saja membawa-bawa nama Uwa.


Farrel berdiri dan segera berlalu ke luar kamar.


"Kita berjamaah di rumah aja."


Sofia tercengang tak percaya dengan apa yang diucapkan Farrel, dia memandangi punggung Farrel yang beranjak menjauh.


Enggak ko Sof, kamu enggak salah denger author juga denger ko.


Meskipun Farrel belum bisa pergi ke mesjid setidaknya kali ini Sofia menang. Ya menang dalam artian untuk pertama kalinya Sofia merasa memiliki imam yang sesungguhnya, dan imam itu Farrel isshhh hampir menyalahkan takdir, Sofia akan jadi penerang dalam setiap langkah Farrel. Amin.


--------------------


Subuh itu pun tiba.


Sofia mengerjap dan terbangun, wajahnya tiba-tiba merasa panas tatkala dia membuka mata posisi tidur Farrel tengah menghadap ke arah dirinya.


Meskipun jaraknya yang bisa dibilang sebesar saluran sanitasi itu, tak menghalangi mata Sofia untuk melihat dengan sangat jelas wajah sang suami.


Dosa ga yaaa kalau saat ini Sofia ingin sekali memegang jambang Farrel yang panjang itu.


Sofia nakal juga.


"Rel bangun Rel, kita kan mau berjamaah."


Sedikit mengguncang tubuh Farrel pelan.


Farrel menggeliat perlahan dan membuka matanya.


Ih ko gampang sii banguninnya.


Farrel beranjak duduk sambil menguap.


"Cepetan wudhu aku nunggu di imami."


Haisshh sweet ga sih perkataan Sofia? Farrel juga sampai terbengong dan langsung menatap wajah sang istri yang untuk pertama kalinya Farrel lihat tak mengenakan penutup kepala.


"Malah bengong, cepetan wudhu. Nanti giliran aku."


Ngantri ceritanya toilet penuh haha.


Farrel sedikit sadar, tanpa bicara dia berlalu ke kamar mandi.


Beberapa saat kemudian Farrel keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Sofia tengah mengikat rambut panjangnya. Kembali dia termenung melihatnya.


Sofia yang tak menyadari tengah diperhatikan, segera masuk ke kamar mandi meninggalkan Farrel dengan kebengongannya yang seperti orang bodoh.


Ralat, Farrel ga bodoh hanya terpesona sama author. Eh Sofiaaaa maksudnya.


Tak lama, Sofia pun keluar dari kamar mandi dan segera menggunakan mukena miliknya.


Ahhhhh sungguh awal hari ini adalah yang terindah dan tersyahdu yang Sofia rasakan.


Lingkarin tanggalnya Sof, biar ingat selalu hihi.


Setelah selesai solat, Sofia melanjutkan dengan sedikit dzikir. Sementara Farrel naik kembali ke atas kasur dan masih mengenakkan sarungnya.


Di perhatikannya kembali wajah sang istri yang tengah berdzikir itu ada semacam hembusan angin yang sedikit menerpa hatinya.


Sofia mengakhiri kegiatannya dan mulai membuka mukenanya.


"Hei kamu !!"


Farrel yang tiba-tiba memanggil membuat Sofia menoleh ke arahnya.


"Kenapa kepala kamu ga di tutupin?"


Pertanyaan macam apaa itu Farrel?


Sofia menatap Farrel tak percaya kemudian tangannya sedikit mengusap kepalanya.


"I-ini tadi aku kan bangun tidur."


"Bukannya itu aurat, kenapa kamu membukanya sementara ada aku di sini."

__ADS_1


Sofia menatap lekat sang suami.


"Karena kamu suamiku mahramku."


__ADS_2