Love In Pesantren

Love In Pesantren
rebutan ranjang


__ADS_3

Sepeninggal Nimas, Hulliyah menunjukkan kamar yang akan di tempati Sofia dan Farrel.


"Nah Sof, ini kamar kalian. Maaf ya sempit, ini kamar adekku soalnya."


Hulliyah pun keluar membiarkan sepasang suami istri ga jelas itu di kamar berukuran mini. Ranjang lama terbuat dari besi beserta kasur single yang muat untuk satu orang di atasnya.


"Ko kecil banget?"


Farrel berdiri mematung di tempatnya.


"Udahlah Rel, ini rumah orang. Kita harus menghargai tuan rumah."


Sofia maju sambil celingukan mencari sesuatu.


Nyari apa si Sof?


"Yaa kita tidurnya gimana coba?"


Farrel tuh hobi marah-marah yaa.


Sofia tersenyum kemudian menarik tangan sang suami.


Eh eh, Farrel mau diapain?


"Kamu tidur diatas, aku dibawah."


Sebentaar, otak author bayangin dulu.


Farrel mengernyitkan keningnya dalam, lalu duduk di atas ranjang tapi matanya memperhatikan lantai yang dia pijak, yang katanya Sofia mau tidur di sana.


"Udara di sini dingin woii, yakin mau tidur di lantai?"


Cieee Farrel khawatir apa gimana nih wkwk?


"Aku mau pinjem tiker ke Hulli."


Oh iya baru kepikiran juga.


-------------


Farrel merebahkan dirinya di atas kasur itu yang tak bisa dibilang empuk tapi cukup nyaman untuk ditiduri.


Tak lama kemudian Sofia kembali, dilihatnya Farrel yang telah memejamkan matanya, dalam fikirnya oh sudah tidur, syukurlah jadi dirinya tak harus mendengar omelan sang suami.


Laki ko hobinya ngomel yee.


Sofia membentangkan selimut yang dibawanya, niat hati ingin meminjam tikar eh ternyata tikarnya sudah digelar di tengah rumah. Dan tengah rumah itu sudah di penuhi kerabat Hulliyah, tak enak hati untuk menyingkirkan mereka akhirya Sofia meminjam selimut saja.


Aaaahhh lantai aku dataaang...


Sofia pun tidur beralaskan selimut bermotif bunga yang tidak tebal.


Tidak nyaman memang, udara di kampung halaman Hulli sungguh sejuk saking sejuknya Sofia tak bisa memejamkan matanya.


Sumpah dinginnya itu nusuk-nusuk.


Alhasil Sofia meringkuk seperti janin dalam kandungan. Uh kasihannya, sini author pinjemin karpet.


Sementara di atasnya, di ranjang maksudnya Farrel mengintip-ngintip dengan sebelah matanya.


Kemudian bangkit dan melempar bantal ke arah Sofia.


"Awas, aku kegerahan di atas. Pindah awas-awas!!"


Sofia agak bingung, masa sii sepanas itu sementara dia kedinginan setengah mati.


Mereka pun berpindah posisi.


Yeay akhirnya ada kehangatan juga walaupun sedikit.

__ADS_1


Dingin begini dia gerah, ck tubuh hulk emang.


--------------


Di bawah sana Farrel berguling-guling tak bisa tidur, beberapa kali dia membuka ponselnya sekedar melihat jam yang dia rasa tak maju-maju.


Farrel memakai jaketnya, sekilas dilihatnya Sofia yang terlelap sambil mangap. Duh bisa ga sih lebih anggun dikit tidur kamu Sof.


Berulang kali Farrel guling-guling sampai kepalanya membentur tiang ranjang dan menimbulkan guncangan pada ranjang membuat Sofia terbangun.


Farrel meringis tanpa suara, tapi dilihatnya kaki Sofia menggantung hendak turun.


Lihat dulu yang bener siapa tau bukan Sofia, eh terus siapa?


"Kamu bener Rel, di atas panas banget. Kita tukeran lagi ya, aku ga kuat."


Masa sih?


Dengan senang hati Farrel naik ke atas, ah nyamannyaaaa.


Dan lagi, Sofia kedinginan.


Aduh kalian ini malah main tuker-tukeran gimana ini?


Saking dinginnya Sofia tak sanggup berbaring, akhirnya terduduk menekuk lututnya sedikit gemetar, maklum memasuki seperempat malam udara jadi lebih dingin.


Di atas sana ternyata Farrel juga terbangun.


Mereka beradu pandang akhirnya.


