Love In Pesantren

Love In Pesantren
Ragu


__ADS_3

Hari ini Hulliyah akan pulang ke rumahnya, waktu yang disepakati untuk meresmikan hubungannya dengan Haqi tinggal menghitung hari.


Kali ini Hulliyah berpamitan kepada seluruh penghuni Pesantren sembari meminta do'a supaya rencananya kali ini bisa terlaksana tanpa hambatan.


Hulliyah juga berpamitan kepada Nimas sekaligus mengundangnya supaya datang dihari bahagianya.


Hulliyah menunggu jemputannya datang di rumah Nimas.


"Mima masih belum pulang Nim?" tanya Hulliyah karena tidak mendapati anak sulung dari sahabatnya itu di rumah.


"Udah beberapa kali dijemput tapi gak mau pulang," kata Nimas.


"Padahal aku kangen sama Mima," ucap Hulliyah.


Nimas yang kala itu baru kembali dari kamar setelah menidurkan Khalila, kini duduk di samping Hulliyah.


"Jangankan kamu, aku ibunya lebih kangen. Rencananya besok aku mau jemput paksa dia."


Hulliyah tersenyum mendengar penuturan sahabatnya itu, ada perasaan yang tidak bisa digambarkan yang kini dirasa Hulliyah.


"Kamu kenapa Li?" Rupanya Nimas dapat membaca kecemasan yang dirasa oleh sahabatnya.


Hulliyah mengerjap dan menatap Nimas.


"Nim, aku deg-degan menuju hari H."


Nimas tersenyum samar kemudian merangkul pundak sahabatnya itu untuk memberi kekuatan.


"Kamu beruntung Li, Bang Haqi sosok yang baik. Kamu juga beruntung merasakan apa yang namanya gugup menjelang pernikahan. Lah aku?"


Nimas menghentikan ucapannya sebentar.


"Kamu tahu 'kan dulu A Zam gimana nikahin aku? Kadang kalau inget itu aku kesel sendiri. Pulang ke rumah tahu-tahu udah jadi istri orang."


Nimas menggeleng-gelengkan kepalanya mengenang kejadian empat tahun lalu.


"Kalau aku boleh milih, mending kayak kamu deh. Daripada tersiksa karena gugup begini, belum lagi ada rasa takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan."


Hulliyah berkata penuh keseriusan.


"Inshaalloh semua akan baik-baik saja, selalu berprasangka baik terhadap ketetapan Tuhan itu adalah kuncinya."


Ucapan Nimas membawa sedikit angin segar yang membuat hatinya sedikit tenang. Hulliyah sadar kecemasan hanya akan membuatnya terpuruk, yang perlu dia lakukan adalah pasrah akan apa yang sudah digariskan takdir.


---------------------


Saat Nimas dan Hulliyah masih asik mengobrol tiba-tiba Ustadz Zamzam pulang.


"Wah ternyata ada calon pengantin perempuan, tadi aku direcokin sama pengantin prianya."


Ustadz Zamzam bergabung bersama istrinya dan juga Hulliyah di ruang tamu itu.


"Maksud Ustadz?" tanya Hulliyah.


"Tadi Haqi nelpon aku, nanyain kabar kamu. Terus nanyain kapan kamu pulang?"


Kenapa Kak Haqi tidak menelponku menanyakan langsung? Kenapa untuk menelpon orang lain sempat, sementara menelponku tidak sempat?


Pikiran Hulliyah berputar mencari alasan yang sesuai mengapa Haqi tidak menghubunginya. Selama berhari-hari Hulliyah tidak lagi mendapat kabar dari Haqi. Sebersit ketakutan melintas dalam benaknya.

__ADS_1


Apakah Haqi bosan menelpon dirinya?


Hulliyah berkutat dengan pikirannya hingga tidak menyadari sepasang suami istri yang tadi bersamanya kini sudah berlalu masuk ke dalam kamar.


Tidak lama kemudian Nimas kembali keluar dari kamar.


"Hei! Masih saja melamun."


"Eh enggak kok ...." Hulliyah mengerjap merasa malu dan juga kaget.


Nimas kembali menemani Hulliyah untuk mengobrol, hal yang tidak bisa mereka lakukan katika mereka sudah berjauhan.


---------------


Setengah jam kemudian, mobil yang menjemput Hulliyah datang. Nimas dan Ustadz Zamzam yang menggendong anaknya mengantar sampai di depan rumah.


Nimas dan Hulliyah saling berpelukkan inilah awal dari perpisahan mereka yang sesungguhnya.


"Semoga selamat sampai rumah, jangan melamun terus!" Nimas berbicara sambil memgusap punggung sahabatnya.


"Tetimakasih Nim, terimakasih sudah menjadi temanku."


"Ngomong apa si? Jangan buat air mataku meluber deh! Sana pergi!" ucap Nimas seraya melepas pelukannya.


Sesaat kemudian Nimas kembali merangkul Hulliyah. "Pokoknya kamu harus bahagia, janji sama aku kamu akan bahagia!"


