Love In Pesantren

Love In Pesantren
Insiden


__ADS_3

"Baiklah, saya izinkan."


Haqi mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, hingga kini menatap wajah kedua mertuanya.


Haqi tersenyum lega.


"Saya izinkan, asal kamu membawanya ke Pesantren." kata ayah.


Senyuman Haqi perlahan surut, apalagi ini?


"Ayah!"


Ibu kesal dengan ulah suaminya.


"Udahlah, itu terserah kamu. Saya akan izinkan kalau Hulliyah ke Pesantren saja."


Ibu berdiri mendekati suaminya berusaha merayu.


"Ayah, Lia kan udah keluar dari Pesantren. Mana bisa dia kembali lagi."


"Ya, bisalah Bu ...."


Sang ayah berlalu meninggalkan ruang tamu itu dengan angkuh.


Sang ibu menghela napas melihat tingkah suaminya, kemudian kembali duduk berbicara dengan Haqi.


"Maafin Ayah yah Nak."


Haqi tersenyum menanggapi perkataan ibu mertuanya.


"Jadi, keputusan Nak Haqi gimana?" tanya ibu lagi.


"Saya ikutin kemauan Bapak saja, Bu. Maaf jika saya masih menggantung status Sypa."


"Itu bukan salah kamu Nak. Jadi kamu gak apa-apa Hulli di Pesantren?"


Ibu merasa iba terhadap menantu dadakannya itu.


"Tidak masalah Bu, lagian saya juga ada pekerjaan di sekitar Pesantren selama beberapa bulan kedepan. Jadi masih bisa sering ketemu Sypa."


Sang ibu tersenyum penuh arti kemudian berbisik, "nanti ibu bilang Mama Haji, Hulli sendiri aja di kobongnya. Biar kalau kamu kangen bisa langsung ke kobong nemuin Hulli."


Aihh ibunya Hulliyah haha, author ngakak sendiri.


"Itu tidak perlu Bu, saya enggak apa-apa ko walau hanya bisa menatap Sypa dari kejauhan sudah membuat saya bahagia."


Babang Haqi terbaik.


"Kalau begitu saya permisi pulang Bu."


Setelah lama berbasa-basi dengan ibu mertuanya, Haqi memilih untuk berpamitan.


"Loh, ini sudah malam. Nak Haqi nginep saja. Gak kangen apa sama istri?"


Haqi salah tingkah menghadapi sang mertua yang sedikit luar biasa itu.


"Emm ... duh, tapi nanti Bapak ...."


Sang ibu meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, sebagai isyarat kepada Haqi supaya tidak berbicara lagi. Sang ibu kemudian berdiri dan mulai berjalan pelan, ibu berbalik badan ke arah Haqi sambil melambaikan tangannya supaya Haqi mengikutinya.


Haqi mengerutkan keningnya, namun tetap mengikuti sang ibu mertua.


Kini Haqi mengikuti setiap langkah ibu mertuanya, mereka memgendap-endap sudah mirip maling yang takut ketahuan pemilik rumah.


Sang ibu berhenti tepat di depan pintu kamar Hulliyah. Haqi semakin kebingungan dibuatnya, terlebih ketika sang ibu membukakan pintu kamar yang tidak dikunci itu dengan lebar.

__ADS_1


Haqi terpaku tak mengerti, "kita mau ngapain Bu?"


Author tepuk jidat dulu haha.


"Bukan kita, tapi kamu!"


Sang ibu mendorong tubuh Haqi masuk ke dalam kamar Hulliyah. Setelah Haqi benar-benar masuk, ibu menutup pintu itu dan menguncinya dari luar.


Satu ketukan dari dalam tak dihiraukannya, ibu melenggang masuk ke dalam kamar miliknya yang tepat berada di sebelah kamar Hulliyah.


------------------


Haqi putus asa dengan tindakan ibu mertuanya, Haqi berdiam diri sejenak lalu mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan tersebut.


Pandangannya terhenti ketika netranya menangkap sosok yang sedang duduk di tepian ranjang. Sosok yang menatapnya penuh tanya.


Hulliyah terkejut ketika Haqi tiba-tiba masuk kemudian mengetuk-ngetuk pintu. Hulliyah mengerti pasti ini semua kelakuan ibunya.


"Sy-Sypa i-ni sebe-narnya bu ...."


Lidah Haqi belibet banget.


"Kerjaan ibu kan?"


Haqi menutup mulutnya kemudian mengangguk.


"Ya udah, malam ini Kakak tidur di sini saja."


Haqi tersedak ludahnya sendiri hingga terbatuk karena kaget dengan ucapan Hulliyah.