Nah kaan ketahuan pada bohong kalian berdua.


"Kamu!! Duduk sini!!"


Farrel menepuk sisi kasur di sebelahnya. Untuk beberapa saat mereka terdiam.


"Kita berbagi ranjang aja."


Haaah kadang yaa manusia itu lebih memilih jalan sulit padahal jalan pintas di depan mata.


Sebenarnya Sofia enggan, tapi dia pun mengiyakan karna tujuannya adalah menuruti suami.


Kamu takut yaa Sof?


Bilang aja iyaaa.


Takut ketahuan tukang ngiler haha.


Maafkan author jahat padamu.


Akhirnya satu ranjanglah mereka berdempetan dan berhimpitan. Setidaknya beradu punggung seperti ini memberi kehangatan ketimbang harus tidur di lantai.


Mereka pun berbagi selimut yang sama, uhuyyyyy. Berkah nih.


------------


Awalnya baik-baik saja, Farrel dan Sofia sama-sama terlelap dalam mimpi mereka. Sampai saat Sofia menggeliat tanpa sadar, kemudian menendang-nendang tanpa sadar pula.


Tangannya mendorong-dorong ke arah Farrel, dan akhirnya tubuh Farrel oleng dan jatuh ke lantai.


Sang tersangka dengan tanpa dosa semakin lelap. Sementara Farrel meringis kesakitan


"Barbar juga tidurnya."


Seulas senyum tipis di selingi ringisan tercetak samar pada bibirnya.


Farrel pun akhirnya memilih keluar kamar, meninggalkan sang putri tidur barbar yang melayang memimpikan sedang mendorong mobil mogok. Haha.


Di halaman yang cukup luas ternyata banyak bapak-bapak sedang menyalakan api unggun. Duh inget Ospek kan jadinya.

__ADS_1


Farrel memilih mendekati mereka tepatnya mendekati api sekedar menghangatkan tubuh.


"Eh, mari-mari ini temennya Hulli ya?"


Salah seorang dari bapak itu ternyata memgenalinya, bahkan dirinya mendapat makanan sambutan berupa singkong bakar. Uuuh maau.


Hangat.


Begitulah yang dirasa Farrel. Lagi-lagi dia merasa bodoh, daripada berebut ranjang dengan Sofia mungkin kalau dari tadi disini dirinya tidak akan kedinginan.


Sebentar saja bergabung, Farrel sudah menjadi artisnya sekarang.


"Kesini sama istrinya ya?"


"Ah iya apa."


Farrel menjawab sekenanya, sebenarnya pantas ga sih dia dibilang suami istri dengan Sofia. Kisah pernikahan mereka sudah mirip novel-novel romantis benci jadi cinta.


Hah.


Gak, enggak. Kisahnya ga seindah itu.


Untuk membayangkannya saja Farrel sampai bergidik. Mana mungkin dia menelan ludahnya sendiri.


Huekk jorok.


Sudah waktunya adzan subuh suara musik pun di matikan membiarkan alunan sang muadzin membangunkan siapa saja yang terlelap, mengajak setiap orang untuk menghadap sang Tuhannya.


---------


Sofia menggeliat malas, rasanya sulit sekali untuk membangunkan dirinya sendiri. Terlebih hanya beberapa jam saja dia tertidur selebihnya semalam dirinya dan Farrel main tukar-menukar.


Tangannya di rentangkan, eh tunggu. Sofia menyadari sesuatu.


Mana Farrel?


Farrel mana?


Sofia bertanya-tanya, kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar.


"Udah bangun Sof?"


Sapaan selamat pagi dari Hulliyah yang pertama kali dia dengar.


"Iya Li, eh kamu liat Farrel ga?"


Hulliyah menggeleng.


"Mungkin duluan ke mesjid, yuk kita ke mesjid juga. Keburu mulai berjamaahnya."


Eh.


Kenapa yaa Sofia senang mendengar Farrel ke mesjid?


Meski itu belum tentu juga.


---------------


Dentuman musik kembali dinyalakan, pagi ini Sofia belum juga bertemu dengan Farrel.


"Nyari suaminya ya neng?"


Sapa bapak-bapak yang kebetulan melewatinya.


Ko tahu.


Sofia mengangguk ragu.


"Nak Farrel lagi bantuin ngangkatin kursi."

__ADS_1


Hah eh ooh.


Sofia pun tak bertanya-tanya lagi, dia menuju dapur Hulliyah sekedar membantu liatin gitu fikirnya


__ADS_2