Hulliyah tersenyum ditengah keharuannya.


"Inshaalloh, jangan lupa datang ya!"


Nimas mengangguk di pelukan Hulliyah.


"Eh eh mau sampai kapan pelukannya? Itu Paman udah lama nunggu."


Persahabatan dibatasi waktu.


Waktu bergulir menyisakan kenangan indah.


Pada akhirnya sekumpulan sahabat akan berpencar menjalani kehidupannya masing-masing.


Begitupun persahabatan antara Nimas dan Hulliyah. Lambat laun terpisahkan oleh sekat waktu yang menjulang tinggi.


Nimas kembali pada dekapan suaminya melihat Hulliyah pergi adalah sesuatu yang membuat hatinya ngilu.


"Udah Neng, jangan banyak drama!" kata Ustadz Zamzam menggoda istrinya.


"Aku gak lagi drama. Aku sedih beneran." Nimas berlalu ke dalam rumah meninggalkan suaminya yang tersenyum puas karena berhasil membuat Nimas kesal.


--------------------


Hulliyah berada di dalam mobil bersama paman dan juga bibinya. Melewati jalanan dengan kata yang seperlunya.


"Aku kira Ayah yang jemput," kata Hulliyah.


"Awalnya memang begitu, tetapi Beliau meminta Paman untuk jemput." Pamannya yang sedang mengemudikan mobil berbicara.


"Kamu masih marahan sama Ayah?" tanya bibinya Hulliyah.


Hulliyah terdiam, pertanyaan dari bibinya itu seakan menyadarkannya bahwa belum ada kata terucap dari mulut Hulliyah terhadap ayahnya.

__ADS_1


"Tadi sebelum berangkat, suamimu nelpon. Katanya bawa kamu dalam leadaan baik."


Tuh 'kan Haqi malah memilih menghubungi orang lain. Hal itu membuat Hulliyah semakin berprasangka.


Kenapa tidak sekalipun Haqi menelpon atau mengiriminya pesan? Ditatapnya benda tipis itu dan membuka layarnya menjadi terang. Jarinya bergerak mengetikkan pesan yang ditujukkan untuk Haqi. Namun secepat kilat jarinya itu menghapus kembali pesan itu.


Entahlah sekarang Hulliyah ragu dengan kesungguhan Haqi.


Haqi sudah kembali dari Palembang atau belum, Hulliyah juga tidak tahu. Ah apa si yang sebenarnya terjadi?


Kenapa rasanya semakin mendekati hari H mulai banyak bermunculan prasangka yang tidak baik.


Hulliyah menatap keluar jendela mobil, menikmati perjalanannya menuju kampung halaman. Berusaha melenyapkan pikiran-pikiran buruk yang mulai menghampiri kepalanya.


-----------------------


Hulliyah tiba di rumahnya kemudian masuk ke dalam kamar sederhana miliknya untuk mengistirahatkan diri. Kejadian ranjang runtuh kembali menggelitik sanubarinya hingga Hulliyah menyunggingkan senyum mengingatnya.


Namun senyuman itu sirna kala mengingat Haqi tidak menghubunginya beberapa hari ini. Hulliyah berusaha memejamkan matanya mencoba beristirahat dan berharap jika bangun nanti Haqi akan menghubunginya.


"Pernikahan ini tidak akan pernah terjadi! Tidak akan! Tidak akan! Tidak akan!"


Seorang Nenek yang tidak dikenal datang begitu saja melalui sebuah gumpalan cahaya yang menyilaukan mata ketika Hulliyah terduduk di tepian tempat tidur.


"Nenek siapa?" tanya Hulliyah.


Namun sang nenek menghilang begitu saja, Hulliyah berteriak-teriak memanggil sang nenek namun nenek itu tak jua kembali.


"Lia ... Lia bangun Lia ... istighfar!" Sayup-sayup terdengar suara sang ibu yang menariknya dari gumpalan cahaya itu.


Hulliyah mengerjapkan matanya menatap sang ibu yang terduduk di sampingnya.


"Lia mimpi?" tanya ibu.


Hulliyah beristighfar berkali-kali mengetahui dirinya memang bermimpi.


"Hati-hati jika bermimpi buruk, bisa jadi itu ru'ya makruhah yang datangnya dari syeitan. Syeitan yang akan senantiasa menjerumuskan dan membuat kegelisahan Nak."


Hulliyah juga tahu akan hal itu terlebih ada ayat yang menjelaskan bahwa syeitan sering mencuri-curi waktu untuk bisa berbicara pada manusia. Tujuannya adalah untuk menjerumuskan manusia supaya mengikuti jejaknya. Ayat yang menjelaskan akan hal itu adalah Al Mujadalah ayat 10.


Hulliyah segera berta'awudz untuk melindungi diri dan hatinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Ah kalian jangan berprasangka buruk dong tentang kelajutannya. Otakku tidak sekejam itu wkwkwk😁


__ADS_2