Hulliyah pun mendekat, "Kakak kenapa? Aku ambilin minum dulu."


Saat Hulliyah akan membuka pintu, dia sadar ibunya telah mengurung mereka dalam kamar yang sama.


"Duh Ibu nih kerjaannya."


"Sudah, saya tidak apa-apa kok."


Setelah berhasil menormalkan dirinya yang terkejut Haqi berbicara sepelan mungkin.


"Maaf Kak, Ibu emang gitu orangnya. Jail."


Haqi tersenyum, baru kali ini dirinya melihat Hulliyah memasang wajah kesal seperti ini. Haqi sungguh melihat keindahan di sana.


Jika biasanya Hulliyah selalu menunduk jika berhadapan dengannya tapi tidak kali ini.


Eh mungkin Hulliyah lupa.


Hulliyah mulai menatap Haqi yang sedang tersenyum-senyum, Hulliyah mengernyitkan dahinya bingung, tetapi mulutnya diam tak bertanya.


Hulliyah lebih dulu naik ke atas ranjang miliknya yang sudah berumur. Suara decitan jelas terdengar saat Hulliyah naik ke atasnya.


Hulliyah membalutkan selimut pada tubuhnya kemudian mulai berbaring dengan nyaman.


Sementara Haqi masih mematung di tempatnya berdiri.


Pasti bingung nih mau ngapain hihi.


"Kakak ngapain masih berdiri? Kesini!"


Suara Hulliyah membuat Haqi mengerjap dan mulai naik ke atas tempat tidur.


Suara decitan terdengar kembali membuat Haqi gugup bukan main.


"Saya tidur di bawah saja."

__ADS_1


Haqi sudah mau turun tetapi Hulliyah menahan tangannya dengan cepat.


"Gak usah turun! Nanti malah berisik lagi."


Haqi mematung, hanya di pegang tangan saja sudah membuatnya kehilangan kesadaran.


Tiba-tiba di kamar sebelah terdengar suara musik yang sangat nyaring.


"Ih kebiasaan nih, nyalain radio tengah malem." ucap Hulliyah kesal.


Memang benar, ibu sengaja menyalakan radio dengan volume yang cukup tinggi. Ibu sedang mengalihkan perhatian ayah yang tadi sempat mendengar Haqi terbatuk di sebelah sampai drama decitan ranjang.


Ibu tidak ingin ayah curiga, ibu sengaja berbohong kalau Haqi sudah pulang. Masalah ketahuan besok itu tidak masalah begitu pikirnya.


---------------


Kita kembali ke sebelah.


Haqi semakin tidak nyaman dalam pembaringannya, bergerak sedikit saja ranjang itu bergoyang.


Haqi kembali bangun dan terduduk, karena hentakannya ketika bangun terlalu kencang. Akhirnya ranjang pun runtuh.


Suara ranjang runtuh itu tersamarkan oleh bunyi radio dari kamar sebelah.


Hanya saja Haqi dan Hulliyah sangat kaget dibuatnya, bahkan Huliya tertimpa satu besi kecil tepat pada kepalanya.


"Aww ...." Hulliyah memekik kecil.


Spontan Haqi memegang kepala Hulliyah.


"Sypa gak apa-apa?"


Tangan mereka saling bertemu di kepala Hulliyah, mereka saling terdiam dalam tatapan. Sampai akhirnya Hulliyah tertawa terpingkal-pingkal rasa geli menyeruak melihat wajah Haqi yang kaget bercampur panik itu sungguh sangat lucu di mata Hulliyah.


Haqi pun akhirnya ikut tertawa melepaskan semua keterkejutannya atas insiden ranjang runtuh itu.


Mereka tertawa bersama sementara melupakan masalah yang mereka harus hadapi. Tertawa tengah malam diiringi suara radio, Hulliyah begitu lepas dalam tawanya. Haqi sangat bahagia melihatnya dan tertawa lega, seolah mereka sedang menertawakan takdir yang tiba-tiba hadir membawa mereka bersama.


Mereka terdiam sejenak, tapi ketika tatapan mereka bertemu kembali tawa itu muncul lagi. Begitu seterusnya.


Setelah sekian lama berdiam diri di atas ranjang runtuh dan tertawa bersama, hal yang mereka lakukan selanjutnya adalah turun dari sana dan membereskan besi-besi tua yang berserakan di bawah kasur itu.


Eh eh malam pertamanya beres-beres kamar nih.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Semoga suka hihi, nyeritain semalam aja satu episode hadeeuh.


Semangat buat aku!


__ADS_2