Love In Pesantren

Love In Pesantren
belajar sholehah


__ADS_3

"Nanti uangnya aku ganti."


Ustadz Zamzam melotot tak percaya dengan ucapan istrinya tersebut. Kemudian dia mencubit pipi Nimas gemas.


"Loh malah nyangkut pautin sama uang sii. Maksud Aa yaa perut neng daya tampungnya gede juga gitu."


Sementara Nimas meringis sambil memegangi kedua pipinya. Sudah dua kali pipinya menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga hehe itu bahasa Nimas.


----------------------------------


Di rumah malam ini, Nimas dan Ustadz Zamzam menghabiskan waktu dengan menonton televisi. Namun ada yang berbeda dengan gelagat Nimas yang terkesan cuek dan manja.


Nimas berbaring dengan menjadikan paha suaminya sebagai bantal dan itu inisiatifnya sendiri tadi.


"A, perutku gak enak gini ya."


Nah kan ini pasti gara-gara makan mie kebanyakan tuh.


"Tadi sih neng makan mie ayam seperti orang kelaparan saja, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Alloh SWT pun tidak menyukainya. Neng pasti tau kan?"


Nimas terdiam dan menyadari kesalahannya.


"Tapi tadi beneran enak mienya A."


Hei Nimas ada yang bilang kamu rakus loooh.


"Iya lain kali jangan begitu lagi, kata Nabi bila makan berhentilah sebelum kenyang."


Duh Nim, kamu beruntung deh nikah sama Ustadz diceramahin melulu haha.


Nimas mengangguk pasrah, kemudian sang Ustadz menyibakkan baju Nimas membuka area perut Nimas.


Kemudian sang Ustadz mengelus perut istrinya itu dengan lembut.

__ADS_1


"Neng, perutnya keras banget. Sakit banget gak?"


Sang Ustadz khawatir karena merasakan perut Nimas yang keras.


"Lumayan A, agak sakit."


"Kita ke dokter aja, ayo!!"


Sang Ustadz hendak beranjak dari duduknya. Nimas segera menahannya.


"Aku gak apa-apa, nanti juga sakitnya hilang. Sudah sering ko kayak gini."


Sang Ustadz menatap lekat Nimas.


"Sudah sering? Sudah sering sakit begini, neng gak pernah bilang sama Aa. Sudah, pokoknya kita ke dokter."


Ustadz Zamzam bangkit mengambil kunci mobilnya, Nimas pun hanya bisa pasrah dan mengikuti sang Ustadz berangkat ke dokter.


Setelah di periksa kini Nimas dan Ustadz Zamzam tengah berhadapan dengan seorang dokter yang diketahui bernama Dr. Iwan.


"Jadi istri saya sakit apa Dok?"


"Bu Nimas terkena gejala awal penyakit liver pak. Harus di rem dulu makan pedasnya ya, nanti saya tuliskan resep obat bisa langsung di tebus ya."


Aku kira kamu hamil Nim, perkiraanku meleset.


Setelah itu, Nimas dan Ustadz Zamzam pun pulang. Tak ada pembicaraan selama di dalam mobil.


Sampai ke rumah pun tak ada yang bicara, sang Ustadz yang biasanya banyak bicara terlihat diam saja sejak pulang dari dokter tadi.


Sepertinya ada yang ngambek tuh.


Nimas yang menyadari ada yang aneh pada diri suaminya, berjalan mendekati sang Ustadz yang mulai merebahkan diri di kasur.

__ADS_1


"Aa kenapa diam saja dari tadi?"


Krik krik krik


Hening, hanya suara jangkrik yang terdengar. Nimas mencoba memegang lengan sang Ustadz, namun dengan cepat Ustadz Zamzam membalikkan tubuhnya membelakangi Nimas.


Ciee ngambek.


Nimas menghela nafas lelah kemudian ikut merebahkan diri di samping suaminya. Sesekali Nimas memandangi punggung suaminya, berharap sang Ustadz membalikkan badan dan memeluknya.


Jadi gini ya rasanya dicuekin.


------------------------------


Keesokan paginya, Nimas masih dengan acara muntahnya. Sang Ustadz menghampiri dan mengambilkan air hangat untuk Nimas serta meletakkan obat di atas meja makan.


"terimakasih A."


krik krik, eh salah pagi hari jangkriknya sudah pulang.


Tak ada kata keluar dari mulut sang Ustadz hingga dia berangkat pun tak ada kata sama sekali kecuali ucapan salam.


Kecupan-kecupan manja pun tak ada pagi ini, membuat Nimas tanpa sadar meneteskan air mata melihat kepergian suaminya.


Tuh Nimas, rasanya gitu kalau didiemin.


---------------------------


Siang ini di sekolah Tk, Nimas tengah mengajar. Dia terperangah melihat sosok suaminya datang bersama rombongan tamu Mama Haji.


Dilihatnya sang suami mengobrol sambil tersenyum di sana, tapi senyuman itu bukan untuknya. Senang melihat senyumannya namun sedih menghadapi kenyataan bahwa dia merindukan senyuman sang suami.


Kasihan kamu Nim.

__ADS_1


__ADS_2